Phone : 031-71559997, 031-5941439

SMS    : 0819807601 (Jam Kerja)

Email   : cs@sekolahorangtua.com

Messenger :

Join Facebook.com/SekolahOrangtua


12
Jan

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia?

Finlandia. Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.

Finlandia

Finlandia

Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.

Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Apa gerangan kuncinya?

Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.

Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.

42-22243084

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.

Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.

Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

Category : Artikel / News / Berita / Relationship

89 Responses to “Negara dengan Kualitas Pendidikan Terbaik di dunia”


Mulyata 13 January 2010

Luar biasa Finlandia….!Indonesia pun sebetulnya bisa seperti itu,asal gurunya mau belajar bagaimana menjadi pengajar/pendidik yang baik.Kebanyakan guru guru di Indonesia sudah terbiasa mengikuti pola yang turun temurun oleh guru guru seniornya.Guru guru seniornya tidak mau merubah cara pandangnya dalam mengajar,akhirnya yang terjadi ya..seperti sekarang ini.Para guru harus berani membuat terobosan yang berbeda dengan cara mengajar selama ini.Salah satu contoh yang sangat sederhana,guru guru di Indonesia kurang ekspresif kepada murid muridnya saat murid membuat prestasi,responnya biasa biasa saja.Tapi kalau murid membuat kekeliuran,kadang kadang dipermalukan didepan teman temannya oleh gurunya.Sangat sederhana untuk membuat murid murid berprestasi yaitu dukungan dari guru untuk membuat murid percaya diri…Penghargaan kepada murid muridnya sekecil apaun prestasi mereka,jangan dikerdilkan.

wiwid 13 January 2010

ingat waktu kuliah dulu dosen pernah pesan…..mo buat generasi mendatang berkualitas pendidiknya hrs memiliki ilmu yang bermanfaat dan memberi contoh serta etika yang baik dalam dirinya dulu jadi jangan hanya mengajar tapi juga mendidik….

Sin 13 January 2010

Artikel yang sangat bagus. Semoga kita semua bisa lebih menyadari apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak ketimbang prestasi yang hanya menonjol dipermukaannya saja tapi dalamnya (pemahamannya)kosong, karena terlalu banyaknya materi yang harus dipelajari.

Tapi perlu dicermati tentang ‘bebas dari tekanan’, bagi yang kurang memahami, bisa-bisa justru akan mengarah ke ‘kemalasan’ dan anak jadinya lebih banyak waktu untuk nonton TV yang acara2nya kurang baik bagi perkembangan jiwa anak. Terutama bagi orang tua yang sama2 sibuk bekerja.

yuliana M.T 14 January 2010

aduh seneng bgt yah sistem blajar bgt.antara guru dan siswa/i jd akrab n asyik blajarnya.gk pake’ marah2 jd kesan blajarnya malah mengarah ke psikology nya.sehingga anak2 blajar pun relax n saling menghargai….

Wiwin Satyananta 14 January 2010

kapan ya…..kondisi pendidikan dan guru-guru kita seperti itu? di sekolah anak saya masih ada guru yang memberikan hukuman jika muridnya tidak mengerjakan tugas sesuai kemauan guru meskipun murid tersebut sudah membuat tugas yang diberikan, dan parahnya lagi hukuman yang diberikan sama dengan murid yang sama sekali tidak mengerjakan tugas….apakah kita harus membenahi kurikulum di sekolah guru dulu supaya menghasilkan guru yang berkualitas ya??

