<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.2.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>SekolahOrangtua.com - Pusat Pendidikan Keluarga</title>
	<link>http://www.sekolahorangtua.com</link>
	<description>Pusat Pendidikan Keluarga</description>
	<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 22:47:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Mendaur Ulang Keyakinan Negatif: Membangun Logika Baru untuk Sukses dari Belief Negatif</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/28/mendaur-ulang-keyakinan-negatif-membangun-logika-baru-untuk-sukses-dari-belief-negatif/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/28/mendaur-ulang-keyakinan-negatif-membangun-logika-baru-untuk-sukses-dari-belief-negatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 22:47:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/28/mendaur-ulang-keyakinan-negatif-membangun-logika-baru-untuk-sukses-dari-belief-negatif/</guid>
		<description><![CDATA[  SekolahOrangtua.com mengucapkan &#8220;Selamat Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin&#8221;
Sebagai kado Lebaran kali ini saya menuliskan sebuah artikel yang akan sangat berguna untuk menyongsong lembaran baru kehidupan Anda. Marilah kita sama-sama memanfaatkan momen yang bagus ini untuk mempersiapkan diri mengalami perubahan diri. Menjadi individu yang lebih baik, menjadi pasangan yang lebih baik, [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <strong>SekolahOrangtua.com mengucapkan &#8220;Selamat Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin&#8221;</strong></p>
<p>Sebagai kado Lebaran kali ini saya menuliskan sebuah artikel yang akan sangat berguna untuk menyongsong lembaran baru kehidupan Anda. Marilah kita sama-sama memanfaatkan momen yang bagus ini untuk mempersiapkan diri mengalami perubahan diri. Menjadi individu yang lebih baik, menjadi pasangan yang lebih baik, dan menjadi orangtua yang lebih baik serta menjadi sahabat yang lebih baik.</p>
<p>Pernahkah Anda mendengar seseorang mengatakan “Hmmm tampaknya saya tak mampu menjadi agen asuransi yang baik, buktinya sudah dua bulan ini target tak tercapai” atau mungkin sebagai orangtua Anda pernah mengatakan dalam hati “Ahh, mendidik anak memang sulit, buktinya mereka sulit sekali menurut sama saya tapi kalau sama orang lain lebih menurut” dan masih banyak belief negatif lainnya.</p>
<p>Semua belief negatif tadi seakan-akan sangat logis karena didukung oleh serangkaian bukti nyata yang memperkuat hal tersebut. Dan begitu kita meyakinkan diri kita dengan serangkaian fakta tersebut maka hal tersebut menjadi sebuah program yang makin memperkuat belief negatif kita. Belief tersebut menancap makin dalam di  pikiran bawah sadar kita.<br />
Satu pertanyaan yang akan menggelitik kita semua : jika pikiran bawah sadar kita bisa diyakinkan menerima belief negatif dengan sebuah fakta nyata yang logis mungkinkah kita melakukan hal yang sama untuk belief positif?</p>
<p>Jawabannya tentu bisa ! Bagaimana caranya? Sederhana saja. Kita tinggal mengurutkan proses logika berpikir kita dan kemudian dengan kekuatan self talk yang terjadi selama proses mengurutkan belief tersebut maka kita akan menembus homeostasis dan psikosklerosis perlahan namun pasti.</p>
<p><strong>Kunci sukses</strong> untuk melakukan hal ini adalah menuliskannya dengan sungguh-sungguh dan bekerja dengan kejernihan pikiran. Tuliskan saja apa yang muncul di pikiran dalam <strong>satu kalimat singkat dan padat</strong> dan <strong>ikuti saja langkahnya</strong>. Saya sering menggunakan teknik ini untuk membantu diri saya sendiri dan ratusan anak beserta orangtuanya dengan sukses dalam ruang terapi maupun dalam sebuah pelatihan. Tentunya settingnya agak berbeda sedikit jika saya melakukannya dalam ruang terapi namun intinya tetaplah sama.</p>
<p>Baik marilah kita mulai 7 langkah super melogikakan belief  negatif  dan mengubahnya menjadi roket pendorong sukses.<br />
?    <strong>Langkah 1 </strong>: Tuliskan satu impian Anda yang penting dan bayangkan impian tersebut telah tercapai. Tuliskan bagaimana perasaan Anda saat membayangkan impian tersebut telah tercapai.<br />
Contoh : saya merasa berharga dan gembira luar biasa  dengan keberhasilan saya menjadi seorang terapis keluarga<br />
Sekarang giliran Anda : Saya merasa …………………………………</p>
<p>?    <strong>Langkah 2</strong> : Nyatakan keinginan terdalam Anda berkaitan dengan impian tersebut<br />
Contoh : saya memiliki keinginan terdalam untuk membantu banyak keluarga menjadi lebih baik dengan apa yang saya alami dan pelajari<br />
Sekarang giliran Anda : saya memiliki keinginan terdalam untuk …………………………</p>
<p>?   <strong> Langkah 3</strong> : Nyatakan belief negatif yang Anda rasaka menghambat dalam kaitannya untuk mencapai impian tersebut<br />
Contoh : Belief negatif yang menghambat saya adalah pekerjaan itu  menyita waktu saya dengan keluarga<br />
Sekarang giliran Anda : Belief negatif yang menghambat saya adalah ……………………..</p>
<p>?     <strong>Langkah 4</strong> : Nyatakan lawan dari belief negatif yang tertulis di langkah 3<br />
Contoh : Keluarga saya ingin saya bahagia dan mendukung saya mencapai impian saya<br />
Sekarang giliran Anda : ……………………………………..</p>
<p>?    <strong>Langkah 5</strong> : Nyatakan apa yang membuat Anda merasakan hidup ini akan terisi penuh. Inilah yang akan menjadi tujuan Anda<br />
Contoh : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya membuat sebuah pelatihan sistematis untuk mengajarkan bagaimana membangun keluarga yang sukses, bahagia dan makmur jasmani dan rohani<br />
Sekarang giliran Anda : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya ……………………</p>
<p>?    <strong> Langkah 6</strong> : Nyatakan fakta yang tak bisa dipungkiri yang mendukung tujuan Anda<br />
Contoh : Suatu fakta nyata bahwa banyak keluarga tak bahagia karena permasalahan yang mereka hadapi  yang membutuhkan bantuan agar menjadi lebih baik<br />
Sekarang giliran Anda : Suatu fakta nyata bahwa ………………………………..</p>
<p>?    <strong>Langkah 7 </strong>: Inilah langkah penutup yang membangun logika baru untuk hidup Anda. Langkah ini membuat Anda telah menentukan suatu alur baru dalam kehidupan. Dan begitu sebuah alur baru dibuat dalam pikiran bawah sadar  maka ia akan mewujudkannya. Tuliskan alur baru kehidupan Anda dengan mengikuti format berikut :<br />
<strong>Jika </strong>: Saya memiliki keinginan terdalam untuk ………………(ambil pernyataan di Langkah 2)<br />
<strong>Dan :</strong> Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya …………. (ambil pernyataan di Langkah 5)<br />
<strong>Dan :</strong> Adalah suatu fakta nyata bahwa ……………… (ambil pernyataan di Langkah 6)<br />
<strong>Maka</strong>:  Adalah sangat masuk akal jika ……………….   (ambil pernyataan di Langkah 4)<br />
<strong>Kesimpulan</strong> ……………………………………….</p>
<p>Jika menggunakan contoh di atas maka logikanya menjadi sebagai berikut :<br />
Jika : Saya memiliki keinginan terdalam untuk membantu banyak keluarga menjadi lebih baik dengan apa yang saya alami dan pelajari<br />
Dan : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya membuat sebuah pelatihan sistematis untuk mengajarkan bagaimana membangun keluarga yang sukses, bahagia dan makmur jasmani dan rohani<br />
Dan : Adalah suatu fakta nyata bahwa banyak keluarga tak bahagia karena permasalahan yang mereka hadapi  yang membutuhkan bantuan agar menjadi lebih baik<br />
Maka:  Adalah sangat masuk akal jika keluarga saya ingin saya bahagia dan mendukung saya mencapai impian saya<br />
Kesimpulan : Saya memiliki apapun yang perlukan untuk mewujudkan impian saya termasuk juga keluarga yang mendukung penuh.</p>
<p>Mudah bukan? Saya harap semuanya menjadi sangat jelas  karena saya berusaha menuliskan apa yang saya lakukan dalam sesi terapi dan konseling sedetail mungkin walaupun bahasa tubuh ketika saya menanyakan hal tersebut pada klien tak bisa saya gambarkan dengan detail.  Namun saya percaya bahwa jika Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh maka Anda akan mencapai suatu pencerahan baru dalam satu bagian hidup Anda.</p>
<p>Terima kasih telah mengijinkan saya menjadi satu bagian dari kesuksesan, kebahagiaan dan kemakmuran hidup Anda. Saya ikut merasakan kebahagiaan Anda.<br />
Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga</p>
<p>Ariesandi S.</p>
<p>www.ariesandi.com</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=116&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_116" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/28/mendaur-ulang-keyakinan-negatif-membangun-logika-baru-untuk-sukses-dari-belief-negatif/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>What is The Greatest Power in Human Behaviour?</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/08/what-is-the-greatest-power-in-human-behaviour/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/08/what-is-the-greatest-power-in-human-behaviour/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 19:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/08/what-is-the-greatest-power-in-human-behaviour/</guid>
