Bulan: November 2011

  • Sharing Agung Hendriyanto: Berjuang Mencapai Impian

    Dear Orang Tua yang Bijak, SEMANGAT PAGI!

    Ijinkan saya untuk berbagi pengalaman dalam membantu putra ke-2 saya, Galih Pradnya (8 th), untuk berjuang mencapai impiannya.

    ===

    Galih Pradnya, saat ini duduk di bangku kelas III SD St Aloysius Bandung, memiliki hobi bermain catur dan bercita-cita menjadi Juara Nasional. Cita-cita yang luar biasa, namun perlu KERJA KERAS dan KETEKUNAN untuk mewujudkannya.

    Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Galih rajin berlatih dan secara rutin mengikuti berbagai pertandingan. Galih dan kami-pun harus pintar membagi waktunya dengan kegiatan sekolah. Entah sudah berapa banyak Galih ijin dari sekolah untuk mengikuti berbagai pertandingan. Untunglah pihak sekolah cukup bijak untuk memberikan ijin, walaupun tugas-tugas sekolah tetap harus dikerjakannya. Setiap pulang dari pertandingan, Galih-pun harus siap menyalin pelajaran yang ditinggalkannya. Luar biasa semangatmu Nak!

    Pada tanggal 8-17 September 2011 yang lalu, Galih kembali ijin dari sekolah karena harus mengikuti KEJURNAS CATUR ke-42 di Palembang Sumatera Selatan. Kejurnas Catur ke-42 ini merupakan Kejurnas Catur ke-3 kalinya yang diikuti Galih, setelah tahun 2009 (Palangkaraya) dan 2010 (Manado).

    Di Kejurnas 2009 & 2010, Galih belum berhasil menjadi juara dan hanya mampu masuk posisi 5 besar. Karena tahun ini merupakan tahun terakhir Galih bertanding di KU G (

    Dalam KEJURNAS CATUR ke-42, pertandingan kelompok yunior dilakukan dalam 9 babak dan dibagi selama 5 hari. Artinya, selama 5 hari, setiap pemain akan bertanding sebanyak 9 kali dan hasil akhirnya akan dihitung berdasakan point yang dikumpulkan. Hitungan point-nya adalah menang=1, draw=0.5 dan kalah=0. Jika ada point yang sama, maka juara akan ditetapkan berdasarkan Tie-Break.

    Jumat 9 September 2011, setelah mengalami penundaan dan jadual molor dari yang ditetapkan, babak ke-1 akhirnya dapat dimulai tepat pukul 19.15 WIB.Babak ke-1 ini dapat dimenangkan Galih, sehingga mendapat point 1. Merupakan awal yang baik dan bekal berharga untuk memasuki babak-babak berikutnya.

    Sabtu tanggal 10 September 2011 dipertandingkan 2 babak, yaitu babak 2 (jam 09.00 WIB) dan babak 3 (jam 14.00 WIB). Setelah bertanding sekitar 1,5 jam, diluar dugaan, di babak ke-2 ini Galih mengalami kekalahan! Walaupun tidak sampai menangis, ekspresi kekecewaan jelas terpancar dari raut wajahnya. Rupanya tekanan dan tanggung jawab yang besar untuk merebut medali emas, membuat Galih terbebani dan tidak bermain lepas seperti biasanya.

    Refleks saya rengkuh kepalanya, “Tidak apa-apa Nak, jalan masih panjang. Masih ada 7 babak lagi. Kamu masih bisa menjadi Juara”. Kami kemudian mengajaknya pulang untuk beristirahat, melupakan kekalahan dan bersiap untuk pertandingan babak ke-3.

    Kekalahan di babak ke-2 ini sempat menjatuhkan mental Galih dan membuat-nya patah semangat. Dari target-nya menjadi Juara Nasional, keinginannya turun menjadi hanya masuk 5 besar, alias sama dengan KEJURNAS sebelumnya.

    “Targetnya masuk 5 besar saja ya, ternyata susah”, begitu kata Galih. Wah, mana SEMANGAT-mu yang berkobar-kobar itu Nak? Apakah SEMANGAT dan KERJA KERAS-mu selama satu tahun dihapuskan hanya dengan satu kekalahan saja?

    Untuk mengembalikan SEMANGAT dan MENTAL Galih, kami dengan sabar terus memotivasi Galih untuk bangkit dan melupakan kekalahan tersebut. Lupakan babak sebelumnya dan fokus babak berikutnya! Itulah motto kami dalam membangkitkan semangat Galih.

    “Kamu bisa Galih, fokus dan teliti. Selalu berpikir panjang, jangan terburu-buru melangkah. Dan jangan lupa berdoa” “Kalau kalah gimana”? pertanyaan itu terus diulanginya berkali-kali. “Kalah dan Menang biarlah nanti saja. Nikmatilah pertandinganmu. Berusahalah dan Berdoa, pasti Tuhan akan mendengar-mu Nak”,jawaban itulah yang kami sampaikan kepadanya.