ummi zabi 14 January 2010

salam pak ariesandi..
Bagus sekali artikelnya pak ariesandi..saya jadi berfikir sekolah yang skarang anak sy duduk di kelas 1 SD dimana tempat dia sekolah sekarang, terkenal anak2 lulusan sklh tsb bs lanjut ke sekolah negri yang favorit dan terbaik..tp sy perhatikan, memang tidak setiap saat saya bisa perhatikan anak sy waktu di sekolah krn sy bekerja kadang kala sy bisa jemput dia sekolah sy br bs melihat bgmn saat dia belajar dgn begitu keras gurunya memarahi wlpn tdk dgn fisik tp perkataan sy fikir itu terlalu keras untuk anak seusia (6,5 th) dia yg baru duduk di kelas 1 sd for examp : bgmn ini teman2 mu sdh nulis jauh kemana kamu msh disini2 aja, jg pd saat baris mau msk sklh ketikia diperintahkan untuk tegap grak msh ada anak2 yg belum melepaskan tanggannya dgn tegas si guru bilang itu pd denger ga ibu td bilang apa makanya didengar kalo ibu lagi bicara…? lalu ada tmn prmpuannya yg baris nyender di bunga hayo itu baris nyender2 lagi di bunga dgn wajah yg galak..dan pngalman sy sendiri saat bicara dgn gurunya sprt dianggap bicara dgn anak2 dgn begitu sopan santun sy bicara dgn nada yg lembut tp dijawab dgn perkataan yg menurut sy cukup singkat dan tnp senyum ramah seorang guru yg menjadi panutan or contoh anak2 di sekolah…?
Terus terang pak aries memang saya saat ini kesulitan untuk memberi tahu anak sy yg skrg duduk di kls 1 sd ini dia memang klu di suruh menulis paling susah bs2 konsentrasinya buyar…tp klu di suruh mengerjakan soal2 tinggal mikir itu alhamdulillah bs hanya jika ada soal2 ato PR yg dkerjakan dgn menulis di pa2n tulis itu bisa2 tdk dikerjakan dan slalu ketinggalan jk sy tanya kenapa abang tdk mau menulis? knp tulisannya tdk diselesaikan..? jawabnya : temanku jg ada yg belum slsai..? tmnku jg ada yg tdk menulis…? saya sdh mencoba untuk mengikuti apa2 yg sy dpt dr artikel pak ariesandi untuk slalu sabar tdk marah tp sy terpancing emosi oleh gurunya yg slalu meneguurnya setiap hari…? smntr jk sy marahin dia di sekolah jg dia sdh dimarahi gurunya..sy takut dia jd stressss..mohon bantuannya pak aries… tks atas perhatiannya dan artikel2nya yg sdh banyak membantu sy untuk bs slalu sabar…

Harmanto 14 January 2010

Artikelnya sangat bagus…. semoga sistem pendidikan di Indonesia bisa seperti itu…. pemerintah lebih fokus lagi dalam meningkatkan kualitas para pengajar…

Achmad Saudi 14 January 2010

Ayo dong Pak Ariesandi bikin sekolah kayak gitu,,,pasti bisa,,kita para orang tua pasti akan banyak yg support,,,Mindset kita sbg orang tua juga perlu di ubah sedikit dan di ajari untuk mem-pertahankan konsistensinya,,,karena berfikir positif juga perlu konsistensi.
Sekolah kita selama ini tdk pernah mengajarkan bagaimana cara belajar yg efektif dan efisien bagi seoarang anak.Kalo ini bisa terwujud, tidak hanya Anak bisa mandiri tapi juga bisa belajar bagaimana efektif dan efisien. jadi Kita lakukan yg kita bisa lakukan dulu, kita ikut mengalami proses nya agar kita lbh confident,, kita presentasi ke DPR/ DIKNAS agar bisa mendapatkan perubahan yg massive. Bravo Sekolah Orang Tua, Bravo Indonesia….

Ayah Tiara 14 January 2010

Seharusnya sistem seperti itulah yang harus diterapkan di Indonesia. Kasihan anak-anak Indonesia karena dididik tidak oleh ahli pendidikan tapi dididik oleh ahli pembuat kurikulum yg tak jelas tujuannya. Ibaratnya ikan dalam akuarium yg dibesarkan dg hanya diberi makan. Bagaimana bila ikan itu setelah besar di lepas di perairan lepas? Sudah dipastikan akibat kemanjaannya susah untuk bersaing dg ikan-ikan yg biasa mencari makan sendiri di alam.

syamsul arifin 14 January 2010

Melihat penjelasan Pak Arisandi, sudah seharusnya banyak guru di Indonesia melakukan perbaikan diri. karena hanya dengan perbaikan diri inilah guru dapat menjalankan fungsinya dengan baik sebagai centre learning. Hal tersebut tentu saja harus diimbangi dengan kualitas peran orang dalam mendiidk anak. Sebagai pendidik anak yang pertama dan utama, orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap tumbuh kembang anak. Dari sisi inilah, saya sebagai mahasiswa pendidikan sangat mengapresiasi gagasan HYPNOPARENTING karya Pak Arisandi. Terima kasih atas kiriman artikelnya, maaf baru sempat membalas! “bravo hypnoparenting”.***

Yeno Danita 15 January 2010

Menarik sekali artikelnya. Ayo pak Aris buat Rintisan sekolah yang seperti itu..Buat semua anak Indonesia cerdas…Bravo Sekolah Orang Tua !!

