<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SekolahOrangtua.com - Pusat Pendidikan Keluarga</title>
	<atom:link href="http://www.sekolahorangtua.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sekolahorangtua.com</link>
	<description>Membangun Keluarga Harmonis, Sukses dan Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Dec 2011 06:18:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sharing Agung Hendriyanto: Berjuang Mencapai Impian</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-agung-hendriyanto-berjuang-mencapai-impian/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-agung-hendriyanto-berjuang-mencapai-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 02:29:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CS SekolahOrangtua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1983</guid>
		<description><![CDATA[Dear Orang Tua yang Bijak, SEMANGAT PAGI!
Ijinkan saya untuk berbagi pengalaman dalam membantu putra ke-2 saya, Galih Pradnya (8 th), untuk berjuang mencapai impiannya.
===
Galih Pradnya, saat ini duduk di bangku kelas III SD St Aloysius Bandung, memiliki hobi bermain catur dan bercita-cita menjadi Juara Nasional. Cita-cita yang luar biasa, namun perlu KERJA KERAS dan KETEKUNAN untuk mewujudkannya.
Untuk mewujudkan cita-cita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dear Orang Tua yang Bijak, SEMANGAT PAGI!</p>
<p style="text-align: justify;">Ijinkan saya untuk berbagi pengalaman dalam membantu putra ke-2 saya, Galih Pradnya (8 th), untuk berjuang mencapai impiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">===</p>
<p style="text-align: justify;">Galih Pradnya, saat ini duduk di bangku kelas III SD St Aloysius Bandung, memiliki hobi bermain catur dan bercita-cita menjadi Juara Nasional. Cita-cita yang luar biasa, namun perlu KERJA KERAS dan KETEKUNAN untuk mewujudkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Galih rajin berlatih dan secara rutin mengikuti berbagai pertandingan. Galih dan kami-pun harus pintar membagi waktunya dengan kegiatan sekolah. Entah sudah berapa banyak Galih ijin dari sekolah untuk mengikuti berbagai pertandingan. Untunglah pihak sekolah cukup bijak untuk memberikan ijin, walaupun tugas-tugas sekolah tetap harus dikerjakannya. Setiap pulang dari pertandingan, Galih-pun harus siap menyalin pelajaran yang ditinggalkannya. Luar biasa semangatmu Nak!</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 8-17 September 2011 yang lalu, Galih kembali ijin dari sekolah karena harus mengikuti KEJURNAS CATUR ke-42 di Palembang Sumatera Selatan. Kejurnas Catur ke-42 ini merupakan Kejurnas Catur ke-3 kalinya yang diikuti Galih, setelah tahun 2009 (Palangkaraya) dan 2010 (Manado).</p>
<p style="text-align: justify;">Di Kejurnas 2009 &amp; 2010, Galih belum berhasil menjadi juara dan hanya mampu masuk posisi 5 besar. Karena tahun ini merupakan tahun terakhir Galih bertanding di KU G (&lt;8 tahun) dan kesempatan terakhir untuk menjadi juara nasional di KU-nya, Galih sangat ingin menjadi JUARA PERTAMA dalam KEJURNAS kali ini sekaligus mempersembahkan medali emas buat Kontingen JAWA BARAT. Sebagai catatan, Galih merupakan andalan JAWA BARAT untuk merebut medali emas di KU G.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam KEJURNAS CATUR ke-42, pertandingan kelompok yunior dilakukan dalam 9 babak dan dibagi selama 5 hari. Artinya, selama 5 hari, setiap pemain akan bertanding sebanyak 9 kali dan hasil akhirnya akan dihitung berdasakan point yang dikumpulkan. Hitungan point-nya adalah menang=1, draw=0.5 dan kalah=0. Jika ada point yang sama, maka juara akan ditetapkan berdasarkan Tie-Break.</p>
<p style="text-align: justify;">Jumat 9 September 2011, setelah mengalami penundaan dan jadual molor dari yang ditetapkan, babak ke-1 akhirnya dapat dimulai tepat pukul 19.15 WIB.Babak ke-1 ini dapat dimenangkan Galih, sehingga mendapat point 1. Merupakan awal yang baik dan bekal berharga untuk memasuki babak-babak berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabtu tanggal 10 September 2011 dipertandingkan 2 babak, yaitu babak 2 (jam 09.00 WIB) dan babak 3 (jam 14.00 WIB). Setelah bertanding sekitar 1,5 jam, diluar dugaan, di babak ke-2 ini Galih mengalami kekalahan! Walaupun tidak sampai menangis, ekspresi kekecewaan jelas terpancar dari raut wajahnya. Rupanya tekanan dan tanggung jawab yang besar untuk merebut medali emas, membuat Galih terbebani dan tidak bermain lepas seperti biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Refleks saya rengkuh kepalanya, &#8220;Tidak apa-apa Nak, jalan masih panjang. Masih ada 7 babak lagi. Kamu masih bisa menjadi Juara&#8221;. Kami kemudian mengajaknya pulang untuk beristirahat, melupakan kekalahan dan bersiap untuk pertandingan babak ke-3.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekalahan di babak ke-2 ini sempat menjatuhkan mental Galih dan membuat-nya patah semangat. Dari target-nya menjadi Juara Nasional, keinginannya turun menjadi hanya masuk 5 besar, alias sama dengan KEJURNAS sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Targetnya masuk 5 besar saja ya, ternyata susah&#8221;, begitu kata Galih. Wah, mana SEMANGAT-mu yang berkobar-kobar itu Nak? Apakah SEMANGAT dan KERJA KERAS-mu selama satu tahun dihapuskan hanya dengan satu kekalahan saja?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengembalikan SEMANGAT dan MENTAL Galih, kami dengan sabar terus memotivasi Galih untuk bangkit dan melupakan kekalahan tersebut. Lupakan babak sebelumnya dan fokus babak berikutnya! Itulah motto kami dalam membangkitkan semangat Galih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu bisa Galih, fokus dan teliti. Selalu berpikir panjang, jangan terburu-buru melangkah. Dan jangan lupa berdoa&#8221;<br />
&#8220;Kalau kalah gimana&#8221;? pertanyaan itu terus diulanginya berkali-kali.<br />
&#8220;Kalah dan Menang biarlah nanti saja. Nikmatilah pertandinganmu. Berusahalah dan Berdoa, pasti Tuhan akan mendengar-mu Nak&#8221;,jawaban itulah yang kami sampaikan kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sepertinya motivasi kami sedikit mengangkat moral dan mental Galih, sehingga dengan penuh keyakinan Galih memasuki arena pertandingan untuk memulai babak ke-3. Walaupun belum sepenuhnya dapat melupakan kekalahannya, di babak ke-3 ini Galih mampu memenangkan pertandingan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yeeesss&#8230;kamu bisa khan&#8230;&#8221; Itulah kalimat penyemangat kami untuk Galih.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemenangan di babak ke-3 dan motivasi yang terus-menerus kami suntikkan, rupanya mengangkat mental dan semangat Galih. Penampilan Galih semakin hari semakin membaik dan terus mengumpulkan point kemenangan dalam 5 babak berikutnya. Sampai dengan babak ke-8, Galih berhasil mengumpulkan 7 point kemenangan, hasil dari 7 kali menang dan 1 kali kalah. Point ini merupakan point tertinggi di antara lawan-lawannya, sehingga Galih untuk sementara berada di peringkat pertama. Hanya butuh 0.5 point saja di babak terakhir, untuk memastikan juara pertama sekaligus merebut medali emas untuk Jawa Barat.</p>
<p style="text-align: justify;">Medali emas sudah di depan mata!<br />
Tinggal 1 babak lagi!<br />
Hanya butuh 0.5 point saja!<br />
Ketegangan-pun memuncak!</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah rehat untuk makan siang, pertandingan babak ke-9 dimulai tepat pukul 14.00 WIB. Sesuai dengan perkiraan kami, Galih bertemu dengan lawan yang sudah sering dihadapinya. Dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, Galih selalu menang. Namun Galih harus selau waspada, karena pertandingan olahraga tidak bisa dihitung secara matematika.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum memasuki ruang pertandingan, saya hanya berpesan, &#8220;Gal, kamu hanya butuh 1/2 point saja. Tidak perlu mengejar kemenangan, draw saja sudah cukup&#8221;.<br />
&#8220;Iya&#8221;.<br />
&#8220;Tetap fokus dan jangan lupa berdoa&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Galih-pun masuk ke ruang pertandingan dan ketegangan segera meliputi saya. Saya, yang biasanya duduk tenang, jadinya mondar-mandir nggak tentu tujuan. Sebentar duduk, berdiri, jalan &#8230; duduk, berdiri, jalan &#8230; duduk lagi, jalan lagi&#8230; Rasanya serba salah.</p>
<p style="text-align: justify;">1 jam berlalu &#8230; belum ada tanda-tanda Galih keluar. Biasanya Galih sudah selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">1 1/2 jam berlalu &#8230; belum ada tanda-tanda juga.</p>
<p style="text-align: justify;">1 3/4 jam berlalu &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">2 jam berlalu &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menunggu sekitar 2 jam, akhirnya Galih keluar dari ruang pertandingan. Saya menunggunya di kejauhan dan tidak berani menyambutnya. Ketegangan saya semakin bertambah karena Galih tidak langsung menghampiri saya, namun bercanda terlebih dahulu bersama kawan sekaligus lawannya. Sepertinya Galih tahu kalau saya menunggu dengan harap-harap cemas, sehingga Galih sedikit mempermainkan emosi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah merasa cukup bercandanya, Galih akhirnya menghampiri saya. Saya tidak berani menanyakannya&#8230;tetapi melihat raut wajahnya saya tahu bahwa Galih berhasil merebut 0.5 point yang dibutuhkannya. Dan benar&#8230;&#8221;Draw&#8221;, kata Galih ketika menghampiri saya!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya peluk dia dan berkata ,&#8221; Bisa juga khan?&#8221; &#8230;.<br />
Galih-pun menjawab &#8220;Iya&#8221;&#8230; dan tersenyum!!! Plong &#8230;..<br />
MEDALI EMAS dan gelar MASTER PERCASI-pun berhasil dibawa pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya&#8230;.<br />
Dengan KERJA KERAS, KETEKUNAN, DOA dan KEBERUNTUNGAN&#8230;<br />
Impian Galih untuk menjadi Juara Nasional tercapai sudah.<br />
Namun mesti diingat, ini bukan akhir dari segalanya.<br />
Ini merupakan awal dari perjalanan panjang untuk menggapai prestasi yang lebih tinggi lagi.<br />
Ayo&#8230;kamu bisa!<br />
Selamat ya Galih Pradnya Master Percasi.</p>
<p style="text-align: justify;">===</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi orangtua sekalian, bahwa ketekunan dan kerja keras yang disertai dengan doa tentu akan indah pada waktunya. Mohon maaf jika sharing-nya terlalu panjang. SEMANGAT PAGI!</p>
<p style="text-align: justify;">Agung Hendriyanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-agung-hendriyanto-berjuang-mencapai-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sharing Vivi Savitri Wibisono: Kenali Dirimu, Sayang</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-vivi-savitri-wibisono-kenali-dirimu-sayang/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-vivi-savitri-wibisono-kenali-dirimu-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 02:25:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CS SekolahOrangtua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1991</guid>
		<description><![CDATA[Salam kenal untuk para Ayah dan Bunda&#8230;