    Dan sepertinya motivasi kami sedikit mengangkat moral dan mental Galih, sehingga dengan penuh keyakinan Galih memasuki arena pertandingan untuk memulai babak ke-3. Walaupun belum sepenuhnya dapat melupakan kekalahannya, di babak ke-3 ini Galih mampu memenangkan pertandingan.

    “Yeeesss…kamu bisa khan…” Itulah kalimat penyemangat kami untuk Galih.

    Kemenangan di babak ke-3 dan motivasi yang terus-menerus kami suntikkan, rupanya mengangkat mental dan semangat Galih. Penampilan Galih semakin hari semakin membaik dan terus mengumpulkan point kemenangan dalam 5 babak berikutnya. Sampai dengan babak ke-8, Galih berhasil mengumpulkan 7 point kemenangan, hasil dari 7 kali menang dan 1 kali kalah. Point ini merupakan point tertinggi di antara lawan-lawannya, sehingga Galih untuk sementara berada di peringkat pertama. Hanya butuh 0.5 point saja di babak terakhir, untuk memastikan juara pertama sekaligus merebut medali emas untuk Jawa Barat.

    Medali emas sudah di depan mata! Tinggal 1 babak lagi! Hanya butuh 0.5 point saja! Ketegangan-pun memuncak!

    Setelah rehat untuk makan siang, pertandingan babak ke-9 dimulai tepat pukul 14.00 WIB. Sesuai dengan perkiraan kami, Galih bertemu dengan lawan yang sudah sering dihadapinya. Dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, Galih selalu menang. Namun Galih harus selau waspada, karena pertandingan olahraga tidak bisa dihitung secara matematika.

    Sebelum memasuki ruang pertandingan, saya hanya berpesan, “Gal, kamu hanya butuh 1/2 point saja. Tidak perlu mengejar kemenangan, draw saja sudah cukup”. “Iya”. “Tetap fokus dan jangan lupa berdoa” “Iya”

    Galih-pun masuk ke ruang pertandingan dan ketegangan segera meliputi saya. Saya, yang biasanya duduk tenang, jadinya mondar-mandir nggak tentu tujuan. Sebentar duduk, berdiri, jalan … duduk, berdiri, jalan … duduk lagi, jalan lagi… Rasanya serba salah.

    1 jam berlalu … belum ada tanda-tanda Galih keluar. Biasanya Galih sudah selesai.

    1 1/2 jam berlalu … belum ada tanda-tanda juga.

    1 3/4 jam berlalu …

    2 jam berlalu …

    Setelah menunggu sekitar 2 jam, akhirnya Galih keluar dari ruang pertandingan. Saya menunggunya di kejauhan dan tidak berani menyambutnya. Ketegangan saya semakin bertambah karena Galih tidak langsung menghampiri saya, namun bercanda terlebih dahulu bersama kawan sekaligus lawannya. Sepertinya Galih tahu kalau saya menunggu dengan harap-harap cemas, sehingga Galih sedikit mempermainkan emosi saya.

    Setelah merasa cukup bercandanya, Galih akhirnya menghampiri saya. Saya tidak berani menanyakannya…tetapi melihat raut wajahnya saya tahu bahwa Galih berhasil merebut 0.5 point yang dibutuhkannya. Dan benar…”Draw”, kata Galih ketika menghampiri saya!

    Saya peluk dia dan berkata ,” Bisa juga khan?” …. Galih-pun menjawab “Iya”… dan tersenyum!!! Plong ….. MEDALI EMAS dan gelar MASTER PERCASI-pun berhasil dibawa pulang.

    Akhirnya…. Dengan KERJA KERAS, KETEKUNAN, DOA dan KEBERUNTUNGAN… Impian Galih untuk menjadi Juara Nasional tercapai sudah. Namun mesti diingat, ini bukan akhir dari segalanya. Ini merupakan awal dari perjalanan panjang untuk menggapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Ayo…kamu bisa! Selamat ya Galih Pradnya Master Percasi.

    ===

    Mudah-mudahan pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi orangtua sekalian, bahwa ketekunan dan kerja keras yang disertai dengan doa tentu akan indah pada waktunya. Mohon maaf jika sharing-nya terlalu panjang. SEMANGAT PAGI!

    Agung Hendriyanto

  • Sharing Vivi Savitri Wibisono: Kenali Dirimu, Sayang

    Salam kenal untuk para Ayah dan Bunda…

    Sebetulnya cerita ini pernah saya upload di FB, sebagai note saya. Mengapa? Agar saya selalu ingat bahwa saya pernah punya pengalaman ini dengan putra tunggal saya. Sebagai catatan pribadilah… Ketika Sekolah Orangtua memberi kesempatan kepada kita para orangtua untuk sharing pengalaman kita dengan putra/i kita, maka saya bagi disini melalui Sekolah Orangtua…

    Kenali Dirimu, Sayang…

    Sudah sejak awal Abi masuk SD, aku memutuskan untuk tidak membebaninya dengan target jadi juara di kelas. Alhamdulillah, selama 3 tahun (kelas 1 sampai kelas 3) tidak pernah ada masalah mengenai itu. Nilai -2nya cukup memuaskan.