		<description><![CDATA[  Sepasang suami istri duduk di ruangan saya dengan raut wajah yang tegang. Mereka telah menikah selama sembilan tahun dan hendak memutuskan untuk melakukan perceraian. Namun masih ada setetes embun di hati mereka yang membuat mereka menemui saya. “Jika tak mengingat dua anak yang menjadi tanggung jawab  maka saya akan langsung putuskan untuk meninggalkan suami [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/artikel/91023_169.jpg" alt="91023_169.jpg" title="91023_169.jpg" align="left" border="0" vspace="1" width="101" height="131" hspace="1" />Sepasang suami istri duduk di ruangan saya dengan raut wajah yang tegang. Mereka telah menikah selama sembilan tahun dan hendak memutuskan untuk melakukan perceraian. Namun masih ada setetes embun di hati mereka yang membuat mereka menemui saya. “Jika tak mengingat dua anak yang menjadi tanggung jawab  maka saya akan langsung putuskan untuk meninggalkan suami saya” demikian istrinya berkata pada saya.</p>
<p>“Sebenarnya adakah hal positif yang ada pada diri suami Anda?” tanya saya pada sang istri.<br />
”Hmmm &#8230;.. ya sebenarnya dia itu sabar dan baik. Dia mengurus banyak hal tanpa pernah mengeluh. Satu-satunya hal yang sering dia keluhkan adalah kecerewetan saya. Namun dia seringkali menyinggung perasaan saya. Saya adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Saya sih tidak masalah dengan hal itu. Marilah kita sama-sama berbagi tugas sembari menunggu usahanya maju. Namun tindakannya yang menyinggung perasaan saya seringkali membuat saya muak dan benar-benar tak tahan. Dia tak pernah menghargai <em>apa pun</em> yang telah saya lakukan. Saya telah membanting tulang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bagaimanapun  juga saya seorang wanita yang ingin merawat diri saya sendiri, ingin jalan-jalan ke mall dengan santai walaupun tak berbelanja, ataupun ingin bermanja-manja dengannya. Namun setelah semua pekerjaan yang telah saya lakukan saya tak pernah mendapatkan hal yang saya dambakan itu. Saya benci tidak bisa menjadi diri saya sendiri. Setiap kali dia meminta maaf maka saya akan memaafkannya. Namun kata-kata maaf itu seakan menjadi kata kunci untuk kesalahannya. Dia terus mengulanginya lagi. Sampai kapan saya tak tahu. Saya jenuh menunggu perubahan yang ia janjikan. Perubahan dirinya maupun perubahan kondisi finansial kami. Saya bosan dengan janji-janjinya! Lebih baik kami berpisah saja!”, demikian semua kalimat itu meluncur deras tanpa bisa dibendung.</p>
<p>”Oke saya mengerti perasaan Anda. Bagaimana dengan anak-anak?” tanya saya.<br />
”Itulah satu hal yang memberatkan saya. Saya tidak ingin anak saya mengalami kejadian yang tak menyenangkan. Saya tak ingin anak-anak saya memiliki orangtua yang bercerai. Tapi saya sudah tak kuat lagi!”, katanya sambil menguraikan air mata.</p>
<p>Beberapa saat setelah ia mulai bisa menenangkan diri maka saya berbicara dengan suaminya.<br />
”Apa yang bisa saya bantu?” tanya saya pada suaminya.<br />
”Ya itulah saya ini bingung. Saya selama ini tidak melakukan hal-hal yang aneh. Saya tidak main perempuan, saya tidak berjudi, saya tidak pernah keluar dengan teman-teman saya, bahkan merokok saja pun saya tidak suka. Sehari-hari saya hanya mengurus anak-anak. Dari mulai memandikan, memberi makan, mengantarnya sekolah, menjemputnya, mengajaknya main, dan menemani belajar.  Namun setelah itu semua saya lakukan yang saya dapatkan adalah sikap uring-uringan dari istri tanpa sebab yang jelas. Saya pun tak ingin menjalani kondisi finansial seperti ini. Namun apa mau dikata semua usaha yang saya lakukan belum membuahkan hasil seperti yang kami harapkan”, demikian kata suaminya dengan wajah memelas.</p>
<p>”Menurut Bapak apakah keluhan istri Anda yang mengatakan bahwa ia sering tersinggung dengan sikap Bapak itu benar?”, tanya saya berusaha mengklarifikasi data yang ada.<br />
”Sejujurnya saya terkadang tak pernah merasa menyinggung perasaannya. Tapi jika meminta maaf bisa meredakan hal itu maka saya akan lakukan. Saya harus bagaimana lagi?”,sambungnya dengan nada masih memelas.</p>
<p>”Tapi sikapmu itu memang sering menyinggung perasaanku!”, tiba-tiba istrinya memotong dengan sikap sinis.<br />
”Sebentar Ibu sabar dulu”, demikian saya berusaha menengahi mereka.</p>
<p>”Saya sudah sabar bertahun-tahun tanpa hasil. Sikapnya yang merasa tak bersalah inilah yang sering memicu saya untuk marah! Kondisi keuangan kami sudah memprihatinkan namun ia tak pernah melakukan usaha lebih keras demi kemajuan. Setelah mengantar anak sekolah ia pulang ke rumah dan tidur sampai siang!”, kata istrinya benar-benar seperti air bah yang tak bisa dibendung.</p>
<p>”Lalu saya harus melakukan apa. Semuanya kan tergantung pelanggan saya. Saya tak bisa memaksa mereka untuk melakukan pesanan jika mereka memang tak membutuhkannya, kan?”, kata suaminya berusaha membela diri.<br />
”Baiklah mulai sekarang Anda berdua hanya boleh bicara jika saya tanya, oke?”, kata saya mengambil kendali situasi yang tak menentu tersebut.</p>
<p>Setelah melakukan wawancara dengan keduanya saya pun mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang bisa saya lakukan untuk membantu keduanya. Singkat cerita saya membantu mereka sebanyak tiga sesi terapi setelah menemukan akar masalahnya.</p>
<p>Permasalahan mereka sebenarnya adalah muatan emosi masa lalu yang terus dibawa-bawa. Muatan emosi negatif itu terpicu ketika seseorang melakukan hal yang mirip dengan pertama kali muatan emosi itu muncul dari sebuah pemaknaan.</p>
<p>Sang istri mudah sekali merasa tersinggung jika idenya ditolak. Bahkan untuk ide keluar makan malam yang ditolak pun ia bisa merasa tersinggung berat. Ia merasa harga dirinya direndahkan. Ia tahu bahwa marah tak menyelesaikan masalah. Namun setiap kali ia berusaha menahan rasa marahnya maka ia semakin ingin meledak. Dan akhirnya &#8230;&#8230;.. meledak juga!</p>
<p>Hal ini bermula dari kejadian ketika sang istri, yang waktu itu masih seorang anak 5 tahun, disalahkan dan dimarahi oleh kakaknya. Rasa jengkel dan marah itu masih mengganjal dan dibawa terus sampai dewasa. Akibatnya ia mudah sekali merasa tersinggung. Jika dengan orang lain maka ia bisa menahan emosi negatif tersebut. Namun ketika sampai di rumah dan suami atau anak-anak . melakukan satu hal kecil saja yang bisa memicu memori tersebut maka tumpukan emosi negatif yang sudah menggunung tersebut akan langsung meledak tanpa ampun.</p>
<p>Ia tahu bahwa harusnya ia tak boleh seperti itu. Hal itu bisa merugikan perkembangan anak-anaknya. Namun keinginannya untuk berubah tak pernah kunjung kesampaian. Baginya perubahan itu terasa sangat sulit dan memakan waktu cukup lama.</p>
<p>Masalah yang dialami pasangan di atas adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang bisa kita jumpai sehari-hari. Banyak sekali pasangan yang datang meminta bantuan saya mengalami hal seperti itu. Muatan emosi negatif yang tak terselesaikan di masa kecil menjadi beban yang terus dibawa sampai di kehidupan dewasa.<br />
Efek dari muatan emosi negatif tersebut bisa dirasakan di semua aspek kehidupan - aspek relasi dengan pasangan, relasi dengan anak, kondisi finansial, pekerjaan di kantor, bisnis  dan bahkan kesehatan.</p>
<p>Di samping itu ada sebuah kekuatan / daya lain yang tak kalah kuatnya yang menyebabkan perubahan perilaku susah dilakukan. Daya ini adalah ”homeostasis”. Yes, the greatest power in human behaviour is homeostasis. Homeostasis adalah suatu daya yang berusaha mengembalikan kita pada kondisi semula. Jika kita bicara perilaku manusia maka daya ini adalah musuh nomor satu dari perubahan. Setiap orang yang ingin berubah dan setiap terapis yang membantu kliennya untuk berubah harus bisa menghadapi homeostasis.</p>
<p>Ini seperti anda menarik sebuah karet gelang. Ada sebuah daya yang kasat mata yang menahan gerakan anda untuk meregangkan karet gelang tersebut. Itulah perubahan. Setiap kali kita ingin berubah maka kita merasa tak nyaman. Kita ingin kembali ke kondisi semula.</p>
<p>Pernahkah anda menemui seseorang yang mengeluhkan rekan kantornya yang brengsek, sistem manajemen kantor yang tidak bagus dan atasan yang semena-mena? Namun ia tetap bekerja di sana sampai bertahun-tahun kemudian. Ia tak berani keluar dari zona tersebut. Baginya walaupun merasa tak nyaman namun satu hal yang sudah pasti : ketidaknyamanan tersebut sudah bisa diukurnya. Daripada menghadapi resiko ketidaknyamanan yang lebih parah di tempat baru maka lebih baik di tempat lama.</p>
<p>Itulah homeostasis. Daya ini sangat luar biasa. Bekerja di pikiran bawah sadar. Setiap keinginan sadar kita untuk berubah mendapat tantangan yang besar. Bagaimanapun juga ada satu alasan positif yang didapat jika kita tidak berubah. Karena alasan inilah maka homeostasis ada. Hanya saja ini tidak sinkron dengan keinginan sadar kita.</p>
<p>Tantangan setiap terapis  adalah membantu kliennya menyinkronkan program pikiran bawah sadar dan pikiran sadar. Jika ini bisa dilakukan maka perubahan adalah hal yang sangat mudah.</p>
<p>Satu hal yang perlu diingat adalah homeostasis ada di setiap level pencapaian kita. Ketika kita keluar dari sebuah habit lama dan masuk ke habit baru maka segera setelah itu kita masuk dalam sebuah zona kenyamanan yang baru. Zona ini menjadi tantangan lagi bagi perbaikan lebih lanjut.</p>
