Phone : 031-71559997, 031-5941439
SMS : 0819807601 (Jam Kerja)
Email : cs@sekolahorangtua.com

Pada artikel sebelumnya, anda telah dijelaskan mengenai bawaan alamiah yang ada dalam diri tiap anak. Sekarang kita akan membahas mengenai hal-hal yang tergolong sebagai bawaan alamiah yang ada dalam diri anak.
Apakah bawaan alamiah itu ? Bawaan alamiah adalah bekal sejak lahir yang dimiliki oleh tiap anak yang terdiri dari
Faktor-faktor tersebut diatas hanya dijelaskan secara singkat karena keterbatasan ruang. Jika anda ingin mempelajari lebih detil, anda dapat mengikuti online home course yang diadakan oleh Sekolah Orangtua guna lebih memahami “Siapa anak kita ?”. Program ini akan diluncurkan dalam waktu dekat ini di bulan Agustus.
Seringkali, kita sebagai orangtua kurang memahami bawaan alamiah yang ada dalam diri anak sehingga kita menjadi lebih sering menuntut anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginan kita atau tuntutan sosial/masyarakat. Contohnya : ada seorang anak yang memang memiliki karakter untuk mengobservasi lingkungan sebelum ia terlibat didalamnya. Padahal orangtuanya lebih menyukai anak yang mampu langsung bergaul dengan orang lain. Apa yang terjadi kemudian ? orangtua tersebut langsung memborbardir anak dengan perkataan,”Ayo, sana main. Tidak perlu malu-malu.” Atau, “Anakku ini loh… pemalu banget kalau ketemu orang. Gak tahu anaknya siapa ? Padahal papa mamanya supel” Perkataan ini dikatakan di depan anak. Itulah asal mula lahirnya kepribadian seorang anak pemalu.
Mengasuh sesuai dengan bawaan alamiah seorang anak tidak berarti kita serba membiarkan dan membolehkan atau menjadi orangtua permisif. Supaya tidak terjebak menjadi orangtua permisif, anda perlu mengenali bawaan alamiah anak anda dan nilai-nilai hidup apa yang hendak anda tanamkan dalam diri anak. Jika anak berperilaku menyimpang atau tidak sopan, anda tetap perlu mengarahkannya.
Pengasuhan yang kita terapkan dengan mengikuti bawaan alamiah anak akan membantu anak untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Dengan demikian, kelak anak menjadi nyaman dengan dirinya sendiri dan nyaman pula memutuskan tujuan hidupnya. Pondasi terdasar kebahagiaan adalah bersahabat dan menerima diri sendiri sebagai apa adanya.
Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.
Sandra Mungliandi, M Psi., Psikolog.
benar sekali apa yang ada dalam artikel ini, memang kalau kita ingin punya anak yang baik cerdas dan taat sama orang tua, sebelumnya kita mesti selektif dalam menentukan pasangan kita. jadi pepatah jawa itu emang ada benarnya juga lho.BIBIT, BEBET DAN BEBETNYA perlu kita tahu. SETUJU…!?
Halo Pak Dayat…
Tapi untunglah pak, manusia juga dibekalli oleh keinginan belajar dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik lagi. Sehingga bibit bebet bobot bisa menjadi terlindas oleh niat dan keinginan yang satu ini….
Salam hangat penuh cinta untuk bapak sekeluarga
Emang bener orang kuna ya..ada B5 (bbt,bbet,bibbt dll) …..
B5 menjadi arahan /modal genetik keturunan selanjutnye minimal dasaranya….Sopasti dilengkapi update belajar di lingungannye pasti….
gimana buguru….? so pasti hidup bahagia penuh cinta ….
saya setuju sekali dengan artikel ini, untuk itu saya akan berusaha untuk melihat sifat-sifat dari kami berdua sebagai orang tua yg memang menurut kami adalah kelemahan, dan sekiranya juga dimiliki oleh si anak maka kami coba mengcounter-nya dgn sebaliknya mengarahkan dengan cara menanamkan nilai-nilai baik melalui perilaku yang kami contohkan sendiri, karena bagaimanapun seorang anak akan melihat /mencontoh orang tuanya (jadi sekaligus juga kami melakukan perbaikan diri demi si buah hati)
Hallo bu Sandra…
Anak saya usia 6th, dia memiliki karakter sadarnya sosial norm dan karekter bawah sadarnya tempramental, bagaimana cara mendidik yang baik untuk kedua karakter tersebut?
Halo juga Bapak Taufiq.
Untuk usia 6 tahun, pengaruh lingkungan lebih banyak berperan pada pembentukan karakter anak. Jadi, proses mendidiknya juga perlu melihat bagaimana cara dia diasuh selama ini.
Saya kurang memahami maksud pertanyaan bapak. Apakah arti pertanyaan bapak adalah : Anak memahami aturan-aturan di lingkungan namun kurang mampu menerapkan dan sangat ekspresif dalam menunjukkan emosinya ?
Jika iya. Maka, bapak perlu merenungkan cara perlakuan yang telah ia terima selama ini. Apakah lingkungan telah konsisten menjalankan hal yang diomongkan dan hal yang ditampilkan. Jika tidak ada kekonsistenan, dapat dipastikan anak akan menirunya dan menganggapnya ketidakkonsistenan adalah hal yang wajar.
Salam hangat penuh cinta untuk Bapak Taufiq dan si Kecil.
Halo Bu Sandra, terima kasih u artikelnya..sangat menarik..Aku punya masalah Bu, saat ini anak saya berusia 2,5 tahun (laki2)..kami sebg ortu ingin untuk selalu berada di sampingnya terutama dalam proses tumbuhkembangnya ini..tetapi saat ini saya sangat bingung menentukan pilihan, karena dlm wkt dekat saya harus ke flores (Diterima PNS di sana). sementara istri saya PNS di sby..istriku blm bisa lgsng ikt saya, jadilah dia bersama anakku tetap di sby u wkt krng lbh 2 tahun ke dpn..nah persoalannya saya tidak kuat meninggalkan mereka ber2 di sby.. terutama saya tidak bisa memperhatikan tumbuh kembang anak saya dlm kurun wkt 2 thn itu..Saya mau tanya seberapa beratnya kah masalah yg akan dihadapi oleh anak saya bila saya meninggalkan dia dlm usia yg masih 2,5 thn ini..Kira2 apa saja masalah yg mungkin timbul bila dia ditinggalkan ayahnya di usia yg msh sangat dini ini..mengingat dia sudah sangat dekat dengan saya…sy berada diantara 2 pilihan yg sm beratnya antara anakku atau PNS…mohon saran dan masukannya bu..Ma kasih sebelumnya..maaf kl ceritanya kepanjangan…kl bisa jawabannya ke email saya…
Halo Bapak Frans,
Mohon maaf saya tidak mengetahui alamat email anda. Jika diijinkan mohon saya diberikan alamat email Anda sehingga saya bisa menjawab via email pribadi.
Terima kasih
Maaf Bu Sandra…
Almt email saya : Revan_myson@yahoo.com.
Saya sangat mengharapkan jawaban dari Ibu atas masalah yang sdng saya hadapi sekarang..Terima kasih atas bantuannya…