May 12th, 2008 by ariesandi
Devi cemberut setelah dimarahi Papanya. Ia merasa sangat butuh Papanya untuk membantu.Tetapi malah diminta mengerjakan sendiri.
”Kalau tahu akhirnya toh diminta mengerjakan sendiri ngapain repot-repot menunggu Papa selesai. Huhhh menyebalkan! Papa menyebalkan!”, gerutunya dalam hati.
Sementara sang papa kembali melanjutkan aktivitasnya. Tetapi pikirannya tidak bisa fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia pun tak tahu apa yang membuatnya punya perasaan seperti itu.
Siang berganti sore dan dengan cepat sore berganti malam. Seisi penghuni rumah Devi tertidur lelap. Tetapi Papa Devi tak bisa memejamkan mata secara sempurna.
Tiba-tiba ia mendengar suara halus dari dalam hatinya. Suara itu menegurnya dengan lemah lembut namun penuh ketegasan. ”Engkau marah dengan dirimu sendiri tapi engkau tumpahkan pada anakmu yang tak tahu apa-apa. Sebenarnya kemarahanmu pada Devi tak perlu terjadi. Engkau bingung bagaimana harus menghadapi Devi bukan? Selama ini engkau tak pernah punya waktu untuk memikirkan strategi mendidik dan mengelola anak-anakmu!”
Semalaman ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia merasa telah berbuat banyak untuk anaknya. Ia sudah membiayai sekolah dan kursus Devi. Ia membelikan berbagai keperluannya, mengajaknya berlibur, menemaninya bermain, tapi sepertinya masih ada yang kurang. Seribu pertanyaan lagi masih menggantung di pikiran.
Apa yang dialami ayah Devi banyak dialami orangtua lain. Mereka semua tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Semua pada bingung harus bagaimana. Ada banyak sekali tawaran tentang konsep pendidikan anak di luar sana. Semuanya laris manis. Mulai dari lagu yang bisa menstimulasi otak bayi sampai pendidikan super yang akan membuat anak kita menonjol dibanding anak lain. Dan semuanya dilatarbelakangi hasil penelitian ilmiah yang mutakhir.
Lalu apa jadinya? Orangtua menjadi terprovokasi dan laris manislah semuanya. Segala bisnis yang menyangkut anak, mulai dari keperluan bayi, mainan edukatif, buku bergambar, musik edukatif sampai sekolah berbahasa asing yang mempunyai berbagai fasilitas mentereng mulai bermunculan. Semuanya dikarenakan adanya permintaan pasar.
Lebih tepatnya semua dikarenakan banyaknya orangtua yang bingung bagaimana harus mendidik anaknya. Orangtua kebanyakan ingin semuanya cepat beres. Mereka tak sempat lagi berpikir mana yang esensial bagi anaknya. Ketika teori-teori hasil penelitian ilmiah disampaikan sebagai latar belakang suatu produk atau jasa maka mereka langsung terbuai.
Para orangtua sendiri tidak mempunyai pengetahuan yang cukup memadai untuk menilai produk yang ada di pasar. Mereka hanya menilai segala sesuatu dari seberapa cepat hasilnya tampak pada anak mereka. Jika itu memakan waktu lama, bertahun-tahun misalnya, maka mereka akan menganggap produk itu tidak bagus.
Orangtua disibukkan berburu produk yang bagus untuk anaknya. Mereka sibuk menilai berbagai produk dan jasa yang akan digunakan untuk anaknya. Waktu mereka habis untuk hal tersebut.
Orangtua tidak menyadari bahwa kemampuan mereka menilai produk dan jasa sebanding dengan dalamnya pengetahuan yang mereka miliki tentang psikologi tumbuh kembang anak beserta segala aspeknya. Jadi setiap orang pastilah mendapatkan manfaat dari segala macam produk tersebut tergantung dari seberapa dalam kita mengerti tentang produk tersebut. Kebanyak orangtua lupa untuk mengedukasi dirinya sendiri agar mampu memilih sesuatu yang baik bagi anaknya. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan pengetahuan dari orangtua mereka. Atau informasi sepotong-sepotong dari majalah dan teman yang memilki kasus serupa.
Orangtua sibuk meminta anak-anaknya belajar segala sesuatu tetapi mereka sendiri lupa untuk belajar. Padahal wawasan luas yang dimiliki orangtua menentukan pendidikan dan pengasuhan seperti apa yang akan diterima anaknya.