<p>Pada anak-anak homeostasis ini tidak terlalu kuat. Semakin kecil usia seorang anak maka semakin lemahlah daya ini. Daya ini berkembang seiring dengam berkembangnya pikiran kritis seorang anak. Saat pikiran kritis berkembang maka setiap perubahan yang akan terjadi harus melalui inspeksi oleh pikiran kritis. Ini seperti saat kita diminta memasukkan barang bawaan kita ke mesin infra merah bila kita ingin check in di bandar udara.</p>
<p>Saat sesuatu bisa diterima pikiran kritis maka informasi untuk perubahan itu dituntun masuk ke memori jangka panjang dalam pikiran bawah sadar. Jika informasi tak sesuai atau bisa menyakitkan diri kita  maka pikiran kritis akan menolaknya dan perubahan tak akan terjadi. Ingatlah bahwa perubahan ke arah yang baik pun memerlukan usaha dan ini bisa dipandang menyakitkan oleh pikiran bawah sadar yang selalu ingin berniat melindungi kita. Oleh karena itu homeostasis ini begitu kuat.</p>
<p>Salah satu cara mudah untuk mengatasinya adalah dengan bertanya pada diri kita sendiri ,&#8221;Seandainya ada hal yang lebih baik lagi bisa saya lakukan untuk &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. (menjadi lebih sabar, menjadi lebih bisa memahami diri sendiri, mengerjakan pekerjaan saya lebih baik atau apapaun) bagaimanakah saya bisa melakukannya?&#8221; Pertanyaan ini akan menuntun kita mengalami perubahan kecil-kecil yang tak akan terasa menyakitkan sehingga lama-lama perubahan kecil ini pun akan menjadi besar. Ini adalah sebuah prinsip yang terkenal dengan sebutan kaizen di Jepang. Ya betul hal yang sama dialami oleh banyak perusahaan untuk mengajak para karyawannya berubah. Mengetahui rahasia menaklukkan homestasis akan mengakibatkan unjuk kerja tinggi.</p>
<p>Apakah ada cara lain? Tentu ada. Kita akan membahasnya bersama di artikel berikutnya.</p>
<p>Semoga inspirasi ini bisa mencerahkan para orangtua di seluruh Indonesia. Menurut Anda siapakah di antara rekan, sahabat atau sanak famili  tercinta yang patut mendapatkan informasi tentang manfaat sekolahorangtua.com? Kapankah Anda bersedia  mereferensikan sekolahorangtua.com pada mereka agar  juga dapat memetik manfaat dari artikel-artikel sekolahorangtua.com demi peningkatan dirinya? Terima kasih atas kebaikan hati Anda mau menjadi sambungan tangan saya untuk menyentuh hidup lebih banyak keluarga di Indonesia.</p>
<p>Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga</p>
<p>Ariesandi (www.sekolahorangtua.com)</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=115&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_115" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/08/what-is-the-greatest-power-in-human-behaviour/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Membantu Anak Mengatasi Emosi Negatif? (1)</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/06/bagaimana-membantu-anak-mengatasi-emosi-negatif-1/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/06/bagaimana-membantu-anak-mengatasi-emosi-negatif-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 08:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/06/bagaimana-membantu-anak-mengatasi-emosi-negatif-1/</guid>
		<description><![CDATA[  Pernahkah anak Anda mengalami stres atau emosi negatif? Apakah itu normal? Bagaimana kita membantu mereka mengatasinya?
Ya itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya oleh para peserta seminar maupun para orangtua yang datang berkonsultasi. Banyak para orangtua bingung bagaimana harus membantu anak-anak mereka menghadapi hal seperti itu. Berikut adalah wacana untuk memperluas wawasan kita bersama. [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/artikel/confusedkids1.jpg" style="width: 142px; height: 95px" alt="confusedkids1.jpg" title="confusedkids1.jpg" align="left" border="0" />Pernahkah anak Anda mengalami stres atau emosi negatif? Apakah itu normal? Bagaimana kita membantu mereka mengatasinya?</p>
<p>Ya itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya oleh para peserta seminar maupun para orangtua yang datang berkonsultasi. Banyak para orangtua bingung bagaimana harus membantu anak-anak mereka menghadapi hal seperti itu. Berikut adalah wacana untuk memperluas wawasan kita bersama. Artikel ini akan membahas bagaimana membantu anak mengatasi stres  ditinjau dari usianya. Dan agar tak terlalu panjang maka artikel ini akan bersambung pada edisi berikutnya.</p>
<p>&#8220;Siapakah yang pernah mengalami stres?&#8221; tanya saya dalam sebuah acara seminar. Peserta agak bingung dan kemudian beberapa dari mereka angkat tangan. Setelah itu saya tertawa dan biasanya saya katakan bahwa pertanyaan itu tak seharusnya saya tanyakan karena semua orang pasti mengalaminya bukan?</p>
<p>Stres adalah suatu hal yang normal yang merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat terelakkan. Stres mempengaruhi setiap orang, bahkan anak-anak sekalipun. Seorang anak pra-taman kanak-kanak menjadi stres saat jadwal day-care nya diubah. Seorang anak SD menjadi sedih ketika dia tidak dapat mengerjakan tes aritmatika dengan baik. Seorang pra remaja khawatir akan perubahan tubuhnya. Dan seorang remaja merasakan stres saat dia mencoba untuk menetapkan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya.</p>
<p>Orang tua dapat mengurangi stres / emosi negatif yang dirasakan anak-anak dan mengajarkan mereka untuk mengatasi situasi yang sangat stres. Sangatlah penting untuk diingat bahwa stres adalah bagian alami dari  kehidupan anak-anak. Stres hanya akan menjadi membahayakan ketika masalah-masalah dan pertengkaran-pertengkaran dari kehidupan sehari-hari membanjiri anak anda.</p>
<p>Anak-anak dari segala usia merasakan stres ketika seorang adik bayi baru datang, perpindahan keluarga, sebuah perceraian atau pernikahan kembali dari orangtuanya atau ketika keluarga dalam tekanan hal keuangan. Ketika kita sendiri dalam keadaan stres, yakinlah untuk mengambil waktu yang tepat untuk menjelaskan situasi kepada anak-anak. Seorang anak yang tidak mengerti situasinya sering membayangkan hal-hal yang buruk. Ingatlah bahwa anak-anak belajar dari orangtuanya. Orangtua adalah orang yang paling kuat, yang perfeksionis atau pemecah masalah yang berat yang cenderung memberikan sifat-sifat ini pada anak-anak mereka.</p>
<p>Akhirnya, terlalu stres juga bisa menjadi gangguan. Kita perlu mengenali tanda-tanda dari stres yang berlebihan sehingga bisa mendapatkan bantuan untuk anak. Mencari bantuan mungkin semudah membicarakan akan situasinya kepada seorang teman, anggota keluarga atau kepala sekolah. Seseorang yang tidak asing dengan situasi keluarga kita mungkin dapat memberikan beberapa jalan keluar, nasehat yang berguna. Bila situasinya ekstrem, kita mungkin perlu untuk membicarakan dengan dokter keluarga, ahli-ahli jiwa atau bimbingan konseling sekolah, atau orang-orang profesional di bidang ini.</p>
<p><span style="font-weight: bold">Membantu anak pra-sekolah mengatasi stres</span><br />
Kebutuhan anak-anak pra-sekolah adalah mendapatkan rasa cinta, ketentraman hati dan dukungan. Mereka mempunyai sedikit penguasaan dalam kehidupan mereka sendiri dan terlalu muda untuk menggunakan kemampuan memecahkan masalah dengan baik pada situasi-situasi tertentu. Situasi stres yang umum meliputi: memulai atau perubahan jadwal day-care, memulai pra-sekolah, kedatangan seorang bayi baru atau anggota keluarga, terpisahkan dari orang tua, didisiplinkan dan toilet training. Anak-anak pra sekolah juga khawatir akan ditinggalkan atau kelaparan dan mereka mungkin menjadi takut akan orang-orang asing. Selain itu hal-hal yang menakutkan, rasa sakit dan juga hal-hal yang tidak diketahui akan membuat stres.</p>
<p>Tanda-tanda bahwa anak pra sekolah kita mengalami tekanan mental yang melebihi kekuatannya adalah : lebih lekas marah, mengalami teror malam atau mimpi buruk, lebih sering bertingkah laku kasar, menjadi lebih keras kepala atau menuntut atau bahkan menangis lebih sering dari biasanya.</p>
<p>Apa yang dapat kita lakukan? Bantulah anak kita untuk mengerti situasi. Jelaskan apa yang akan terjadi dengan cara yang mudah dimengerti dan  bahasa yang menenangkan hati. Berikanlah keberanian pada anak untuk membicarakan ketakutannya. Dia perlu untuk belajar mengatakan hal-hal seperti, “saya tidak menyukainya bila anjing tetangga menyalak,” atau “saya takut masuk ke dalam ruang yang gelap”</p>
<p>Jangan katakan pada anak kita bahwa ketakutannya adalah suatu hal yang konyol, ketakutannya sangatlah nyata bagi dia. Jangan pernah katakan &#8220;Ah, begitu saja kok takut, dasar anak cengeng!&#8221; Kurangilah tekanannya dengan menawarkan pengertian, dukungan dan banyak kasih sayang. Genggaman dan bimbingan pada seorang anak  akan membantunya mengurangi stres. Akhirnya kita dapat menambah rasa aman anak kita dengan tetap tenang pada saat masa sulit.<br />
Kapankah anda mencari bantuan? Ketika kita tidak berhasil dalam segala usaha untuk membantu anak kita, atau ketika masalah terlalu banyak untuk kita sendiri yang harus diselesaikan, carilah bantuan profesional. Jangan ragu untuk meminta nasehat.<br />
