Phone : 031-71559997, 031-5941439
SMS : 0819807601 (Jam Kerja)
Email : cs@sekolahorangtua.com
“Anak Anda hiperaktif ya ?” Bisik seorang dokter spesialis kulit kepada saya dan suami saya.
Kaget juga ketika ditanya seperti itu oleh seorang pihak yang kami percaya untuk mengobati kulit anak kami, Kaizen, yang terkena gigitan serangga.
Hampir 2 tahun, kami membesarkan Kaizen dan tidak sedikitpun kami melihat adanya gejala hiperaktif dalam diri Kaizen. Padahal saya seorang psikolog yang bergerak di dunia anak-anak dan hidup didalamnya. Minat saya dan niat saya adalah ingin membantu orangtua mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik lagi. Eee… ada seorang dokter spesialis kulit yang dengan seenaknya sendiri menilai dan melabel anak saya tercinta, hanya dari pertemuan sekali seumur hidup, cuman 5 menit saja.
Saat itu Kaizen masih berusia 1 tahun 6 bulan. Masa dimana anak-anak ingin memegang segala sesuatu, ingin menaiki segala sesuatu dan ingin semuanya. Pokoknya semua hal adalah baru baginya sehingga menarik untuk dipegang, dilihat dan dinaiki.
Posted by (7) Comment
“Aduh duhh….”. Keluh seorang ibu sambil mengelus dada.
“Napa, jeng ?”. Tanya tetangga sebelah rumah dengan nada perlahan. “Jantungnya bermasalah ?”.
“E… Bapak Santoso. Nggak pak…”. Jawab ibu tersebut sambil tersenyum malu.
“Saya cuman sedang sedih, jengkel dan marah. Campur aduk dah pak. Saya ini kok bisa melahirkan anak yang nakal ? Anak saya ini loh, pak. Bikin saya gemes melihat dan mendengar perilaku anak saya setiap hari. Mulai dari gak mau disuruh belajar, suka bohong, tidak punya semangat kalau ngadepin kesulitan, tidak disiplin ngikutin aturan. Hampir tiap hari saya mendapatkan laporan dari gurunya dan hampir setiap hari saya harus teriak-teriak di dalam rumah untuk mendisiplinkan anak saya. Saya jadi gak tahan ada di rumah, penginnya kerja melulu. Daripada pulang, kemudian ketemu anak saya… terus harus ngadepin kenakalan anak saya.” Cerocos ibu itu tanpa bisa di rem.
Dunia ini memang sudah sangat berubah, jika dibandingkan dengan keadaan 15 tahun yang lalu. Peran pencari nafkah saat ini, tidak lagi diemban oleh ayah seorang saja. Ibu pun sudah harus ikut turun gunung agar asap dapur tetap mengepul dan gaya hidup bisa terakomodasi. Penghasilan dari 1 pintu saja, tidak cukup untuk digunakan di jaman sekarang.
Konsekuensi dari perubahan ini paling berdampak pada kehidupan anak. Anak tidak lagi sering bertemu dengan ayah ibunya. Ia lebih sering bergaul dengan pengasuh, nanny, ataupun baby sitternya dibandingkan dengan kita. Bahkan tak jarang, pertemuan keluarga inti yang lengkap, hanya bisa dilakukan di hari sabtu minggu. Itupun jika tidak ada perjanjian bisnis mendadak atau panggilan bos di hari libur. Ironis bukan ?
Posted by (26) Comment
Apakah anda penggemar film Korea The Great of Seondeok yang sedang di tayangkan di salah satu TV swasta ? Ratu Seondeok merupakan satu dari tiga Raja wanita yang pernah memerintah di Korea. Cerita ini sangat menarik bagi saya, terutama pada salah satu adegan yang menceritakan motivasi sang cikal bakal ratu memimpin negerinya. Seorang panglima menanyakan pertanyaan yang memang seharusnya dijawab oleh setiap pemimpin yang ada di dunia ini, “Apakah dengan kemarahan yang ada dalam diri anda, anda dapat memimpin negeri ini ? Apa yang membedakan anda dengan Misil (saingan untuk menjadi raja) ?”
Mendapatkan pertanyaan tiba-tiba ini dan tidak pernah terpikirkan, sang putri terdiam sesaat sebelum memberikan jawaban yang menurut saya sangat bagus.
“Aku memiliki impian, Panglima. Inilah yang membedakan aku dengan Misil. Misil tidak memiliki impian menjadi raja sehingga ia tidak akan pernah bisa menjadi raja. Aku akan menyatukan ketiga dinasti dibawah pemerintahanku”.
Posted by (42) Comment
Surga di Telapak Kakimu
Penyanyi : Gita Gutawa
Kunyanyikan semua lagu untukmu Ibu
sebagai wujud terimakasihku kepadamu
Tanpa lelah kau berjuang membesarkanku
Berikan yang terbaik untukku
Izinkanlah tanganmu kucium
Dan kubersujud dipangkuanmu
Temukan kedamaian dihangat pelukmu
Didalam hati kuyakin serta percaya
ada kekuatan doa yang engkau titipkan
Lewat Tuhan membuat
Semangat bila diri ini rapuh dan tiada berdaya
Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu
Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga
Kasih sayangmu begitu tulus
Kau cahaya dihidupku
Tiada seorang pun yang dapat menggantimu
Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu
Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga