Phone : 031-71559997, 031-5941439

SMS    : (Jam Kerja)

Email   : cs@sekolahorangtua.com

Messenger :

Join Facebook.com/SekolahOrangtua


23
Feb

“Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
“Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
“Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.

Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun -  saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !

Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan  Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?

Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.

Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang ingin dilindungi di rumah

Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III. Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah satu dari kedua orangtuanya.

Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.

Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS atau yang lainnya

Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan  orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.

Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah, penyebab yang satu ini jarang terjadi.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak menjadi takut sekolah

Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.

Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.

Perasaan kurang disayang dalam diri anak

Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ? Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam seminar dari Bapak Ariesandi.

Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya seperti ibu memperhatikan adik baru.

Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.

Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah ?
Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi permasalahan.

  1. Langkah pertama adalah dekati anak kita dan berbicaralah dari hati ke hati mengenai penyebab ia tidak mau sekolah. Gunakan pertanyaan,”Apa yang terjadi di sekolah yang menyebabkan kamu tidak mau sekolah ?”. Jika anak tidak mau menjawab, kita dapat gunakan pertanyaan “yes no question” untuk memancingnya. “Apakah ada teman baru ?” atau “Ada sesuatu di sekolah yang tidak kamu sukai ?”. Atau “Apakah kamu dimarahi oleh seseorang di sekolah ?”. Gunakan intonasi yang rendah dan bersahabat. Tundukkan mata kita hingga sejajar dengan mata anak kita. Gunakan bahasa tubuh yang bersahabat bukan bahasa tubuh menginterograsi.
  2. Amati perilaku anak sebelum kejadian mogok sekolah. Apakah ia murung, tampak ketakutan, atau menyendiri. Jika  iya, maka dapat diartikan ia baru saja mengalami hal yang tidak mengenakkan dan menakutkan.
  3. Berkomunikasilah dengan guru di sekolah, mungkin beliau mengetahui informasi yang belum diceritakan oleh anak kita.
  4. Doronglah anak untuk menghadapi ketakutannya dan bekali anak dengan cara untuk menghadapinya. Misalnya : dengan berani mengatakan “tidak suka” saat diperlakukan kurang baik oleh temannya. Atau menemani dia ke sekolah untuk menemani anak mendekati benda atau orang yang tidak disukainya. Langkah ini tergantung pada penyebab ia tidak mau sekolah.
  5. Jika anak terpaksa diliburkan pada hari itu karena kita tidak memiliki waktu cukup untuk menggali permasalahan anak atau menemani anak ke sekolah maka yang harus kita lakukan adalah memberikan pekerjaan di rumah (bukan permainan) dan hindarilah aktivitas yang disukai anak untuk mengisi waktunya selama di rumah. Mintalah anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di rumah atau mengerjakan latihan soal di rumah sebagai pengganti pelajaran di sekolah. Sewaktu pulang sekolah, mintalah anak untuk bertanya dan berkunjung ke rumah teman, guna menyalin materi pelajaran yang tidak ia ikuti.
  6. Bekerjasamalah dengan guru di sekolah dengan meminta pekerjaan sekolah yang harusnya diselesaikan di hari anak tidak masuk sekolah. Atau mintalah guru anak kita berkunjung ke rumah. Cara ini manjur saya terapkan pada salah seorang murid saya yang memang kurang memiliki rasa aman dalam dirinya  (ada masalah ketika di dalam kandungan ibunya). Kunjungan saya ke rumahnya membuat ia merasa bahwa saya adalah salah satu dari teman mama yang baik hati. Jadinya ia mau sekolah keesokan harinya.

Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.

Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman emosional tersebut sangat kita butuhkan.

Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Sandra M.,MPsi, Psikolog (Partner Konselor SekolahOrangtua.com)

Related Posts:

Share your comments on Facebook:

Category : Artikel / Parenting

101 Responses to “Aduh … Anakku Mogok Sekolah!”


Reny 21 December 2009

Bu Sumarni, saya juga punya pengalaman yang hampir sama dengan Anda. Anak laki-laki saya, Rangga (5 th) sempat mogok lagi setelah liburan terlalu lama (lebaran – saya ajal pulang kampung + Galungan/Kuningan – karena kami tinggal di Bali). Kalau ditanya, kadang tidak mau menjawab, atau alasannya selalu berganti-ganti. Saya dan Ayahnya bergantian menunggui di dekat pintu kelas selama hampir 1 bulan karena dia menangis dan tidak mau masuk kelas kalau ditinggal.

Setelah kami lihat tidak ada perkembangan, kami (saya dan ayahnya, serta guru kelasnya) sepakat untuk ‘memaksa’ meningalkan dia (tapi tetap menunggu di luar sekolah) dengan konsekuensi : Rangga bisa menyesuaikan diri – walau cukup lama, atau malah mogok terus. Saya sempat mengajukan usulan untuk stop dulu sekolah sementara, dan memilih home schooling. Ibu gurunya tidak menyarankan hal itu, karena akan harus mulai penyesuaian dari nol lagi. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan dia dengan sedikit “paksa”. Tapi seminggu sebelum hari “H” tiap hari dan hampir tiap waktu saya ingatkan bahwa mulai hari Senin Ibu atau Ayah tidak boleh lagi menunggui.

Hari pertama dan kedua dia menangis dan menolak masuk kelas selama sekitar 30 menit pertama (tapi tetap didampingi salah satu ibu gurunya) dan setelah diajak bicara oleh gurunya, dia mau masuk dan beraktifitas.

Hari ke 3 dan seterusnya sampai sekarang dia sudah biasa, walaupun memang tipe anak saya introvert dan kurang mau berpartisipasi di kelas. Tapi di rumah saya mengejar ‘ketertinggalannya’ dengan memberi latihan-latihan sendiri (kebetulan saya beekrja di bidang pendidikan juga).

Saya sampai heran, hanya diperlukan kurang dari 1 minggu untuk Rangga untuk menyesuaikan diri… saya jadi berpikir, apakah kadang-kadang anak memang bisa ‘memanfaatkan’ ke-tidak tega-an orang tua (khususnya pada Ibu, karena ibu bekerja dan sibuk) walaupun sebenarnya dia merasa ‘fine’ saja kalau toh harus ditinggal, karena saya pikir usia 5 tahun adalah usia anak harus sekolah. (Apalagi anak saya tidak saya masukkan ke Play group, tapi langsuk TK).

Semoga pengalaman saya bisa menjadi bahan pertimbangan, walaupun saya tau, setiap anak akan bereaksi berbeda.
Good luck Ibu Sumarni….

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 22 December 2009

Halo ibu Reny,
Memang benar, terkadang anak dapat menggunakan ketidaktegaan kita terhadap dirinya, agar ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, tindakan tegas dengan meninggalkan anak dengan paksa, dapat dilakukan jika sebenarnya anak sudah memiliki kepercayaan terhadap salah seorang guru atau lingkungan sekolahnya. Bagaimana kita bisa tahu itu ? Dari pengamatan terhadap perilaku anak. BIasanya guru tahu mana murid yang masih belum percaya dan murid yang “memanfaatkan” ketidaktegaan dari orangtua.

Terima kasih untuk sharingnya, sangat membantu para orangtua yang memiliki anak mogok sekolah.
Mari tetap berbagi !

Lilik Wijaya 27 December 2009

Anak kedua saya mau berumur 4 tahun, tapi dia belum menunjukkan keinginan untuk bersekolah, sedangkan kakaknya 6 tahun sudah punya keinginan bersekolah sejak 2 tahun. Bagaimana ya bu membujuknya agar ia mau bersekolah.

Sandra Mungliandi, M.Psi., Psikolog. 28 December 2009

Halo Ibu Lilik Wijaya,

Keinginan anak untuk bersekolah memang bervariasi antara anak satu dengan lainnya. Untuk membantu anak kedua anda berminat terhadap sekolah, anda dapat mengenalkan beberapa aktivitas yang biasanya dilakukan di sekolah. PEngenalan aktivitas ini dilakukan secara nyata, bukan verbal. Berikut ini contoh yang dapat anda lakukan.
Kumpulkan seluruh anggota keluarga dan lakukan aktivitas bersama secara diam-diam, tanpa memberitahu anak kedua anda (prakarya untuk anak TK) misalnya menjiplak tangan dengan cat air, mewarnai bersama gambar (mintalah saran kegiatan yang dapat dilakukan di rumah pada guru kakak atau carilah di buku-buku anak). JIka ditengah kegiatan, anak kedua anda tertarik untuk gabung, terimalah. Kemudian di sela-sela kegiatan, katakan : “Kalau disekolah, adik bisa melakukan dengan lebih asyik lagi. Banyak peralatan dan mainan disana. Di rumah hanya terbatas saja.”. Ceritakan hal-hal menyenangkan mengenai kegiatan sekolah (kaitkan dengan kegemaran anak).
Ajak pula anak anda untuk berkunjung di sekolah. Kenalkan dengan guru dan permainan yang ada disana.