Sebetulnya cerita ini pernah saya upload di FB, sebagai note saya. Mengapa? Agar saya selalu ingat bahwa saya pernah punya pengalaman ini dengan putra tunggal saya. Sebagai catatan pribadilah&#8230; Ketika Sekolah Orangtua memberi kesempatan kepada kita para orangtua untuk sharing pengalaman kita dengan putra/i kita, maka saya bagi disini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Salam kenal untuk para Ayah dan Bunda&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebetulnya cerita ini pernah saya upload di FB, sebagai note saya. Mengapa? Agar saya selalu ingat bahwa saya pernah punya pengalaman ini dengan putra tunggal saya. Sebagai catatan pribadilah&#8230; Ketika Sekolah Orangtua memberi kesempatan kepada kita para orangtua untuk sharing pengalaman kita dengan putra/i kita, maka saya bagi disini melalui Sekolah Orangtua&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kenali Dirimu, Sayang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah sejak awal Abi masuk SD, aku memutuskan untuk tidak membebaninya dengan target jadi juara di kelas. Alhamdulillah, selama 3 tahun (kelas 1 sampai kelas 3) tidak pernah ada masalah mengenai itu. Nilai -2nya cukup memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, rupanya waktu berkata lain. Di awal kelas 4, nilai-2nya turun dengan drastis. Aku capek. Pelajarannya susah. Kebetulan gurunya juga punya aturan yg berbeda dibanding guru-2 sebelumnya. Gurunya yg sekarang memutuskan, ulangan baru diberikan ke orangtua setelah 3 bulan. Itulah awalnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kami punya kebiasaan, setiap kali hasil ulangan diberikan guru, Abi menyerahkannya padaku. Lalu sama-2 kami melihat dimana yg salah, dimana yg kurang, nah di situlah ia membuat perbaikan pada buku belajarnya di rumah. Ulangan yang diberikan setelah 3 bulan berlalu, jelas membuatku lambat mengetahui dimana kekurangan Abi dalam memahami materi pelajarannya. Bayangkan, nilai yg biasanya menari-2 di angka 8 atau 9, merosot sampai ke bawah 5&#8230;!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mau marah, percuma.. semua sudah berlalu. Tapi wajah kecewa, tidak kusembunyikan dari pandangannya. Membuang segala ego, aku ajak ia duduk bersama. Berdua kami membicarakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu kecewa nih, Mas. Koq nilai-2nya seperti ini. Aku minta maaf. Kamu tau bagaimana pendapat Ibu tentang hal ini. Nilai di bawah 5 berarti kamu tidak belajar.” Berusaha berkelit, ia menjawab: “Ibu jangan hanya melihat ke atas, ke anak-2 yg nilainya lebih bagus. Lihat juga ke bawah, ke anak-2 yang mendapat nilai rendah. Aku masih mending, Bu. Ada temen yg dapat 1,5. Malah ada yg 0,5&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;">Kutatap wajahnya.. Gak percaya kalimat tadi meluncur dari mulutnya.<br />
“Kenapa mereka bisa dapet nilai segitu?”. Tanyaku<br />
“Karena mereka suka ngobrol pas lagi belajar. Males juga anaknya&#8230;”, Jawabnya.<br />
“Dan kamu merasa, Ibu akan bangga kamu membandingkan dirimu dgn mereka?“. Tangkisku.  Sudah akan menjawab, tapi ditahannya dalam mulut. Melihat wajahku yang mulai mengeras, dia merasa lebih aman bila diam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Selama ini Ibu gak pernah menuntutmu ada di atas panggung juara. Yg Ibu minta agar kamu dapat berdiri di atas tanah. Dengan gagah, tegak dada sebagai anak laki-2. Sekali-2 kamu dapat nilai 6, Ibu hanya pikir kamu sedang berjalan terlalu ke pinggir. Jadi Ibu ingatkan, hati-2 Mas. Belajar yg lebih baik lagi.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sekarang, kamu sedang terperosok ke dalam lubang. Ayo, Ibu akan bantu kamu keluar dari lubang itu. Tapi kamu juga harus bantu diri kamu keluar dari sana. Jangan keenakan tidur di situ. Oke? Kalau kamu tidak setuju dengan cara ini, bilang dari sekarang. Jangan sampai Ibu lelah sendiri menarikmu, padahal kamu merasa nyaman di berkubang di dalamnya.”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan mulailah, ia menjalani hari-2 dimana ia berusaha keluar dari lubangnya. 30 menit berlatih matematika, 30 menit berlatih memperbaiki tulisannya (salah satu penyebab nilainya mendapat jelek, karena tulisannya sulit dibaca). Ia kusuruh menulis tentang apa saja. IPA, IPS, peribahasa, cerita di majalah, buku, apa aja yg dia suka.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses yg lambat dan panjang. Adakalanya ia bosan. Di hadapannya terletak buku matematika, buku menulis, buku cerita, lego, tapi matanya menghadap ke layar televisi. Kalau lagi kendor seperti itu, aku biarkan dulu selama 1 hari. Esoknya kuajak tukar pikiran lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada anak yg diberi kelebihan oleh Tuhan, berupa otak yg pandai dimana ia mampu memikirkan segala macam hal di waktu yang bersamaan dan semuanya berhasil dengan baik dengan prestasi belajar yang juga baik.</p>
<p>Ada juga anak yg diberi kelebihan lain oleh Tuhan, berupa ketekunan. Dimana ia hanya mampu melakukan satu hal saja di satu waktu, tapi bila melakukannya dengan tekun ia akan berhasil dengan baik. Anak-2 yg seperti ini mungkin terlihat lambat karena ia menyelesaikan pekerjaannya satu per satu. Tapi hasil terakhir biasanya jauh lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Luar biasanya, orang-2 yang berhasil adalah orang yang tekun dan sabar dalam menjalani pekerjaannya. Kenali dirimu, Sayang&#8230; Mas Abi termasuk dalam kelompok mana dengan kelebihan yang Tuhan kasih.”</p>
<p style="text-align: justify;">Gaya belajarnya, langsung berubah. Ia mulai belajar memahami dan mengenali dirinya sendiri. Gaya belajarnya pun ia sesuaikan sendiri. Selama tidak aneh-2, aku tidak banyak berkomentar. Tugas seorang Ibu adalah seperti pemain layangan. Tetap memegang tali. Mengatur ke arah mana layangan akan diarahkan. Sesekali membiarkan layangan kendor untuk mencari ruang geraknya sendiri. Kalau telah melenceng terlalu jauh, kembali menarik tali agar layangan kembali dalam arah yang diinginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu kali, Abi mengeluarkan setumpuk kertas ulangan dari dalam tasnya. Ibu, lihat&#8230;! Anak Ibu udah mulai berdiri lagi di atas tanah. Nilai 7 dan 8 tertera di kelima lembar kertas tersebut. Aku rengkuh kepalanya dalam pelukan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih, Sekolah Orangtua&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Best wishes,<br />
Vitri Wibisono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-vivi-savitri-wibisono-kenali-dirimu-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sharing Martha Prisilya</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-martha-prisilya/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-martha-prisilya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 02:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CS SekolahOrangtua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1978</guid>
		<description><![CDATA[Saya memiliki anak sulung usia akan genap berusia 9 tahun pada tanggap 14 Nop ini. Sekarang sudah duduk di kelas 4 SD. Ketika ia duduk di bangku TK, ia sempat sedikit ketinggalan dalam membaca hasilnya ia sering terlambat pulang saat kelas 1 SD. Saya memberi dia les privat, dan akhirnya dia mahir. Penyebab keterlambatannya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya memiliki anak sulung usia akan genap berusia 9 tahun pada tanggap 14 Nop ini. Sekarang sudah duduk di kelas 4 SD. Ketika ia duduk di bangku TK, ia sempat sedikit ketinggalan dalam membaca hasilnya ia sering terlambat pulang saat kelas 1 SD. Saya memberi dia les privat, dan akhirnya dia mahir. Penyebab keterlambatannya dalam membaca disebabkan kekerasan saya dlm mendidik dan mengajarnya. Ini meningglkan trauma yang dalam baginya. Kelas SD 1-2 prestasinya biasa-biasa saja bahkan rangking 10 dari bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menyadari andil saya dalam menyebabkan kesulitan anak saya dalam membaca. Saya berusaha memperbaikinya dengan melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengannya. Saya mengakui kesalahan saya kepadanya dan meminta maaf. Saya berjanji akan berusaha memperbaiki kesalahan saya. Janji saya kepadanya, saya buktikan melalui perubahan tingkah laku saya setiap hari. Saya lebih sabar mengajarnya saat belajar dan memberikan waktu saya khusus untuknya. Memeluknya saat dia gagal ketika mendapat nilai 3, 4 bahkan pernah 0.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya katakan, “Ketika kakak mendapat nilai buruk padahal sudah melakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh, kakak perlu menerimanya dengan ucapan syukur apapun hasilnya. Karena Tuhan lebih menghargai usaha daripada hasilnya. Mama tidak akan marah dan menuntut lebih, mama janji.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi… ternyata saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan kepercayaan kakak kepada saya. Terkadang, ketika kondisi saya lelah, kata-kata penyemangat saya tidak sejalan dengan intonasi suara saya yang meninggi. Hal ini menyebabkan ia mengalami trauma kembali dan mulai menyembunyikan nilai buruknya lagi. Ini benar-benar merupakan PR besar buat saya untuk mengendalikan emosi agar tidak terlampiaskan pd anak. Dan, PR saya yang lain adalah mengatur agar energi saya bisa terbagi dengan baik agar tidak kelelahan ketika menghadapi kakak. Karena ketika energi dan kondisi saya lemah, intonasi dan isi perkataan dukungan saya sampaikan kepada kakak tidak sejalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini Aurora telah kelas 4 dan sedang tes. Saya dan Suami setia menemaninya belajar dan kami membagi tugas. Tiap hari ada 2 mata pelajaran yg diujikan. Aurora masuk pukul 12.30. Jadi 1 pelajaran saya yg mengajarkan dan 1 pelajaran lagi tugas Papanya. Begitulah aturan yg kami lakukan untuk mendampingi Aurora. Kami sebagai orangtua sepakat untuk mendidik anak kami bersama-sama dan seiya sekata, tidak ada yg lebih unggul dan tidak ada yg lebih lemah. Kami tim yg kompak mendidik mereka (anak saya 2 yg bungsu usia 4 thn, dia luar biasa, sgt cerdas utk anak seusianya). Apapun kendalanya kami komunikasikan bersama tanpa didengar anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tes, gurunya memberi lembar isian terpisah, sehingga lembar soal boleh dibawa pulang dan langsung bisa kami koreksi bersama-sama. Ketika kami koreksi bersama-sama Aurora mendapat nilai minimal 7 dan nilai lain rata-rata 9. Ternyata sistem belajar yang kami terapkan pada Aurora mampu membantunya belajar lebih baik. Kami berhenti memberi nasehat, hanya tiap kami mengajarinya, kami menghindari tekanan. Bila pelajaran mulai rumit dan anak kelihatan bete, kami hentikan dan alihkan dengan cemilan atau menonton (film yg lucu-lucu) sebentar dan kembali belajar. Kadang kami hanya mengajarinya 30 menit dan istirahat 20 menit. Aurora tidur pukul 20.30 Wib. Belajar mulai pkl. 18.30. Jadi hanya butuh belajar +/- 1 jam, Puji Tuhan itu sangat efektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya harus menyesuaikan diri dengan hal-hal yang dapat membantu anak saya tenang, termasuk kompromi terhadapi keinginan kami sebagai orangtua. Ketika kami menempatkan diri sebagai teman sekaligus ortu, tidak ada beban dan rahasia diantara kami. Tentu ini tidak instan kami membuktikan diri terus menerus dan diperlukan komitmen yg luar biasa. Kami merasa kami perlu menginvestasikan ajaran-ajaran yg mendasar pada anak kami sedini mungkin melalui waktu yang berkualitas dan terus berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal. Seperti kami menginvestasikan uang kami untuk masa tua kelak. Membuat rumah kami berpusat pada anak bukan orang dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Intinya dapatkan hati anak, rengkuh hatinya melalui kejujuran dan teladan hidup diri kita sendiri. Tidak ada teori yg dpt menjawab masalah kita selain kesadaran utk mau mengerti dan memeluk hatinya setiap hari. Jangan biarkan anak tertidur sebelum anak yakin semua berjalan indah hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih utk waktu yg diberikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Best Regards,</p>
<p style="text-align: justify;">Martha Herwanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-martha-prisilya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sharing Yusi Setiawan: Dari Anak Bermasalah Menjadi Anak Berprestasi</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-yusi-setiawan-dari-anak-bermasalah-menjadi-anak-berprestasi/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-yusi-setiawan-dari-anak-bermasalah-menjadi-anak-berprestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 02:21:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CS SekolahOrangtua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1972</guid>
		<description><![CDATA[Sharing ini ditujukan bagi para orangtua yang merasa memiliki anak yang bermasalah, terutama yang masih balita,  yang iri dengan adiknya, dan sering mengganggu temannya.