    Tapi, rupanya waktu berkata lain. Di awal kelas 4, nilai-2nya turun dengan drastis. Aku capek. Pelajarannya susah. Kebetulan gurunya juga punya aturan yg berbeda dibanding guru-2 sebelumnya. Gurunya yg sekarang memutuskan, ulangan baru diberikan ke orangtua setelah 3 bulan. Itulah awalnya…

    Kami punya kebiasaan, setiap kali hasil ulangan diberikan guru, Abi menyerahkannya padaku. Lalu sama-2 kami melihat dimana yg salah, dimana yg kurang, nah di situlah ia membuat perbaikan pada buku belajarnya di rumah. Ulangan yang diberikan setelah 3 bulan berlalu, jelas membuatku lambat mengetahui dimana kekurangan Abi dalam memahami materi pelajarannya. Bayangkan, nilai yg biasanya menari-2 di angka 8 atau 9, merosot sampai ke bawah 5…!!!

    Mau marah, percuma.. semua sudah berlalu. Tapi wajah kecewa, tidak kusembunyikan dari pandangannya. Membuang segala ego, aku ajak ia duduk bersama. Berdua kami membicarakannya.

    “Ibu kecewa nih, Mas. Koq nilai-2nya seperti ini. Aku minta maaf. Kamu tau bagaimana pendapat Ibu tentang hal ini. Nilai di bawah 5 berarti kamu tidak belajar.” Berusaha berkelit, ia menjawab: “Ibu jangan hanya melihat ke atas, ke anak-2 yg nilainya lebih bagus. Lihat juga ke bawah, ke anak-2 yang mendapat nilai rendah. Aku masih mending, Bu. Ada temen yg dapat 1,5. Malah ada yg 0,5…”

    Kutatap wajahnya.. Gak percaya kalimat tadi meluncur dari mulutnya.
    “Kenapa mereka bisa dapet nilai segitu?”. Tanyaku
    “Karena mereka suka ngobrol pas lagi belajar. Males juga anaknya…”, Jawabnya.
    “Dan kamu merasa, Ibu akan bangga kamu membandingkan dirimu dgn The free-credits-report.com is specifically limited to those expenses incurred in the first four years of college. mereka?“. Tangkisku. Sudah akan menjawab, tapi ditahannya dalam mulut. Melihat wajahku yang mulai mengeras, dia merasa lebih aman bila diam.

    “Selama ini Ibu gak pernah menuntutmu ada di atas panggung juara. Yg Ibu minta agar kamu dapat berdiri di atas tanah. Dengan gagah, tegak dada sebagai anak laki-2. Sekali-2 kamu dapat nilai 6, Ibu hanya pikir kamu sedang berjalan terlalu ke pinggir. Jadi Ibu ingatkan, hati-2 Mas. Belajar yg lebih baik lagi.”

    “Sekarang, kamu sedang terperosok ke dalam lubang. Ayo, Ibu akan bantu kamu keluar dari lubang itu. Tapi kamu juga harus bantu diri kamu keluar dari sana. Jangan keenakan tidur di situ. Oke? Kalau kamu tidak setuju dengan cara ini, bilang dari sekarang. Jangan sampai Ibu lelah sendiri menarikmu, padahal kamu merasa nyaman di berkubang di dalamnya.”.

    Dan mulailah, ia menjalani hari-2 dimana ia berusaha keluar dari lubangnya. 30 menit berlatih matematika, 30 menit berlatih memperbaiki tulisannya (salah satu penyebab nilainya mendapat jelek, karena tulisannya sulit dibaca). Ia kusuruh menulis tentang apa saja. IPA, IPS, peribahasa, cerita di majalah, buku, apa aja yg dia suka.

    Proses yg lambat dan panjang. Adakalanya ia bosan. Di hadapannya terletak buku matematika, buku menulis, buku cerita, lego, tapi matanya menghadap ke layar televisi. Kalau lagi kendor seperti itu, aku biarkan dulu selama 1 hari. Esoknya kuajak tukar pikiran lagi.

    “Ada anak yg diberi kelebihan oleh Tuhan, berupa otak yg pandai dimana ia mampu memikirkan segala macam hal di waktu yang bersamaan dan semuanya berhasil dengan baik dengan prestasi belajar yang juga baik.