Selamat mencoba.

santi 15 January 2010

Ass….anakku yg kedua (5thn,TK A),sdh beberapa hari jg mogok sekolah.
tapi yang cukup mengherankan,kalau di sekolah dia terlihat enjoy2 saja,bahkan selalu ingin dijemput telat karena ingin bermain dulu di sekolah.
Mogok sekarang adalah mogok sekolah yang kedua kalinya,dengan alasan bosan…dia mau sekolah, dengan syarat, tidak mau belajar di kelas,tapi hanya bermain-main saja…
Gmn ya bu?ada saran?karna hal yang membingungkan saya,dari rumah tidak mau sekolah,tapi setelah dirayu dan berhasil pergi k sekolah, dia terlihat enjoy dengan sekolahnya..
thx b4…

Wsslm,
Santo

Sandra Mungliandi, M.Psi., Psikolog. 15 January 2010

Halo ibu Santi,

Hahaha…. saya jadi tertawa geli membayangkan kejadian sesungguhnya.
Saya pernah mengalami hal serupa dengan murid saya. Kejadiannya persis sama dengan kasus anak ibu.
Setelah diusut, memang ada masalah dengan dirinya sehingga ia cenderung enggan untuk belajar. Coba ibu tanyakan mengapa dia tidak mau belajar di sekolah dan mengapa ia lebih suka bermain di sekolah ? Dari jawaban yang diberikan, baru kita bisa mencari solusi untuk dirinya.

Selamat mencoba ibu.

Hertri Setyanti 9 February 2010

Ass..Selamat Siang,
Keponakan saya 10 thn kelas 5 SD, sudah 2 mingguan lebih tidak mau sekolah. Dia tidak pernah mau mengatakan apa masalah sebenarnya.
Pernah suatu kali dia bilang karena teman2 yang nakal, pernah juga dia bilang karena melihat ‘penampakan’ di kelasnya.
Tetapi saya pikir itu mungkin hanya 25-35 %, selebihnya mungkin disebabkan ada kejadian yang membuat dia trauma dan tidak berani mengatakannya pada siapapun.
orangtuanya sudah membawa dan berkonsultasi ke beberapa psikolog dan konselor hipnoparenting, tetapi tetap tidak menemukan penyebab utamanya.Dan sang anak sekarang sepertinya sudah tidak mau untuk diajak berkonsultasi.
Kedua orang tuanya bekerja sejak dia masih bayi.
Bgmn ya Bu? Mohon sarannya.
Terima kasih, wassalam.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 10 February 2010

Wass…
Halo Tante Hertri yang sayang pada ponakan.

Anak mogok sekolah, pasti memiliki penyebabnya. Penyebabnya ini yang perlu diketahui terlebih dahulu sehingga akan lebih mudah untuk mencari solusinya.
Tapi, jika memang telah diajak untuk berkonsultasi pada beberapa ahli namun belum menemukan penyebab, maka untuk sementara waktu anak dibiarkan terlebih dahulu. Sambil menunggu masa penantian ini, saran saya, ada baiknya orangtua mengambil cuti untuk libur bersama atau jika tidak memungkinkan, ambil waktu untuk melakukan kegiatan bersama. Coba isi tangki cinta si anak. Dengan harapan, anak akan mau lebih terbuka kepada orangtuanya dan melepaskan sedikit rasa tegang yang ada dalam diri anak.
Ada kemungkinan, si anak takut untuk berterus terang karena khawatir dapat membuat orangtua menjadi lebih cemas, atau sedih dll. Atau mungkin komunikasi antara orangtua dan anak yang perlu diperbaiki sehingga ada rasa saling percaya diantara keduanya.

Selamat mencoba, tante yang baik hati.

Vini 7 June 2010

Dear Bu Sandra,

Saya baru bergabung n kebetulan saya mengalami juga kasus spt ini. Anak saya masih pra-TK umur 4 thn kurang 2bln, jadi tiap pagi anak saya mengeluh tdk mau sekolah, dia katakan ada gurunya yg mukulin dia, pdhal setelah saya cek ternyata kata gurunya dia tdk pernah melakukan hal tsb (sy tdk tau apakah gurunya berbohong atau tdk tp di kelasnya slalu ada 2 guru yg mengajar), pertnyaan sy mungkinkah anak umur segitu sudah bisa berbohong atau mengarang crita misalkan dia menggunakan kejadian yg dia pernah lihat dan menceritakan kembali itu sbg kejadian yg dia alami sbg alasan agar tdk bersekolah?
krn memang anak sy tidurnya malam sekali shg paginya dia malas bangun.

Sebelumnya, terima kasih atas perhatian dan jawabannya…

Salam hangat,
Vini

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 7 June 2010

Halo ibu Vini,

Seorang anak mampu berbohong atau tidak tergantung pada kondisi lingkungannya. Pertama, Jika anak merasa tidak aman maka ia akan berusaha untuk berbohong untuk melindungi dirinya sendiri. Kedua, imajinasi anak masih sangat tinggi sehingga terkadang ia tidak dapat membedakan riil dan tidak riil.

Ada kemungkinan jam tidur yang terlalu malam dapat menyebabkan anak malas bersekolah. Jika demikian, ibu perlu menggeser jadwal tidur malam dia. Jika mogok sekolah bukan disebabkan oleh jam tidur maka kita perlu mencari penyebab lainnya.

Salam hangat penuh cinta untuk ibu sekeluarga

Bernadetta Rini 26 July 2010

dear Bu Sandra,

saya punya 2 anak laki-laki yang beda umur hanya setahun (menjelang 4th dan 3th). awal tahun 2010 ini mereka sempat masuk kelompok bermain di dekat rumah. awalnya berjalan lancar, tapi ketika sudah satu bulan si kakak mogok sementara adiknya masih mau sekolah. satu bulan kemudian adiknya ikutan mogok. tiga bulan yang lalu kami pindah ke komplek baru, mereka masih belum mau sekolah. minggu yang lalu tiba2 mereka minta sekolah dan selama 1 minggu di sekolah yang baru dekat rumah yang baru mereka mau sekolah tanpa ditunggu mamanya atau pembantu. tiba-tiba hari ini mereka begitu sampai di sekolah tidak mau masuk dan minta pulang ke rumah. waktu ditanya alasannya takut bu guru. waktu di sekolah yang lama, si kakak sampai muntah kalau diajak ke sekolah untuk jemput atau antar adiknya, bahkan pernah ibu gurunya mau datang ke rumah, baru dengar di telpon saja langsung muntah. apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua ya Bu Sandra, apakah ada trauma yang telah dialami anak saya terutama yang besar,karena kalau adiknya hanya ikut-ikut kakaknya.
terima kasih sebelumnya…..
salam,
rini

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 28 July 2010

Halo ibu Rini,

Saya menjadi merasa sedih ketika mengetahui ada satu lagi anak yang tidak mau sekolah. Jika membaca gejala yang ibu sampaikan yaitu tidak mau sekolah, takut dan muntah ketika akan ke sekolah tampaknya memang ada kejadian emosional di sekolah yang membuat kakak menjadi tidak mau sekolah.

Yang dapat ibu lakukan adalah menetralisir emosi negatif itu dengan memberikan kakak pengalaman menyenangkan mengenai sekolah sehingga emosi negatif itu akan bertumpuk dengan emosi positif dan diharapkan akan menghilang. namun usaha ini butuh waktu dan energi. Minta juga kerjasama dengan guru sekolah yang memang peduli dengan kakak.

atau Ibu dapat menggunakan EFT (emotional Freedom Technique) yang ada di buku Hypnoparenting karangan bapak Ariesandi.

Apakah ada trauma atau tidak ?
Ibu dapat menyimpulkan dari cerita kakak mengenai kejadian yang menyebabkan ia takut dan intensitas emosi yang menyertai ceritanya. Jika kakak belum cerita, ibu dapat memancingnya dengan memberikan cerita bergambar yang berkaitan dengan sekolah. Atau ajak kakak menggambar. Biarkan ia cerita mengenai gambar yang ia lihat atau buat. Dari situ biasanya akan keluar hal-hal yang tidak ia sukai atau ia sukai.

Jika trauma memang benar-benar mengganggu, ibu dapat mendatangi psikolog atau hipnoterapis untuk menetralisir. Ini cara yang lebih cepat

Semoga kakak dapat menjadi anak yang ceria kembali ya.

Salam hangat penuh cinta untuk kakak dan ibu

sasti 2 August 2010

Dear Ibu Sandra yang baik,

anak saya Faris, (3 th 9 bln) sudah 2 minggu ini mogok sekolah.
Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat sekolah (sejak berumur 2.5 thn Faris bersekolah di sebuah PAUD dekat rumah dan tergabung di Kelompok Bermain).

Setelah liburan sekolah tahun ini ternyata teman-teman di KB-nya dulu banyak yang pindah ke TK lain. Sempat saya tawarkan Faris untuk pindah ke TK tempat teman lamanya sekarang bersekolah (kelompok A)tapi ia menolak.

Sekitar semingguan Faris bersekolah di PAUD yang lama. Tetapi kemudian tiba-tiba ia enggan berangkat ke sekolah. Alasannya kepalanya panas. Karena suhu tubuhnya memang agak tinggi, maka saya ijinkan tidak berangkat. Tetapi 2 hari kemudian setelah sembuh, Faris masih menolak bersekolah. Alasannya sakit perut, dan itu berlanjut sampai keesokan harinya.

Saya berusaha mengkorek-korek penyebabnya dari Faris, tapi jawabannya tidak jelas. Saya pun sempat berkonsultasi dengan guru di PAUD-nya tentang kemungkinan penyebab Faris jadi enggan sekolah. Tetapi gurunya menjawab tidak tahu.

Keesokan harinya gurunya mengirim SMS kemungkinan Faris enggan sekolah karena teman-temannya banyak yang pindah, ia pun menyarankan Faris untuk pindah. Tak lama kemudian menyusul SMS lainnya memberitahukan bahwa PAUD-nya ditutup karena kekurangan murid.

Saya pun mulai mencari TK pengganti untuk Faris. Tetapi Faris tetap menunjukkan keengganan bersekolah. Saya ajak dia untuk melihat TK baru teman-temannya, mungkin dia tertarik. Tapi Faris tetap menolak untuk masuk ke pagar TK baru itu.