Saya ibu 2 orang anak cowok. Anak pertama saya Steven sekarang berusia 8 tahun lebih, duduk di kelas 3, sedangkan adiknya Kevin 7 tahun, duduk di kelas 2. Selisih umur mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sharing ini ditujukan bagi para orangtua yang merasa memiliki anak yang bermasalah, terutama yang masih balita,  yang iri dengan adiknya, dan sering mengganggu temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya ibu 2 orang anak cowok. Anak pertama saya Steven sekarang berusia 8 tahun lebih, duduk di kelas 3, sedangkan adiknya Kevin 7 tahun, duduk di kelas 2. Selisih umur mereka 1,5 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini kalau memandang Steven dan Kevin, saya bisa merasakan rasa sayang dan bangga. Tapi dulu tidak begitu. Masing-masing anak sempat mengalami fase sulit yang membuat saya nyaris putus asa.</p>
<p style="text-align: justify;">Steven terlahir maju 17 hari dari jadwal karena ketuban pecah dini. Karena belum ada tanda-tanda lahir, akhirnya saya diinduksi. Sakitnya luar biasa. Untuk menghindari infeksi, Steven bayi diinjeksi antibiotik. Kemudian karena kuning, dia juga disinar. 2&#215;24 jam penyinaran hanya mampu menurunkan sedikit kadar bilirubinnya. Akhirnya dia boleh pulang tapi masih harus minum obat dan dijemur setiap pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak bayi kecil, Steven sudah menunjukkan kalau dia bayi yang berwatak keras, susah diatur. Banyak sekali peristiwa yang membuat saya kewalahan. Sampai-sampai saya berpikir, “Kalau masih bayi kecil seperti ini aja sudah enggak bisa diatur, gimana nanti besarnya. Saya tidak boleh kalah dengan anak ini&#8230; “. Tapi ternyata sikap yang saya ambil salah. Semakin saya keras, tingkahnya semakin menjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada umur 3 minggu, saat itu sekitar pukul 10 pagi, Steven sedang ditidurkan di ranjang. Tiba-tiba dia menangis keras sekali, tangisan melengking yang susah sekali dihentikan. Mukanya sampai merah, dia seperti sedang kesakitan. Saat itu saya belum punya pembantu, tapi untunglah ada mama yang langsung bergegas menolong, menggendong dan menenangkan Steven. Butuh waktu lama untuk membuat tangisan Steven berhenti. Akhirnya karena kecapekan dia tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sorenya hal itu terulang lagi. Karena kuatir kami membawanya ke dokter. Ternyata dokter bilang Steven terkena kolik. Penyakit kolik diderita sejak bayi berumur 3 minggu dan akan sembuh sendiri saat bayi berumur 3 bulan. Begitulah sejak hari itu sampai Steven  berusia 3 bulan kurang 1 minggu, setiap malam kami tidak dapat tidur nyenyak. Baru saja kami berhasil menidurkannya, 5 menit kemudian tangisan menyayat hati  itu kembali terdengar. Kami harus kembali menggendongnya sambil berjalan hilir mudik menenangkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kelelahan dia tertidur, karena tidak ingin dia terbangun lagi, seringkali kami biarkan Steven tidur di gendongan. Tak jarang saya atau mama tidur sambil duduk menggendong Steven, kadang meringkuk di sofa. Kalau tiba-tiba dia terbangun dan menangis lagi ya kami harus menenangkannya. Sungguh ini merupakan 2 bulan yang sangat menyiksa dalam hidup saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama 1 tahun pertama kehidupan Steven, kami sering sekali membawanya ke dokter. Bahkan karena tidak sabar dan ingin mencari pendapat lain, kami pernah gonta-ganti dokter. Steven kecil pernah mengalami  diare, kolik, demam, alergi susu sapi, alergi susu soya, kulit kepala berkerak, pipi bengkak, seluruh tubuh merah-merah, bisulan, rewel, batuk pilek, infeksi perut, dsb.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu sering Steven dirujuk ke laboratorium untuk periksa darah, akibatnya dia menjadi trauma terhadap jarum suntik. Apalagi saat bayi banyak jadwal imunisasi yang harus dijalani. Saking seringnya ke lab dan dokter, Steven berontak. Pertamanya, dia menolak masuk ke ruang periksa. Lambat laun pemberontakan di mulai dari depan rumah dokter. Begitu mobil berhenti di rumah dokter dia nangis berontak enggak mau turun. Ketiga, saat mobil belok di jalan menuju rumah dokter dia sudah menjerit-jerit nangis. Itu semua terjadi sebelum dia berusia 1 tahun. Ingatan yang sangat hebat untuk ukuran anak usia 1 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Untungnya  dari sisi tumbuh kembang Steven tidak ada masalah, bahkan dia termasuk anak yang cerdas. Sejak kecil minat belajarnya tinggi. Perkembangan bahasa kurang baik, tapi dia mengerti perintah, bisa diajak komunikasi. Pada umur 2,5 tahun akhirnya dia bisa berbicara normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Permasalahannya pada perilaku dan sikapnya, sejak umur 7 bulan Steven menolak memakai sepatu, sandal, bahkan kaos kaki dan itu terjadi sampai dia berusia 2 tahun lebih.</p>
<p style="text-align: justify;">Steven termasuk anak yang aktif, tidak bisa diam, banyak maunya, saat marah suka menangis menjerit-jerit. Perilaku Steven ini seringkali membuat saya kehilangan kesabaran. Steven kecil sering sekali saya cubit dan pukul karena saya kewalahan tidak mampu mengendalikannya. Tapi… cara saya yang salah ternyata membuat tingkah Steven semakin sulit diatur, akibatnya saya makin stress, Steven juga makin nakal.</p>
<p>Hufff… seperti lingkaran setan situasi saat itu. Makin nakal, makin dikerasin, makin menjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncaknya saat Steven masuk playgroup. Saat itu dia berusia 2 tahun lebih. Kevin sudah lahir, berusia 9 bulan. Berbeda dengan Steven, Kevin bayi merupakan bayi yang anteng, tidak banyak tingkah. Tapi mungkin juga karena perbedaan yang mencolok ini tanpa kami sadari kami dan orang-orang sering membanding-bandingkan Steven dan Kevin. Hal itu membuat Steven kecil makin merasa tidak nyaman, tidak dicintai, dan menjadi iri dengan adiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari pertama Steven masuk playgroup saya masih sempat mendampingi. Saat itu dia sudah terlihat tidak nyaman berada di kelas yang tertutup. Tapi karena di hari perkenalan itu dibagikan balon, perhatiannya masih bisa dialihkan. Meskipun ada pemberontakan tapi dia tidak menangis dan hari itu bisa dilalui dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Malamnya ayah mertua yang beberapa hari masuk rumah sakit mendadak meninggal dunia. Kami berduka cita dan  sibuk mengurusi pemakaman. Steven masih tetap sekolah ditemani oleh pembantu. Sekitar  2 minggu kemudian setelah semua urusan beres, saya baru bisa mendampingi Steven sekolah lagi. Betapa terkejutnya saya karena ternyata Steven bermasalah. Ada orang tua yang melapor kalau anaknya diserang Steven, digigit tangannya, dsb.</p>
<p>Pagi sebelum kejadian penggigitan itu, kebetulan Steven mengganggu Kevin dan oleh neneknya dia ditegur. Kevin selamat dari gangguan Steven, tapi akibatnya dia mencari pelampiasan ke anak yang lebih kecil dari dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu saya mendampingi Steven masuk kelas dan saat istirahat masuk ke  ruang bermain. Di ruang bermain itu ada castle dan rumah-rumahan. Steven tidak bisa bermain membaur dengan teman lainnya. Tingkahnya susah diatur. Saat  dia melihat teman perempuannya yang cantik dan kecil mungil, tiba-tiba Steven menyerang temannya itu sampai leher anak itu merah. Para guru ada yang langsung mengendong anak itu, ada yang berusaha menenangkan Steven. Tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu bercampur antara malu, marah, putus asa. Saya sampai sempat bertanya pada wali kelas Steven, bagaimana ini apa Steven masih boleh sekolah di sana&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin karena penanganan yang salah, semenjak kejadian itu tingkahnya semakin menjadi. Setiap kali mau berangkat sekolah menjadi masalah baru. Steven berontak tidak mau mandi, tidak mau berangkat sekolah. Kami berusaha membujuk, merayu, dan kerana tidak mempan akhirnya mengancam, memarahi, menghukumnya, dsb. Kalaupun kami berhasil mengantarnya ke sekolah, tetap saja kami harus menahan perasaan karena Steven tidak mau belajar, tidak mau baris, tidak mau masuk kelas, dsb. Semakin lama emosi saya makin meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sempat konsultasi dengan kepala sekolah bagaimana sebaiknya menghadapi anak seperti Steven. Sebenarnya kepala sekolah play group saat itu sudah memberi nasehat yang bijaksana. Beliau bilang, “Biarkan saja dulu Bu, jangan dipaksa. Ajak aja Steven main-main ke sekolah, tidak usah pakai seragam. Pagi ajak jalan-jalan, mampir ke sekolah, biarkan dia adaptasi dulu. Kalau hari itu bukan hari dia sekolah pun tidak apa-apa (play  group masuk 3 hari dalam seminggu). Dampingi saja, kalau dia tidak mau masuk kelas jangan dipaksa, ajak main-main dulu&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya nasehat yang bijaksana itu saya lakukan dengan setengah hati. Saya mengajaknya ke sekolah, mendampingi meskipun cuman melihatnya main mobil-mobilan. Kalau Steven sudah bosan ya sudah kami pulang. Tapi melihat kemajuan teman-temannya membuat saya tidak sabar. Dalam pikiran saya saat itu.”Kok enak, si Steven ! Harusnya anak salah ya dihukum biar dia tahu kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi khan.. ?“</p>
<p>Di rumah Steven saya intimidasi. Saya gemas, kalau seperti itu terus kapan pinternya&#8230; Saya lupa kalau saat itu Steven masih berusia 2 tahun lebih&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian terjadilah kejadian yang membuat saya berpikir&#8230;Sabtu pagi Steven sedang dihukum. Seisi rumah tidak boleh ada yang mengajaknya bermain dan bercakap-cakap. Saya berkata kepadanya,”Karena Steven enggak mau sekolah, ya sudah enggak ada yang mau sama Steven. Kalau Steven pinter, baru papa mama sayang sama Steven. Enggak boleh ada yang ngajak Steven main sampai Steven berjanji mau jadi anak pinter, mau sekolah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Steven kecil berusaha mencari perhatian tapi dilihatnya semua orang cuek. Saya dan papanya membaca koran di ruang tamu. Neneknya membaca koran di ruang keluarga, duduk di lantai sambil koran menutupi wajahnya. Pembantu duduk di sofa sambil menepuk-nepuk Kevin. Akhirnya Steven bilang minta susu. Pembantu membuatkan dan memberikannya tanpa mengucapkan sepatah kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil membawa susu botolnya, Steven mencari tempat yang dirasanya enak untuk minum susu. Dilihatnya box bayi Kevin yang saat itu diletakkan di ruang keluarga. Dia naik ke sana. Box bayi itu lumayan tinggi. Dulu kami membelinya dengan pertimbangan biar bayi aman di dalam box, bahkan saat bayi belajar berdiri. Siapa sangka hal itu malah jadi bumerang saat anak kecil yang membawa botol susu berusaha naik sendiri. Steven kehilangan keseimbangan dan tiba-tiba terdengar gedebug yang sangat keras. Steven terbanting ke lantai dan kepalanya yang terlebih dahulu membentur lantai.</p>