Rini munandar 15 January 2010

Tengkiu Pak Ariesandi telah mempublikasikan artikel sistem pendidikan di Finlandia. Jadi tambah semangat pengen bikin sekolah yang berpihak pada anak. Kalaupun belum ada sekolah seperti itu sampai sekarang …. kita bisa mulainya dari rumah …. artikel pak Aries ini bisa meng-influence para orang tua untuk lebih memahami keberadaan anak …. kita bisa menciptakan suasana belajar, bermain dan berkehidupan sosial seperti di Finlandia bersama anak, pasangan dan seluruh anggota keluarga.

Soal PR, tugas sekolah dll … orangtua bisa bekerja sama dengan guru dan anak … disamakan persepsinya … bahwa nilai tinggi bukan segala-galanya … salah itu bukan dosa tapi justru jadi pembelajaran untuk bisa melakukan yang lebih baik lagi, …yang penting anak mampu menguasai pelajaran, mampu melaksanakan tugas sekolah dan mampu bersosialisasi dengan lingkungannya …..tentu saja akhirnya akan membuat anak lebih bertanggung jawab dan mengerti arti konsekwensi

Daripada nunggu sekolah ala Finlandia … mending kita mulai dulu dari rumah dengan mengadaptasi hal2 yang dalam artikelnya Pak Ariesandi ini …. dan tentusaja kita harus sesuaikan dengan local wisdom ( dalam lingkungan keluarga dan kultur Indonesia ) ….

lisa leksono 15 January 2010

diantara carut marut sistem pendidikan kita, artikel ini sungguh menyegarkan dan seharusnya semakin menyadarkan para orangtua untuk selalu bersikap kritis terhadap sistem pendidikan kita sehingga anak-anak kita dapat meraih yang terbaik dalam kondisi dunia pendidikan kita yang menurut hemat saya masih relatif kurang berempati terhadap anak didik.
bravo pak ariensandi, keep moving forward, we will be beside you !

rahma 15 January 2010

luar biasa … itulah sejatinya sebuah pendidikan. Moga Indonesia bisa menuju ke sana.

suparmana 15 January 2010

saya berkecimpung dlm pendidikan. Saya prihatin dg kondisi pendidikan kita, yg cenderung merampas kebahagiaan anak-anak dan juga guru. Saya berharap para petinggi pendidikan di indonesia membaca artikel ini, sehingga bisa merubah sistem pendidikan kita. Kelak, sekolah adalah tempat yang membahagiakan anak-anak, guru dan siapa saja yg terlibat di dlmnya.

Farida Jafar 15 January 2010

Sungguh Luar Biasa! Ternyata sistem pendidikan macam Findlandia yang pada dasarnya mencerdaskan anak. Saya jugasetuju Pak Ariesandi, ayolah Bapak maju di barisan depan, kita ciptakan sistem pendidikan semacam ini untuk Indonesia, supaya bangsa ini lebih cepat terangkat dari segala macam bentuk keterpurukan. Untuk sementara waktu, ayo kita maknai dari artikel ini bagaimana kita sebagai orangtua bisa mendukung pendidikan yang lebih baik dirumah dengan mengikuti contoh contoh yang baik, untuk kita amalkan….

Sandra Mungliandi, M.Psi., Psikolog. 15 January 2010

Dear Ummi Zabi,

Bersikap galak seperti itu, merupakan cara paling efektif loh…. untuk membuat anak-anak takut dan akhirnya menurut. Memang, cara ini hanya efektif untuk jangka pendek. Efek negatif akan dirasakan anak dikemudian hari.
Sekarang yang perlu ibu renungkan adalah tujuan ibu dalam menyekolahkan anak di sekolah yang memiliki gaya seperti itu. Ibu dapat membaca salah satu artikel SO mengenai cara memilih sekolah untuk buah hati kita. Semoga artikel tersebut dapat menginspirasi ibu.