Keesokan harinya, sambil dirayu-rayu saya coba lagi ajak ke TK baru itu. Faris sudah mulai masuk ke halaman TK . Sementara saya bicara dengan guru di situ, Faris mau bermain dengan anak-anak lain. Setelah lonceng berbunyi Faris mau bersalaman dengan ibu gurudan berpamitan.

Tetapi setiap saya tanya Faris mau bersekolah di situ (saya gunakan istilah “sekolah keren”) atau tidak, dia tetap menjawab tidak mau sekolah. Padahal waktu saya tanya senang tidak bermain di situ, dia jawab senang. Dia juga antusias bercerita tentang mainan yang ada di situ.

Keesokan harinya saya ajak lagi ke TK itu, Faris mau bermain, tetapi tetap tidak mau sekolah.

Di rumah sempat saya ajak bermain peran (dengan boneka), waktu saya tanya faris mau kemana, dia jawab “ke sekolah keren”. Dan cerita tentang sekolah keren berlanjut. Saat itu saya pikir Faris antusias untuk bersekolah lagi.

Tetapi tadi pagi, Faris menolak waktu disuruh sekolah. Waktu saya pakai istilah main di sekolah keren-pun dia menolak. Setelah saya rayu, saya janjikan saya yang akan mengantarnya ke sekolah (sebelum berangkat kerja), akhirnya ia mau berangkat. Tetapi kira-kira 100m dari pagar sekolah dia menangis dia bilang, “aku ga mau sekolah bunda”. Akhirnya kita pulang lagi.

Saya jadi bingung, apa yang harus saya lakukan? Mau dipaksa, saya kasihan dan takutnya malah jadi trauma sekolah. Sempat kepikiran untuk mengistirahatkannya dari sekolah dulu, tapi ada terbersit takut keterusan tidak mau sekolah.

Maaf ya Bu, kalau ceritanya kepanjangan… :)

salam,

sasti

sasti 2 August 2010

Ibu Sandra yang baik,

barusan saya dapat info dari pengasuh anak saya, tadi sempat tercetus dari Faris kalau dia tidak mau sekolah karena takut diomelin Ibu guru.
kesimpulan saya Faris tiba-tiba tidak mau sekolah karena trauma dimarahi guru sekolah lamanya.

Aduh Ibu, saya makin takut dan bingung…apa yang harus saya lakukan?

terima kasih banyak ya bu…

salam,

sasti

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 2 August 2010

Halo Ibu Sasti,

Pendekatan yang ibu lakukan kepada Faris sudah sangat baik.

Jika memang akar masalah Faris enggan untuk sekolah karena Faris mengalami rasa takut diomeli gurunya maka yang perlu kita lakukan adalah mendapatkan kepercayaan dari Faris bahwa tidak semua guru suka mengomel. Guru mengomel pasti memiliki alasan, sama seperti Bunda yang terkadang juga marah kepada Faris.

Jika memungkinkan, mintalah tolong kepada guru baru Faris untuk membangun kepercayaan Faris kepada dirinya. Cara yang dilakukan bisa dengan mengajak Faris bermain atau bercerita.
Saya memiliki pengalaman dengan siswa saya yang menangis histeris karena ditinggal orangtuanya di sekolah. Padahal, menurut pengamatan saya, anak ini sebenarnya sudah nyaman dengan lingkungan sekolah namun masih enggan ditinggal orangtuanya. Jadi, saya khususkan 1 hari untuk menemani anak ini bermain, bercerita dan berjalan-jalan di sekolah. Saya pancing-pancing dia supaya dia mau lebih dekat dan percaya kepada saya. kemudian saya mulai baurkan dia dengan teman-temannya. Alhasil, anak ini lebih mudah ditinggal disekolah keesokan harinya dibandingkan hari sebelumnya.

Semoga kepercayaan Faris cepat pulih ya Bunda.

Salam hangat penuh cinta untuk Faris

sasti 3 August 2010

Terima kasih Ibu Sandra atas sarannya.

Semalam saya ngobrol sama Faris, sambil lalu saya coba korek-korek lagi. Faris bilang katanya habis dicubit bu guru. Haduuuh, saya lemes mendengarnya. Saya yang melahirkannya saja tidak pernah seujung kukupun nyakitin dia (kalau marah biasanya saya beri hukuman seperti tidak memperbolehkannya main mainan favoritnya untuk beberapa saat).

Akhirnya kami putuskan beberapa hari ini tidak akan menyinggung masalah sekolah dengan Faris. Setelah itu saya akan mencoba meng-approach-nya lagi.

Mudah-mudahan tak lama lagi Faris semangat lagi sekolah.

Terima kasih banyak ya bu Sandra… :)

yanti 4 August 2010

Ibu Sandra yang baik,

Anak saya namanya Raffi baru beberapa minggu memulai sekolah di TK A. Pada hari pertama masuk sekolah di temanin sama saya, pada hari ke dua tidak ditemani dan tidak sedikitpun ada tangisan dan rengean, pada hari ke tiga sampai saat ini raffi tidak mau baris dan tidak mau masuk kelas melainkan dia lari ke depan masjid, kebetulan sekolahnya dekat masjid, setelah di bujuk sama gurunya dia baru mau masuk kelas dan juga mengajak saya masuk.

Hampir 2 minggu saya menemaninya di kelas, di dalam kelaspun dia tidak mau mengikuti pelajaran seperti mewarnai, menebalkan huruf atau angka, tetapi hanya main dan mondar mandir saja.
Mulai senin kemarin saya tidak menemaninya saya hanya antar dia smp pintu kelasnya saja, waduh….waduh…bu…nangisnya kedengaran smp semua kelas, dia tendang-tendang pintu sambil teriak – teriak aku…mau….sama…mama…..aku mau mama……..begitu setiap hari selama tidak saya temanin.
Dan setiap pulang sekolah saya selalu menanyakan pd gurunya tentang perkembangan raffi, ibu gurunya selalu bilang raffi belum mau disuruh masih senang main. Kalau saya tanya atau ayahnya tanya kenapa tidak mau baris? katanya bosen…di tanya kenapa tidak mau masuk kelas? katanya aku mau sama mama……kenapa mau sama mama kata ayahnya…ya aku mau sama mama….jawabannya selalu itu – itu saja.

Bagaimana ya bu memberi pengertian pd anak saya. oh ya bu dan dia selalu bersemangat kalau mau sekolah.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 5 August 2010

Selamat malam ibu Yanti,

Berdasarkan informasi yang ibu berikan tampaknya Raffi memang hanya ingin bersama ibu. Jika memang demikian, kerbersamaan ibu dengan Raffi perlu ditambah. Coba ajak Raffi bermain lebih lama dari biasanya, hanya berdua. Kemudian minta Raffi untuk menceritakan pengalaman bersama ibu kepada gurunya.
Selain itu, untuk sementara waktu, minta tolonglah kepada ibu guru untuk bersedia memperhatikan Raffi dengan banyak mengajaknya bercakap-cakap atau memberikan Raffi kesempatan untuk membantu ibu guru di kelas sehingga Raffi merasa lebih nyaman.

Selamat mencoba ibu Yanti

ummu fatih 16 August 2010

Dear ibu Sandra yang baik..
anak saya yang bungsu usia 5 tahun 10 bulan sekarang dia sekolah SD. hari pertama masuk sekolah dia tidak ada masalah, tapi satu minggu berikutnya selalu kalo mau berangkat kita harus merayu dulu, dan kalo sudah sampai sekolah dia tidak mau masuk kelas, akhirnya oleh gurunya di paksa masuk ke kelas. tapi anak saya hanya bermasalah waktu pagi saja,kalo kita jemput waktu pulang dia malah asyik bermain dengan teman2nya. dan di rumah pun dia semangat mengerjakan pr dan cerita tentang asyiknya di sekolah. saya tanyakan ke gurunya pun di kelas dia juga tidak ada masalah .saya sampai malu ke wali murid yang lain karena tiap hari dia di oaksa masuk kelas dan nangis {meskipun nangisnya cuma sebentar} terkadang saya terpaksa janjikan dia beli mainan kalo mau masuk kelas,dan ternyata itupun tidak membuat dia berubah.. apa yang harus saya lakukan bu?

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog 17 August 2010

Hai ibu Ummu Fatih,

Coba ibu tanyakan ke anak ibu, mengapa dia enggan masuk kelas di pagi hari. Umur anak ibu sudah sangat memungkinkan untuk ditanya.

Dugaan saya, ada kemungkinan ia masih terlalu kecil. Suasana kelas yang ia hadapi ketika TK dan SD sangat berbeda. Di TK, masih banyak pelajaran bernyanyi, menggambar dan bercerita + masih tidak ketat dalam pelajaran. Sedangkan di SD, ia diharapkan sudah dapat duduk diam mendengarkan guru. Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, coba ditanya anak ibu.

Salam hangat penuh cinta untuk Ibu Ummu Fatih

ema 26 August 2010

….Saya senang membaca comment2 para ibu di atas…..karna saya juga pernah mengalami hal yang sama…pada saat anak saya masuk TK-B…tahun lalu…..bahkan anak saya,samapai terkenal dengan suara besarnya…ha..ha..ha..(apalagi anak saya badannya gede,lbh gede dari anak seumurnya).Waktu itu…hampir 2 minggu berturut2 saya tungguin di sekolah…tiap sampai di sekolah, mengalami muntah2..padahal kondisinya sehat…….harus di lihat di depan pintu kelas…..bahkan kalau pintu kelas di tutup sama gurunya…dia akan menjerit histeris…..tapi seiring berjalannya waktu….bisa semua terlewati…dan harus ada kerjasama dari kita orangtua dengan gurunya…..dan harus sabar.Jadi mungkin intinya….hal itu wajar2 saja untuk anak baru masuk sekolah…gak semua anak langsung stand bay, ada kalanya mengalami hal2 seperti yang kita alami……..ok ..untuk para ibu……mg kita dapat menjadi ibu yang sabar…dan boleh melakukan yang terbaik untuk anak2 kita……..Salam…..Ema..