<p>Setelah itu Steven bilang ngantuk dan pindah ke kamar untuk tidur. Tak lama kemudian dia muntah. Kami menjadi panik, kata orang kalau muntah berarti gegar otak. Steven kami bawa ke rumah sakit untuk dirontgen kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumah sakit Steven berontak, sehingga butuh beberapa orang untuk memeganginya. Waktu menunggu hasil foto, Steven muntah lagi beberapa kali. Ketakutan mulai melanda diri saya. Satu-satunya hal yang membuat saya bangga pada Steven saat  itu adalah kecerdasannya. Saat itu ingatan Steven sempat hang saat saya ajukan beberapa pertanyaan. Banyak pertanyaan yang dulunya sudah dikuasainya dijawabnya dengan tidak tahu. Saya menjadi takut. Bagaimana kalau gara-gara jatuh itu terus Steven menjadi bodoh?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa ditegur oleh Tuhan. Apakah begitu tak berharganya Steven sampai  saya menyia-nyiakannya seperti itu. Apa saya rela kalau seandainya Tuhan mengambil Steven kembali?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya yang harus saya lakukan mencintainya dengan sepenuh hati, membantu dan mendampinginya agar bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya, bukannya terus-menerus memarahi dan membuatnya merasa tidak dicintai. Di rumah sakit itu saya berdoa, mohon ampun dan mohon diberi kesempatan lagi. Saya memohon kepada Tuhan agar Steven tetap bisa menjadi anak yang pandai dan mohon supaya kami bisa membesarkan dan mendidiknya dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita dokter bilang tulang kepala Steven tidak ada yang retak, kami boleh pulang dan diberi obat minum. Meski awalnya terasa sulit, saya berusaha keras memenuhi janji saya. Mengubah sikap, tidak lagi marah-marah, berusaha instropeksi diri. Saya berusaha keras tidak memukuli dan mencubitinya lagi. Berusaha lebih dekat, lebih mengerti dia, mengajaknya mengobrol, bercerita,dsb. Semua itu butuh proses dan tidak terjadi secara instan. Tapi pelan tapi pasti semenjak saya berubah, sikap Steven pun berubah menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari saat jalan-jalan ke Gramedia, mata saya seolah terpaku pada buku “Ibu Dengarkan Aku” karangan Dra V. Dwijani. Buku itu masih terbungkus plastik sehingga saya tidak bisa membacanya di sana. Rasanya ada dorongan untuk membeli  buku tipis yang berisi kumpulan curahan hati anak-anak pada ibu mereka. Ternyata benar buku itu berhasil membuat hati dan pikiran saya terbuka. Saya jadi tahu kalau jalan pikiran anak-anak seringkali berbeda dengan pemikiran orang dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan waktu, secara tak sengaja saya menemukan situs sekolahorangtua.com . Kembali saya belajar, ternyata menjadi orang tua yang baik perlu proses pembelajaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak kejadian itu, keadaan menjadi lebih baik. Hasilnya pun terlihat. Jika di play group A awal Steven sering dirasani orang tua lainnya karena kenakalannya, seiring berjalannya waktu orang mulai melupakan kejadian yang lalu dan memuji kepintarannya. Di play group B Steven berhasil meraih prestasi, menjadi The King (Juara 1 cowok dalam bidang akademis, perkembangan sikap, perilaku, dan aspek-aspek lainnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Di TK dia juga beberapa kali dapat piala karena hal yang berhubungan dengan akademis. Para guru bilang sikapnya baik.  Di SD juga perkembangannya bagus. Guru-guru bilang Steven pinter, baik, tidak ada masalah, sikapnya dewasa, mandiri, dan kalimat pujian lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk berubah. Sampai saat ini saya masih terus belajar. Saya belajar bahwa dalam hidup pasti ada permasalahan, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Sikap yang salah bisa membawa dampak yang buruk. Sebaliknya bila kita mampu memilih sikap yang benar, permasalahan yang tadinya terasa berat pun bisa terselesaikan dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini bila melihat antara Steven dan Kevin mulai timbul perselisihan atau rasa iri, saya instropeksi diri. Seringkali hal itu imbas karena perlakuan orang tua yang dirasa tak adil bagi anak. Saat tangki cinta mereka penuh, mereka merasa disayang oleh orang tua dan diperlakukan adil, perilaku mereka pun menjadi baik.</p>
<p>Hasil instropeksi saya membuahkan hasil yang manis. Bila mereka berselisih, mereka segera minta maaf,  langsung bersenda-gurau  dan rukun lagi. Sebaliknya, saat tangki cinta mereka kosong, banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang terjadi. Begitu besar peran kita sebagai orang tua&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita belajar dari pengalaman orang lain agar mampu menyerap nilai-nilai yang baik dan tidak mengulang kesalahan. Semoga kita semua bisa mengajari anak tekun berjuang mencapai impian, menjadi orang tua yang baik dan memiliki anak yang dapat dibanggakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nb: Instropeksi dan belajar terus menerus adalah kunci penting menjadi orangtua yang lebih baik lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/11/22/sharing-yusi-setiawan-dari-anak-bermasalah-menjadi-anak-berprestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“A. P. A. Method” Kunci Membangun Strong Relationship</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/10/17/%e2%80%9ca-p-a-method%e2%80%9d-kunci-membangun-strong-relationship/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/10/17/%e2%80%9ca-p-a-method%e2%80%9d-kunci-membangun-strong-relationship/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 09:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CS SekolahOrangtua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1960</guid>
		<description><![CDATA[Lebih daripada IQ, Kesadaran dan Kemampuan Emosional menangani perasaan / emosi akan menentukan Keberhasilan dan Kebahagiaan dalam segala jalur kehidupan&#8230;
John Gottman, Ph.D
Belajar mengekspresikan, merasakan, dan melepaskan emosi negatif merupakan                kemahiran penting yang dibutuhkan setiap anak untuk belajar.
Cara ini membangkitkan potensi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><em>Lebih daripada IQ, Kesadaran dan Kemampuan Emosional menangani perasaan / emosi akan menentukan Keberhasilan dan Kebahagiaan dalam segala jalur kehidupan&#8230;</em></strong></p>
<p>John Gottman, Ph.D</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Belajar mengekspresikan, merasakan, dan melepaskan emosi negatif merupakan                kemahiran penting yang dibutuhkan setiap anak untuk belajar.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Cara ini membangkitkan potensi kreatif dalam diri anak dan mempersiapkan dia untuk menghadapi tantangan hidup dengan berhasil…</em></strong></p>
<p>John Gray, Ph. D</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, seorang ibu datang bersama temannya untuk mengkonsultasikan putranya, yang kurang lebih berusia 9 tahun. Dengan raut wajah yang terkesan lelah, sebut saja nama ibu tersebut dengan ibu Dina. Ibu Dina menceritakan permasalahan antara ia dan anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Dina merasa frustasi dengan sikap anaknya yang sudah berani melawannya. Dan seringkali terkesan mencari cara untuk membuat ibunya ini marah. Bu Dina merasa sudah mencoba berbagai macam cara untuk <em>“mengendalikan</em>” anaknya, sebut saja namanya Andre, tapi semua itu seakan-akan sia-sia. “Bukannya semakin <em>“takut</em>” dengan saya tapi semakin berani dan meningkat sikap melawannya” kata bu Dina.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kasus lain, sebut saja klien kami bernama Shelly. Ia menceritakan kalau selama ini ia merasa tidak memiliki keberanian untuk mengambil satu keputusan, ia merasa sering ragu-ragu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap seperti ini sebenarnya sudah ia rasakan sejak kecil. Ia selalu takut untuk berbuat salah, karena kalau melakukan kesalahan baik yang sudah ia ketahui ataupun belum, maka orangtuanya selalu memarahinya dan tak jarang sambil memukulnya. Kalau sudah seperti itu, ia jadi sangat takut dan bersikap “<em>menerima</em>”. Maka untuk menghindari amarah dan pukulan dari orangtuanya, Shelly memutuskan dirinya untuk tidak banyak <em>“berulah</em>”. Supaya mendapat kesan “<em>anak baik</em>” dimata orangtuanya. Dan, ternyata orangtuanya memang benar-benar menganggapnya “<em>anak baik</em>“.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua contoh kasus diatas, sering kami jumpai di ruang konseling. Ada dua kondisi dari dua sikap yang berbeda dari anak-anak menanggapi sikap orangtua mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah bapak/ibu sering juga menjumpai kondisi seperti itu di keluarga saudara atau teman Anda ? atau Apakah hal ini juga terjadi di rumah Anda ?</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin kita marah, bukannya semakin membaik tapi semakin menjadi-jadi ulah / kenakalannya. Atau anaknya menjadi anak yang <strong>sangat</strong> “<em>pendiam”, “penurut”. </em></p>
<p><strong>Menengok Ke Dalam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita lihat permasalahan yang terjadi dengan sudut pandang lebih dalam. Coba kita perhatikan ketika anak kita masih bayi, untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, ia melakukan <em>“sesuatu yang menarik perhatian</em>” kita. Saat itu kita mau mengerti tindakan bayi kita itu dengan pengertian bahwa bayi kita “membutuhkan” sesuatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa saat itu kita mau mengerti dengan sikapnya ? karena kita beranggapan bahwa mereka masih bayi dan masih belum bisa mengutarakan keinginannya dengan kata-kata yang tepat. Saat itu, kita mau memakluminya, seakan-akan kita adalah orangtua yang “penuh pengertian“.</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan bertambahnya usia ditambah dengan sudah sekolah, kita beranggapan / berasumsi, bahwa “bayi kita” yang sudah tumbuh jadi anak-anak itu “seharusnya“ sudah tahu dan mengerti, kalau menginginkan atau membutuhkan sesuatu, harus disampaikan dengan komunikasi yang baik, yaitu dengan mengatakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga ketika “bayi kita” yang sudah tumbuh jadi anak-anak itu melakukan tindakan “nakal” maka kita berasumsi / beranggapan kalau anak kita itu <em>anak nakal / menantang kita / sudah menyimpang / anak yang tidak mau mengerti orangtua / sengaja membuat kita marah</em> dll. Maka umumnya orangtua akan mengambil tindakan represif ( memberi tekanan, hukuman dll ), saya percaya orangtua yang di sini tidak ada…………………………..”<em>tidak ada bedanya</em>”, no no no, sekedar joke ok, supaya Anda tidak tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita mengambil tindakan represif, maka anak akan mengambil <em>2 macam sikap</em>, yaitu<em><strong>:<br />