Selamat membaca.

ilyas 16 January 2010

Trima kasih pak Ari.
Sebuah artikel yang sangat menggugah kita sebagai orangtua atau sebagai seorang pendidik. Artikel ini sangat perlu dibaca oleh yang mengambil kebijakan dalam bidang pendidikan. Semoga bapak yang berwenang dalam bidang pendidikan dapat mengambil kebijakan agar dapat menggali potensi anak didik bukan menciptakan generasi yang stress dan disiplin semu.
Pada dasarnya manusia yang lahir kemuka bumi ini sudah dibekali alat yang maha dahsat oleh sang pencipta berupa otak yang dapat membentuk manusia itu menjadi seorang khalifah. Tergantung bagaimana sianak mengaktifkan alat tersebut melalui rangsangan2 yang diperolehnya dari lingkungan yang membentuknya . Orang yang pertama sekali membentuknya adalah orangtua oleh karena sianak pada masa balita atau masa usia emas lebih banyak berinteraksi dengan orangtuanya. Peran kedua orangtua sangat besar sekali dalam membentuk karakter sianak. Namun banyak diantara kita yang belum memanfaatkan waktu tersebut karena belum mengetahui apa peran sesungguhnya dan bagaimana cara mendidik anak dengan baik oleh karena belum pernah belajar menjadi orangtua. Yang sering menjadi alasan juga karena kesibukan2 yang sangat menyita waktu sehingga kurang perhatian terhadap pendidikan sang anak . merasa tanggung jawab sebagai orangtua sudah didelegasikan kepada guru2 disekolah, apalagi sudah memasukkan anak disekolah yang pavorit.
DisisI lain kita melihat sistem pendidikan kita yang masih belum mendukung menggali potensi anak karena kualitas guru yang masih kurang memadai, dan belum mendidik dengan pengenalan pribadi anak didik tapi masih banyak yang hanya sekedar melepas rodi, bahkan tidak sedikit pula yang untuk berusa menaikkan gengsinya dengan marah2 dan pemberian hukuman.
Ditambah lagi dengan anak2 dibebani dengan tugas2 yang menyita waktu anak sehingga waktu sianak bermain menjadi berkurang, dan merasa bahwa belajar adalah suatu beban bukan hal yang menyenangkan. Jadi sianak sianak belajar dengan terpaksa dan merasa menjadi suatu beban. Ditambah lagi ujian yang satu hari menentukan keberhasilan dan kegagalan sianak yang sudah belajar bertahun2 yang menyebabkan sianak stress dalam menghadapinya.
Semoga artikel ini dapat diambil manfaatnya oleh orang yang arif dan mempunyai keinginan untuk membentuk generasi indonesia kedepan adalah sumberdaya manusia yang tangguh, dan cerdas IQ, EQ dan SQ nya.
Bravo pak Ari semoga sukses membina Indonesia strong from home.

tasdik 16 January 2010

bagus sekali artikelnya. saya rasa untuk memberikan penerapan secara langsung di indonesia itu mungkin agak sedikit susah, karena 1. masih adanya sistem kingdom yang sangat dominan dalam proses belajar mengajar. dimana anak tokoh adat harus selalu menonjol, dlm pendidikan di pedalaman serta masih adanya intimidasi dari tokoh masyarakat yang dominan (emosional) kepada pengajar, dimana anaknya harus sll bagus.
2. kurangnya pemerataan dana antara di desa dengan di kota. 3. fasilitas kurang yang tidak memadai baik sarana maupun prasarana. 4. daya dukung pihak-pihak lain untuk dipedalaman kurang adanya singkronisasi kedua belah pihak, sehingga mengakibatkan antivitas belajar mengajar tergolong apa adanya.

boedi yogipranata 17 January 2010

Terima kasih Pak Ariesandi.
Informasi seperti ini sangat bernilai untuk yang peduli akan peningkatan kualitas bangsa.
Siapa yang punya akses ke Dekdiknas?
Informasikan mengenai Pendidikan di Finlandia

Agus Prijadi 19 January 2010

Menarik sekali artikelnya. Apabila kita bisa mengembangkan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) pasti kita bisa seperti Finlandia ya…. Sejumlah SD di beberapa kabupaten telah menerapkan, pendidikan inklusi juga mulai dikenalkan dan APBN sudah akan mencapai 20% untuk pendidikan. Kita bisa mendukung PSM mulai dari TK sampai perguruan tinggi dengan memberi support pada mereka bisa berupa pemikiran, dana dan masuka lain.