Bimo 27 August 2010

Dear ibu Sandra
salam kenal…
Anak saya pertama bernama arya, usianya 3.8 tahun. sekarang ia bersekolah di TK A. Awalnya anak saya berani sekolah. tetapi itu hanya bertahan beberapa hari. setelah itu mogok..saat mulai mogok kami pun sempat tanya ke arya, dia menjawab mau pindah sama ibu guu yang baru. kami pun akhirnya bertemu suster kepala untuk dipindahkan. dan beliau mengabulkan. dia pun mau sekolah. dan itu pun hanya bertahan beberapa hari dan entah kenapa kembali arya mogok sekolah hingga saat ini. Untuk berangkat sekolah arya tidak masalah. artinya dia tetap berangkat sekolah. tetapi saat sudah akan ditinggal ibunya sudah mulai nangis.dan kalau pun sudah di dalam kelas arya tak mengikuti pelajaran atau aktivitas di kelas. hanya diam dan sibuk sendiri. terkadang muntah tanpa sebab. hal ini berbeda saat berada rumah dimana ia gemar beraktivitas dengan adiknya arista. Mulai dari mewarnai, main komputer, dan lain-lain. Untuk mengatasi itu kami coba menanyakan mengapa dia tidak mau sekolah. arya hanya diam dan tak mau menjawab. bahkan sempat kami coba dengan sistem reward ( misalnya, diajak jalan-jalan) and punishment (dikurung di kamar mandi), dibujuk, itu pun tak menyelesaikan masalah. hebatnya lagi, pada saat di rumah,arya bilang mau sekolah dan mau pinter dan nggak nangis. tetapi pas di sekolah dia malah bilang aku nggak mau pinter, mau nangis ajah… dan nangis deh.. Kami coba dengan saat sekolah ditemani ibunya mulai dari dalam kelas, kemudian mundur menjauh sedikit demi sedikit, dan hasilnya makin nangis. mohon pencerahan ibu. karena terkadang saya kasihan dengan ibunya anak-anak. terima kasih ibu. dan GBU

sienny 30 August 2010

dear, ibu sandra.

anak saya bernama velicia . saya sudah membaca sebagian cerita ibu-obu yang lain . tetapi saya sendiri masih binggung dengan perilaku anak saya . anak saya berumur 3 tahun dia baru saya masukkan ke playgroup. dihari pertama yang biasanya anak” menangis dia malah enjoy sekali dengan mainan di kelasnya . bahkan sesekali dia melambaikan tanggan kepada saya. dan 4 hari berikutnya dia sudah bisa ditinggal sendiri. tetapi pada hari yang ke-5 saat dia pulang dia mennggis keras sekali. lalu gurunya menanyakan pada saya apakah dia sakit karena setelah 15 menit dia masuk sekolah dia menanggis terus sampai waktu pulang sekolah padahal di kelas dia sama sekali tidak berantem dengan temannya, saya bilang dia tidak sakit .

sepulang sekolah saya tanya ” kenapa km menanggis ?” dia menjawab klo ” dia mau sama mommy ” saya kasih pengertian sama dia klo mommy tunggu diluar nanti klo sudah selesai sekolah kamu pasti bisa sama mommy lg. dan kejadian ini berlangsung sampai sekarang kurang lebih sudah 5 kali sekolah ( 1 minggu = 3 kali ) tapi dia masih menagis dari awal masuk sampai pulang.

ibu sandra saya binggung sekali , apalagi yang mesti saya lakukan karena setiap hari pun dia selalu bersama – sama dengan saya, karerna saya yang mengurus dia mulai kecil sendiri . saya selalu mencoba berbagai cara supaya dia mau pergi kesekolah . tapi tidak ada yang berhasil. klo saya ajak dia bicara berdua saat dia sedang bermain mengenai sekolahnya dia selalu terlihat sedih dan mulai mencari percakapan yang lain . dia tidak suka klo saya membicarakan tentang sekolahnya.

saya dan suami saya sepakat karena dia masih harus sekolah 3 hari kedepan dan setelah ini mau liburan panjang , saya memutuskan klo dia sekolah ditemani grandma nya di kelas , dengan pertimbangan supaya dia tidak ” trauma “. ibu sandra cara apa yang baik untuk saya lakukan karena hal ini benar” membuat saya dan suami sangat tertekan, karena klo dirumah dan diluar rumah dia adalah anak yang ceria dan pemberani….???

saya dan suami sedang merencanakan untuk mulai membatsi kebersamaan saya bersama anak, dia sekarang tidak lagi tidur dengan saya tapi dia tidur dengan grandma nya … dan setelah liburan nati saya berencana untuk meninggalkan dia di kelasnya sendiri , tidak lagi ditungguin di dalam kelas…. dengan harapan dia akan berhenti menagis dengan sendirinya. bu sandra … mohon masukkanya …. TERIMA KASIH

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 31 August 2010

Halo Pak Bimo, salam kenal juga.

Berdasarkan cerita bapak, tampaknya bapak sudah melakukan segala upaya yang bisa bapak lakukan. Saya hanya akan menambahi beberapa hal saja.

Jika bapak menanyai Bimo, gunakan pertanyaan yang dijawab dengan ya atau tidak. Misalnya : Apakah Bimo tidak suka sekolah ? Apakah di sekolah ada teman yang tidak disukai Bimo ? dll
terkadang anak menjawab tidak tahu bukan karena mereka tidak tahu benaran tapi karena mereka tidak dapat menemukan penyebab yang mereka rasakan. Jadi kita perlu membimbingnya dengan memberikan pertanyaan.

Selain itu, keengganan Bimo untuk sekolah mungkin juga karena kosongnya tangki cinta Bimo. Coba bapak luangkan waktu untuk bermain atau pergi berdua saja dengan Bimo. Kemudian gantian, ibu dengan Bimo saja. Buat kegiatan bersama yang berkualitas.

Terakhir, apakah ada sesuatu yang berubah di rumah ? atau salah satu diantara bapak atau ibu sedang mengalami masalah ? Biasanya anak-anak dapat menangkap getaran kegelisahan dari orangtua sehingga mereka agak “rewel”.

Selamat mencoba.
Saya tunggu kabar baiknya,

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 31 August 2010

Halo ibu Sienny

Anak menangis pasti memiliki sebab karena anak-anak masih jujur. Mereka menggunakan tangisan untuk menyatakan perasaan mereka.

Adakah kemungkinan Velicia mengimitasi perilaku temannya yang menangis karena ditinggal orangtuanya ?
Karena anak seusia itu, biasanya memiliki kemampuan empati yang tinggi sehingga mudah ikutan menangis.

Dari jawaban Vellicia yang ingin bersama mommy maka perlu ibu coba tapi bukan menemani di kelas. Ajak Velicia bermain berdua saja dengan ibu atau pergi berdua, tanpa suster ataupun grandma ataupun daddy.
Atau bermain dengan daddy, hanya berdua saja.

Selain grandma yang menemani di kelas, coba dekatkan Velicia dengan salah satu guru supaya ia nyaman.

Kebersamaan ibu dengan Velicia tidak perlu dibatasi. Jika sudah waktunya, ia akan lepas dengan sendirinya karena Velicia masih 3 tahun. Untuk masalah tidur, saya setuju jika memang hendak dibiasakan untuk tidur sendiri atau bersama grandma.

Setelah libur, ibu perlu melihat kondisi Velicia. Jika ia sudah mampu melupakan “hal” yang membuat ia cemas, silahkan ibu tinggal. tapi jika belum, mungkin masih perlu ditemani dulu.

Gunakan yes no questions untuk menanyai Velicia mengenai keengganannya sekolah.

Salam untuk Velicia

natalia 10 September 2010

Dear ibu2 sekalian,

Saya mau sharing pengalaman saya juga. Semoga membantu. Anak saya sekarang umur 2 tahun 9 bulan. Juga baru saja masuk sekolah. Saya cuma menemaninya 2 hari, setelah itu tidak pernah menemaninya lagi. Dan tidak ada masalah. Dia tidak menangis. Karena sejak dari usia sebelum 2 tahun, dia selalu saya ikutkan Sekolah Minggu (sekolah khusus untuk anak2 di gereja setiap hari Minggu). Memang di Sekolah MInggu dia selalu ditemani, sampai usia 2 tahun lebih sedikit dia sudah bisa ditinggal. Jadi mungkin bisa cari cara untuk bawa anak2 main dengan teman2 yang lain, mis dengan tetangga atau ke rumah teman lain yang memiliki anak kecil. kalo sdh terbiasa, coba ditinggal sendiri. Situasi ini menyiapkan anak untuk mandiri sebelum dia masuk masa sekolah.

kebetulan juga, ada 2 teman saya yang senang dengan anak saya dan suka bermain dengan dia. dia pangil teman saya aunty (dia tidak punya anak), dan satunya lagi oma (tidak punya cucu). dan awal2 waktu anak saya ke Sekolah Minggu, mereka bergantian yang membantu saya untuk menjaga anak saya. Dan memang anak saya juga dekat dengan mereka. Selain mereka, dia juga biasa bermain2 dengan guru2 Sekolah Minggu di gereja. Saya pikir hal ini bagus, karena juga menyiapkan anak saya untuk bisa dekat dengan orang lain selain orang tuanya. Ini juga yang mempermudah dia untuk cepat beradaptasi dengan guru2nya di sekolah.