    Ada juga anak yg diberi kelebihan lain oleh Tuhan, berupa ketekunan. Dimana ia hanya mampu melakukan satu hal saja di satu waktu, tapi bila melakukannya dengan tekun ia akan berhasil dengan baik. Anak-2 yg seperti ini mungkin terlihat lambat karena ia menyelesaikan pekerjaannya satu per satu. Tapi hasil terakhir biasanya jauh lebih baik.

    Luar biasanya, orang-2 yang berhasil adalah orang yang tekun dan sabar dalam menjalani pekerjaannya. Kenali dirimu, Sayang… Mas Abi termasuk dalam kelompok mana dengan kelebihan yang Tuhan kasih.”

    Gaya belajarnya, langsung berubah. Ia mulai belajar memahami dan mengenali dirinya sendiri. Gaya belajarnya pun ia sesuaikan sendiri. Selama tidak aneh-2, aku tidak banyak berkomentar. Tugas seorang Ibu adalah seperti pemain layangan. Tetap memegang tali. Mengatur ke arah mana layangan akan diarahkan. Sesekali membiarkan layangan kendor untuk mencari ruang geraknya sendiri. Kalau telah melenceng terlalu jauh, kembali menarik tali agar layangan kembali dalam arah yang diinginkan.

    Suatu kali, Abi mengeluarkan setumpuk kertas ulangan dari dalam tasnya. Ibu, lihat…! Anak Ibu udah mulai berdiri lagi di atas tanah. Nilai 7 dan 8 tertera di kelima lembar kertas tersebut. Aku rengkuh kepalanya dalam pelukan…

    Terima kasih, Sekolah Orangtua….

    Best wishes,
    Vitri Wibisono

  • Sharing Martha Prisilya

    Saya memiliki anak sulung usia akan genap berusia 9 tahun pada tanggap 14 Nop ini. Sekarang sudah duduk di kelas 4 SD. Ketika ia duduk di bangku TK, ia sempat sedikit ketinggalan dalam membaca hasilnya ia sering terlambat pulang saat kelas 1 SD. Saya memberi dia les privat, dan akhirnya dia mahir. Penyebab keterlambatannya dalam membaca disebabkan kekerasan saya dlm mendidik dan mengajarnya. Ini meningglkan trauma yang dalam baginya. Kelas SD 1-2 prestasinya biasa-biasa saja bahkan rangking 10 dari bawah.

    Saya menyadari andil saya dalam menyebabkan kesulitan anak saya dalam membaca. Saya berusaha memperbaikinya dengan melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengannya. Saya mengakui kesalahan saya kepadanya dan meminta maaf. Saya berjanji akan berusaha memperbaiki kesalahan saya. Janji saya kepadanya, saya buktikan melalui perubahan tingkah laku saya setiap hari. Saya lebih sabar mengajarnya saat belajar dan memberikan waktu saya khusus untuknya. Memeluknya saat dia gagal ketika mendapat nilai 3, 4 bahkan pernah 0.

    Saya katakan, “Ketika kakak mendapat nilai buruk padahal sudah melakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh, kakak perlu menerimanya dengan ucapan syukur apapun hasilnya. Karena Tuhan lebih menghargai usaha daripada hasilnya. Mama tidak akan marah dan menuntut lebih, mama janji.”

    Tapi… ternyata saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan kepercayaan kakak kepada saya. Terkadang, ketika kondisi saya lelah, kata-kata penyemangat saya tidak sejalan dengan intonasi suara saya yang meninggi. Hal ini menyebabkan ia mengalami trauma kembali dan mulai menyembunyikan nilai buruknya lagi. Ini benar-benar merupakan PR besar buat saya untuk mengendalikan emosi agar tidak terlampiaskan pd anak. Dan, PR saya yang lain adalah mengatur agar energi saya bisa terbagi dengan baik agar tidak kelelahan ketika menghadapi kakak. Karena ketika energi dan kondisi saya lemah, intonasi dan isi perkataan dukungan saya sampaikan kepada kakak tidak sejalan.

    Saat ini Aurora telah kelas 4 dan sedang tes. Saya dan Suami setia menemaninya belajar dan kami membagi tugas. Tiap hari ada 2 mata pelajaran yg diujikan. Aurora masuk pukul 12.30. Jadi 1 pelajaran saya yg mengajarkan dan 1 pelajaran lagi tugas Papanya. Begitulah aturan yg kami lakukan untuk mendampingi Aurora. Kami sebagai orangtua sepakat untuk mendidik anak kami bersama-sama dan seiya sekata, tidak ada yg lebih unggul dan tidak ada yg lebih lemah. Kami tim yg kompak mendidik mereka (anak saya 2 yg bungsu usia 4 thn, dia luar biasa, sgt cerdas utk anak seusianya). Apapun kendalanya kami komunikasikan bersama tanpa didengar anak.