<span style="font-weight: bold">Membantu anak usia sekolah (6 sampai 12 tahun )</span><br />
Hidup menjadi berat untuk seorang anak usia antara 6 dan 12 tahun. Seorang anak harus menghadapi tekanan di rumah dan belajar untuk mengatasi dunia yang lebih luas yang melibatkan sekolah dan teman-temannya.<br />
Situasi yang bisa membuat mereka stres : mempunyai nama yang tak biasa, mengerjakan tes di sekolah, merasa lambat, jelek atau pintar, menjadi tertekan untuk mendapatkan nilai yang bagus, berteman dengan teman baru, merasa cemburu, bersaing dalam permainan dengan saudara perempuan atau laki-laki, beradu argumen dengan orangtua atau teman-teman, tidak dapat bekerjasama dengan seorang guru,menjadi cemoohan ,mengkhawatirkan tentang perubahan badan, menjadi malu, mempunyai banyak tugas, dan dikeluarkan dari kegiatan –kegiatan dan teman-teman.</p>
<p>Tanda-tanda untuk mengenali stres pada anak kita : dia mungkin menarik diri, mengalami kemunduran, dan bertingkah seperti seorang anak yang lebih muda dari usianya, mengompol, memiliki masalah tidur, menggertakkan giginya, atau memiliki masalah bicara. Anak-anak dalam pengaruh stres juga bisa terlihat berpikir dan bergerak lambat. Tanda-tanda yang lain termasuk: kesulitan di sekolah, mencuri, berbohong, curang, sedih, menangis, bertengkar, sering terjatuh, dan kecelakaan.<br />
Apa yang dapat kita lakukan? Anak-anak yang sangat baik dalam mengatasi stres adalah yang mendapat dukungan dan pengertian dari orangtua. Orantua yang baik akan selalu ada untuk anaknya pada saat dibutuhkan. Cobalah untuk mengerti apa yang dialaminya. Dukunglah dia untuk membicarakan masalahnya lagi, dan bantulah dia untuk mengatasi masalahnya. Anak kita memang mulai mengembangkan beberapa kemampuan dalam mengatasi masalah namun dia  tetap memerlukan bantuan dalam hal ini.</p>
<p>Saya sering menjumpai bahwa orangtua sering menambah tekanan pada kehidupan anak mereka dengan menekannya terlalu keras melalui target-target. Bila masalah-masalah berputar sekitar sekolah, duduk dan bekerjasama dengan guru anak kita untuk membuat tujuan yang realistis dan standarisasi untuk mencapai prestasi. Masalahnya bukan hanya dalam hal akademik. Terkadang anak-anak terlibat dalam banyak kegiatan yang berbeda atau mempunyai banyak sekali tugas di rumah. Kita bisa memberikan  lebih banyak kasih sayang, persetujuan dan penguatan yang positif pada mereka. Dengarkan dan bantulah mereka untuk mengatur stres dalam hidupnya.</p>
<p>Kapankah kita seharusnya mencari bantuan? Ketika masalahnya diluar keahlian mendidik anak yang kita miliki, itulah saat  mencari bantuan.  Bisa juga ini dijadikan momentum yang tepat untuk memperkenalkan anak konsep &#8220;dewan keluarga&#8221;.  Dewan keluarga mengijinkan sebuah keluarga  untuk berdiskusi tentang sebuah pokok permasalahan. Kepemimpinan diputar dan anak-anak mempunyai peran yang sama dalam pertemuan. Keluarga tersebut bersama-sama mencari jalan keluar atas masalah-masalah tersebut. Ini adalah sebuah latihan kepemimpinan yang bagus. (bersambung)</p>
<p>Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga</p>
<p>Ariesandi</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=114&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_114" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/09/06/bagaimana-membantu-anak-mengatasi-emosi-negatif-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/26/rahasia-mendidik-anak-agar-sukses-dan-bahagia-2/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/26/rahasia-mendidik-anak-agar-sukses-dan-bahagia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 11:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Produk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/26/rahasia-mendidik-anak-agar-sukses-dan-bahagia-2/</guid>
		<description><![CDATA[  Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua orangtua. Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta. Sebagai orangtua tentu saja kita perlu memperluas wawasan agar dapat mendidik sekaligus mesra dengan putra dan putri kita.
Meningkatkan kemampuan ternyata bukan semata-mata tugas anak. Ariesandi membeberkan betapa penting peran orangtua dalam mengarahkan putra-putri agar menjadi [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/produk/cover_buku_rhs_mendidik1.jpg" alt="cover_buku_rhs_mendidik1.jpg" title="cover_buku_rhs_mendidik1.jpg" align="left" border="0" width="170" height="261" />Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua orangtua. Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta. Sebagai orangtua tentu saja kita perlu memperluas wawasan agar dapat mendidik sekaligus mesra dengan putra dan putri kita.</p>
<p>Meningkatkan kemampuan ternyata bukan semata-mata tugas anak. Ariesandi membeberkan betapa penting peran orangtua dalam mengarahkan putra-putri agar menjadi tangguh dan mampu mengeksplorasi potensi yang sangat besar di dalam diri mereka. Ia juga memaparkan tanggung jawab orangtua untuk ikut berbenah dan membentuk budaya yang positif dalam keluarga.</p>
<p>Ariesandi menjelaskan secara gamblang tehnik-tehnik mendidik anak, mengembangkan kedisiplinan, memodifikasi program pikiran anak, dan lain sebagainya. Memahami isi buku ini akan sangat membantu para orangtua mendidik putra dan putri dengan cara yang lebih baik dan benar. Ide-ide Ariesandi dalam buku ini benar-benar inspiratif untuk membangun keluarga yang membahagiakan dan membanggakan!<br />
<strong>Andrew Ho</strong><br />
<em>Penulis buku-buku best seller, pengusaha, dan motivator<br />
www.andrewho-uol.com</em></p>
<p>What a timely book ! Every parent should read this book, every concerned father or mother should buy this book for their children to read so that their grandchildren are better raised. In fact, I even suggest that every child should buy this book for their parents to read ! This book is very down to earth, easy to understand and practical to apply. If parents applied the ideas, we would see the next generation of  very well raised, emotionally balanced and self-confident citizens. Thank you Ariesandi !<br />
<strong>James Gwee T.H., MBA</strong><br />
Indonesia`s favourite Trainer<br />
Author of Best-Selling Book `Positive Business Ideas`</p>
<p>Setiap orangtua pasti ingin agar anaknya sukses dan bahagia! Namun kenyataannya tidak semudah itu. Banyak hal tidak kita ketahui secara sistematis. Apalagi saat anak-anak dilahirkan tidak ada buku manual untuk mendidik dan mengasuh anak yang dititipkan pada kita oleh Sang Pencipta.</p>
<p>Buku <strong>&#8220;Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia: tips praktis dan teruji melejitkan potensi optimal anak&#8221;</strong> ditulis berdasarkan pengalaman praktek di lapangan. Buku ini bukan hanya teori belaka. Para orangtua dapat memperoleh banyak sekali informasi berdasarkan kisah-kisah para klien sekolahorangtua.com yang berhasil dibantu memecahkan masalahnya. &#8220;Belajar dari pengalaman orang lain adalah sebuah kebijaksanaan&#8221;.</p>
<p>Ketahui rahasia di balik perilaku seorang anak dan bagaimana mengarahkannya dengan prinsip komunikasi yang tepat. Ketahui pula 3 kata yang selalu ditanyakan anak melalui perilakunya dan bagaimana memenuhi hal tersebut. Selain itu dibahas berbagai teknik terapi sederhana untuk membantu anak mengatasi berbagai masalah emosi dan perilaku. Teknik-teknik tersebut  sangat sederhana yang telah terbukti berhasil digunakan dalam ruang terapi selama ini.</p>
<p>Marilah menjadi orangtua yang profesional! Anak-anak  layak mendapatkan yang terbaik dari kita - orangtuanya.</p>
<p>Buku ini dapat diperoleh diseluruh toko buku Gramedia dan toko buku lainnya dengan harga Rp 52.500 (295 halaman)</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=113&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_113" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/26/rahasia-mendidik-anak-agar-sukses-dan-bahagia-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajak Anak Menggapai Impiannya</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/15/mengajak-anak-menggapai-impiannya/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/15/mengajak-anak-menggapai-impiannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 22:32:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/15/mengajak-anak-menggapai-impiannya/</guid>
		<description><![CDATA[  




  
KUTANTANG PEMIKIRAN MAKA SEMUA MIMPI ADALAH MUNGKIN BAGIKU………

Seorang anak laki-laki, Ronald, memiliki guru Bahasa Inggris yang hanya menilai karangannya berdasarkan tata bahasa dan ejaannya saja. Namun, Bapak B.J. Frazer, guru Bahasa Inggris Ronald di sekolah yang baru, mengumumkan bahwa isi karangan juga akan dinilai, bahkan Bapak Frazer mengembangkan metode pengajarannya dengan menghidupkan [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 12" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 12" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CARIESA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" />
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CARIESA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data" /><!--[if !mso]><br />