</strong></em><strong><em>- Melawan                                                                                                                                                        &#8211; Menurut</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita melakukan tindakan represif, anak kita menjadi bingung dengan tindakan kita. Mengapa ? Karena ada perbedaan dan perubahan perilaku kita ketika menghadapi perilaku nakal mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu, anak berpikir bahwa orangtuanya pasti mau dan bisa memperhatikan, mengerti, memahami kebutuhannya seperti ketika mereka masih bayi, ketika mereka masih belum paham bagaimana mengungkapkan kebutuhan mereka.                                                                                                                                             Tapi… yang terjadi adalah sebaliknya. Orangtua malah bersikap represif dalam menanggapi perilaku nakal yang mereka tunjukkan. Bagi anak-anak, ini adalah suatu perubahan dan kejadian yang membingungkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa hal diatas bisa terjadi ? Apa benar, bahwa anak-anak itu, tidak tahu harus bagaimana mengutarakan kebutuhan emosinya ?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau mau tahu jawaban yang sesungguhnya, mudah sekali. Coba kita cek ke dalam diri kita yang terdalam, sejujurnya apakah para orangtua pembaca rutin mengajarkan, memberi contoh kepada anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya ?</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita jarang apalagi hampir tidak pernah melatih anak-anak untuk mengungkapkan perasaan, maka sudah dapat dipastikan anak-anak tidak akan bisa mengungkapkan kebutuhan perasaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terjadi di sini adalah salah mempersepsikan ( <em>persepsi=resiko salah tinggi</em> ). Yang sering terjadi, ketika anak-anak “berulah” sesungguhnya mereka sedang mengkomunikasikan perasaannya. Perasaannya membutuhkan sesuatu dari orangtuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Misal saja, ketika perasaan anak sedang membutuhkan pengakuan, tapi reaksi yang diberikan orangtuanya adaah amarah. Maka jelas disini ada ketidakcocokan antara kebutuhan dan pemenuhannya. Ketidakpasan inilah yang menyebabkan anak-anak menjadi semakin “berulah”.  Melihat hal ini, orangtua semakin beranggapan, kalau anaknya semakin nakal/membangkang dst, dst… tak ada selesainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, anak-anak beranggapan orangtuanya tidak cinta pada mereka, mereka merasa tidak nyaman, tidak aman dengan orangtuanya, orangtua tidak mengerti mereka dst dst…..</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah benar para orangtua terkasih ?</p>
<p><strong>Keluarga Harmonis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apa dan bagaimana Keluarga Harmonis itu ?                                                                                          Ketika, orangtua menyadari peran dan tanggungjawab terhadap diri sendiri dan anak-anak, secara fisik dan mental serta hubungan keduanya, maka terciptalah satu hubungan yang laras, yang seimbang, itulah Kondisi Harmonis.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memiliki contoh, yaitu <strong><em>Kel. Bpk. Ariesandi Setiono ( Founder SekolahOrangtua ), </em></strong>kebetulan saya mengenal keluarga ini dengan baik.                                                                                Keluarga pak Aries beranggotakan 5 orang, suami-istri dan 3 orang anak. Sejak dini, keluarga pak Aries mengajarkan keterbukaan dan penerimaan total untuk semua anggota keluarganya. Sehingga komunikasi yang terjadi berjalan sangat baik. Masing-masing keunikan anggota keluarga dipahami dan diterima apa adanya.                                                                                               Peran orangtua bukan penguasa namun sebagai Pelatih Kesuksesan bagi anak-anaknya. Perbedaan bukan dipandang sebagai penghambat jalannya sistem keluarga, justru dipandang sebagai kekayaan keluarga. Jadinya, keluarga ini merasa kaya.                                                                  Seiring waktu, kondisi ini tidak saja membuat para anggota keluarga semakin erat / kompak tapi kemakmuran-nya pun berkembang dengan sangat baik sekali.                                                                     Inilah yang saya maksudkan sebagai Keluarga yang Seimbang ( Harmonis )….Mau….???</p>
<p><strong>The Way of Success Family Principles</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencapai apa yang kita inginkan, secara garis besar ada 2 sumber yang kita butuhkan, yaitu :</p>
<ol>
<li><em>Sumber Dalam ( Internal Resources ) </em></li>
<li><em>Sumber Luar ( External Resources ) </em></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pengalaman saya di lapangan, saya lebih banyak menjumpai orang yang berpikir, bahwa untuk meraih impiannya ( <em>Success Family</em> ), maka yang paling penting adalah memiliki skill yang mampu “ menguasai / mengontrol “ orang lain ( <em>pasangan / anak-anak</em> ).</p>
<p style="text-align: justify;">Fokusnya lebih pada peningkatan “ <em>Kemampuan External</em> “, karena sebagian besar orang berpikir, bahwa dengan memiliki skill yang mampu mengontrol seseorang maka, mereka dengan mudah meraih apa yang diinginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Idealnya untuk meraih apa yang kita inginkan ( tak terkecuali Keluarga Harmonis ), dibutuhkan <strong><em>Kesimbangan</em></strong>, Kekuatan Internal dan External diri kita.</p>
<p><strong>7 Principles Success Family</strong></p>
<ol>
<li><em>Kesadaran Pribadi</em></li>
<li><em>Tanggung Jawab</em></li>
<li><em>Visi – Misi Keluarga</em></li>
<li><em>Komunikasi Efektif</em></li>
<li><em>Relationship</em></li>
<li><em>Keuangan </em></li>
<li><em>Family Coach</em></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dalam artikel saya kali ini, saya hanya menyinggung perihal Membangun Relasi yang kuat / erat ( Prinsip 5 ) khususnya antara orangtua dan anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu syarat terciptanya <em>Strong Relationship</em> adalah Penerimaan Total.</p>
<p style="text-align: justify;">Penerimaan Total artinya kita mau memahami dan menerima perbedaan antar pribadi. Dan perbedaan itu dianggap sebagai sebuah karunia alam semesta untuk saling mendukung dan melengkapi untuk tercapainya sebuah Kesuksesan Besar ( Keluarga ).</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, kita perlu melihat kedalam diri kita sendiri, seperti apa Karakter kita, seperti apa Gaya / Style Komunikasi kita dan seperti apa Bahasa Cinta kita. Dan kita juga perlu mengetahui dan memahami milik anggota keluarga kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila kita sudah sampai pada tahap itu, maka kita akan mudah untuk saling mengerti, saling memahami dan saling mendukung. Dan kita telah menghilangkan satu <em>penghambat besar terwujudnya Keluarga Harmonis.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika salah satu anggota keluarga, misal anak, bersikap “nakal<em> / </em>berulah”, maka kita bisa lebih menahan diri untuk mau melihat lebih jauh dibalik kenakalannya. Disana kita akan menemukan dengan lebih jelas, apa yang sesungguhnya ia butuhkan ? Apakah mungkin “Tangki Cinta”nya lagi kosong ? dll. Dengan mengetahui lebih jelas dan pasti ( bukannya menduga-duga / ber-persepsi ) maka, anak akan merasa dirinya Aman, diCintai tanpa syarat dan diAkui                                ( 3 Kebutuhan Utama Manusia ). Dengan diisinya Kebutuhan Dasar ini, maka bukan saja masalah lebih cepat diatasi, yang lebih penting adalah anak akan tumbuh dengan emosi yang sehat. Hal ini jelas sangat bermanfaat untuk perkembangan potensi diri anak. Anak lebih yakin dengan masa depannya dan lebih simple untuk meraih kesuksesan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>First Step to Harmony Relationship</strong></p>
<ol>
<li>Munculkan state mau mendengar dan mengerti</li>
<li>Ajukan <strong>APA</strong> :</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">- <strong>A</strong>kui Perasaannya, contoh : Ketika anak berulah, kita bisa minta dia untuk tenang terlebih dulu, dengan mengatakan,                                                                                           <em>“John…, papa/mama minta kamu untuk tenang, kamu mau kan ?”….                                                                   ”Kamu ingin papa/mama bisa mengerti apa yang kamu inginkan, iya kan ? “….                                    “Ok, kamu sekarang tenang dulu….. dan papa/mama siap mendengar, agar bisa mengerti apa yang kamu rasakan dan butuhkan “…. </em>( pada tahap ini, anak merasa dirinya dimengerti dan aman emosinya )</p>
<p style="text-align: justify;">- <strong>P</strong>ahami Perasaannya, dengan mau mendengar dan mengerti apa yang dirasakan dan dibutuhkan anak, maka kita bisa memahami perasaan anak kita. Munculkan rasa empati. Katakan pada anak…                                                                                                                             <em>”Ok John, papa/mama bisa memahami apa yang sedang kamu alami ini. Ketika papa/mama mengalami masalah seperti itu, bisa jadi papa/mama akan merasakan seperti apa yang kamu rasakan saat ini… </em>( pada tahap ini, anak akan jauh lebih tenang dan jauh lebih terbuka dengan orangtua. Ia merasa dirinya dipahami / diterima )</p>
<p style="text-align: justify;">- <strong>A</strong>rahkan Dirinya, dengan mau mengakui dan memahami apa yang dirasakan anak, maka anak dengan senang hati dan terbuka untuk menerima arahan Anda sebagai orangtuanya.                                                                                                                                      <em>“Ok John, agar lain waktu kamu bisa mendapatkan <strong>apa yang kamu </strong></em><strong><em>ingin rasakan</em></strong><em> </em><em>maka kamu bisa melakukan …………( isinya saran Anda ), ok…apakah ini cukup jelas bagi kamu ?&#8230;                                                                                                                                 “Bagaimana perasaanmu sekarang ?&#8230;                                                                                                Ok, apakah kamu merasa jauh lebih nyaman / enak ?&#8230;                                                                                       Apakah perasaan seperti ini yang kamu inginkan ?&#8230;                                                                                          Benar, seperti ini yang kamu inginkan ?&#8230;                                                                                                   Ok John, papa/mama yakin kamu semakin hari semakin hebat… </em><strong>Tutup dengan pelukan hangat, penuh kasih sayang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan dicoba untuk dibuktikan Metode yang simple dan efektif ini. Bila Anda merasa sharing artikel ini bermanfaat, apalagi kalau Anda merasakan langsung manfaatnya ( terbukti ), maukah Anda sampaikan dan beritahukan ke saudara ataupun teman-teman Anda ?</p>
<p>Thank U,</p>
<p>Salam hangat,</p>
<p>Hemmarata, Succes Coach</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/10/17/%e2%80%9ca-p-a-method%e2%80%9d-kunci-membangun-strong-relationship/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop ! Jangan Nilai dan Label Anakku Tersayang !</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/06/16/stop-jangan-nilai-dan-label-anakku-tersayang/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/06/16/stop-jangan-nilai-dan-label-anakku-tersayang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 03:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandra M.,MPsi,Psikolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[“Anak Anda hiperaktif ya ?” Bisik seorang dokter spesialis  kulit kepada saya dan suami saya. 
  Kaget juga ketika ditanya seperti itu oleh seorang pihak  yang kami percaya untuk mengobati kulit anak kami, Kaizen, yang terkena gigitan  serangga. 