    Saat tes, gurunya memberi lembar isian terpisah, sehingga lembar soal boleh dibawa pulang dan langsung bisa kami koreksi bersama-sama. Ketika kami koreksi bersama-sama Aurora mendapat nilai minimal 7 dan nilai lain rata-rata 9. Ternyata sistem belajar yang kami terapkan pada Aurora mampu membantunya belajar lebih baik. Kami berhenti memberi nasehat, hanya tiap kami mengajarinya, kami menghindari tekanan. Bila pelajaran mulai rumit dan anak kelihatan bete, kami hentikan dan alihkan dengan cemilan atau menonton (film yg lucu-lucu) sebentar dan kembali belajar. Kadang kami hanya mengajarinya 30 menit dan istirahat 20 menit. Aurora tidur pukul 20.30 Wib. Belajar mulai pkl. 18.30. Jadi hanya butuh belajar +/- 1 jam, Puji Tuhan itu sangat efektif.

    Saya harus menyesuaikan diri dengan hal-hal yang dapat membantu anak saya tenang, termasuk kompromi terhadapi keinginan kami sebagai orangtua. Ketika kami menempatkan diri sebagai teman sekaligus ortu, tidak ada beban dan rahasia diantara kami. Tentu ini tidak instan kami membuktikan diri terus menerus dan diperlukan komitmen yg luar biasa. Kami merasa kami perlu menginvestasikan ajaran-ajaran yg mendasar pada anak kami sedini mungkin melalui waktu yang berkualitas dan terus berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal. Seperti kami menginvestasikan uang kami untuk masa tua kelak. Membuat rumah kami berpusat pada anak bukan orang dewasa.

    Intinya dapatkan hati anak, rengkuh hatinya melalui kejujuran dan teladan hidup diri kita sendiri. Tidak ada teori yg dpt menjawab masalah kita selain kesadaran utk mau mengerti dan memeluk hatinya setiap hari. Jangan biarkan anak tertidur sebelum anak yakin semua berjalan indah hari itu.

    Terima kasih utk waktu yg diberikan.

    Best Regards,

    Martha Herwanto

  • Sharing Yusi Setiawan: Dari Anak Bermasalah Menjadi Anak Berprestasi

    Sharing ini ditujukan bagi para orangtua yang merasa memiliki anak yang bermasalah, terutama yang masih balita, yang iri dengan adiknya, dan sering mengganggu temannya.

    Saya ibu 2 orang anak cowok. Anak pertama saya Steven sekarang berusia 8 tahun lebih, duduk di kelas 3, sedangkan adiknya Kevin 7 tahun, duduk di kelas 2. Selisih umur mereka 1,5 tahun.

    Saat ini kalau memandang Steven dan Kevin, saya bisa merasakan rasa sayang dan bangga. Tapi dulu tidak begitu. Masing-masing anak sempat mengalami fase sulit yang membuat saya nyaris putus asa.

    Steven terlahir maju 17 hari dari jadwal karena ketuban pecah dini. Karena belum ada tanda-tanda lahir, akhirnya saya diinduksi. Sakitnya luar biasa. Untuk menghindari infeksi, Steven bayi diinjeksi antibiotik. Kemudian karena kuning, dia juga disinar. 2×24 jam penyinaran hanya mampu menurunkan sedikit kadar bilirubinnya. Akhirnya dia boleh pulang tapi masih harus minum obat dan dijemur setiap pagi.

    Sejak bayi kecil, Steven sudah menunjukkan kalau dia bayi yang berwatak keras, susah diatur. Banyak sekali peristiwa yang membuat saya kewalahan. Sampai-sampai saya berpikir, “Kalau masih bayi kecil seperti ini aja sudah enggak bisa diatur, gimana nanti besarnya. Saya tidak boleh kalah dengan anak ini… “. Tapi ternyata sikap yang saya ambil salah. Semakin saya keras, tingkahnya semakin menjadi.

    Pada umur 3 minggu, saat itu sekitar pukul 10 pagi, Steven sedang ditidurkan di ranjang. Tiba-tiba dia menangis keras sekali, tangisan melengking yang susah sekali dihentikan. Mukanya sampai merah, dia seperti sedang kesakitan. Saat itu saya belum punya pembantu, tapi untunglah ada mama yang langsung bergegas menolong, menggendong dan menenangkan Steven. Butuh waktu lama untuk membuat tangisan Steven berhenti. Akhirnya karena kecapekan dia tertidur.

    Sorenya hal itu terulang lagi. Karena kuatir kami membawanya ke dokter. Ternyata dokter bilang Steven terkena kolik. Penyakit kolik diderita sejak bayi berumur 3 minggu dan akan sembuh sendiri saat bayi berumur 3 bulan. Begitulah sejak hari itu sampai Steven berusia 3 bulan kurang 1 minggu, setiap malam kami tidak dapat tidur nyenyak. Baru saja kami berhasil menidurkannya, 5 menit kemudian tangisan menyayat hati itu kembali terdengar. Kami harus kembali menggendongnya sambil berjalan hilir mudik menenangkannya.