<style> v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} </style>
<p> <![endif]--><o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"></o:smarttagtype><o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"></o:smarttagtype><o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"></o:smarttagtype><o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"></o:smarttagtype></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CARIESA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData" />
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CARIESA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:TrackMoves/>   <w:TrackFormatting/>   <w:PunctuationKerning/>   <w:ValidateAgainstSchemas/>   <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:DoNotPromoteQF/>   <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther>   <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian>   <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>    <w:DontGrowAutofit/>    <w:SplitPgBreakAndParaMark/>    <w:DontVertAlignCellWithSp/>    <w:DontBreakConstrainedForcedTables/>    <w:DontVertAlignInTxbx/>    <w:Word11KerningPairs/>    <w:CachedColBalance/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>   <m:mathPr>    <m:mathFont m:val="Cambria Math"/>    <m:brkBin m:val="before"/>    <m:brkBinSub m:val="--"/>    <m:smallFrac m:val="off"/>    <m:dispDef/>    <m:lMargin m:val="0"/>    <m:rMargin m:val="0"/>    <m:defJc m:val="centerGroup"/>    <m:wrapIndent m:val="1440"/>    <m:intLim m:val="subSup"/>    <m:naryLim m:val="undOvr"/>   </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267">   <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Body Text"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Hyperlink"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/>   <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/>   <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/>  </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></object><br />
<style> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } </style>
<p> <![endif]--><br />
<style> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Body Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-unhide:no; 	color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} span.BodyTextChar 	{mso-style-name:"Body Text Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:21.0cm 33.0cm; 	margin:2.0cm 1.0cm 42.55pt 42.55pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} </style>
<p> <![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1027"/> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <o:shapelayout v:ext="edit">   <o:idmap v:ext="edit" data="1"/>  </o:shapelayout></xml><![endif]--><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI"><strong>KUTANTANG PEMIKIRAN MAKA SEMUA MIMPI ADALAH MUNGKIN BAGIKU………</strong><br />
</span></p>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Seorang anak laki-laki, Ronald, memiliki guru Bahasa Inggris yang hanya menilai karangannya berdasarkan tata bahasa dan ejaannya saja. Namun, Bapak B.J. Frazer, guru Bahasa Inggris Ronald di sekolah yang baru, mengumumkan bahwa isi karangan juga akan dinilai, bahkan Bapak Frazer mengembangkan metode pengajarannya dengan menghidupkan sesi drama dalam kelasnya. Sang guru dengan semangat menantang murid-muridnya untuk membuat tulisan / karangan yang berakar pada ide/topik yang beragam bahkan murid dibiasakan untuk menganalisa karakter yang mereka kisahkan/perankan dalam sesi  drama. Menghayati peran yang bagus tidak hanya sekedar menghafalkan dialog dan tata bahasanya tapi dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat stimulasi seperti “Apakah arti karakter yang engkau mainkan berdasarkan dialog itu?” telah membuat Ronald berusaha untuk benar-benar mendalami karakter dalam karangannya agar mampu mengetahui motivasinya. Ronald tak hanya belajar Bahasa Inggris tapi langsung mencoba untuk mengerti apa yang dirasakan peran tersebut dengan mencoba menempatkan dirinya dalam karakter itu. Skala penilaian yang baru memicu imajinasi Ronald. </span><br />
<span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI"></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Terkesan dengan kepolosan Ronald yang menyegarkan, Bapak Frazer seringkali memilihnya untuk membacakan karangan kreatifnya di depan kelas. Teman-temannya kagum dan tertawa melihat Ronald membacanya di depan kelas sekelasnya. Ronald dengan sengaja mulai memasukkan unsur hiburan ke dalam tulisannya sampai suatu saat dia sukses dalam audisi untuk sebuah drama yang disutradarai oleh Bapak Frazer.</span><br />
<span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI"></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Pengalaman unik ketika bersekolah, meninggalkan kesan mendalam di dalam dirinya. Kesan ini yang mengantarkannya ke gerbang Warner Brothers di Burbank, California ketika menginjak usia 29 tahun. Saat Ronald gugup menghadapi casting film pertamanya, ia teringat pengalamannya di sekolah dulu. Keinginannya untuk membuat Bapak Frazer bangga merupakan satu-satunya obat terampuh mengusir kecemasan casting pertamanya. Ronald kemudian membintangi lebih dari 50 film bahkan dia terpilih menjadi Presiden Screen Actors Guild. </span><br />
<span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI"></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Ada 1 peristiwa yang ternyata tak hanya membuat Ronald menjadi aktor yang cukup disegani dalam dunia perfilman, tapi juga membuat publik Amerika mendukungnya untuk berkiprah dalam dunia politik. Peristiwa itu terjadi saat Ronald berbicara dengan penuh semangat atas nama seorang kandidat nasional yang didukungnya,”Engkau dan saya punya kesamaan nasib. Kita dapat menyiapkan anak-anak kita untuk hal-hal seperti : harapan terbaik, mimpi terindah atau kita dapat mengarahkan mereka untuk melangkahkan kaki ke dalam kegelapan selama beribu-ribu tahun”.</span><br />
<span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI"></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Bapak Frazer mungkin tidak pernah membayangkan pengaruh dari apa yang telah dia berikan dalam kelasnya terhadap murid-muridnya. Dia juga tidak pernah membayangkan Ronald akan menggunakan banyak cara dalam proses belajarnya yang mencakup tak hanya dari segi akademik saja,”Proses yang dikenal dengan nama empati bukanlah sebuah latihan yang buruk untuk orang yang berkecimpung di dalam dunia politik (atau untuk profesi lain),” Ronald menggambarkan,”Dengan mengembangkan kemampuan untuk menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, akan membantu anda dalam menjalin hubungan yang lebih baik terhadap sesama dan mengerti mengapa mereka berpikir seperti yang mereka pikirkan, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang cukup berbeda dari anda”. </span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Anak itu adalah Ronald Reagan, beliau tak hanya telah berhasil membawa Amerika keluar dari kehancuran ekonomi, namun visi, karakter dan rasa optimisnya menginspirasi sifat dan patriotisme warga Amerika Serikat menjadi lebih tinggi. Ronald Reagan menantang warganya untuk berpikir sehingga jendela-jendela mimpi tiap-tiap individu terbuka.</span><br />
<span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">    </span></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Bagaimana dengan kita semua? Apakah kita mengajarkan anak-anak kita untuk bermimpi?</span></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Sebuah buku yang akan membantu untuk melejitkan potensi anak-anakAnda telah selesai saya tulis dan diterbitkan Gramedia judulnya <strong>&#8220;Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia  : Tips Praktis dan Teruji Melejitkan Potensi Optimal Anak&#8221;</strong></span></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Dapatkan bukunya dan ajak anak-anak menggapai impian-impiannya!</span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI">Salam hangat dari saya, Ariesandi.</span><br />
<span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI"></span></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><span style="font-family: 'Comic Sans MS'" lang="FI"><br />
</span></p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=112&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_112" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/15/mengajak-anak-menggapai-impiannya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DVD : The Secret of Change</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/12/dvd-the-secret-of-change/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/12/dvd-the-secret-of-change/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 07:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Produk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/12/dvd-the-secret-of-change/</guid>
		<description><![CDATA[ 

Pernahkah Anda melakukan suatu hal dan tak kunjung mendapatkan apa yang Anda impikan?
Pernahkah Anda berusaha berubah dan sulit sekali? Mengapa kita sulit berubah? Apa yang menjadi penghalang?