  Hampir 2 tahun, kami membesarkan Kaizen dan tidak sedikitpun kami melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">“Anak Anda hiperaktif ya ?” Bisik seorang dokter spesialis  kulit kepada saya dan suami saya. </p>
<p align="justify">  Kaget juga ketika ditanya seperti itu oleh seorang pihak  yang kami percaya untuk mengobati kulit anak kami, Kaizen, yang terkena gigitan  serangga. </p>
<p align="justify">  Hampir 2 tahun, kami membesarkan Kaizen dan tidak sedikitpun kami melihat  adanya gejala hiperaktif dalam diri Kaizen. Padahal saya seorang psikolog yang  bergerak di dunia anak-anak dan hidup didalamnya. Minat saya dan niat saya  adalah ingin membantu orangtua mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik  lagi. Eee… ada seorang dokter spesialis kulit yang dengan seenaknya sendiri menilai  dan melabel anak saya tercinta, hanya dari pertemuan sekali seumur hidup, cuman  5 menit saja. </p>
<p align="justify">  Saat itu Kaizen masih berusia 1 tahun 6 bulan. Masa dimana  anak-anak ingin memegang segala sesuatu, ingin menaiki segala sesuatu dan ingin  semuanya. Pokoknya semua hal adalah baru baginya sehingga menarik untuk  dipegang, dilihat dan dinaiki.  </p>
<p align="justify">  “Bukan dok, AKTIF bukan hiperaktif.” Demikian jawaban saya  sambil sedikit menahan dongkol. Untung saja, dokter itu tidak menanyakan lebih  lanjut. Jika iya… mungkin bisa saya kuliahi beliaunya dari A hingga Z tentang  anak Hiperaktif. </p>
<p align="justify">  Namun… dari pertemuan singkat itu, membuat saya merenung  kembali tentang kejadian yang menimpa saya. <br />
  Bagaimana jika pasangan yang ditanya itu bukan kami ? <br />
Bagaimana jika anak yang dilabel seperti itu bukan Kaizen melainkan anak orang  yang lain yang kebetulan memiliki karakteristik aktif seperti Kaizen kemudian  di label Hiperaktif oleh dokter spesialis kulit itu ? </p>
<p align="justify">  Saya bisa membayangkan orangtua itu pasti akan merasa ada yang  salah dengan anaknya. Kemudian segera memeriksakan anaknya kepada pihak-pihak  yang dianggap berkompeten. Ketika hasilnya mengatakan bahwa anaknya normal.  Orangtua merasa tidak percaya,”Bagaimana bisa normal ? Ini dokter yang  mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh dengan anak saya. Dokter spesialis lagi.  Anak saya ini tidak bisa diam, pegang sana pegang sini. Kalau diajak ngomong  tidak mau liat kearah saya. Diam hanya kalau tidur saja. Kalau sudah bangun  tidur, rumah sudah dapat dipastikan berantakan kaya kapal pecah. PERIKSA ULANG  ! apa saya perlu bawa ke psikiater atau psikolog lain ?”. </p>
<p align="justify">  Ada pengalaman yang terjadi dengan teman saya yang menikah  dengan orang asing dan tinggal disana, ikut suami. Anak pertamanya baru  berbicara dengan lancar ketika usianya menjelang 3 tahun. </p>
<p align="justify">  Apakah ini normal ? Yup… anak ini masih tergolong normal  karena sehari-hari ia menggunakan bahasa indonesia dengan ibunya sedangkan jika  dengan ayahnya ia menggunakan bahasa mandarin. Saya berani mengatakan anak ini  normal karena ia tanggap ketika diminta melakukan sesuatu tapi ia kesulitan  untuk mengekspresikan bahasanya. Keadaan ini berarti si anak masih berproses  mencerna kata-kata yang ada dikepalanya, antara bahasa indonesia atau bahasa  mandarin. Ketika kognitifnya telah mampu mencerna, terbukalah lidah dan bibir  si anak, banyak kata yang keluar dari bibir mungilnya.   </p>
<p align="justify">  Ada lagi kasus tentang anak usia 2 tahun 4 bulan yang sulit  makan, jam tidur yang terbalik antara pagi dan malam, yang jika diajak  berbicara tidak mau menatap mata lawan bicaranya, ketika diminta melakukan  sesuatu tidak mau tapi ketika tidak diminta, anak ini bisa melakukan dengan  benar. Pengasuh barunya sudah merasa ada yang tidak beres dengan anak asuhnya  ini dan sudah bingung bagaimana cara membuat anak ini bisa berperilaku normal  seperti anak kebanyakan. Tentu saja niat baik pengasuh tidak tepat sasaran karena  anak ini sebenarnya adalah anak normal yang berada dalam pengasuhan orangtua  yang kurang perhatian. Ayah ibunya sibuk bekerja, sehari-hari ia lebih sering bersama  neneknya. Permainannya yang tersering dimainkan adalah playstation. Kondisi  keluarga si anak inilah yang menyebabkan anak ini menjadi sedikit terlambat  dalam beberapa aspek perkembangannya. </p>
<p align="justify">  Orangtua yang baik,  terkadang kita ini terlalu mendengarkan orang lain ketimbang anak sendiri.  Terkadang pula kita ini tidak mempercayai kemampuan anak kita dan buru-buru  menilai anak kita memiliki kekurangan dan bermasalah. Bahkan jika yang melabel  anak kita adalah seorang psikolog ataupun psikiater pun, anda harus bersikap  tidak percaya dan mencari bukti kebenaran dari label mereka. </p>
<p align="justify">  Bagaimana caranya ? BELAJAR ! </p>
<p align="justify">  Cari tahu tentang perilaku dan ciri anak yang dianggap  berkebutuhan khusus. Observasi langsung anak yang memang benar-benar memiliki  kebutuhan khusus. Belajar juga ciri anak normal pada umumnya. Terkadang anak  normal pun bisa terlihat mirip dengan anak berkebutuhan khusus.<br />
Jika anda telah memiliki cukup bukti barulah anda bisa mengambil keputusan  hendak diasuh dan dididik seperti apa anak kita sesuai dengan kebutuhannya. </p>
<p align="justify">  Terakhir ! Refleksikan diri anda. Apakah kita telah menjadi orangtua yang baik  bagi anak kita ? </p>
<p align="justify">  Fenomena banyaknya anak yang dilabel berkebutuhan khusus mulai meningkat  akhir-akhir ini. Ada kemungkinan peningkatan ini bukan disebabkan memang banyak  anak lahir dengan kebutuhan khusus melainkan banyak orangtua yang terlalu sibuk  untuk bekerja dan sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, orangtua lupa untuk  belajar mengenai perkembangan anak sesuai usianya dan memantaunya. </p>
<p align="justify">  Kurangnya pengetahuan ini mengakibatkan orangtua tidak tahu apa yang bisa  dilakukan oleh anak usia tertentu tapi mereka menuntut anak-anak mereka mampu  berperilaku baik, sopan dan penurut. </p>
<p align="justify">  Baik, sopan dan penurut, bukanlah perilaku ajaib yang bisa terjadi dalam  sekejap mata. Perilaku ini harus dilatih dan dikembangkan. Ada masanya untuk  usia berapa kita sudah mulai bisa mengajarkannya.  </p>
<p align="justify">  Perilaku “nakal” yang ditampilkan oleh anak seringkali merupakan akibat dari  perilaku kita sendiri. misal anak usia 2 tahun, tidak mau mendengarkan nasihat  dari kita, suka melanggar hal-hal yang kita larang untuk dipegang. </p>
<p align="justify">  Coba cek ! apakah anda terlalu sering melarang anak kita untuk memegang hal-hal  yang sedikit kotor ? Apakah Anda terlalu sering melarang anak untuk tidak  naik-naik kursi/meja/jendela ? Apakah Anda terlalu sering untuk meminta anak  cuci tangan karena telah memegang tanah ? </p>
<p align="justify">  Terlalu seringnya anak usia 1-2 tahun dilarang ini dan itu, bisa menyebabkan  anak mengembangkan perilaku membangkang, yang pada akhirnya akan menjadi  karakter bandel. </p>
<p align="justify">  Masa 1-2 tahun adalah masa eksplorasi bagi anak. Jadi merupakan hal yang wajar  jika semua hal adalah baru dan menarik bagi dirinya karena dia memang baru saja  melepaskan diri dari sangkarnya. Dari semula yang tidak bisa berjalan kemudian  bisa berjalan bebas tanpa harus dipegangi lagi. </p>
<p align="justify">  Simpanlah kata larangan Anda hanya untuk hal-hal yang berbahaya dan untuk  hal-hal yang memang belum waktunya disentuh. Jika Anda melakukan ini,  niscaya anak akan mendengarkan ketika kita  melarang untuk memegang sesuatu. </p>
<p align="justify">  Jika kita menerapkan ini maka kita telah menangkal salah satu hukum pikiran  manusia (yang aneh) yaitu “Semakin Dilarang Semakin Menarik”.  <br />
Jadi apa yang harus kita lakukan dengan penilaian orang  lain  yang belum tentu benar dan  terkadang ngawur itu ? </p>
<p align="justify">  Kita tidak bisa menghindari penilaian orang karena penilaian  itu adalah hak setiap orang. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana sikap  kita dalam menanggapi penilaian mereka yang menurut kita kurang tepat. Kitalah  yang paling mengenal diri anak kita bukan orang lain. Kita lah yang paling lama  bersama anak kita, jadi jangan biarkan penilaian orang lain membuat kita  ragu-ragu terhadap anak kita. Keraguan kita akan sangat jelas terbaca oleh anak  kita melalui perilaku kita. Keraguan kita akan berakibat anak pun akan  meragukan dirinya sendiri. </p>
<p align="justify">  Kita sendiripun sering ragu terhadap diri kita sendiri, mungkin saja hal ini  diakibatkan diri kita terlalu sering diragukan   oleh orangtua kita sendiri pada masa lampau. </p>
<p align="justify">  Anak-anak itu memiliki perkembangan yang sangat pesat baik  fisik maupun psikis. Label yang diberikan secara sembarangan bisa membuat anak  kita berhenti berkembang. Apalagi jika label itu menyangkut psikisnya. </p>
<p align="justify">  Tahukah Anda bahwa perkembangan yang optimal itu ditopang  oleh pondasi psikis yang baik ? <br />
  Tubuh memang boleh cacat tapi pikiran harus tetap prima. <br />
Pikiran yang prima akan memudahkan kita untuk menangani setiap tantangan  kehidupan yang ada.</p>
<p align="justify">Salam hangat penuh cinta untuk Anda Sekeluarga<br />
  Sandra Mungliandi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/06/16/stop-jangan-nilai-dan-label-anakku-tersayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Nakal Dilahirkan?</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/05/24/anak-nakal-dilahirkan/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/05/24/anak-nakal-dilahirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 06:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandra M.,MPsi,Psikolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1950</guid>
		<description><![CDATA[“Aduh duhh….”. Keluh seorang ibu sambil mengelus dada.
“Napa, jeng ?”. Tanya tetangga sebelah rumah dengan nada perlahan. “Jantungnya bermasalah ?”.
“E… Bapak Santoso. Nggak pak…”. Jawab ibu tersebut sambil tersenyum malu. 