    Setelah kelelahan dia tertidur, karena tidak ingin dia terbangun lagi, seringkali kami biarkan Steven tidur di gendongan. Tak jarang saya atau mama tidur sambil duduk menggendong Steven, kadang meringkuk di sofa. Kalau tiba-tiba dia terbangun dan menangis lagi ya kami harus menenangkannya. Sungguh ini merupakan 2 bulan yang sangat menyiksa dalam hidup saya.

    Selama 1 tahun pertama kehidupan Steven, kami sering sekali membawanya ke dokter. Bahkan karena tidak sabar dan ingin mencari pendapat lain, kami pernah gonta-ganti dokter. Steven kecil pernah mengalami diare, kolik, demam, alergi susu sapi, alergi susu soya, kulit kepala berkerak, pipi bengkak, seluruh tubuh merah-merah, bisulan, rewel, batuk pilek, infeksi perut, dsb.

    Dulu sering Steven dirujuk ke laboratorium untuk periksa darah, akibatnya dia menjadi trauma terhadap jarum suntik. Apalagi saat bayi banyak jadwal imunisasi yang harus dijalani. Saking seringnya ke lab dan dokter, Steven berontak. Pertamanya, dia menolak masuk ke ruang periksa. Lambat laun pemberontakan di mulai dari depan rumah dokter. Begitu mobil berhenti di rumah dokter dia nangis berontak enggak mau turun. Ketiga, saat mobil belok di jalan menuju rumah dokter dia sudah menjerit-jerit nangis. Itu semua terjadi sebelum dia berusia 1 tahun. Ingatan yang sangat hebat untuk ukuran anak usia 1 tahun.

    Untungnya dari sisi tumbuh kembang Steven tidak ada masalah, bahkan dia termasuk anak yang cerdas. Sejak kecil minat belajarnya tinggi. Perkembangan bahasa kurang baik, tapi dia mengerti perintah, bisa diajak komunikasi. Pada umur 2,5 tahun akhirnya dia bisa berbicara normal.

    Permasalahannya pada perilaku dan sikapnya, sejak umur 7 bulan Steven menolak memakai sepatu, sandal, bahkan kaos kaki dan itu terjadi sampai dia berusia 2 tahun lebih.

    Steven termasuk anak yang aktif, tidak bisa diam, banyak maunya, saat marah suka menangis menjerit-jerit. Perilaku Steven ini seringkali membuat saya kehilangan kesabaran. Steven kecil sering sekali saya cubit dan pukul karena saya kewalahan tidak mampu mengendalikannya. Tapi… cara saya yang salah ternyata membuat tingkah Steven semakin sulit diatur, akibatnya saya makin stress, Steven juga makin nakal.

    Hufff… seperti lingkaran setan situasi saat itu. Makin nakal, makin dikerasin, makin menjadi.

    Puncaknya saat Steven masuk playgroup. Saat itu dia berusia 2 tahun lebih. Kevin sudah lahir, berusia 9 bulan. Berbeda dengan Steven, Kevin bayi merupakan bayi yang anteng, tidak banyak tingkah. Tapi mungkin juga karena perbedaan yang mencolok ini tanpa kami sadari kami dan orang-orang sering membanding-bandingkan Steven dan Kevin. Hal itu membuat Steven kecil makin merasa tidak nyaman, tidak dicintai, dan menjadi iri dengan adiknya.

    Hari pertama Steven masuk playgroup saya masih sempat mendampingi. Saat itu dia sudah terlihat tidak nyaman berada di kelas yang tertutup. Tapi karena di hari perkenalan itu dibagikan balon, perhatiannya masih bisa dialihkan. Meskipun ada pemberontakan tapi dia tidak menangis dan hari itu (5 out of 5 based on 356 reviews) Welcome to BubbLe defensive driving SchoolWhere nervous pupils are welcomed with open arms In July 2014, Charlotte R Amazing ! I was very nervous about driving and had very little confidence . bisa dilalui dengan baik.

    Malamnya ayah mertua yang beberapa hari masuk rumah sakit mendadak meninggal dunia. Kami berduka cita dan sibuk mengurusi pemakaman. Steven masih tetap sekolah ditemani oleh pembantu. Sekitar 2 minggu kemudian setelah semua urusan beres, saya baru bisa mendampingi Steven sekolah lagi. Betapa terkejutnya saya karena ternyata Steven bermasalah. Ada orang tua yang melapor kalau anaknya diserang Steven, digigit tangannya, dsb.

    Pagi sebelum kejadian penggigitan itu, kebetulan Steven mengganggu Kevin dan oleh neneknya dia ditegur. Kevin selamat dari gangguan Steven, tapi akibatnya dia mencari pelampiasan ke anak yang lebih kecil dari dia.