Setiap dari kita menginginkan kesuksesan. Namun seringkali untuk mencapai hal tersebut kita harus terbentur-bentur lebih dahulu. Entah itu dikarenakan kita belum mengetahuinya atau bisa juga karena kita  sudah mengetahuinya [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p align="justify"><img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/produk/Cover_the_secret_of_change.jpg" alt="Cover_the_secret_of_change.jpg" title="Cover_the_secret_of_change.jpg" align="left" border="0" width="250" height="187" /></p>
<p>Pernahkah Anda melakukan suatu hal dan tak kunjung mendapatkan apa yang Anda impikan?</p>
<p>Pernahkah Anda berusaha berubah dan sulit sekali? Mengapa kita sulit berubah? Apa yang menjadi penghalang?</p>
<p>Setiap dari kita menginginkan kesuksesan. Namun seringkali untuk mencapai hal tersebut kita harus terbentur-bentur lebih dahulu. Entah itu dikarenakan kita belum mengetahuinya atau bisa juga karena kita  sudah mengetahuinya tapi tak bisa menghindarinya.</p>
<p>Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana sebenarnya mekanisme perubahan diri? Bagaimana memperbesar dan melewati zona kenyamanan kita? Apakah daya penghalang terbesar untuk perubahan diri dan bagaimana mengatasinya?  Bagaimana melakukan self-therapy untuk melepaskan mental blok /     ganjalan emosi negatif yang ada dalam diri kita?</p>
<p>Dalam DVD <strong>“The Secret of Change”</strong> ini semuanya akan dikupas tuntas selama 6 jam. Materi dalam DVD ini adalah rekaman langsung sebuah seminar yang dibawakan Ariesandi S.,CH secara eksklusif untuk  sebuah grup bisnis jaringan.</p>
<p>Misi SekolahOrangtua :<br />
Mendidik dan Membimbing Orangtua Menjadi yang Terbaik demi Kesuksesan Anak dan Generasi Akan Datang.</p>
<p>Anda bisa mendapatkan secara GRATIS newsletter tentang mendidik dan mengasuh anak secara efektif dengan mendaftarkan email anda di www.SekolahOrangtua.com</p>
<p>Pemesanan CD dan produk SekolahOrangtua lainnya bisa melalui website kami atau<br />
ke : (031) 7155 9997 atau email : cs@sekolahorangtua.com</p>
<p>Kami menyumbangkan 10% dari keuntungan untuk beasiswa pendidikan anak-anak tidak mampu di Indonesia. Dengan membeli CD dan produk Hypnoparenting berarti Anda juga telah turut membantu meningkatkan kualitas pendidikan anak di Indonesia.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=111&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_111" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/12/dvd-the-secret-of-change/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu, aku mencintaimu!</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/08/ibu-aku-mencintaimu/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/08/ibu-aku-mencintaimu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 22:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/08/ibu-aku-mencintaimu/</guid>
		<description><![CDATA[  Para orangtua tercinta dimana pun Anda berada,
Ada seorang sahabat mengirimkan sebuah artikel pada saya. Saya tak tahu siapa penulis asli artikel ini. Namun artikel ini sangat bernilai tinggi. Melalui situs ini saya mohon ijin untuk memuat artikel tersebut dan sekaligus mengucapkan beribu terima kasih karena telah menulis sebuah artikel yang inspiratif, sebuah artikel yang [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Para orangtua tercinta dimana pun Anda berada,</p>
<p>Ada seorang sahabat mengirimkan sebuah artikel pada saya. Saya tak tahu siapa penulis asli artikel ini. Namun artikel ini sangat bernilai tinggi. Melalui situs ini saya mohon ijin untuk memuat artikel tersebut dan sekaligus mengucapkan beribu terima kasih karena telah menulis sebuah artikel yang inspiratif, sebuah artikel yang menyentuh hidup banyak orang sehingga mereka bisa menghidupkan kehidupan lainnya. Saya yakin kita semua mendapatkan pencerahan, penguatan, kepercayaan, kekuatan dan keyakinan yang lebih teguh lagi untuk dapat menjadi orangtua yang terbaik bagi anak-anak kita.</p>
<p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ARIESA%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" />Marilah kita renungi bersama setiap kata-kata penuh makna di bawah ini :</p>
<p>Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah<br />
Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi<br />
Bagi para ibu, Anda akan mencintainya</p>
<p>Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.<br />
&#8216;Apakah jalannya jauh?&#8217; tanyanya.<br />
Pemandunya menjawab: &#8216;Ya, dan jalannya berat.<br />
Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini&#8230;<br />
Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.&#8217;</p>
<p>Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik daripada tahun-tahun ini.<br />
Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka  sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.<br />
Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru:  &#8216;Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.&#8217;</p>
<p>Lalu malam tiba bersama badai.<br />
Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan.<br />
Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.<br />
Anak-anak itu berkata: &#8216;Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat kami. Tak ada yang dapat menyakiti kami.&#8217;</p>
<p>Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya: &#8216;Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.&#8217;</p>
<p>Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.<br />
Saat sampai di puncak, mereka berkata: &#8216;Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.&#8217;</p>
<p>Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:<br />
&#8216;Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini aku memberi mereka kekuatan.&#8217;</p>
<p>Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.<br />
Awan perang, kebencian dan kejahatan.<br />
Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.<br />
Ibunya berkata: &#8216;Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.&#8217;<br />
Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi yang menuntun mereka melalui kegelapan.<br />
Dan malam harinya ibu itu berkata: &#8216;Ini hari yang terbaik. Karena saya sudah memperlihatkan Sang Pencipta kepada anak-anakku&#8217;</p>
<p>Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.<br />
Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.<br />
Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani.<br />
Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu.<br />
Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.<br />
Ibu berkata: &#8216;Saya sudah sampai pada akhir perjalananku. Dan sekarang aku tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.<br />
Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada di belakang mereka.&#8217;</p>
<p>Dan anak-anaknya menjawab: &#8220;Ibu selalu akan berjalan bersama kami&#8230; Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.&#8217;</p>
<p>Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri&#8230;  dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.<br />
Dan mereka berkata: &#8220;Kita tak dapat melihat ibu lagi. Tetapi dia masih bersama kita. Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa hadir dan hidup.&#8217;</p>
<p>Ibumu selalu bersamamu….<br />
Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan<br />
Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci<br />
Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.<br />
Ibumu hidup dalam tawa candamu.<br />
Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.<br />
Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.<br />
Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu</p>
<p>Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.<br />
Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.</p>
<p>Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!</p>
<p>Para orangtua tercinta dimanapun Anda berada, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan mungkin juga Anda.</p>
<p>Jika  Anda masih bisa menikmati kehadiran ibu di tengah-tengah kita marilah sekarang kita meneleponnya, menjemputnya dan menyapanya untuk menyampaikan terima kasih kita padanya.</p>
<p>Jika  Anda sudah tidak bersama ibu lagi, marilah panjatkan doa yang tulus untuknya.</p>
<p>Dan bagi para suami yang membaca artikel ini, marilah  datangi istri kita  dan mengucapkan terima kasih atas cintanya pada kita, atas apapun yang telah ia lakukan untuk kita dan anak-anak.</p>
<p>Marilah kita mendukung para ibu untuk menjalankan misi mulianya.</p>
<p>Semoga tulisan sederhana ini mendekatkan kembali para pasangan, mengobarkan kembali semangat para ibu untuk menjadi yang terbaik bagi suami dan anak-anaknya dan menyemangati para suami untuk menjadi yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya.</p>
<p>Salam hangat penuh cinta dari saya, Ariesandi.</p>
<p>Informasi workshop &#8220;The Secret of Super Parenting&#8221; bisa Anda baca selengkapnya di bagian lain situs ini. &lt;http://www.sekolahorangtua.com/2008/07/22/workshop-hypnoparenting-cara-efektif-mendidik-anak-di-jaman-modern/&gt;</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=110&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_110" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/08/08/ibu-aku-mencintaimu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop The Secret of Super Parenting</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/07/22/workshop-hypnoparenting-cara-efektif-mendidik-anak-di-jaman-modern/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/07/22/workshop-hypnoparenting-cara-efektif-mendidik-anak-di-jaman-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 22:44:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seminar / Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/07/22/workshop-hypnoparenting-cara-efektif-mendidik-anak-di-jaman-modern/</guid>
		<description><![CDATA[ 
The Secret of Super Parenting 
Cara Membuat Anak Anda Sukses di Sekolah dan Masyarakat - Yang Hanya Bisa Dilakukan oleh Anda, Para Orangtua

Berdasarkan buku-buku laris :




 “Kemampuan seorang anak untuk berkembang dewasa dan menjalani kehidupan bermakna atau ‘sekedar menjalani hidup’ ditentukan oleh kualitas pengasuhan orangtuanya.