Muhammad Husni Hasibuan 19 January 2010

Sebaiknya selalu ada orang - orang yang “memprovokasi” Pemerintah untuk mengcopy paste kan sistem pendidikan negara2 terbaik ke Nusantara ini. Cara belajar yang termasuk terbaik adalah mengambil pelajaran dari orang2 yang telah mengalami sesuatu dan berhasil. Ketika kita tidak mau belajar maka kita akan berjalan menuju kehancuran. Buah mangga kalau sudah tua menjadi kuning dan akhirnya busuk. Begitu juga bila telah merasa bisa/tua niscaya akan membusuk akhirnya.
Kita perlu menjadi manusia yang gregetan dan tak sabaran utk menyuarakan hal-hal yg disampaikan pada tulisan diatas ke Pemerintah. Atau ke LSM2 dan di berbagai media, sehingga ada tekanan2 yang berkwalitas untuk mewujudkanya di Indonesia.
Terima kasih atas tulisan yang sangat baik.

dian masitha 19 January 2010

besar sekali harapn saya agar artikel ini bisa sampai pada mendiknas M.Nuh. Sehingga tidak ada lagi “penderitaan” anak di sekolah, sekolah bukan hanya sekedar rutinitas tetapi menjadi suatu kegiatan yang sangat menyenangkan.
amiiiiinnnn

erman siregar 20 January 2010

Tidak baik semua beban pendidikan ditekankan pada guru. Orang tua juga punya peran yang sangat penting untuk memotivasi anak dalam pendidikannya. Harus ada kesinergisan antara pendidikan di sekolah dan di rumah.

Dijaman dengan perkembangan yang sangat cepat ini, tantangan memang semakin berat untuk mengejar ketertinggalan metode pendidikan kita. Sebagian menyalahkan guru dan kualitasnya, ada yang mengatakan kekurangan fasilitas, ada juga yang menyatakan tingkat kesejahteraan. Saya kira modal utamanya adalah kemauan maka semuanya akan mengikuti.

Mulailah pendidikan dari rumah,…
pendidikan moral dan agama menjadi pondasi seluruh ilmu yang didapat anak dalam pendidikannya.

bayu 20 January 2010

Setelah saya membaca artikel ini, seharusnya indonesia bisa melakukan hal yang sama asal mau saja. Hal-hal kecil seperti memberi kritik langsung kepada anak-anak bisa jadi suatu hal yang juga perlu menjadi pertimbangan kita……yang saya tau dari sifat dasar manusia pada dasarnya memang tidak mau dikritik jadi coba lakukan dan sampaikan perkataan yang tidak menyalahkan melainkan membangun….

Bintoro Setiabekti 20 January 2010

Pak Ariesandi,
Saya memang telah mendengar, membaca buku & artikel serta mengikuti talk show dari beberapa pejuang pendidikan seperti Bapak dan Ayah Edi.
Penginnya anak dididik begitu juga. Untuk keluarga keluarga yang belum mampu menyekolahkan anaknya di luar negeri, di Indonesia ini anak anak ibarat berada dalam gerbong kereta api cepat yang terus melaju. Kalau mereka dibawa keluar dari situ, mereka akan tertinggal jauh dan sepertinya terbelakang dibandingkan dengan hampir sebagian anak anak yang lain.
Terkadang saya merenungkan ini dan akhirnya jadi kasihan juga pada anak yang dalam pergaulan dengan teman teman mereka yang mengikuti didikkan dari sekolah sekolah di Indonesia pada umumnya nantinya akan merasa minder dengan mereka.
Kesimpulan saya adalah memang diperlukan kemauan kuat dari pemerintah yang bak ibarat masinis kereta cepat tsb. untuk menerapkan sistem pendidikan nasional yang benar.