Mungkin ibu2 bisa usahakan untuk mengenalkan anak dengan orang2 lain yang bisa dekat dengan mereka. Anak saya sendiri sangat dekat dengan saya, dan saya yang menjaga dia sejak dari lahir, tidak ada bantuan orang lain. Kami juga tidak punya pembantu. Tapi situasi2 di atas tadi menolong dia utk cepat mandiri dan tdk terlalu bergantung ke ortunya.

selamat mencoba.

salam,
ibu natalia

Tyas 31 October 2010

Dear Ibu Sandra,

Saya juga sedang mengalami hal yang sama, anak laki-laki saya sedang mogok sekolah. Umurnya 4.5 th, kelas TK A.
Awal sekolah secara bertahap ditemani di dalam kelas, lalu di luar kelas, dan akhirnya ditinggal pulang secara sukarela.
Sesudah beberapa lama masuk sekolah, dan libur lebaran, dia masuk sekolah spt biasa mau ditinggal. Sesudah 3 hari msk sekolah suatu hari ketika menjemputnya pulang sekolah, saya dapati dia sdg menangis, kata bu gurunya tidak ada apa2, hanya mencari mamanya.

Tetapi besoknya jadi minta ditemani di dalam kelas lagi. Hari itu saya temani, ttp krn saran dari bu guru, besoknya dia dipaksa masuk kelas dg cara digendong ibu guru. Dia meronta2 dan menangis sp muntah dlm kelas. Saya menunggu di luar kelas, ketika Daffa minta buang air kecil sambil menangis sempat tidak diijinkan ibu guru krn menyangka itu hanya alasan utk bertemu mamanya di luar kelas. Ketika mendengar itu, saya minta bu guru utk mengijinkan anak saya pipis, krn anak saya blm pernah berbohong mengenai hal itu. Baru kemudian diijinkan.

Kalo saya tanyakan kenapa tdk mau masuk kelas sendirian, katanya karena bu gurunya suka marah2 dan dia takut.
Setelah seminggu ditemani, saya diminta sekolah utk tidak menemani lagi dan menunggu di luar kelas. Tetapi anak saya tetap tdk mau masuk kelas sendirian.
Saya bingung sekali musti bagaimana lagi. Karena pihak sekolah mendesak saya utk meninggalkannya. Saya kuatur dia jadi trauma sekolah. dan menjadi phobia sekolah

Terima kasih,
Tyas

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 1 November 2010

Halo Ibu Tyas,

Yang paling mengenal anak ibu adalah ibu sendiri karena ibulah, orang selalu berada di dekatnya bukan ?

Jika anak pada awalnya tidak apa-apa dan happy saja ke sekolah tapi tiba-tiba berubah, berarti memang ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan ia sudah mengalami sesuatu yang tidak ia sukai.

Coba ibu cek di keadaan rumah terlebih dahulu. Adakah perubahan di rumah ? Apakah ibu sendiri sedang mengalami suatu masalah yang menyebabkan ibu merasa cemas ? Apakah hubungan ibu dan bapak baik-baik saja ?
Biasanya anak sensitif dengan permasalahan diatas.

Cek juga keadaan di sekolah.
Coba ibu tanyakan kepada teman-teman putra tentang yang dikatakan putra bahwa gurunya sering marah.
Cek juga ke teman-teman putra, apakah putra pernah mengalami sesuatu yang menyakitkan misalnya jatuh, dipukul, dimarahi ?

Jika memang putra sangat tidak ingin sekolah dan menunjukkan cemas jika harus berangkat sekolah dari rumah, ibu bisa liburkan dahulu beberapa hari, sambil mengorek keterangan dari putra. Minta ia ceritakan sesuatu yang menakutkan di sekolah. Ibu bisa mengorek melalui media buku cerita atau menggambar.

Saya tunggu kabar dari ibu ya.

susiyana 4 November 2010

Dear ibu sandra,

Anak sy, Via umur 6 thn sekolah TK B sudah 1,5 bln ini mogok sekolah.Awalnya Via semangat sekali ke sekolah.Tidak pernah ditunggui dalam kelas.Sampai 3 hr setelah libur lebaran pd hr Rabu, 22/10 ada acara menanam padi dr sekolahnya.Di acara itu Via terlihat heppy cm pd saat Via diajak turun kesawah Via sempet memanggil sy minta naik dr sawah.Sy tdk menurutinya.Sy katakan “tdk apa2,mama disini” tp sy sendiri tdk ikut turun kesawah.Sampe akhirnya Via menangis dan naik dr sawah.pulang dr sawah Via terlihat biasa aja,msh main dgn teman2nya n sempet kesekolah dulu.

Hr kamis, 23/10 Via tdk mau sekolah,sy pkr krn msh cape jd sy ijinkan tdk sekolah.Jum’at, 24/10 msh blm mau sekolah krn sakit (badannya panas).Pd hr senin, 27/10 (sabtu-minggu libur) Via msh blm mau sekolah.pd hal udh mandi dan pakai seragam tp tb2 dibuka lg dan menangis.Sy ttp paksakan kesekolah (walau tdk b’seragam).Di sekolah Via tdk mau msk halaman sekolah cuma duduk dikantin sekolah.Dibujuk gurunya utk msk pun tdk mau.Via malah meluk erat neneknya n terlihat takut sekali (wkt itu neneknya ikut).

Selasa, 28/10 Via ttp tdk mau sekolah.sy tanya knp dia blng ‘takut” tp sy tdk peduli,ttp sy paksa kesekolah.Sampe disekolah spt hr senin dia tdk mau msk halaman sekolah malah meluk erat neneknya ketakutan.Perlu ibu tau wkt hr senin pd saat Via tdk mau masuk halaman sekolah ada yg bilang Via ‘diikuti’ mahluk halus sejak dr acara menanam padi.Jujur sy percaya krn sy lht perubahan dlm diri Via sejak acara menanam padi.sy sempet melakukan ruqyah utk Via,sy lakukan sendiri dirmh dgn membaca ayat2 Al-Qur’an.

Hr rabu, 29/10 ada acara santunan anak yatim di panti asuhan. Alhamdulillah Via mau masuk sekolah.Pd saat memasuki halaman sekolah sy bacakan do’a2 perlindungan didekat telinganya. Hr itu berjalan lancar.Via mau baris dan ikut acara santunan anak yatim ke panti asuhan.Hr kamis, 30/10 Via ke sekolah lg tp sy lupa bacakan do’a2 spt yg sy lakukan pd hr rabu.Hr kamis itu Via spt biasa b’main sm teman2nya dgn heppy.Tp begitu bel Via yg sudah lari mau baris tb2 saja brenti dan langsung meluk neneknya dgn erat spt ketakutan,ga mau ikut baris.

Sampe anak2 masuk kelas pun Via ga mau ikut masuk kelas.Sudah dibujuk ttp ga mau malah main sendiri dihalaman sekolah.Sy lht perubahan pd Via.Dia ga mau ditemani,main sendiri aja di halaman sekolah.ketika dihampiri gurunya dia menghindar.Salah 1 guru bilang Via ‘diganggu’ mahluk halus (jin) sejak dr acara menanam padi. Kebetulan gurunya itu jg melihat jin yg ‘menganggu’ Via di lokasi acara menanam padi.Gurunya itu cerita jenis spt apa jin yg mengganggu Via.

Perlu ibu tau sejak acara menanam padi itu sy ingat2 terjadi perubahan pd Via.Via yg jarang tdr siang selama 1 minggu kemarin selalu tdr siang sekitar 4-5 jam.Mlm hari Via udh tdr lg pd jam 8 dan br bangun pd wkt alarm berbunyi sktr jam 6 pg.Dr segi makan jg Via lbh suka makan mie ga suka nasi dan porsinya bs habis 1 bungkus mie + telor,makan tiap 4-5 jam.Via jg lebih banyak diam.Kalo diajak ngomong ga ada respon.

Pada hari itu jg sy langsung bawa anak sy ke ustadz utk di Ruqyah di temani ibu dan bapak sy.Sy makin yakin kalo ada gangguan jin.Pd saat di Ruqyah Via meronta2 dan tenaganya kuat sekali.Secara logika rasanya tdk mungkin anak seumur Via bs ‘melawan’ 4 org yg megang Via.

Setelah di Ruqyah sy bawa Via liburan.Hr minggu balik lg kerumah.Sy lht Via msh blm ceria spt biasa.Via jg blm mau kesekolah,sy ikuti maunya Via krn sy punya pengalaman adik sy jg pernah ga sekolah krn gangguan jin dan butuh wkt utk pulih.Selama ga sekolah sy cari2 info knp anak sy mogok sekolah secara psikologis.Tiap ada kesempatan tdk lupa sy selalu Ruqyah Via dgn membacakan ayat Al-Qur’an.

Kurang lbh 1 bln sy terapi Via dgn Ruqyah sambil cari info secara psikologis.Sy hub-i teman2 sy yg pernah kuliah di psikologi.Sy jg sempet datang ke psikolog utk cari tau sebabnya.selama 1 bln itu (bln Okt) Via cm ke sekolah 2 hr (selasa-rabu) dan itupun tidak mau baris dan tidak mau masuk kelas.Anehnya tiap acara diluar sekolah Via selalu mau ikut dan terlihat ceria sekali.