“Saya cuman sedang sedih, jengkel dan marah. Campur aduk dah pak. Saya ini kok bisa melahirkan anak yang nakal ? Anak saya ini loh, pak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Aduh duhh….”. Keluh seorang ibu sambil mengelus dada.</p>
<p>“Napa, jeng ?”. Tanya tetangga sebelah rumah dengan nada perlahan. “Jantungnya bermasalah ?”.</p>
<p>“E… Bapak Santoso. Nggak pak…”. Jawab ibu tersebut sambil tersenyum malu. </p>
<p>“Saya cuman sedang sedih, jengkel dan marah. Campur aduk dah pak. Saya ini kok bisa melahirkan anak yang nakal ? Anak saya ini loh, pak. Bikin saya gemes melihat dan mendengar perilaku anak saya setiap hari. Mulai dari gak mau disuruh belajar, suka bohong, tidak punya semangat kalau ngadepin kesulitan, tidak disiplin ngikutin aturan. Hampir tiap hari saya mendapatkan laporan dari gurunya dan hampir setiap hari saya harus teriak-teriak di dalam rumah untuk mendisiplinkan anak saya. Saya jadi gak tahan ada di rumah, penginnya kerja melulu. Daripada pulang, kemudian ketemu anak saya&#8230; terus harus ngadepin kenakalan anak saya.” Cerocos ibu itu tanpa bisa di rem.</p>
<p><strong>Benarkah anak nakal dilahirkan ?</strong></p>
<p>Setiap anak memang dilahirkan. Tidak ada seorang anak yang hidup di dunia ini tanpa melalui proses kelahiran. Jadi kalimat diatas 50 % tepat tapi 50 % lainnya salah ! </p>
<p>Kenakalan ada dalam diri anak bukan karena dilahirkan. Bukan karena takdir. Bukan juga karena turunan / warisan dari kakek nenek moyang.</p>
<p>Kenakalan terjadi karena pembentukan dari lingkungan. Karena kenakalan tidak termasuk warisan gen maka tentu saja bisa dicegah agar tidak terbentuk. Bagaimana mencegahnya? </p>
<p>Kenakalan pada anak terjadi, hampir selalu diawali dengan satu kesalahan yaitu kesalahan dalam proses komunikasi. Komunikasi sendiri merupakan suatu proses yang membutuhkan kemampuan memahami dan menyampaikan ide/perasaan kepada orang lain.</p>
<p><strong>Kesalahan terbesar dan terbanyak yang dilakukan oleh orangtua dalam berkomunikasi adalah kegagalan untuk memahami anak terlebih dahulu (memahami karakter anak, memahami bahasa cinta anak, dan memahami kebutuhan anak).<br />
</strong></p>
<p>Berapa banyak dari kita yang meminta anak untuk memahami kita terlebih dahulu dan mengerti keinginan kita. Pernahkah kita meminta anak seperti ini : “Ibu yang melahirkan kamu, jadi ibu yang paling mengerti keinginan kamu.“ Atau, “Ayah yang menyekolahkan kamu sampai tinggi. Ayah juga yang memberi kamu makan nasi bukan batu. Jadi sudah sepantasnya kamu berbakti dan taat kepada ayah !”.</p>
<p>Ketika kita gagal memahami anak maka anak akan berusaha mencari AKAL agar bisa dipahami oleh kita yaitu dengan melakukan hal yang tidak kita sukai atau sebaliknya. Akal-akal yang nakal inilah yang membuat kita pusing 7 keliling.</p>
<p>Apa saja yang perlu kita pahami terlebih dahulu dalam diri anak agar komunikasi bisa berjalan dengan mulus ?</p>
<ul>
<li>Tipe kepribadian anak Anda sehingga Anda bisa mengetahui apa yang disukai atau dibenci oleh anak Anda. Anda juga akan mengerti bagaimana memberikan motivasi sesuai dengan tipe kepribadian anak Anda.</li>
<li>Cara salah yang sering digunakan orangtua dalam menasehati anaknya mengakibatkan anak tumbuh menjadi seseorang yang sering ragu-ragu, tidak percaya diri dan sulit mengambil keputusan.</li>
<li>Cara berkomunikasi agar anak mau mendengarkan dan fokus dengan apa yang disampaikan orangtua.</li>
<li>Mengenali bahasa cinta anak Anda. Berbicara dengan bahasa cinta yang tepat akan membuat anak benar-benar merasa dicintai oleh orangtuanya.</li>
</ul>
<p>Jadi, jika ada SATU SKILL PENTING yang harus dimiliki oleh setiap orangtua, skill itu adalah bisa berkomunikasi efektif dengan anak. Anak menjadi merasa dicintai dan dimengerti oleh orangtuanya. Itulah SKILL TERPENTING yang perlu dimiliki oleh semua orangtua.</p>
<p>Semoga artikel singkat ini bermanfaat dan memberikan perspektif baru bagi Anda semua dalam berkomunikasi dengan anak Anda. Silakan beri komentar Anda tentang artikel ini di bagian bawah. Kami akan senang sekali mendengar komentar Anda.</p>
<p>NB: Oh ya, Sekolah Orangtua memiliki <a href="http://www.sekolahorangtua.com/products-page/product-package/pkt002-paket-effective-communication-in-parenting/" >paket Effective Communication in Parenting</a> yang menjelaskan secara detil semua hal yang berhubungan dengan cara komunikasi efektif dengan anak. Lebih dari 6 jam pembelajaran bisa Anda peroleh dari paket DVD dan CD tersebut.</p>
<p>Dalam rangka menyambut Ulang Tahun Kota Surabaya tgl 31 Mei nanti, Sekolah Orangtua akan melakukan <strong>SALE dan BIG DISCOUNT sebesar 40% untuk <a href="http://www.sekolahorangtua.com/products-page/product-package/pkt002-paket-effective-communication-in-parenting/" >Paket Effective Communication in Parenting</a> ini </strong>. Jadi dari harga semula Rp 500.000,- menjadi Rp 300.000,- (Hemat Rp 200.000,-). Detil dari paket ini bisa dilihat di <a href="http://www.sekolahorangtua.com/products-page/product-package/pkt002-paket-effective-communication-in-parenting/" >halaman paket ini</a>.</p>
<p>SALE DISKON 40% HANYA selama <strong>3 hari saja yaitu Selasa tanggal 31 Mei, Rabu 1 Juni dan Kamis 2 Juni</strong>. Bagaimana prosedur pembelian? Bisa dibaca di halaman <a href="http://www.sekolahorangtua.com/faq/cara-berbelanja/" >Cara Berbelanja</a>.</p>
<p>Semoga bermanfaat! Sukses selalu buat Anda!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/05/24/anak-nakal-dilahirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mana Model Pengasuhan Sementara yang Cocok untuk Ibu Bekerja ?</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2011/05/05/mana-model-pengasuhan-sementara-yang-cocok-untuk-ibu-bekerja/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2011/05/05/mana-model-pengasuhan-sementara-yang-cocok-untuk-ibu-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 04:49:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandra M.,MPsi,Psikolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1937</guid>
		<description><![CDATA[Dunia ini memang sudah sangat berubah, jika dibandingkan dengan keadaan 15 tahun yang lalu. Peran pencari nafkah saat ini, tidak lagi diemban oleh ayah seorang saja. Ibu pun sudah harus ikut turun gunung agar asap dapur tetap mengepul dan gaya hidup bisa terakomodasi. Penghasilan dari 1 pintu saja, tidak cukup untuk digunakan di jaman sekarang.
Konsekuensi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dunia ini memang sudah sangat berubah, jika dibandingkan dengan keadaan 15 tahun yang lalu. Peran pencari nafkah saat ini, tidak lagi diemban oleh ayah seorang saja. Ibu pun sudah harus ikut turun gunung agar asap dapur tetap mengepul dan gaya hidup bisa terakomodasi. Penghasilan dari 1 pintu saja, tidak cukup untuk digunakan di jaman sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Konsekuensi dari perubahan ini paling berdampak pada kehidupan anak. Anak tidak lagi sering bertemu dengan ayah ibunya. Ia lebih sering bergaul dengan pengasuh, nanny, ataupun baby sitternya dibandingkan dengan kita. Bahkan tak jarang, pertemuan keluarga inti yang lengkap, hanya bisa dilakukan di hari sabtu minggu. Itupun jika tidak ada perjanjian bisnis mendadak atau panggilan bos di hari libur. Ironis bukan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya…. Ada sisi baiknya sich dari perubahan fenomena ini yaitu munculnya lapangan kerja baru bagi para pengasuh anak. Jadi tidak perlu ke luar negeri menjadi TKI/TKW, cukup di dalam negeri mengasuh (dan kalau bisa mendidik) anak bangsa penentu masa depan negara ini. Atau munculnya Rumah Anak/Tempat Penitipan Anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah… permasalahan yang sering muncul dalam pengasuhan modern ini adalah memilih pengasuh yang cocok dan top ! Ketepatan dalam memilih pengasuh akan sangat membantu anak mengembangkan dirinya agar berkembang optimal. Kesalahan memilih pengasuh, tentu saja akan berdampak pada masa depan anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh nyata (dan memang benaran terjadi !) mengenai kesalahan dalam memilih pengasuh terjadi pada Raja Inggris, George VI, ayah dari ratu Elizabeth II sekarang. “Lo kok bisa ? itu kan raja. Bisa juga ya salah memilih pengasuh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Yup. Nanny (panggilan pengasuh di Inggris) yang dipilih untuk mengasuh Raja George VI bukan nanny yang peduli ataupun berkarakter nurturing. Ia bertipe nanny yang keras dan tidak memahami kebutuhan anak. Akibat dari kesalahan dalam memperlakukan George kecil, George tumbuh dewasa dengan mengidap penyakit stutering/gagap. Gangguan bicara ini harus diidap oleh George hingga ia dewasa bahkan ketika ia dilantik menjadi raja. Demikian dahsyatnya kesalahan pengasuhan di masa kecil yang berdampak pada keseluruhan hidup seorang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, pengasuh dan anak merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena keterbatasan seorang anak maka ia membutuhkan orang dewasa untuk mendampinginya sebelum ia menginjak dunia dewasa itu sendiri. Siapapun pengasuhnya, bisa anda sendiri sebagai orangtua maupun seseorang profesional yang anda bayar karena anda tidak memiliki waktu untuk mengasuh, anda perlu cermat dalam mengenali karakteristik yang sesuai.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak dan pengasuhnya itu dapat diibaratkan penari balet berpasangan yang biasa disebut pas de deux. Penari wanita dapat menari dengan bebas, melompat kesana kemari dan berputar ke kanan kiri, hal ini karena kerjasama yang jempolan dengan penari prianya. Coba anda bayangkan jika penari pria tidak memiliki karakter penari balet yang baik yaitu kemampuan menari, kemampuan untuk membaca timing (waktu) kapan si penari wanita akan meloncat, dan kemampuan fisik untuk mengangkat tubuh si penari wanita. tentu penari wanita akan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan tariannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengasuh itu sama seperti penari pria, ia harus mampu menopang penari wanita  tapi juga perlu menjaga keharmonisan gerakannya agar dapat memperindah tarian itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi… pengasuh seperti apa yang akan Anda pilih untuk menemani buah hati Anda sepanjang hari ?</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, pilihan pengasuh sudah beragam. Kita bisa memilih memasukkan anak di sebuah Tempat Penitipan Anak (TPA), membayar nanny profesional, baby sitter part time, atau pembantu rumah tangga.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rumah Anak</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam artikel ini, saya lebih sreg menggunakan istilah Rumah Anak dibandingkan dengan Tempat Penitipan Anak karena penggunaan kata titip berkesan seperti barang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi poin utama untuk memilih RA yang baik adalah apakah mereka memperlakukan anak-anak disana sebagai seorang individu atau sebagai barang yang sekedar dititipkan. Cari tahu mengenai masalah ini dengan melihat program yang ditawarkan oleh mereka. Jangan tergiur dengan fasilitas yang disediakan karena fasilitas tidak menjamin perlakuan terhadap anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak itu sangat sederhana (kalau memang tidak dibiasakan bermain dengan barang elektronik). Mainan apapun bisa menjadi mainan bagi mereka. Bahkan bawang merah ataupun peralatan dapur sudah bisa menjadi mainan bagi anak usia toddler (1.5-3 tahun).</p>
<p style="text-align: justify;">Perlakuan apa yang perlu kita cek ?</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Karakter pengasuh/nanny : ramahkah ia ? Strategi apa yang telah ia siapkan untuk menghadapi perilaku rewel anak ?</li>
<li>Person in charge/penanggung jawab tempat</li>
<li>Program kegiatan harian anak.</li>
<li>Kebersihan tempat.</li>
<li>Penanganan emergency</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Keunggulan dari RA ini adalah adanya sistem pengawasan dari Penanggung jawab sehingga kesalahan bisa segera dibetulkan. Anak pun bisa enjoy karena banyak teman dan permainan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nanny Profesional vs Baby Sitter Part Time</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia terjadi kesalahan penggunaan istilah pengasuh ini. Istilah baby sitter lebih banyak digunakan untuk menjelaskan pengasuh yang seharian menjaga dan merawat anak. Padahal pada kenyataannya, istilah yang tepat untuk pengasuh, penjaga dan perawat anak yang bertanggung jawab pada kegiatan sehari-hari anak adalah nanny. Sedangkan baby sitter merupakan pengasuh anak yang hanya bekerja menjaga dan merawat anak beberapa jam sehari sesuai perjanjian dan kebutuhan. Karena bertugas menjaga hanya beberapa jam, biasanya bisa menggunakan tenaga remaja ataupun mahasiswi.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk nanny, biasanya telah memiliki bekal keterampilan mengasuh anak. Yang kurang dicermati adalah kesehatan, karakter dan pola pikir dari nanny. 2 hal ini biasanya luput dari perhatian orangtua ketika menscrening seorang nanny.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesehatan disini menyangkut kesehatan fisik dan kesehatan mental. Pengetahuannya mengenai kebersihan anak, kesehatan anak dan kemampuannya untuk menjaga kebersihan anak, peralatan yang digunakan anak dan lingkungan tinggal anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Karakter yang sebaiknya dimiliki oleh seorang nanny adalah ceria, sabar dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pola pikir yang perlu dimiliki oleh seorang nanny adalah kemauannya untuk belajar hal baru dan beradaptasi dengan aturan baru. Karena setiap rumah pasti memiliki aturan dan cara memperlakukan anak berbeda-beda.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, pola pikir yang perlu dicek dari si nanny adalah apa definisi seorang anak bagi si nanny. Apakah hanya sekedar seorang anak yang perlu diperhatikan kebersihannya saja ? ataukah sekedar seorang manusia yang perlu diperhatikan kesehatan dan perlu diberikan stimulasi kecerdasan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Nilai nilai hidup yang dianut oleh si Nanny juga perlu dicek oleh kita. Jika nanny memiliki nilai hidup : hidup ini harus dinikmati, tidak perlu lah terlalu keras bekerja, nanti bisa stres. Jika ia memiliki nilai hidup seperti ini maukah anda memintanya menjaga si kecil ?</p>
<p style="text-align: justify;">Di RA, screening ini juga perlu kita lakukan untuk melihat apakah karakter pengasuh yang disediakan oleh RA cocok dan sejalan dengan nilai-nilai hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembantu Rumah Tangga</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mempekerjakan pembantu rumah tangga untuk mengurus rumah sekaligus menjaga anak kita memiliki keuntungan sekaligus kerugian.</p>
<p style="text-align: justify;">Keuntungan yang bisa kita peroleh adalah harga murah yang kita bayar untuk 2 pekerjaan sekaligus. Keuntungan kedua adalah jika kita mendapatkan PRT yang jempolan, bagus dalam proses berpikirnya maka anakpun akan ketularan kecerdasannya. Bagaimana jika tidak ?</p>
<p style="text-align: justify;">Kerugiannya adalah biasanya fokus perhatian yang terpecah bisa menyebabkan PRT menggunakan cara menakut-nakuti anak agar anak mau dan menurut kepadanya sehingga PRT pun bisa mengerjakan tugas RT.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara mana yang paling benar ? </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada yang paling benar dalam memilihkan pengasuh yang paling cocok dengan kita. Yang ada adalah mencari model pengasuh yang tepat dengan karakter anak, karakter kita, dan situasi kita. Pilihan ada di tangan kita. Karena pengasuhan paling ideal adalah diasuh oleh ayah ibu sendiri. Nanny ataupun RA hanya lah sekedar alat untuk membantu kita. Jadi pilihlah alat yang cocok dan sesuai dengan anak dan diri Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Alat bantu untuk sreening yang populer saat ini adalah graphologi, deteksi karakter manusia melalui tulisan tangannya. Ada karakter tulisan tangan tertentu yang sebaiknya dihindari ketika mempekerjakan seorang pengasuh. Untuk saat ini, Graphologi adalah cara deteksi yang paling mudah dan sudah terbukti keakuratannya dalam pekerjaan saya mendeteksi pengasuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga apa yang sudah dijelaskan sejauh ini bermanfaat bagi Anda. Tolong beri komentar atau feedback di bawah ini, pendapat Anda tentang artikel ini dan apakah Anda ingin mendapatkan artikel lebih lanjut ttg topik ini atau topik lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam Hangat Penuh Cinta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2011/05/05/mana-model-pengasuhan-sementara-yang-cocok-untuk-ibu-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baru Terbit Buku Embryo of Success &#8211; baca sinopsisnya</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2010/09/18/baru-terbit-buku-embryo-of-success-baca-sinopsisnya/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2010/09/18/baru-terbit-buku-embryo-of-success-baca-sinopsisnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 11:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CS SekolahOrangtua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[News / Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1920</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi sukses saat besar nanti. Definisi sukses menurut setiap orangtua juga beragam tergantung persepsi masing-masing. 