diani 20 January 2010

sebelumnya saya juga sdh dpt artikel ini dari email teman, tapi memang menurut saya untuk pendidikan Sekolah, terutamanya pendidikan tingkat SD seharusnya jangan terlalu membebani anak untuk drilling materi pelajaran, karena beberapa tahun ini, usia masuk SD juga dipenuhi oleh anak-anak dengan usia 5,5 th - 6 thn, yang sebenarnya masih memiliki jiwa, emosi dan ketertarikan yang bersifat eksplorasi jauh lebih banyak dibandingkan dengan minat untuk pendidikan satu arah yang bersifat full of direction. Walaupun mungkin dari sisi intelektualitas mereka ini bisa mengimbangi materi SD yang layaknya diberikan untuk anak-anak 6,5 th - 7 thn. Bayangkan bila anak-anak kita yang belum genap usia 6 thn harus dicecokin materi pelajaran, yang utamanya dgn cara mendidik yang hanya berorientasi pada penyerapan materi pelajaran. Tidak heran kalau kita dengar banyak anak yang malas belajar, takut sekolah, malas sekolah, terkesan nakal/pembangkang di sekolah, sampai cap “bodoh”. ….Maaf, ini banyak saya dengar dari sharing kawan terjadi pada SD negeri favorit dengan standard mutu kualitas yang tinggi karena terkenal ketatnya ujian saringan masuk, sampai dengan hasil nilai lulusannya. Ingin sekali rasanya sebagai orang tua memasukkan anak di SD seperti ini karena ada sedikit rasa bangga bila anak kita bisa lulus test penyaringan masuk yg ketat. Apakah ini cukup adil untuk anak kita ? sementara selama 6 tahun di sekolah dasar tuntutan atas mereka hanyalah nilai akademis semata ?? sementara hal lain agak dikesampingkan, yang sebenarnya justru sangat dibutuhkan oleh si anak sebagai pondasi-nya di masa depan. Karena pintar saja tidak cukup untuk zaman sekarang ini yg sdh semakin sulit. Tapi justru cerdas yang diperlukan (utamanya cerdas emosianal) yang bisa menempatkan si anak kelak dalam situasi & kondisi apapun. untuk itulah kreatifitas si anak yang dibutuhkan. Apakah ini bisa didapatkan oleh anak kita yang menghabiskan banyak waktunya di sekolah dengan metode drilling akademis ? sementara untuk orang tua yang bekerja mungkin hanya bisa menghabiskan sedikit waktunya di malam hari / weekend untuk bisa mengikuti perkembangan anak-nya. Cobalah mari sama-sama kita sebagai orang tua merenungkan kembali apa sebenarnya yg dibutuhkan anak kita dalam pendidikan dini-nya, bukannya malah mementingkan apa yg kita inginkan untuk anak kita sesuai dengan obsesi kita. “lets we shift paradigm to save our child’s life….”

alist 22 January 2010

Trims Pak Ariesandi.
Sy baca artikel dengan manggut2, Luar biasa. Hal itu juga menjadi bahan refleksi sy sampai sejauh mana sy menjadi orang tua mereka di sekolah?, membimbing mereka memiliki “kecerdasan” sehingga kelak mereka menjadi pribadi berinovasi dan berkreatif tetapi tetap beriman, santun, berbudaya……….itu impian dan cita- cita saya. Smoga.
Mari kita berubah……….menjadi smakin baik dari hari ke hari.

piana 22 January 2010

kagum banget dengan firlandia, juga korupsi terendah didunia seandainya Indonesia dapat mencotoh dan menerapkan seperti yang ada difirlandia , mungkin kasus seperti century, dan lainnya tidak akan terjadi , para dewan terhormat nga perlu repot membentuk pansus atau Pemerinta dgn KPK nya

al subekty 24 January 2010

Terimakasih untuk informasi sangat bagus dari negara Finlandia. Salut dengan Sekolah Orangtua yang gigih untuk ‘membangunkan’ orang tua yang masih ‘tidur panjang’. Terimakasih karena diingatkan agar terus bangun dan berusaha menjadi orangtua yang baik.
Terimakasih.