Baiklah mari kita misalkan segala pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak diberi skala dari satu sampai sepuluh. Sepuluh adalah skala terbaik. Orangtua yang memiliki pengetahuan mendidik anak di skala 4 akan memperlakukan anaknya dengan cara yang berbeda sama sekali dibanding orangtua yang memiliki skala 8.
Anak dengan orangtua skala 4 akan mengalami perlakuan yang berbeda dengan anak yang orangtuanya berskala 8. Di manakah skala anda ?
Banyak orangtua menanyakan, “Bagaimana caranya menilai kemampuan diri sendiri untuk menangani anak?”
Mudah sekali. Ada beberapa hal penting yang patut kita kuasai sebagai dasar untuk membimbing anak.
Inilah beberapa hal penting dan mendasar yang perlu dikuasai dengan mendalam agar bisa mendidik anak kita menjadi sukses dan bahagia :
• Mengenali diri sendiri dengan baik dan mampu mengelola emosi sendiri. Jika sebagai orangtua kita tidak mampu mengenali diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik bagaimana kita bisa mengerti dan memahami orang lain (anak kita)
• Memiliki persepsi yang benar tentang mendidik dan mengasuh anak. Persepsi yang benar bisa dicapai jika kita mengerti cara berpikir yang benar dan mempunyai pengetahuan luas tentang anak-anak
• Mengerti tentang mekanisme pikiran dan fungsi otak sehingga kita mampu mempertimbangkan setiap tindakan dan ucapan
• Mengerti bagaimana pikiran memroses informasi dan pengalaman serta dampaknya di masa depan anak
• Kemampuan berkomunikasi yang bagus sehingga mampu menyampaikan maksud baik kita kepada anak tanpa distorsi makna. Semua orangtua bermaksud baik terhadap anaknya tetapi seringkali anak memaknainya dengan salah karena cara komunikasi yang tidak tepat
• Mengenali tipe kepribadian anak sehingga mampu interaksi anak-orangtua berjalan dengan baik
• Mengenali tipe dan gaya belajar anak sehingga kita mampu mengarahkan anak mencapai prestasi opitmal di bidang akademis
• Mengerti setiap proses tumbuh kembang anak serta apa yang diperlukan di setiap proses
• Kemampuan membantu anak mengatasi trauma sederhana
• Kemampuan membantu anak mengatasi masalah emosional dan membantunya memiliki kontrol diri yang baik
• Kemampuan membantu anak mengembangkan disiplin yang sehat tanpa merusak harga dirinya
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 1 Comment »
May 4th, 2008 by ariesandi
Dalam kegiatan sehari-hari mendidik dan mengasuh anak kita seringkali berhadapan dengan berbagai perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Karena itu sering timbul dalam pemikiran untuk “mendisiplinkan” anak tersebut. Namun sayangnya banyak sekali orangtua tidak memahami benar apa makna disiplin yang sebenarnya. Orangtua dan pihak-pihak lain yang sering berurusan dengan anak gagal membedakan disiplin dengan hukuman.
Bahkan sejumlah kamus pun gagal melakukan pembedaan ini. Salah satunya adalah The New Oxford American Dictionary, kata dicipline (disiplin) didefinisikan sebagai “praktik melatih orang untuk mematuhi aturan dengan menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidakpatuhan”. Oleh karena itu tak heran dengan definisi semacam ini maka seringkali pendisiplinan dikaitkan dengan alat-alat yang dipakai untuk membuat para pelaku kejahatan jera : penyalahan, membuat malu dan bahkan hukuman fisik.
Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Anak kita adalah seorang murid bagi orangtuanya. Agar ini dapat terjadi maka sebagai orangtua kita selayaknya menjadi pemimpin yang berharga untuk dipatuhi dan diteladani oleh anak-anak kita.
Perbedaan mendasar antara disiplin dengan hukuman adalah :
• Hukuman mengajarkan suatu pelajaran melalui pemaksaan emosional atau kekerasan fisik, hukuman mungkin terlihat bisa menghentikan perilaku yang tidak diinginkan saat ini namun sudah pasti tidak mencegahnya terulang lagi di masa mendatang. Berdasarkan berbagai riset para pakar psikologi hukuman bukan cara yang efektif agar anak bertingkah laku baik untuk jangka panjang.