Keceriaan Via br kembali setelah 1 bln.Sy spt melihat anak sy kembali. Via yg cerewet,suka tanya sesuatu mendetail,ga bs diam dll.Cuma 1 yg blm kembali semangatnya utk sekolah.Sy coba cari tau dr Via knp ga mau sekolah.Sy coba dekati Via dgn teknik yg sy baca dr buku2 karangan Bpk Ariesandi.

Alhamdulillah dr Via sy tau kalo Via ga mau kesekolah krn bosen dgn pelajarannya.Via ga mau TK mau langsung SD aja.ga ada masalah dgn guru atau teman2nya.Sempet terpikir jg apa Via cm cari2 alasan aja?Akhir2 ini Via lbh suka belajar membaca dan berhitung.Ga mau mewarnai lg.Buku2 yg sy pinjam dr sekolah utk dikerjakan dirumah cm sekilas dilihat.Via lbh suka belajar dr latihan dirumahnya majalah bobo walaupun blm pandai membaca.

Yg ingin sy tanyakan apa yg harus sy lakukan?Apakah sy hrs turuti maunya Via menunggu thn ajaran baru utk sekolah SD?Apa sy hrs sepenuhnya percaya dgn alasan yg diberikan Via?Sekarang ini Via sama sekali ga mau kesekolah TK nya.Tiap hr sy ajarkan Via membaca dan berhitung dirumah.Kalo sy turuti maunya Via apa nanti Via bisa lancar sekolah di SD ga pake acara mogok sekolah lagi?Yg sy baca dr buku “Rahasia Mendidik Anak Agar sukses dan Bahagia” suatu kejadian yg berulang akan terekam dialam bawah sadar.Perlu Ibu tau wkt Via umur 4 thn Via pernah sy masukan sekolah Playgroup tp ga tuntas.Wkt itu Via lbh suka belajar diruang kepala sekolah dr pd belajar di kelas.Cuma 6 bln Via di playgroup ga dilanjutkan lg krn Via ga mau kesekolah.Sy pkr krn Via ga nyaman disekolahnya krn itu sy ga lanjutkan lagi.Dirmh Via selalu belajar pelajaran TK dr buku2 yg sy beli.Via jg pernah ikut les membaca tp cm 3 hr.Ga mau lanjut lg.Dr buku yg sy baca Via itu termasuk perpaduan type KORELIS dan MELANKOLIS.

Sy mohon masukan dr ibu apa yg harus sy lakukan?Terima kasih atas jawabannya…

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 4 November 2010

Halo ibu Susiyana,

Jika penyebab karena VIa merasa sudah bosan dengan materi di TK, ibu bisa melakukan beberapa hal berikut ini.

Mintalah guru untuk menaikkan tingkat kesulitan pelajaran di kelasnya. Buatlah suatu materi pelajaran yang sekiranya bisa menantang rasa ingin tahu Via.

Atau mintalah ibu guru untuk menjadikan Via sebagai asistennya di kelas (jika memang Via sudah menguasai materi pelajaran yang diberikan).
Jika memang Via seorang anak yang koleris maka pendekatan ini akan sangat disukainya.

Jika ingin lompat kelas maka berikut ini yang perlu dipertimbangkan :
IQ Via. Coba ibu tes dahulu. Jika memang Via berada di diatas atasnya rata-rata (bukan diatas rata-rata) maka lompat kelas bisa dijadikan pilihan dengan mempertimbangkan
1. Kesiapan konsentrasi Via mengikuti cara belajar di SD yang lebih banyak duduk (atau ibu bisa mencari sekolah dasar yang tidak terlalu banyak menuntut untuk duduk diam)
2. Kesiapan emosi Via, jika Via bisa menekuni sesuatu hingga selesai, atau Via bisa beradaptasi dengan cepat pada perubahan atau Via bisa berteman dengan baik dan menyelesaikan konflik dengan baik (Sesuai dengan level usia Via) maka Via siap untuk lompat kelas.

Lompat kelas perlu dipertimbangkan masak-masak dari segi kognitif anak dan emosi anak.

Jika ibu memutuskan untuk mengajari Via di rumah, mengapa ibu tidak mencoba untuk homeschooling ?
Carilah komunitas homeschooling di daerah ibu. Agar ibu memiliki teman untuk berbagi cerita dan materi pelajaran. dan Via juga memiliki teman untuk mengasah kemampuan sosialisasinya.
Untuk tingkat TK, saya rasa masih memungkinkan untuk diajarkan di rumah karena persyaratan untuk masuk SD (Jika tidak mau melanjutkan homeschooling terus) kebanyakan sekolah hanyalah mensyaratkan baca tulis hitung dan kemampuan anak untuk duduk diam dalam waktu lama.

Silahkan didiskusikan dengan orang-orang yang menyayangi Via untuk memberikan yang terbaik untuk Via.
Dan ingat untuk tanya kepada Via, apa yang ia inginkan.

Salam kenal untuk Via

Henda Herdiana 7 November 2010

Bu, saya seorang pendidik yang baru mulai mengajar di KB. Di sekolah kami masih banyak siswa yang ditunggui oleh orang tuanya, padahal sudah berulang kali kami mengingatkan bahwa peraturan di sekolah kami tidak membolehkan hal itu. Tapi masih banyak orang tua beralasan tidak tega atau anaknya tidak mau ditinggal padahal kalau dilihat dari si anak sudah mandiri. Bagaimana ya bu cara agar si orang tua mau meninggalkan anaknya. Oh ya KB kami terdir dari siswa usia 2-3 dan 4-5 tahun.
Terimakasih.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 8 November 2010

Ibu Guru Henda yang baik,

Memang berhadapan dengan orangtua murid merupakan tantangan tersendiri bagi guru sekolah. Terkadang banyak orangtua keras kepala yang merasa dirinya benar padahal belum tentu dan baik bagi perkembangan buah hatinya,

Untuk orangtua yang membandel tersebut, kita perlu melakukan strategi yang bijak dalam menghadapinya karena hal ini juga akan menyangkut nama baik sekolah. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah yang sistematis dan perlahan. Berikut ini tahapan yang bisa ibu lakukan :

1. Edukasi orangtua mengenai manfaat yang diperoleh dengan membiarkan anaknya belajar mandiri.
Edukasi ini bisa dilakukan dengan mengadakan seminar kecil khusus untuk orangtua.
Ibu bisa juga mencari pentolan dari gerombolan ibu-ibu itu yang dihormati dan memiliki pengaruh besar untuk bisa mempengaruhi ibu yang lainnya. Dekati ibu itu, edukasi, dan pengaruhi. Jika ibu itu berhasil maka ibu-ibu pengikut lainnya pasti akan mengekor.

2. Sediakan tempat bagi ibu-ibu itu untuk ngerumpi, arisan dll di dekat lingkungan sekolah.
Salah satu alasan mereka tetap bertahan di sekolah karena mereka tidak memiliki pekerjaan yang bisa mereka urusi. Jadinya mereka nge-pos disekolah.
Untuk yang satu ini, ibu bisa manfaatkan ibu-ibu untuk membantu guru dalam membuat tugas-tugas untuk murid-muridnya lho. (tapi ini juga tergantung kedekatan guru dan orangtua).

3. Lakukan woro-woro mulai sekarang bahwa semester depan 2011, orangtua murid sudah tidak boleh menunggui siswanya.
Pengumuman jauh-jauh hari ini dan diulang setiap minggunya akan mengedukasi mereka secara tidak sadar bahwa ada ultimatum dari pihak sekolah untuk meninggalkan lingkungan sekolah.
Saya rasa memasuki semester 2, anak-anak sudah sangat terbiasa dan akrab dengan para gurunya bukan ? (Kecuali kalau kena sindrom libur panjang)

4. Buat sistem di sekolah yang tidak memungkinkan orangtua untuk mendekati kelas anaknya.
Misalnya pintu penutup, satpam yang mencegah orangtua tidak berkepentingan untuk masuk.

5. Amati anak-anak yang memang sudah aman secara psikologis untuk berpisah dari orangtua.
Anak-anak ini sudah bisa ditinggal. memang mungkin bisa menangis tapi kalau sudah percaya dengan gurunya, maka mereka akan mudah untuk ditenangkan.

Selamat mencoba ibu.
Saya tunggu kabarnya.

Semangat !

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 8 November 2010

O iya, ibu Henda. Satu lagi, edukasi siswa-siswa ibu bahwa di sekolah khusus untuk siswa bukan untuk ibu. Jadi yang masuk sekolah hanya murid saja.
Jadi dengan edukasi 2 arah, diharapkan semua pihak siap untuk memandirikan siswanya.

Salam.

susiyana 11 November 2010

Ibu Sandra…

sy sudah lakukan tes IQ Via n hasilnya (menurut klasifikasi IQ skala Wechsler) adalah sbb :
Verbal IQ 121
Performance IQ 134
Full IQ 130
Original IQ 141

Menurut Ibu apakah IQ Via diatas atasnya rata-rata atau cuma diatas rata-rata?

Sampe saat ini Via msh blm mau kesekolah.Sempat terpikir oleh sy utk pindahkan Via kesekolah lain yg lbh menantang tp Via maunya SD.
Kalo ke SD apa hrs SD dgn pelajaran yg lbh menantang atau cukup ikuti kemauan Via utk 1 sekolah dgn teman main nya yg saat ini sudah kelas 3 (Via ttp mulai dr kelas 1 tentunya).Temannya itu sekolah di SD Negri.

Jujur sy yg trauma memikirkan kemungkinan Via mogok sekolah lg nantinya.Apa yg harus sy lakukan agar kejadian mogok sekolah tidak terulang lagi?

