ArtikelParenting

Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab “Bagian (2)”

Sri memang anak yang hebat. Review game yang ia tulis di blognya menggunakan bahasa Inggris. Sebuah prestasi yang hebat untuk anak seusianya. Sementara saya memerhatikan blognya dan menlihat-lihat isi dan komentar para pengunjung blognya ia terus bercerita tentang blognya.

Saya kemudian bertanya dalam bahasa Inggris sekalian untuk menguji Sri, “So you played those games for the sake of good reviews ?”

“Yes, I had to try first and sometime it need a couple of days to found any shortcomings in a game and then I made reviews. It make my parents angry because they thought I wasted my time”, jawab Sri.

“Why don’t you tell the truth?”, tanya saya .

“They never listen to me”, jawabnya sambil menunjukkan sinar mata marah yang membuat saya agak terkejut.

Sedemikian dalamkah luka hatinya?

Lalu saya berpikir bahwa bagaimanapun orangtua Sri harus tahu hal ini agar mereka bisa mendapatkan gambaran seimbang tentang apa yang dilakukan anaknya.

Saya kemudian menjelaskan pada Sri bahwa apa yang dilakukannya adalah hal hebat dan ia tetap harus menjalankan tugas kewajiban pribadinya sebagai pelajar dan juga harus bersosialisasi karena hidup bukan hanya sekedar di depan laptop menulis review dari sebuah game. Saya menawarkan sebuah perjanjian pada Sri tentang apa yang harus dilakukannya. Saya tak melarangnya melakukan apa yang ia suka namun saya juga menyadarkan Sri tentang menjalani kehidupan yang seimbang di semua aspek hidupnya.

Sri memberikan ijin pada saya untuk bercerita pada kedua orangtuanya dan menjadi mediator dalam hal ini.

Singkat cerita saya bertemu dengan kedua orangtuanya lagi dan menceritakan apa yang saya dapatkan dari percakapan dengan Sri.

Saya kaget saya ayahnya menceritakan juga bahwa Sri sebelumnya dibawa ke seorang psikolog dan dilarang menggunakan laptop selama beberapa minggu. Akhirnya Sri berontak dan malah semakin menentang kedua orangtuanya.

Sampai pernah suatu ketika ayahnya membanting laptop Sri saking jengkelnya. Tetapi itu pun tak menyurutkan niat Sri untuk tetap meminta laptopnya dikembalikan dan diijinkan pakai baru ia mau sekolah.

Saat saya bertanya pada ayahnya, “Tahukah Bapak sebenarnya apa sih yang dilakukan Sri?”

Ayahnya menjawab bahwa Sri hanya bermain game.

Kemudian saya membuka laptop saya lagi dan menyodorkan pada ayahnya tentang apa yang dilakukan Sri di blognya.

Komentar pertama yang meluncur dari mulut ayah dan ibunya adalah, “Itu yang buat Sri? Anak saya?”

Saya menjawab dengan tegas bahwa memang itu yang buat Sri. Sebuah blog dengan review atas banyak game dan ditulis dalam bahasa Inggris.

Ayah dan ibunya terbelalak dan saya melihat kedua orangtua tersebut menatap layar laptop saya dengan mengucurkan air mata.

Yang saya ingat adalah ayah Sri yang menggumam terus menerus,”Ini anak saya yang buat?”

Saya sampai menegaskan berulang kali bahwa itu memang Sri yang buat dan saya sudah mengujinya dengan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris yang ditanggapi Sri dengan lancar.

Dan sekali lagi mereka juga tak pernah tahu bahwa Sri sangat lancar dan fasih berbahasa Inggris!

Whatttttt????

Saya tersambar petir. Mereka kedua orangtuanya yang hidup bersama Sri dan membesarkan Sri bertahun-tahun tak pernah tahu kehebatan anaknya???

Akhirnya sang ayah mengatakan,”Selama ini kami hanya mengetahui keburukan Sri dan tak pernah mau tahu apa kehebatannya. Kami menghakiminya dan membawanya kesana kemari dan hanya mengatakan masalah keburukan Sri semata”.

Saat sang ayah mengatakan hal tersebut tangisnya benar-benar tak terbendung. Dan sang ibu menimpali,”Kami berdosa pada Sri. Pantas saja ia membangkang karena ia pasti merasa kami tak mau memahaminya”

Ohhh … saya hanya bisa terdiam.

Satu lagi orangtua yang akhirnya menyadari bahwa apa yang selama ini mereka lakukan dan pikirkan terhadap anaknya sangat keliru.

Orangtua yang selama ini menggembar-gemborkan tahu apa yang terbaik untuk anaknya ternyata tak tahu apapun tentang anaknya kecuali keburukan anaknya.

Semua itu hanya masalah komunikasi yang kurang sinkron. Ya … sebagian besar masalah anak-orangtua adalah karena ketidaksinkronan komunikasi.

Apa yang terjadi? Akhirnya maksud baik orangtua tidak tersampaikan pada anak karena komunikasi yang kurang tepat. Akhirnya anak salah memaknai maksud baik orangtua. Hal ini bisa dimaklumi karena keterbatasan pola pikir dan wawasan anak. Kita tak bisa mengharapkan anak memiliki pola pikir dewasa seperti kita bergaul dengan orang sebaya.

Anak-anak tetaplah anak-anak dengan segala keterbatasan wawasannya. Justru kitalah sebagai orangtua yang perlu memahami cara pikiran bekerja dan menggunakan komunikasi yang sesuai dengan cara kerja pikiran itu untuk membimbingnya ke level yang lebih tinggi.

Dan perlu dicatat disini bahwa yang saya maksud memahami anak TIDAK BERARTI menuruti semua kehendak anak. Memahami anak adalah mengerti apa yang ia butuhkan dan kemudian menggunakan keterampilan komunikasi yang tepat untuk membimbing mereka ke level pemikiran yang lebih tinggi sehingga mereka mampu mengeluarkan potensi terbaik dirinya.

Nah para orangtua sekalian mengingat pentingnya keterampilan komunikasi tersebut maka bertahun-tahun yang lalu saya memutuskan mengajarkan hal tersebut pada banyak orangtua termasuk pada orangtua yang datang ke klinik saya.

Ikuti artikel berikutnya yang akan membahas tips komunikasi praktis.

Mau ? atau mau banget ? qiqiqiqiqi …

Salam hebat untuk Anda

Ariesandi dan Tim Sekolah Orangtua Indonesia?

Related Articles

Back to top button
Close
Close