• Disiplin menggunakan kebijaksanaan untuk mengajarkan nilai-nilai yang memperlihatkan betapa seorang anak dapat menentukan sendiri pilihannya dengan baik sesuai dengan perkembangan emosinya saat itu. Oleh karena itu tak ada “cara yang benar “ yang bisa berfungsi sepanjang waktu untuk semua situasi
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 4 Comments »
Orangtua, apakah ingin Anak Anda menjadi Sukses dan Bahagia saat dewasa nanti? Tapi tahukah Anda cara Mendidik Anak yang tepat agar anak dapat Sukses dan Bahagia?
Bagaimana Orangtua dapat menemukan bakat terpendam dari Anak? Bagaimana Orangtua dapat membaca keinginan atau cita-cita dari Anak secara tepat, agar Orangtua dapat menggali dan mengolah potensi yang dimiliki Anak sehingga mendapatkan hasil yang maksimal? Temukan jawabannya dengan hadir di Seminar Sekolah Orangtua dengan tema Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses dan Bahagia . Seminar ini akan diadakan hari Sabtu, 10 Mei 2008 Pk. 09:30 - 13:30 WIB di Hotel Kapuas - Function Hall 1, Jl. Gajah Mada 889 Pontianak.
Seminar ini sangat cocok bagi :
- Orangtua yang sibuk membangun bisnis dan karir.
- Orangtua yang peduli masa depan anaknya.
- Para Pendidik .
- Calon Orangtua.
Sebagai pembicara :
Ariesandi Setyono C.Ht
Beritahu Teman
Posted in Seminar / Events | 2 Comments »
Apr 28th, 2008 by hianoto
Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.
Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.
Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?
Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 4 Comments »
Apr 21st, 2008 by ariesandi
Dewasa ini permasalahan anak tampaknya bertambah banyak. Dan celakanya lagi orangtua dari anak-anak “bermasalah” tersebut tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Mereka cenderung mengikuti secara sepotong-sepotong apa yang telah mereka alami sendiri sebagai anak-anak dan mengikuti apa yang disarankan oleh majalah, media cetak maupun elektronik dan mungkin sahabat-sahabat mereka.
Tentunya permasalahan anak-anak tersebut tak kunjung selesai karena penyelesaian hingga ke akar terdalamnya tak pernah ada. Lalu bagaimana harusnya?
Marilah kita tinjau akar perilaku anak. Dalam setiap perilakunya anak-anak ingin mendapatkan satu jawaban dari pertanyaan terdalam yang ada pada diri mereka. Karena kemampuan komunikasi yang terbatas dan wawasan yang belum seperti orang dewasa maka anak-anak menanyakan pertanyaan pribadi mereka melalui “perilaku”. Bahkan tak jarang orang dewasapun berkomunikasi melalui perilaku mereka. Hal ini terutama terjadi pada orang dewasa yang susah mengkomunikasikan perasaannya melalui perkataan.
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 1 Comment »
Orangtua dan Guru, sadarkah bahwa Anda telah menghipnosis anak Anda sehingga ia menjadi seperti sekarang ini baik maupun buruk?
Mendidik dan mengasuh anak jaman sekarang sangatlah sulit. Benarkah demikian? Sekarang anak lebih suka nonton TV dan main video game. Mereka cenderung kurang termotivasi dan mudah stress. Para orangtua dan guru, tahukah Anda mengapa anak Anda berperilaku seperti sekarang? Tahukah Anda pengaruh perlakuan dan sikap Anda sangat menentukan nasib seorang anak kelak?
Temukan jawabannya dengan hadir di Workshop “HypnoParenting: Rahasia Orangtua dan Guru Efektif yang Sukses di Karier dan Sukses dalam Mendidik Anak”. Workshop ini akan diadakan pada hari Sabtu, 19 April 2008 pukul 10.00 - 15.00 bertempat di Hall Pondok Duyung, Jl Perintis Kemerdekaan, Purwokerto.
Workshop ini akan mengungkap:
- Proses terbentuknya citra diri seorang anak dan pengaruhnya saat dia dewasa
- Kesalahan orangtua dan guru saat pembentukan citra diri anak
Beritahu Teman
Posted in Seminar / Events | No Comments »
Orangtua, apakah Anda susah mengatur emosi saat menghadapi anak rewel? Anda bingung karena anak Anda bisa di rumah namun gagal saat ujian di sekolah? Atau anak Anda sering membangkang? Bisakah Anda membangun karier dan bisnis dengan tenang jika permasalahan dalam keluarga tidak beres?
Temukan jawabannya dengan hadir di Workshop Sekolah Orangtua dengan tema: My Parents, My Hero! Workshop ini akan diadakan dalam 2 hari, yaitu pada hari Sabtu-Minggu, 12-13 April 2008 di Hotel Ciputra Jakarta.
Dalam workshop interaktif 2 hari ini, Anda akan mendalami:
- Memahami perkembangan alamiah anak dan pengaruhnya
- Pengaruh pendidikan masa kecil saat anak mengejar impiannya
- Mekanisme pikiran dan Mind Reprogramming Tools
- Miskomunikasi: salah satu penyebab gagalnya anak berprestasi
- Membangun komunikasi verbal dan nonverbal yang sehat
- Disiplin tanpa merusak harga diri
- Mencari mental block yang menghalangi orangtua susah mendidik anak
Beritahu Teman
Posted in Seminar / Events | 2 Comments »
Feb 8th, 2008 by ariesandi
Suatu sore sepulang dari kantor, saya menjumpai anak saya di ruangan bermain sedang mencari-cari sesuatu. Begitu melihat saya datang, Fio melonjak kegirangan, “Pa, bantuin cari roda mobilnya Koko yang lepas!”
“Oke, sebentar Papa ganti baju dan cuci tangan dulu ya!”
Setelah selesai berbenah dengan diri sendiri, maka saya pun menjumpainya di ruangan bermain. Ia masih melongok ke berbagai sudut dan kolong lemari mainannya. Wajahnya sedih sekali dan tampak tak bersemangat.
Sebenarnya saya pun capek sekali. Inginnya sih duduk minum juice apukat.
Setelah itu tak berapa lama saya menyadari diri saya sudah berada di kolong kursi dan lemari, mencari-cari benda ‘tak berharga’ itu. Fio sangat ingin saya menemukannya. Saya mulai menggeledah bantalan kursi, kotak mainan yang baru saja dipakainya, bagian belakang lemari mainannya dan berbagai sudut ruangan. Saya mendadak menjadi budak yang patuh bergerak kerepotan di antara tempat yang bagi saya asing dan berdebu.
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 8 Comments »
Feb 5th, 2008 by elysusanti
Weekend ini saya habiskan berkumpul dengan teman-teman semasa sekolah. Walaupun hanya 5 orang perempuan, namun ramainya seperti ada 30 orang berkumpul… Maklum, selain sudah lama tidak bertemu, kami memang termasuk jajaran perempuan yang paling cerewet di sekolah.
Pertemuan kami diawali dengan keceriaan saling menanyakan kabar dan melepas kangen setelah beberapa lama tidak bertemu, yang dilanjutkan dengan makan bersama dan duduk manis di restoran dengan cerita yang terus berlanjut. Semakin lama, cerita pun semakin masuk ke berbagai hal pribadi menyangkut kehidupan rumah tangga dan relasi pasangan.
Saat itu saya lebih banyak mendengarkan berbagai cerita dari keempat teman saya, hingga seorang teman saya tiba-tiba saja menangis. Dengan ‘baik hati’-nya ketiga teman saya ini menyerahkan Agnes (sebut saja teman saya dengan nama itu) kepada saya untuk dihentikan tangisnya.
Beritahu Teman
Posted in Relationship, Artikel | 6 Comments »
Orangtua, apakah Anda bingung bagaimana mendidik Anak, Anda sudah coba berbagai cara tapi Anak Anda tetap susah diatur, Anak Anda tidak termotivasi, apakah Anak Anda menjadi beban pikiran Anda ???
Temukan jawabannya dengan hadir di Seminar Sekolah Orangtua dengan tema : Rahasia Mendidik Anak Dengan Tersenyum dan Bebas Stress. Seminar ini akan diadakan pada hari Minggu, 27 January 2008 Pk. 11:00 - 15:00 WIB di Ballroom Hotel Santika - Jl Jend Sudirman, Yogyakarta.
Seminar ini sangat cocok bagi :
- Orangtua yang sibuk membangun bisnis dan karir.
- Orangtua yang peduli masa depan anaknya.
- Para Pendidik.
- Calon Orangtua.
Sebagai Pembicara :
Ariesandi Setyono C.Ht
- Pakar Pendidikan Anak dan Keluarga
- Master terapis Orangtua dan Keluarga
- Pendiri Franchise Pendidikan Mathe-magics
- Pendiri Sekolah Orangtua dan Hypnoparenting
Beritahu Teman
Posted in Seminar / Events | No Comments »