Terima kasih atas sarannya..

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 12 November 2010

Halo ibu Susyana,

Hasil tes Via menunjukkan bahwa Via memiliki kemampuan IQ superior, artinya ia sangat cerdas dibandingkan anak seusiannya.

Untuk bisa lompat kelas, selain kemampuan IQ yang cukup yaitu superior dibutuhkan juga karakter yang mendukung. untuk yang satu ini, ibu perlu meminta bantuan psikolog yang bisa mengamati Via. Saya tidak bisa memberikan saran banyak mengenai ini karena saya tidak bisa mengamati Via.

Karkater itu adalah
1. Kemampuan kreativitas Via
2. Kematangan emosi Via : kemampuannya untuk berkonsentrasi, bisa bertahan lama pada satu tugas hingga selesai, kemampuan untuk adaptasi.

Jika syarat diatas telah memenuhi maka Via bisa lompat kelas.

Agar kejadian mogok sekolah tidak terulang lagi, ibu bisa menghindari 3 hal yang telah saya tuliskan di artikel.

Salam hangat penuh cinta untuk Via

Fita 24 November 2010

Ibu Sandra…
Anak saya umur 4 thn 3 bulan dan saat ini sekolah di TKA. Saat berangkat sekolah dia hapy2 saja tapi sesampai di sekolah dia tidak mau ditinggal “mbaknya” yang harus menunggu di dalam kelas. Sebelumnya dia sudah sekolah di playgroup dan dia anak yang pemberani, tidak perlu ditunggu. Saat ditanya dia tidak mau menjawab. saya sudah coba berbagai cara untuk membujuknya tapi tidak berhasil. Guru sekolahnya juga bingung kenapa ssat TK anak saya jadi berubah cengeng. Saya merasa anak saya takut sesuatu tapi saya tidak tau apa. Bagaimana cara mengetahuinya ya Bu, atau kalo saya bisa konsultasi langsung, dimana ya?
Terima kasih

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 24 November 2010

Halo ibu Fita,

Perubahan perilaku anak pasti memiliki sebab karena kalau ada asap pasti ada apinya. Jadi ibu perlu tahu apa penyebab rasa takutnya. Jika kita hanya membujuknya untuk lebih berani akan sulit selama akar masalahnya belum diketahui.
Untuk mengetahuinya, coba ibu menanyakan kepada adik ketika adik sedang dalam keadaan senang. Ajak adik bermain misalnya menggambar tentang sekolah dan teman-temannya. Atau ajak adik mendongeng mengenai sekolah. Ceritakan masa sekolah ibu, pancing dengan pertanyaan bahwa ibu pernah mengalami rasa enggan untuk sekolah. Kemudian mulai arahkan pertanyaan untuk mencari tahu rasa takut adik berada di kelas.

Untuk konsultasi langsung, ibu bisa menghubungi CS SO di 594 14 39

Selamat mencoba ibu Fita.

kuswardoyo 14 December 2010

Halo Bu,
Anak saya umur 9 taun saat ini dia sekolah kelas 3 SD , beberapa hari ini dia pulang dengan menangis ternayata dia dimusihi teman2nya bahkan sempat dipukul oleh temannya sepulang sekolah.

Anak perempuan saya bercerita , beberapa hari sebelumnya dia disuruh memukul salah satu teman dikelasnya oleh teman nya yang lain dan anak saya menolaknya , dampaknya kemudian anak saya yg justru dimusuhi dan diintimidasi oleh anak yg menyuruh memukul tersebut dan sejumlah teman teman dikelasnya.
ketika saya bilang suruh lapor gurunya , gurunya tersebut seperti acuh tak acuh dan hanya bilang “jangan main di luar diam saja dikelas” .

Lalu apa yang harus saya lakukan soalnya saya jadi emosi nih bu melihat kelakuan teman temannya dan keacuhan gurunya itu ???

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 15 December 2010

Halo juga bapak Kuswardoyo,

Bullying memang merupakan fenomena yang sering terjadi di kalangan anak sekolahan. Anak yang merasa lebih kuat akan menyerang dan mengintimidasi anak yang dirasanya lebih lemah darinya.

Respon guru yang seperti itu sangat disayangkan sekali. Guru itu tidak memberikan penanganan yang sebagaimana mestinya. Akibatnya kita sebagai orangtuanya merasa kesal dan marah ketika mengetahui anak kita tidak diperlakukan dengan semestinya dan mendapatkan rasa aman di sekolah.

Bullying memiliki dampak sangat jelek terhadap pelaku maupun korban. Kepercayaan diri dan konsep diri menjadi taruhan di sini. Sebagai pendidik sebaiknya permasalahan ini harus segera diatasi.

Berikut ini beberapa saran yang bisa bapak lakukan untuk mengatasi kekerasan di sekolah ini.
1. Ajarkan kepada anak untuk tidak merespon permintaan si pelaku (untuk yang ini, anak bapak sudah benar dengan menolak). Dan abaikan saja si pelaku dengan meninggalkannya. Jika anak menunjukkan rasa takut, menangis maka si pelaku akan lebih senang untuk menggecet dengan lebih keras. ingat, penggencet sangat suka pada orang yang lebih lemah darinya.

2. Jika pengabaian tidak berhasil maka anak perlu asertif dengan berani menolak perlakuan pelaku tersebut. Mintalah anak untuk berkata,”Stop. Aku tidak suka memukul orang lain. Jika kamu terus menggangguku aku akan melaporkan kamu ke Kepala sekolah !.”Jadi jika anak bapak dapat menunjukkan sikap bahwa ia tidak takut terhadap ancamannya, maka pelaku juga akan berpikir ulang untuk menekan. Biasanya juga si pelaku akan takut pada pihak otoritas sehingga akan memilih untuk mundur.

3. Ajarkan anak untuk memiliki teman dekat yang memiliki hubungan kuat. Biasanya teman-teman dekat ini yang akan membela dan melindungi anak terhadap pelaku.

4. Jika tetap berlanjut maka sudah saatnya bapak bereaksi dengan melaporkan kejadian ini kepada guru dan kepala sekolah. Anak bapak berhak untuk datang ke sekolah dengan rasa aman sehingga ia bisa belajar dengan baik. Kenakalan di sekolah merupakan tanggungjawab pihak sekolah untuk menyelesaikannya.

Selamat mencoba bapak Kuswardoyo dan Salam cinta untuk buah hati bapak.

Ibu Saras 24 February 2011

Salam hormat Bu Sandra,
senang rasanya ada tempat untuk berbagi karena saya juga mengalami kesulitan mengajak anak saya azzam ( 3th 3 bl) untuk berangkat ke sekolah lagi di KBIT dekat rumah. Sudah 2 minggu ini mogok sekolah, dengar kata sekolah sudah tidak mau. Sudah saya coba cara :
a. mengganti istilah sekolah dengan main sama mas fulan atau bayar infaq yuk
b. pura2 datang ke sekolah untuk hanya minta izin sama gurunya : boleh ga Bu, Azzam ga sekolah…dan setelah itu azzam digendong gurunya untuk masuk kelas lalu saya meninggalkannya
c. mengkomunikasikan dengan gurunya bahwa azzam sudah bisa membaca huruf a s.d z (dan gurunya cerita kl di kelas baru diajarkan a i u e o) apakah itu yang membuatnya bosan di sekolah ?
d. menanyakan pada azzam apa ada temannya yang nakalin azzam…

dan sampai sekarang masih susah diajak sekolah bu.
Perlu ibu ketahui saya bekerja di luar kota (Batang) dan 2 atau 3 hari sekali pulang. Selama ini papanya yang punya banyak waktu bersama azzam termasuk antar jemput sekolah tapi mulai Maret, suami saya pindah Yogya, bu. Praktis kami bertiga pisah, azzam sama eyangnya di Semarang. Sepertinya azzam ‘diaboti’ eyangnya untuk stay di Semarang. Kalau sama papanya saja sudah mogok, bagaimana dengan sama eyangnya yang cenderung loss ?
Terima kasih atas kesediaan waktu bu Sandra untuk memberi solusi pada saya.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 28 February 2011

Halo Ibu Saras,

Mohon maaf sekali ibu, saya sangat lama membalas email ibu. Email ibu terlewatkan oleh saya.

Kondisi ibu Saras benar-benar kompleks ya. Anak seusia Azzam memang sedang sangat membutuhkan kehadiran secara fisik kedua orangtuanya. Eyang putri maupun Kangkung, tentu saja tidak dapat menggantikan keberadaan ayah ibunya Azzam. Kondisi perpisahan inilah yang menyebabkan Azzam menjadi mogok sekolah. Jadi bukan karena masalah di sekolahnya.

Jadi keputusan ada ditangan bapak dan ibu. Hendak dikemanakan biduk rumah tangga ini dan Azzam.

Salam sayang untuk si kecil Azzam ya bu.

nona marini 17 March 2011

dear ibu sandra yang baik,

Salam kenal…
Seperti hal nya dengan ibu2 yang lain, anak saya juga mogok sekolah sejak minggu lalu dengan alasan yang kesannya dibuat2. Dia sekarang duduk di TK A, usianya 4,7 tahun. Sebelumnya dia ok2 saja berangkat ke sekolah, sampai satu hari dia agak demam dan katanya badannya sakit2 karena kecapean berenang dan minta ijin pulang lebih awal, kemudian keesokannya juga masih tidak enak badan sehingga absent lagi sampai weekend.