    Hari itu saya mendampingi Steven masuk kelas dan saat istirahat masuk ke ruang bermain. Di ruang bermain itu ada castle dan rumah-rumahan. Steven tidak bisa bermain membaur dengan teman lainnya. Tingkahnya susah diatur. Saat dia melihat teman perempuannya yang cantik dan kecil mungil, tiba-tiba Steven menyerang temannya itu sampai leher anak itu merah. Para guru ada yang langsung mengendong anak itu, ada yang berusaha menenangkan Steven. Tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu bercampur antara malu, marah, putus asa. Saya sampai sempat bertanya pada wali kelas Steven, bagaimana ini apa Steven masih boleh sekolah di sana…

    Mungkin karena penanganan yang salah, semenjak kejadian itu tingkahnya semakin menjadi. Setiap kali mau berangkat sekolah menjadi masalah baru. Steven berontak tidak mau mandi, tidak mau berangkat sekolah. Kami berusaha membujuk, merayu, dan kerana tidak mempan akhirnya mengancam, memarahi, menghukumnya, dsb. Kalaupun kami berhasil mengantarnya ke sekolah, tetap saja kami harus menahan perasaan karena Steven tidak mau belajar, tidak mau baris, tidak mau masuk kelas, dsb. Semakin lama emosi saya makin meningkat.

    Saya sempat konsultasi dengan kepala sekolah bagaimana sebaiknya menghadapi anak seperti Steven. Sebenarnya kepala sekolah play group saat itu sudah memberi nasehat yang bijaksana. Beliau bilang, “Biarkan saja dulu Bu, jangan dipaksa. Ajak aja Steven main-main ke sekolah, tidak usah pakai seragam. Pagi ajak jalan-jalan, mampir ke sekolah, biarkan dia adaptasi dulu. Kalau hari itu bukan hari dia sekolah pun tidak apa-apa (play group masuk 3 hari dalam seminggu). Dampingi saja, kalau dia tidak mau masuk kelas jangan dipaksa, ajak main-main dulu…”

    Sayangnya nasehat yang bijaksana itu saya lakukan dengan setengah hati. Saya mengajaknya ke sekolah, mendampingi meskipun cuman melihatnya main mobil-mobilan. Kalau Steven sudah bosan ya sudah kami pulang. Tapi melihat kemajuan teman-temannya membuat saya tidak sabar. Dalam pikiran saya saat itu.”Kok enak, si Steven ! Harusnya anak salah ya dihukum biar dia tahu kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi khan.. ?“

    Di rumah Steven saya intimidasi. Saya gemas, kalau seperti itu terus kapan pinternya… Saya lupa kalau saat itu Steven masih berusia 2 tahun lebih…

    Kemudian terjadilah kejadian yang membuat saya berpikir…Sabtu pagi Steven sedang dihukum. Seisi rumah tidak boleh ada yang mengajaknya bermain dan bercakap-cakap. Saya berkata kepadanya,”Karena Steven enggak mau sekolah, ya sudah enggak ada yang mau sama Steven. Kalau Steven pinter, baru papa mama sayang sama Steven. Enggak boleh ada yang ngajak Steven main sampai Steven berjanji mau jadi anak pinter, mau sekolah.”

    Steven kecil berusaha mencari perhatian tapi dilihatnya semua orang cuek. Saya dan papanya membaca koran di ruang tamu. Neneknya membaca koran di ruang keluarga, duduk di lantai sambil koran menutupi wajahnya. Pembantu duduk di sofa sambil menepuk-nepuk Kevin. Akhirnya Steven bilang minta susu. Pembantu membuatkan dan memberikannya tanpa mengucapkan sepatah kata.

    Sambil membawa susu botolnya, Steven mencari tempat yang dirasanya enak untuk minum susu. Dilihatnya box bayi Kevin yang saat itu diletakkan di ruang keluarga. Dia naik ke sana. Box bayi itu lumayan tinggi. Dulu kami membelinya dengan pertimbangan biar bayi aman di dalam box, bahkan saat bayi belajar berdiri. Siapa sangka hal itu malah jadi bumerang saat anak kecil yang membawa botol susu berusaha naik sendiri. Steven kehilangan keseimbangan dan tiba-tiba terdengar gedebug yang sangat keras. Steven terbanting ke lantai dan kepalanya yang terlebih dahulu membentur lantai.

    Setelah itu Steven bilang ngantuk dan pindah ke kamar untuk tidur. Tak lama kemudian dia muntah. Kami menjadi panik, kata orang kalau muntah berarti gegar otak. Steven kami bawa ke rumah sakit untuk dirontgen kepalanya.