Marilah senantiasa berjuang menjadi sempurna…

salam positif,

als
.vince in bono malum.

shinosuke 30 January 2010

setelah membaca artikel diatas, saya jd kasihan bgt ma nasib anak2 indonesia yg terlalu byk dituntut utk hrs menguasai materi ini dan itu, tanpa ada toleransi atas ketidakmampuan mrk. yg ada justru makin byk anak2 kita yg stress. apalagi diperparah oleh sikon guru mrk yg hanya mengajar krn tuntutan pekerjaan, utk mendapatkan uang. jaman skg mencari guru yg betul2 pendidik amatlah susah..

djuwita 1 February 2010

Salam Pak Arisandi.
Bagus artikelnya, di Indonesia mgk sdh ada bbrp sekolah yg menerapkan sistem tersebut (mlh kdg terkesan mahal )akan ttp sgt disayangkan dgn sistem pendidikan yg diterapkan pemerintah pd umumnya yg masih menggunakan sistem nilai sbg tolok ukur.
Shg utk sekolah2 yg sdh menggunakan sistem krg lbh spt pendidikan di Finlandia tsb. jd tdk sejalan dgn pemerintah. Anak2 tsb. menjadi terkesan berbeda dgn anak2 yg bersekolah di sekolah2 dgn sistem pemerintah
Smg pemerintah di Indonesia, lambat laun bs merubah sistem pendidikan yg ada menjadi lebih baik. baik itu kurikulum dan SDM-nya

Neneng Saadah 2 February 2010

Sangat Luar Biasa…sangat menginspirasi untuk para orang tua dan guru, tks pak utk informasinya

Tracy 4 February 2010

Artikel yg sangat bagus… Sy jd teringat masa sekolah dulu khususnya SMP, hari-hari yang sangat menegangkan kalau mau ke sekolah pagi2 krn guru2 nya banyak yang galak. Tiap hari stres kalau sdh mau ke sekolah..

Tarigan 4 February 2010

ya… artikelnya sangat menarik dan bermanfaat. Andai kita bayangkan kita merupakan bagian dari itu semua alangkah menyenangkannya. Tapi perlu diingat bahwa pembelajaran seperti di atas ketika stakeholder sekolah itu sudah mempunyai kesamaan visi.

coba kita perhatikan komentar-komentar di atas…. hampir 85 % menyerahkan dan menyalahkan sekolah. seakan-akan di sekolahlah semua beban pembinaan itu diletakkan. lalu tanggung jawab orang tua dimana? beban guru/sekolah menjadi lebih berat ketika sistem/kurikulum yang dikeluarkan pemerintah menambah beratnya beban sekolah.

kalau untuk pembinaan karakter, sebenarnya peran rumah jauh lebih besar daripada sekolah. lihatlah kecendrungan anak umumnya adalah kecendrungan orang tua. sedangkan untuk kopetensi kognitif beban besarnya ada di sekolah. dengan dalih bekerja dan sibuk maka semua kebutuhan anak, baik kognitif maupun afektif diserahkan semua kepada sekolah.

Mari para orang tua, lebih baik kita bergandengan tangan dengan sekolah/guru daripada sekedar menyalahkan atau sekedar membayar. kasih sayang kita akan mempermudah sekolah mengembangkan bakat dan karakter anak kita.

urip sanyoto 9 February 2010

itulah bedanya pola pendidikan di Finlandia dan Indonesia, coba kalau semua pejabat dinegeri ini khususnya yang berkompeten dibidang pendidikan, guru-guru dan pengelola yayasan pendidikan membaca artikel ini dan mau menerapkannya, pastilah Indonesia bisa memperbaiki peringkat “Prestasi Pendidikannya”

dodi 18 February 2010

absolutbloodylutely 4 Finland, when indonesia like Finland?
but someday indonesia will be better than Finland in education. isnyaAllah. Amin. this article are very important 4 indonesia government, let the government think how indonesia will be a good country education in the world.

dodi 18 February 2010

especially 4 me. thanks

Mama Vivian 24 February 2010

kalau ada artikel baru, tolong kirimin ke email saya ya pak…terimakasih byk