Phone : 031-71559997, 031-5941439
SMS : 0819807601 (Jam Kerja)
Email : cs@sekolahorangtua.com
Dear Parents,
Halo para orangtua Indonesia! Salam sejahtera untuk Anda semua!
Pada pesan berikut saya akan mengingatkan sudahkah Anda mengucapkan “Saya menyayangimu, Nak!” pada putra putri tercinta Anda untuk hari ini?
Dan saya juga mengingatkan saat mengucapkan hal tersebut pastikan untuk melakukan kontak mata dan sentuhan fisik.
Hal ini akan membuat mereka senantiasa merasa aman dan berharga yang pada gilirannya akan memicu rasa percaya diri.
Namun hendaknya hal ini juga Anda lakukan pada pasangan Anda. Ya….saat Anda pasangan merasakan cinta itu kembali maka anak Anda pun akan merasakan kebahagiaan tersebut!
Jika Anda ingin mengingat kembali apa yang saya maksudkan silakan baca kembali artikel di sekolahorangtua.com yang berjudul Kedekatan Fisik Tidak Sama dengan Kedekatan Emosional .
Atau lihat kembali bersama pasangan DVD Tangki Cinta yang telah Anda miliki. Hal ini akan mengingatkan kembali betapa pentingnya mengisi tangki cinta orang-orang yang Anda cintai.
SekolahOrangtua diwakili oleh Bapak Ariesandi dan Bapak Sukarto pada tanggal 19 November 2008 menyumbangkan dana yang selama ini disisihkan dari hasil penjualan produk pembelajaran kepada anak-anak korban lumpur panas di Porong. Sumbangan sebesar Rp 7.500.000,- diterima oleh Rm. Gani Sukarsono yang bertindak sebagai orangtua asuh bagi mereka. Selama ini mereka belajar di pasar yang diberi sekat seadanya dengan guru yang seadanya pula. “Kami hidup dari bantuan orang lain yang peduli pada nasib anak-anak ini”, demikian kata Rm Gani yang tak jarang harus menyusun acara bazar untuk mengumpulkan dana guna membiayai keperluan sekolah 75 anak asuhnya.

Rm. Gani mengucapkan terima kasih yang tulus pada seluruh warga SekolahOrangtua atas sumbangan tersebut. Ia mengatakan bahwa semoga ini semua menjadi sebuah berkah bagi kita semua. Sehari-hari Rm. Gani bergelut dengan berbagai aktivitas sosial yang memberdayakan masyarakat yang kurang mampu atau yang benar-benar butuh pertolongan. Beliau bisa ditemui di jl. Widodaren
15 Surabaya.
Tulisan berikut ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya dengan judul yang sama yang telah dimuat di website sekolahorangtua.com juga. Namun kali ini kita akan membahas masalah ini untuk anak berusia 12 tahun sampai 18 tahun atau masa remaja hingga dewasa awal.
Banyak anak-anak remaja menjadi stres saat mereka berhubungan dengan masalah pertumbuhan. Mereka khawatir tentang perubahan tubuhnya, bergelut dengan seksualitas dan jati diri mereka. Anak-anak remaja ini seharusnya dapat membicarakan masalah mereka dan seharusnya sudah mengembangkan kemampuan untuk mencari jalan keluar atas suatu permasalahan. Namun dikarenakan emosi yang dapat berubah dengan tiba-tiba dan keraguan akan keputusan yang penting, mereka memerlukan bantuan khusus dan dukungan dari kita – orang dewasa – terutama kedua orangtua. Fase ini biasanya akan terlewati dengan baik jika di fase sebelumnya orangtua mengembangkan sebuah komunikasi yang baik – yang membangun sebuah harga diri – dengan anaknya.
Artikel ini sengaja dibuat karena ada begitu banyak email menanyakan kapan seminar dengan judul ini dibuat di beberapa kota besar. Secara pribadi saya harus meminta maaf karena keterbatasan waktu dan tenaga sehingga tidak bisa melayani setiap permintaan. Sebagai gantinya telah ada CD dengan judul yang sama “Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar” yang bisa dipesan melalui sekolahorangtua.com. Dan sekarang saya juga akan membahasnya melalui artikel berikut ini walau hanya intisarinya. Namun semoga intisari ini bisa ditangkap dan diaplikasikan oleh para orangtua terutama yang sudah membaca buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”. Selamat menjadi orangtua terbaik bagi anak Anda!
” RAHASIA MEMBUAT ANAK KETAGIHAN BELAJAR “
Seorang ibu mengeluh pada temannya “Aduh gimana nih, nilai anakku kok merosot terus dari hari ke hari?” sementara temannya juga mengatakan hal yang mirip “Ia susah banget ya memotivasi anak-anak kita untuk suka belajar, kalau main game saja yang gak perlu diminta?”
“Anak Bapak dan Ibu tak punya inisiatif untuk belajar di kelas, tolong diberitahu ya?”
“Anak Anda nilainya jelek, jika ini terjadi ia bisa tidak naik kelas, tolong dinasehati ya!”
“Anak Bapak dan Ibu tidak punya motivasi dan kurang bertanggung jawab, tolong dilatih di rumah ya?”
“Anak Anda kurang percaya diri dan susah bicara kalau ditanya, perhatikan perkembangannya di rumah, kalau seperti ini terus ia bisa tidak naik kelas?”
“Anak itu suka berbohong, siapa sih orangtuanya?”
“Anak itu kurang tahu aturan dan sopan santun, apakah orangtuanya tidak pernah mengajarkan hal itu di rumah?”
Hmmm …… itulah sederet komentar yang membuat orangtua menjadi merasa bersalah dan tak berdaya. Para guru, masyarakat dan mungkin juga para para pejabat sering menyalahkan orangtua atas kenakalan anak dan problem para remaja. Namun apakah mereka yang menyalahkan para orangtua itu memberikan jalan keluar yang memuaskan? Pada akhirnya orangtua menemukan diri mereka sendirian, kebingungan dan tak berdaya atas apa yang terjadi pada anaknya. Mereka merasa telah berbuat banyak untuk anaknya namun hasilnya …… membuat para orangtua semakin bingung apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk mendidik anaknya.