    Di rumah sakit Steven berontak, sehingga butuh beberapa orang untuk memeganginya. Waktu menunggu hasil foto, Steven muntah lagi beberapa kali. Ketakutan mulai melanda diri saya. Satu-satunya hal yang membuat saya bangga pada Steven saat itu adalah kecerdasannya. Saat itu ingatan Steven sempat hang saat saya ajukan beberapa pertanyaan. Banyak pertanyaan yang dulunya sudah dikuasainya dijawabnya dengan tidak tahu. Saya menjadi takut. Bagaimana kalau gara-gara jatuh itu terus Steven menjadi bodoh?

    Saya merasa ditegur oleh Tuhan. Apakah begitu tak berharganya Steven sampai saya menyia-nyiakannya seperti itu. Apa saya rela kalau seandainya Tuhan mengambil Steven kembali?

    Sebenarnya yang harus saya lakukan mencintainya dengan sepenuh hati, membantu dan mendampinginya agar bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya, bukannya terus-menerus memarahi dan membuatnya merasa tidak dicintai. Di rumah sakit itu saya berdoa, mohon ampun dan mohon diberi kesempatan lagi. Saya memohon kepada Tuhan agar Steven tetap bisa menjadi anak yang pandai dan mohon supaya kami bisa membesarkan dan mendidiknya dengan baik.

    Singkat cerita dokter bilang tulang kepala Steven tidak ada yang retak, kami boleh pulang dan diberi obat minum. Meski awalnya terasa sulit, saya berusaha keras memenuhi janji saya. Mengubah sikap, tidak lagi marah-marah, berusaha instropeksi diri. Saya berusaha keras tidak memukuli dan mencubitinya lagi. Berusaha lebih dekat, lebih mengerti dia, mengajaknya mengobrol, bercerita,dsb. Semua itu butuh proses dan tidak terjadi secara instan. Tapi pelan tapi pasti semenjak saya berubah, sikap Steven pun berubah menjadi lebih baik.

    Suatu hari saat jalan-jalan ke Gramedia, mata saya seolah terpaku pada buku “Ibu Dengarkan Aku” karangan Dra V. Dwijani. Buku itu masih terbungkus plastik sehingga saya tidak bisa membacanya di sana. Rasanya ada dorongan untuk membeli buku tipis yang berisi kumpulan curahan hati anak-anak pada ibu mereka. Ternyata benar buku itu berhasil membuat hati dan pikiran saya terbuka. Saya jadi tahu kalau jalan pikiran anak-anak seringkali berbeda dengan pemikiran orang dewasa.

    Dalam perjalanan waktu, secara tak sengaja saya menemukan situs sekolahorangtua.com . Kembali saya belajar, ternyata menjadi orang tua yang baik perlu proses pembelajaran.

    Semenjak kejadian itu, keadaan menjadi lebih baik. Hasilnya pun terlihat. Jika di play group A awal Steven sering dirasani orang tua lainnya karena kenakalannya, seiring berjalannya waktu orang mulai melupakan kejadian yang lalu dan memuji kepintarannya. Di play group B Steven berhasil meraih prestasi, menjadi The King (Juara 1 cowok dalam bidang akademis, perkembangan sikap, perilaku, dan aspek-aspek lainnya).

    Di TK dia juga beberapa kali dapat piala karena hal yang berhubungan dengan akademis. Para guru bilang sikapnya baik. Di SD juga perkembangannya bagus. Guru-guru bilang Steven pinter, baik, tidak ada masalah, sikapnya dewasa, mandiri, dan kalimat pujian lainnya.

    Saya bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk berubah. Sampai saat ini saya masih terus belajar. Saya belajar bahwa dalam hidup pasti ada permasalahan, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Sikap yang salah bisa membawa dampak yang buruk. Sebaliknya bila kita mampu memilih sikap yang benar, permasalahan yang tadinya terasa berat pun bisa terselesaikan dengan baik.

    Saat ini bila melihat antara Steven dan Kevin mulai timbul perselisihan atau rasa iri, saya instropeksi diri. Seringkali hal itu imbas karena perlakuan orang tua yang dirasa tak adil bagi anak. Saat tangki cinta mereka penuh, mereka merasa disayang oleh orang tua dan diperlakukan adil, perilaku mereka pun menjadi baik.

    Hasil instropeksi saya membuahkan hasil yang manis. Bila mereka berselisih, mereka segera minta maaf, langsung bersenda-gurau dan rukun lagi. Sebaliknya, saat tangki cinta mereka kosong, banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang terjadi. Begitu besar peran kita sebagai orang tua…

    Mari kita belajar dari pengalaman orang lain agar mampu menyerap nilai-nilai yang baik dan tidak mengulang kesalahan. Semoga kita semua bisa mengajari anak tekun berjuang mencapai impian, menjadi orang tua yang baik dan memiliki anak yang dapat dibanggakan.

    Nb: Instropeksi dan belajar terus menerus adalah kunci penting menjadi orangtua yang lebih baik lagi.