Kualitas pengasuhan orangtua ditentukan oleh seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<div><em><strong>The Secret of Super Parenting </strong></em></div>
<div><strong>Cara Membuat Anak Anda Sukses di Sekolah dan Masyarakat - Yang Hanya Bisa Dilakukan oleh Anda, Para Orangtua</strong></div>
<div></div>
<div>Berdasarkan buku-buku laris :</div>
<div></div>
<div><img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/hypnoparenting.jpg" alt="hypnoparenting.jpg" title="hypnoparenting.jpg" align="left" border="0" width="90" height="134" /></div>
<div></div>
<div><img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/produk/cover_buku_rhs_mendidik1.jpg" alt="cover_buku_rhs_mendidik1.jpg" title="cover_buku_rhs_mendidik1.jpg" align="left" border="0" width="88" height="135" /></div>
<p><em> “Kemampuan seorang anak untuk berkembang dewasa dan menjalani kehidupan bermakna atau ‘sekedar menjalani hidup’ ditentukan oleh kualitas pengasuhan orangtuanya.<br />
Kualitas pengasuhan orangtua ditentukan oleh seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki tentang berbagai aspek psikologi dan perkembangan manusia”<br />
</em></p>
<div><strong><em>Ariesandi S.</em></strong></div>
<p><strong>Menjadi orangtua yang lebih baik agar bisa membantu anak melejitkan potensinya!</strong><br />
Itulah yang selalu diinginkan oleh setiap orangtua di dunia, termasuk orangtua kita, termasuk Anda sebagai orangtua di jaman sekarang ini.</p>
<p>Saat ini kita sering menemukan banyak anak yang bermasalah, tidak suka belajar, sulit mengatur emosi mereka, tidak menjadikan kita orangtua sebagai tempat mereka mengeluarkan perasaan mereka (terutama anak remaja) dan ada juga yang sulit berkonsentrasi, mengalami kesulitan dalam bergaul serta masih banyak lagi permasalahan anak kita.</p>
<p>Sebagai orangtua kita mengimpikan anak kita belajar mempercayai perasaan mereka, mengatur emosi mereka sendiri dan menyelesaikan masalahnya. Selain itu kita ingin anak kita tumbuh dengan harga diri yang sehat, belajar dengan baik dan mampu bergaul dengan orang lain secara luwes.</p>
<p>Satu hal harus diakui bahwa semua keadaan anak kita sekarang adalah hasil dari pendidikan dan perlakuan yang kita berikan pada mereka.</p>
<p>Berdasarkan apa yang  dibahas dalam :</p>
<p align="center"><strong>The Secret of Super Parenting<br />
</strong></p>
<p align="center"><em><strong>The Art of Helping Our Child Reach Their Maximum Potential </strong></em></p>
<p> inilah  &#8220;Lima tips menjadikan Anda orangtua terbaik bagi Anak Anda&#8221;</p>
<p>1. Teliti dan kembangkan persepsi tentang mendidik anak, relasi, disiplin dan pengharapan tentang anak dan mengenali 8 siklus kehidupan yang perlu dilewati setiap insan dengan sempurna sehingga anak tidak berkembang ke arah yang tidak kita inginkan<br />
2. Perhatikan self-talk, self talk yang bagaimana yang sering terjadi dalam diri kita yang telah menghancurkan harga diri anak?<br />
3. Mengenali kepribadian anak dan Anda, dapatkan cara paling praktis untuk mengenali diri Anda dan anak sehingga komunikasi yang tepat dapat berjalan lancar<br />
4. Kenali 4 kebutuhan dasar manusia dan 8 cara praktis untuk memenuhi kebutuhan ini<br />
5. Mendisiplinkan anak tanpa merusak harga diri anak Anda.</p>
<p>Semua cara-cara paling praktis seperti di atas akan Anda dapatkan dalam workshop dua hari,</p>
<p align="center"><strong>The Secret of Super Parenting<br />
</strong></p>
<p align="center"><em><strong>The Art of Helping Our Child Reach Their Maximum Potential </strong></em></p>
<p>Pelajari juga berbagai  <strong><em>tips-tips  praktis dan teruji untuk melejitkan potensi optimal </em></strong>anak Anda seperti :<br />
* Bagaimana mengelola emosi pribadi<br />
* Bagaimana membantu anak merubah perilaku/emosi<br />
* Bagaimana menghilangkan hambatan mental yang ada dalam diri anak Anda dan Anda sendiri<br />
* Bagaimana membuat anak Anda melakukan apa yang kita inginkan untuk membuatnya menjadi yang terbaik bagi dirinya dan bagaimana membuatnya stabil dan terus menjadi lebih baik<br />
* Bagaimana mengatasi pengaruh negatif masa kecil yang menghambatnya mencapai impiannya<br />
* Menggunakan pertanyaan kunci untuk mengungkap “blue print” masa depan anak Anda<br />
* Mengetahui rahasia meningkatkan IQ anak Anda dengan mudah<br />
* Rahasia membuat anak Anda ketagihan belajar</p>
<div></div>
<div></div>
<p align="center"><em>“Saat kebutuhan emosional yang terdalam tak terpenuhi maka seorang anak akan mencari cara untuk mendapatkannya. Ia akan melakukan berbagai macam tindakan sebagai sarana berkomunikasi dengan kita. Hanya jika kebutuhan emosionalnya terpenuhi seorang anak akan bersikap dan berperilaku baik. Jadi : Kedekatan fisik tidak selalu berarti sama dengan kedekatan emosional” </em></p>
<p align="right"><strong><em>Ariesandi S.</em></strong></p>
<p><img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/988edit1.jpg" alt="988edit1.jpg" title="988edit1.jpg" align="left" border="0" width="148" height="120" />    Profile Pembicara:<br />
<strong>    Ariesandi Setyono</strong><br />
&#8220;the Parenting &amp; Family Therapist&#8221;</p>
<p>* Pendiri www.Sekolahorangtua.com<br />
* Parenting &amp; Family Therapist Berpengalaman lebih dari 15 Tahun<br />
* Konsultan Mind Technology<br />
* Penulis Buku Best Seller : <strong>&#8220;Hypnoparenting&#8221;, &#8220;Mathemagics, &#8220;Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses dan Bahagia&#8221;</strong></p>
<p>Workshop ini diadakan selama 2 hari, mulai tanggal 23 – 24 Agustus 2008</p>
<p>Sabtu 23 Agustus 2008 (09.00 – 20.00)</p>
<p>Minggu 24 Agustus 2008 (09.00 – 17.00)</p>
<p>Bertempat di Hotel Santika Jakarta, Jl. KS Tubun Jakarta Barat</p>
<p>Investasi: Rp 2.500.000</p>
<p>* Khusus untuk Anda yang mendaftar <strong>sebelum tanggal 17 Agustus 2008</strong>, hanya cukup membayar  Rp 1.800.000      (hemat Rp 700.000)</p>
<p>* Khusus untuk Anda yang mendaftarkan diri berpasangan, Anda cukup membayar  Rp 1.500.000 per orang  (hemat Rp 2.000.000)</p>
<p>* Dengan mendaftar berpasangan Anda bisa membuat semua proses menjadi orangtua yang lebih baik jauh lebih cepat</p>
<p>Info pendaftaran Hubungi:</p>
<p><strong>Agus 0817 682 0000</strong></p>
<p><strong>Dian 081582 2529 8</strong></p>
<p><strong>Aquarius Resources</strong></p>
<p>Jl. Danau Sunter Utara Blok B1B No. 11 Sunter Jakarta Utara</p>
<p>Telp 021 650 9173</p>
<p>Fax 021 64716252</p>
<p>www.aquarius-eo.com</p>
<p>Cara pendaftaran:</p>
<p>Transfer ke rekening BCA 428 140 8661 an Hindra Gunawan</p>
<p>Dan fax data lengkap Anda ke 021 64716252 lengkap dengan data diri Anda dan pasangan.</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=109&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_109" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/07/22/workshop-hypnoparenting-cara-efektif-mendidik-anak-di-jaman-modern/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bahayanya Keluarga yang Selalu Bersama?</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/06/29/bahayanya-keluarga-yang-selalu-bersama/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/06/29/bahayanya-keluarga-yang-selalu-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 08:41:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/06/29/bahayanya-keluarga-yang-selalu-bersama/</guid>
		<description><![CDATA[  Suatu saat selepas sebuah seminar yang baru saja selesai saya bawakan seorang ayah datang dan menceritakan keluh kesahnya. Apalagi kalau bukan tentang anaknya.
Ia memiliki 2 orang anak yang sudah remaja dan satu sama lain saling mengiri. Yang satu mengatakan ,”Ayah selalu sayang adik! Tidak pernah memenangkan aku!” dan yang satu lagi mengatakan, “Ayah selalu [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Suatu saat selepas sebuah seminar yang baru saja selesai saya bawakan seorang ayah datang dan menceritakan keluh kesahnya. Apalagi kalau bukan tentang anaknya.<br />
Ia memiliki 2 orang anak yang sudah remaja dan satu sama lain saling mengiri. Yang satu mengatakan ,”Ayah selalu sayang adik! Tidak pernah memenangkan aku!” dan yang satu lagi mengatakan, “Ayah selalu saja memerhatikan kakak! Aku tidak pernah diperhatikan dan harus selalu menurut sama kakak!”<br />
Sang ayah kebingungan karena selama ini, menurutnya, ia dan istri telah memperlakukan kedua anak mereka dengan adil. Bahkan mereka sering keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga.<br />
Selain itu kedua orang kakak beradik tersebut sering bertengkar dan saling berusaha menonjolkan diri. “Saya harus bertindak bagaimana?” keluh sang ayah dengan wajah kebingungan.<br />
Masalah seperti ini sering dialami oleh banyak orangtua. Jika tidak ditangani dengan segera maka masalah ini bisa melebar ke berbagai hal. Bisa mempengaruhi motivasi dan semangat hidup seorang anak. Dan selanjutnya hal ini bisa mempengaruhi masalah akademik.<br />
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mengatasinya? Marilah kita tinjau apa yang diperlukan seorang anak. Setiap anak, maupun orang dewasa, memerlukan pengakuan. Ketika seorang anak berkembang remaja maka kebutuhannya untuk diakui sebagai individu yang spesial makin membesar. Usia remaja adalah usia dimana seorang anak mencari identitas diri.<br />
Fase pencarian identitas ini akan berlangsung mulus jika fase sebelumnya berjalan dengan baik. Apa yang diperlukan id fase sebelumnya adalah pengakuan dan penerimaan dari figur yang dipandang memiliki otoritas. Dalam hal ini figur tersebut adalah kedua orangtua.<br />
Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan tersebut? Sederhana luangkan waktu secara pribadi untuk masing-masing anak. Ajaklah seorang anak keluar atau melakukan suatu aktivitas secara pribadi. Setelah itu selang beberapa hari kemudian ajaklah anak yang lain untuk melakukan suatu aktivitas secara pribadi juga. Jadi secara bergantian pada waktu yang berbeda ajaklah anak Anda satu persatu melakukan sesuatu atau pergi ke tempat kesukaannya.<br />
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan secara pribadi dengan masing-masing anak. Makan es krim favorit bersama sang anak, makan di restoran favorit sang anak, jalan-jalan ke taman kota dan bermain sejenak di sana, menonton film kesukaan sang anak berduaan, main game komputer berduaan, putar-putar kota melihat berbagai tempat, membacakan dongeng favorit sang anak, bermain layang-layang berduaan saja dan lain-lain.<br />
Yang paling penting diperhatikan saat melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak adalah kualitas perhatian yang kita berikan pada sang anak. Jika kita hanya mengajak dia melakukan sesuatu maka yang terjadi hanyalah kedekatan fisik saja. Oleh karena itu libatkan dia dan tanyai perasaannya serta ingat selalu untuk menjaga kontak mata dan sentuhan fisik dengannya.<br />
Saat kita melakukan hal ini maka seorang anak akan merasa senang dan diperhatikan. Ia menjadi seorang yang spesial karena tak ada kakak atau adiknya. Ia hanya berduaan dengan sang ayah atau suatu saat dengan sang ibu saja.<br />
Inilah yang akan membuatnya berani untuk menentukan jati dirinya kelak ketika ia remaja. Ia akan berani menentukan identitas karena secara emosional ia mendapatkan apa yang butuhkan.<br />
Bagaimana jika anak kita telah remaja dan kita baru menyadarinya sekarang? Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak Anda. Pilihlah kegiatan yang mereka suka dan lakukan bersama mereka. Hal ini akan mengembalikan kepercayaan diri mereka.<br />
Jadi kita sekarang telah sama-sama menyadari bahwa kebersamaan keluarga itu penting namun kita tidak boleh mengabaikan kepentingan personal setiap anak untuk membangun identitasnya secara pribadi. Oleh karena itu sebagai orangtua kita tetap perlu meluangkan waktu secara pribadi dengan setiap anak.<br />
Ketika kita melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak maka secara tanpa disadari kita telah  mengisi tangki cintanya. Penjelasan detail tentang tangki cinta bisa Anda lihat di DVD Tangki Cinta yang bisa Anda  dapatkan hanya di www.sekolahorangtua.com.</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=108&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_108" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/06/29/bahayanya-keluarga-yang-selalu-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kedekatan Fisik Tidak Sama dengan Kedekatan Emosional</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/20/kedekatan-fisik-tidak-sama-dengan-kedekatan-emosional/</link>
		<comments>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/20/kedekatan-fisik-tidak-sama-dengan-kedekatan-emosional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 10:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariesandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/20/kedekatan-fisik-tidak-sama-dengan-kedekatan-emosional/</guid>
		<description><![CDATA[   Ibu Ani, bukan nama sebenarnya, kebingungan menghadapi anaknya yang baru saja kelas 1 SD. Tingkah lakunya menjadi susah dikontrol dan sering dimarahi guru di kelas. Ia dilaporkan sering berjalan-jalan di kelas mengganggu teman-temannya ketika pelajaran berlangsung. Di rumah pun demikian, adiknya tak pernah lolos dari gangguannya. Hal ini terjadi sejak ia mulai masuk [...] ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://www.sekolahorangtua.com/wp-content/uploads/artikel/family2.jpg" alt="family2.jpg" title="family2.jpg" align="left" border="1" height="80" width="120" /> Ibu Ani, bukan nama sebenarnya, kebingungan menghadapi anaknya yang baru saja kelas 1 SD. Tingkah lakunya menjadi susah dikontrol dan sering dimarahi guru di kelas. Ia dilaporkan sering berjalan-jalan di kelas mengganggu teman-temannya ketika pelajaran berlangsung. Di rumah pun demikian, adiknya tak pernah lolos dari gangguannya. Hal ini terjadi sejak ia mulai masuk kelas 1 SD. Selain itu motivasi belajarnya juga naik turun namun banyak turunnya.<br />
Sampai suatu saat guru kelasnya angkat tangan dan menyarankan orangtuanya untuk pergi ke psikolog dan melakukan tes IQ. Setelah beberapa hari keluarlah hasil tes yang dimaksud yang menyatakan bahwa si Erik, anak Ibu Ani, normal-normal saja. IQ nya 122 skala Weschler. Saran dari tes tersebut adalah Erik perlu pendampingan yang lebih konsisten dan diperhatikan kebutuhan emosionalnya.<br />
Saudara Ibu Ani, teman baik saya, menyarankan Ibu Ani pergi menemui saya sekedar untuk mendapatkan wawasan dan bertukar pikiran. Singkat cerita saya pun menemui Ibu Ani, suaminya dan teman saya tersebut, sekaligus melepas rindu karena lama tak ngobrol lagi dengannya sejak kami berpisah sewaktu lulus SMA.<br />
Setelah membaca hasil tes IQ Erik saya bertanya pada Ibu Ani beberapa hal. Ibu Ani tidak bekerja, ia sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus pekerjaan rumah tangga dan 2 orang anaknya. Ia mengeluh mengapa waktu yang ia curahkan untuk si Erik seakan kurang. Apalagi sejak kelahiran adiknya maka si Erik suka sekali mencari perhatian dengan melakukan berbagai hal yang aneh-aneh.<br />
Satu hal yang perlu kita sadari tentang kedekatan orangtua dengan anak. Banyak orang mengartikan kedekatan orangtua dengan anak hanyalah kedekatan secara fisik. Seperti suami Ibu Ani, ketika saya tanya berapa banyak waktu yang ia curahkan pada Erik secara rata-rata dalam sehari. Ia mengatakan bahwa setiap pulang kerja ia selalu menemani Erik. Dan itu terjadi hampir tiap hari kecuali kalau ada tamu.<br />
Kemudian saya menggali lebih dalam lagi untuk tahu apa yang ia lakukan sewaktu bersama Erik. Ia pun menjawab bahwa mereka berdua nonton TV. “Oke saya harap anda berdua menonton film edukasi bagi si Erik, jangan nonton sinetron yang banyak adegan kekerasan, manipulasi, iri dan dengki”, kata saya.<br />
“Lha mana bisa Pak, Papanya suka nonton sinetron kok!”, sahut Ibu Ani tiba-tiba.<br />
“Oke Pak, kalau begitu bolehkah saya tahu satu hal lagi? Apakah yang Bapak lakukan sewaktu nonton TV dengan Erik?”, tanya saya lebih spesifik pada suami Ibu Ani.<br />
“Ehm, ya nonton aja Pak sambil terkadang peluk Erik”, katanya.<br />
Dan saya pun segera bisa menebak apa yang kurang pada si Erik. Kedua orangtua Erik hanya dekat secara fisik dengan anak mereka namun <em><strong>tidak ada keterlibatan emosi yang mendalam</strong></em>.<br />
Kebanyakan orangtua bertindak sebagai “supervisor” bagi anaknya. Ketika sang anak pulang sekolah maka serentetan “pertanyaan rutin” dan bisa ditebak pasti meluncur menyerang si anak. Sambil menggandeng tangan anak maka muncullah pertanyaan semacam ini :</p>
<ul>
<li> “Tadi ulangannya bisa atau tidak?”</li>
</ul>
<ul>
<li> “Ada PR atau tidak?”</li>
</ul>
<ul>
<li> “PR mu tadi benar atau tidak?”</li>
</ul>
<ul>
<li> “Besok ulangan apa?”</li>
</ul>
<ul>
<li> “Makanannya tadi habis atau tidak?”</li>
</ul>
<ul>
<li> “Kamu tadi nakal atau tidak?”</li>
</ul>
<ul>
<li> “Kamu tadi dihukum atau tidak?”</li>
</ul>
<p>Dan terjadilah percakapan mekanis yang berulang dari hari ke hari selama anak itu sekolah. Bisa jadi itu pertanyaan yang sama yang akan diucapkan pertama kali saat anak pulang sekolah dari SD sampai SMU. Dan inilah yang sering dimaksud oleh para orangtua dengan “kedekatan dengan anak”. Ya &#8230;&#8230; memang itu kedekatan tapi lebih banyak kedekatan secara fisik saja.<br />
Sama juga dengan ketika memandikan anak, mengajaknya nonton VCD bersama atau mengajaknya jalan-jalan. Ada yang melakukannya dengan sepenuh hati sambil bercakap-cakap santai dengan si anak ada juga yang hanya sekedar melakukan hal itu semata-mata karena kita memang harus melakukannya. Bukan dengan sepenuh hati.<br />
Lalu bagaimana caranya agar kedekatan kita bermakna bagi anak? Pastikan kita mengetahui apa yang ia rasakan. Katakan pada anak sewaktu ia pulang sekolah “Halo Sayang, bagaimana harimu? Apa yang kamu rasakan hari ini? Bersemangat atau gembira atau tak sabar menanti hari esok karena ada suatu kejutan?”<br />
Setelah ia menanggapi jangan berusaha menasehati apapun, cukup dengarkan saja. Kalau ia mengatakan sesuatu yang positif maka katakan “Wow, Mama/Papa ikut senang mendengarkan pengalamanmu hari ini. Terus … terus apa lagi?”<br />
Kalau ia mengatakan sesuatu yang negatif cukup katakan,”Oh, Mama/Papa ikut sedih mendengar hal itu. Mama/Papa juga pernah mengalami perasaan seperti itu. Kamu mau mendengar bagaimana Mama/Papa mengatasi perasaan itu?” Dan kemudian ceritakan tanpa bermaksud menggurui. Setelah itu berikan pelukan hangat padanya.<br />
Ingatlah sewaktu mendengarkan anak bercerita atau mengungkapkan perasaanya maka pastikan kita tak melakukan apapun atau mengerjakan apapun. Tatap matanya dan dengarkan dengan penuh perhatian. Jika ada telepon dan itu bisa ditunda cobalah untuk tidak menanggapinya terlebih dahulu jika memang Anda memandang anak lebih penting. Dalam hati terdalam seorang anak ia ingin dinomorsatukan oleh papa atau mamanya.<br />
Selain itu perhatikan tangki emosional anak kita. Tangki emosional atau tangki cinta ini kita penuhi melalui bahasa cinta yang tepat. Ada lima bahasa cinta yang bisa kita berikan pada anak tergantung mana yang dominan. Kelimanya adalah layanan, kata-kata pendukung, hadiah, sentuhan fisik, dan waktu berkualitas. Jika tangki emosional seorang anak penuh maka ia mudah diajak kerja sama dan mudah menurut serta memiliki motivasi tinggi.<br />
Karena keterbatasan ruang maka hal mendetail mengenai bahasa cinta, bagaimana menemukan yang utama dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan bisa Anda baca di artikel sebelumnya atau bisa juga dengan melihat secara komplit di DVD Tangki Cinta yang berdurasi 3 jam.</p>
<p class="akst_link"><a href="http://www.sekolahorangtua.com/?p=105&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_105" class="akst_share_link" rel="nofollow" >Beritahu Teman</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/20/kedekatan-fisik-tidak-sama-dengan-kedekatan-emosional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