Ada yang berpendapat bahwa sukses itu berkecukupan dalam segi finansial dan materi, atau berhasil dalam membangun kerajaan bisnis. Ada juga yang berpendapat bahwa sukses itu jika punya budi pekerti baik dan menolong banyak orang. Tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2010/09/the_embryo_of_success_rahasia_mempersiapkan_kesuksesan_sejak_dini.jpg" alt="the_embryo_of_success_rahasia_mempersiapkan_kesuksesan_sejak_dini" title="the_embryo_of_success_rahasia_mempersiapkan_kesuksesan_sejak_dini" width="168" height="250" class="alignleft size-full wp-image-1922" />Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi sukses saat besar nanti. Definisi sukses menurut setiap orangtua juga beragam tergantung persepsi masing-masing. </p>
<p>Ada yang berpendapat bahwa sukses itu berkecukupan dalam segi finansial dan materi, atau berhasil dalam membangun kerajaan bisnis. Ada juga yang berpendapat bahwa sukses itu jika punya budi pekerti baik dan menolong banyak orang. Tidak jarang juga yang berpendapat bahwa sukses itu jika mampu membina rumah tangga yang harmonis. Atau yang ini : sehat jasmani dan rohani secara seimbang.</p>
<p>Apapun persepsi tentang sukses yang Anda, Para Orangtua, sekarang pegang, berarti Anda pasti tidak mau hal di bawah ini terjadi pada anak Anda saat mereka dewasa nanti :</p>
<ul>
<li>Jatuh bangun terus membangun bisnis tanpa arah yang jelas</li>
<li>Sudah bekerja amat keras namun selalu tidak mampu menghasilkan uang yang cukup untuk membiayai hidupnya</li>
<li>Ditipu orang terus</li>
<li>Emosional, sensitif dan mudah meledak marah untuk hal-hal kecil sehingga hidupnya terhambat</li>
<li>Tidak jujur dan dibenci banyak orang</li>
<li>Rumah tangga berantakan bahkan berakhir dengan perceraian sehingga anak-anaknya ikut menjadi korban
<li>Kecanduan narkoba</li>
<li>Terbelenggu masalah obesitas/kegemukan sehingga kesehatan terganggu</li>
<li>Tidak mampu mengambil keputusan</li>
<li>Tidak punya motivasi untuk maju</li>
<li>Dan masih ada ratusan masalah lainnya yang jika disebutkan, dijamin Anda akan berdoa memohon supaya semua itu dijauhkan dari hidup Anda dan anak Anda.</li>
</ul>
<p>Para Orangtua yang terhormat, sadarkah Anda bahwa masa depan yaitu pola kesuksesan maupun pola kegagalan anak Anda saat ia dewasa nanti, semuanya sudah mulai terbentuk saat ia berada dalam kandungan ibunya? </p>
<p>Ya betul, Anda tidak salah baca. Kesuksesan dan kegagalan seseorang sudah mulai terpola saat ia masih berupa EMBRIO! Dalam kandungan ibunya! Dan siapa yang menentukan seperti apa pola yang akan terbentuk dalam diri sang embrio itu? Betul sekali&#8230;. Anda sebagai orangtuanya, baik ibu maupun ayahnya.</p>
<p>Jadi jika hari ini Anda sependapat dengan kami bahwa amat penting mendukung kesuksesan anak sejak dini, berapapun usia anak Anda sekarang, serta Anda adalah tipe orangtua yang bersedia melakukan yang terbaik bagi anak, maka ada satu langkah yang amat sederhana, murah, tidak menyita waktu dan tenaga banyak, namun amat penting untuk Anda lakukan sekarang juga.</p>
<p>Apakah langkah itu? Kunjungi toko buku terdekat dan dapatkan buku THE EMBRYO OF SUCCESS yang ditulis oleh terapis dan konselor keluarga berpengalaman Daniel Go dan Timothy Wibowo. </p>
<p>Apa yang ditulis di buku THE EMBRYO OF SUCCESS, berdasarkan kisah nyata pengalaman penulisnya melakukan terapi dan konseling pada banyak keluarga, membuka mata kita semua bahwa hal-hal kecil dalam hidup sehari-hari jika keliru dilakukan akan membawa dampak yang amat fatal bagi masa depan anak kita. Sebaliknya jika dilakukan dengan benar bisa membuat anak berkembang luar biasa.</p>
<p>THE EMBRYO OF SUCCESS tidak hanya membahas kasus anak dan orangtua. Banyak kasus lain diulas di sana termasuk di antaranya adalah kasus bisnis, keuangan, masalah penyimpangan perilaku dan emosi pada orang dewasa, kasus kegemukan dan lain sebagainya.</p>
<p>Hanya jika Anda siap mental, mau terbuka dan jujur pada diri sendiri, serta memiliki integritas, itulah waktunya Anda belajar dari THE EMBRYO OF SUCCESS. Mengapa? Karena banyak fakta-fakta di sana yang diungkap yang akan mengagetkan Anda.</p>
<p>THE EMBRYO OF SUCCESS menunggu orang yang tepat untuk membukanya. Jadi jika Anda merasa sudah siap sekarang, tunggu apa lagi? Bertindaklah sekarang dan selamat menjalani perubahan yang luar biasa dalam hidup Anda bersama orang-orang yang Anda kasihi.</p>
<p>&#8220;Jika dalam seumur hidup Anda hanya ingin membaca satu buku yang bisa mengubah hidup Anda, sekarang Anda sudah memegang buku itu.&#8221;</p>
<p><strong>Fredy Agus Susanto<br/><br />
Project Manager, Jakarta</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2010/09/18/baru-terbit-buku-embryo-of-success-baca-sinopsisnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Semarang: Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2010/09/17/seminar-semarang-rahasia-orangtua-efektif-memotivasi-anak-meraih-prestasi/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2010/09/17/seminar-semarang-rahasia-orangtua-efektif-memotivasi-anak-meraih-prestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Sep 2010 03:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>CS SekolahOrangtua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Seminar / Events]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/?p=1911</guid>
		<description><![CDATA[Seminar Semarang:
Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi

Klik Gambar Untuk Memperbesar

Orangtua, pernahkah Anda mengalami hal berikut:

Anak Anda lebih suka main video game daripada belajar?
 Anda sering kali harus memaksa dan mengingatkan anak untuk belajar?
 Anak Anda hanya bisa berkonsentrasi sebentar dalam belajar?
 Anak Anda susah sekali dinasehati dan diatur?

Sekarang Anda akan segera mengetahui rahasia menangani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seminar Semarang:<br />
Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi</strong></p>
<p><center><a href="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2010/09/super-parenting-smg-26-sept-10.jpg"/ ><img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/2010/09/thumb-super-parenting-smg-26-sept-10.jpg"/></a><br/><br/><br />
<strong>Klik Gambar Untuk Memperbesar</strong></center><br />
<br/><br/><br />
Orangtua, pernahkah Anda mengalami hal berikut:</p>
<ul>
<li>Anak Anda lebih suka main video game daripada belajar?</li>
<li> Anda sering kali harus memaksa dan mengingatkan anak untuk belajar?</li>
<li> Anak Anda hanya bisa berkonsentrasi sebentar dalam belajar?</li>
<li> Anak Anda susah sekali dinasehati dan diatur?</li>
</ul>
<p>Sekarang Anda akan segera mengetahui rahasia menangani semua permasalahan ini!</p>
<p><strong>Hari / Tgl : </strong>Minggu, 26 September 2010<br />
<strong>Waktu :</strong> 13.00 – 16.00 WIB<br />
<strong>Tempat :</strong> International Brand Academy (IBA) Concert Hall (Seberang Rinjani View). Jl. Rinjani 18 Semarang</p>
<p><strong>Pembicara :</strong> Daniel Go, SE., MBus., CHt.<br />
(Seorang praktisi di bidang terapi, teknologi pikiran dan parenting yang berpengalaman menangani berbagai kasus klien anak dan dewasa).<br />
Penulis buku &#8220;Embryo of Success &#8211; Reveal A Success Blueprint from Your Childhood&#8221; terbitan Gramedia</p>
<p><strong>Investasi:</strong><br />
Early Bird s/d 22 September 2010 Rp 150.000</p>
<p><strong>Pendaftaran dan Info hubungi:</strong><br />
Ibu Lina : 024 7027 6790<br />
Ibu Pauline : 081 5652 3766<br />
Reni : 0813 2669 9711</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2010/09/17/seminar-semarang-rahasia-orangtua-efektif-memotivasi-anak-meraih-prestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