Minggu depannya tidak mau sekolah sama sekali alasannya “sakit perut”, keesokan hari nya juga sama. Kemudian papa nya merayu dia spy mau sekolah lagi dengan dijanjikan akan dibelikan kucing (kebetulan teman suami memang berniat memberikan kucingnya karena dia mau kembali ke negara asalnya), akhirnya dia mau sekolah esok harinya. Tetapi hanya satu hari, keesokannya dia mogok lagi dengan alasan “sakit perut”, setiap hari seperti itu. Padahal saat tidak sekolah itu dia seharian main dengan teman2nya. Artinya dia tidak “sakit perut”.

Kemarin akhirnya saya tetap antar dia ke sekolah, saya bilang nanti kalau sudah bertemu teman2 pasti “sakit perutnya” akan hilang, karena saat saya tanya apakah dia pingin “pup” dia jawab tidak dan tidak mau dibalur minyak kayu putih juga. Sampai di sekolah dia menangis seperti benar2 tidak ingin sekolah dan tetap bilang bahwa perutnya sakit. Sebenarnya saya kasihan melihatnya, seolah2 saya memaksa dia melakukan hal yang dia tidak suka. Bu guru dan teman2nya membujuk supaya mau masuk ke kelas tapi dia tetap tidak mau, akhirnya saya temani dia masuk kelas, kemudian jam belajar dimulai dengan latihan menari, awalnya dia tidak mau ikut tapi setelah dibujuk ibu guru akhirnya dia mau ikutan juga dan kemudian saya tinggal berangkat kerja. Dia baik2 saja. Tetapi hari ini dia absent lagi, saya dengar dia bilang ke neneknya “perutnya sakit”.

Sebagai info ibu sandra, anak saya juga merasa “perutnya sakit” setiap kali dia naik taxi, tetapi dia baik2 saja kalau naik kendaraan lain (mobil pribadi, motor atau angkot). Setiap masuk taxi perutnya langsung sakit dan minta diusap2, tetapi kalau diajak ngobrol atau menyanyi atau lainnya dia akan lupa sakit perutnya itu. Saya merasa aneh dengan hal itu. Sepertinya sekarang merambat ke keinginan sekolahnya. Saya pikir “sakit perutnya” itu hanya perasaan dia saja, hanya saya tidak mengerti apa penyebabnya.

Mohon pencerahan dari ibu sandra karena sebenarnya saya tidak mau memaksa anak saya untuk sekolah, saya mau dia melakukannya dengan senang hari, toh usia dia juga masih dibawah 5tahun yang memang seharusnya masih asyik bermain2.

Terima kasih ibu.

Salam

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 18 March 2011

Halo ibu Nona Marini,

Ibu, setiap perilaku yang ditunjukkan anak kita memiliki arti dibalik perilaku itu. Jadi dibalik sakit perut yang dikeluhkan oleh anak ibu, juga memiliki isyarat dibaliknya. Termasuk sakit perut jika naik taxi padahal kalo naik mobil pribadi, tidak ada masalah. Ada kemungkinan, si kecil punya pengalaman tidak enak ketika naik taxi misal mabuk karena sopir nyetirnya kurang enak, atau mendengar bahwa ada beberapa taxi berbahaya untuk dinaiki.

Demikian pula, dengan sekolah, pengalaman yang tidak menyenangkan mungkin bisa menjadi penyebab dari mogoknya si kecil. Mulai dari pengalaman dipukul teman (yang paling jelas dan terlihat) hingga tuntutan dari guru ataupun kita sendiri (yang paling tidak kentara tapi paling dirasakan oleh anak). Ada pengalaman dari teman yang anaknya mogok sekolah disebabkan oleh gantinya guru pengajar dikelasnya. Guru yang baru kurang mampu memahami si anak dan berbicara dengan bahasa yang kurang sesuai dengan karakter anak. Si anak sendiri adalah tipe perfeksionis yang tidak suka diperintah tapi suka dirayu dengan halus. Alhasil, ketidakcocokan cara menangani karakter si anak ini yang menyebabkan anak stres dan akhirnya tidak mau sekolah.

Ada juga karena adanya perubahan di rumah menyebabkan anak tidak nyaman misal ayah pindah kerja atau pun malahan berkumpul kembali serumah setelah sekian lama terpisah karena pekerjaan. Perubahan ini bisa menyebabkan si kecil tertekan.
Atau bisa jadi karena si kecil meminta perhatian kita karena tangki cintanya kosong. Jadi dengan tidak sekolah, dia bisa membuat bingung ibunya atau ayahnya sehingga akhirnya ia mendapatkan perhatian (walau negatif).

Mungkin di kasus ibu memiliki penyebab yang berbeda, apapun itu perlu dicari dan dicermati. Karena dibalik perilaku yang nampak dalam diri anak, ada perasaan dan maksud, hanya saja ia memiliki keterbatasan untuk menyampaikan maksud dan perasaannya dalam bahasa yang dimengerti.

Salam hangat untuk keluarga ibu Nona Marini

vivi 12 July 2011

dear , bu sandra ..

Salam kenal u/ bu sandra & bunda2 lain ..
Saya ibu beranak 1 bernama nathan(2,7tahun) , awal nya saya ingin sekolahin dia kelas kelompok bermain , krn nathan anak yg hiperaktif dan ga takut bergaul dgn siapa saja, tapi kalau saya tanya ”nathan sekolah yuk, nanti kan bisa maen sama tmn2 trus ada prosotan” tp dia jawab ”ga mau maahh” dgn nada yg memelas, tp saya pikir apa krn dia masih belom niat sekolah / belum ngerti,karna dia tiap minggu ikut sekolah minggu (gerejaa dgn tmn sebaya) dia berbaur & hepi tapi sering belum nya wkt pulang nathan selalu minta keluar dan ngajak jalan2.. Jd pikir saya karna kasihan anak klo saya cuma mau ikutin mau nya saya u/ melihat lucu nya dia sekolah tapi anaknya sendiri ga nyaman ,,

tapi kalau di perhatiin , di dekat rumah kan ada skul KB & TK yg di pagarnya itu ada gambar karakter2 hewan , kalau lewat sana , pasti nathan selalu berhenti dan seperti mengajari saya contoh nathan berkata ”ini apa?ini gajah maa”dan seterusnya sampe hewan2 nya habis dia sebutkan.. ^^

& saya mau tanya pendapat ke bu sandra , sbnrnya saya jg mase bingung , saya punya pertimbangan 2 skul ,
skul yg Pertama (yg nathan suka berhenti untuk memperkenalkan nama2 hewan) : termasuk KB & TK yg baik secara conversition, krn bahasa yg di pergunakan sehari2 bhs. Inggris setara nasional +, tp minusnya adl anak2 sama sekali tidak di ajarkan berdoa saat msk sekolah , makan, maupun pulang sekolah ..

Sekolah yang ke 2 :
ini sekolah karna berhubung sekolah + gereja, otomatis ajaran agamanya lebih terfokus, & sekolahnya tidak bertingkat nasional +, tp masih ada pelajaran bhs inggris di hari2 tertentu..

lebih baik saya memilih yg mana ya bu sandra?
Thx atas perhatian nya .. Salam kasih u/ semua .. GBU .. ^^

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 14 July 2011

Halo ibu Vivi yang sedang bingung,

Sekolah yang mana yang cocok untuk anak ?
1. Sekolah yang dapat membuat anak merasa nyaman dan kerasan.

Sekolah favorit perlu diperhatikan favorit menurut siapa ?
Kebanyakan sekolah favorit adalah sekolah yang disukai oleh orangtua karena banyak memberi PR, banyak menghukum anak, dan banyak Ulangan setiap hari. Sayangnya, sekolah jenis ini hanya baik di satu sisi tapi tidak memperhatikan sisi yang lain yaitu rasa senang anak untuk bersekolah dan mempelajari segala hal yang disediakan.

Rasa nyaman dan kerasan merupakan rasa yang harus ada agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar tanpa rasa ini, proses belajar hanyalah akan menjadi proses pemaksaan bagi anak.

Jadi sekolah mana yang baik untuk anak ? Tanyakan kepada buah hati ibu, ia suka sekolah yang mana.

Selamat bertanya ibu Vivi

hadi 18 August 2011

Dear,Bu Sandra
Saya mempunyai seorang anak perempuan berusia 2 th 3bln yg sedang mogok sekolah. namanya josephine.Perlu diketahui josephine sudah bersekolah sejak usia 14 bln dan semuanya baik2 saja meskipun masih ditungguin. skrg josephine sudah duduk di kelas PG1. Awalnya pada minggu2 pertama dia baik2 saja dan sudah tidak ditungguin lagi. Tp minggu berikutnya hingga sekarang dia mogok sekolah. Di sekolah dia happy, asyik bermain tp setelah mau masuk kelas dia lari mau pulang dan mogok tidak mau masuk kelas. Tp meskipun begitu dia tetap dipaksa masuk tanpa didampingi saya orang tuanya. Tp anehnya setelah menangis dan masuk kelas dia bisa beraktivitas di kelas dg baik. Diminta gurunya menyanyi, diberi pertanyaan maupun disuruh menulis dia dpt melakukan dg baik. bahkan jika dia keluar utk kencing di kamar mandi dia bisa masuk kembali ke kelas tanpa acara menangis. Jd dia hanya mogok masuk kelas pada awalnya saja. Selebihnya dia baik2 saja bahkan setelah usai sekolah dia nggak mau diajak pulang ingin main di sekolah. Sudah pernah saya tanyakan kenapa mogok sklh? tp tidak ada jawaban yang jelas. dia hanya senyum2 ketika disinggung masalah tersebut. Saya jd bingung apa yg hrs saya lakukan supaya dia tidak nangis lg ketika masuk kelas. Hanya saja dia pernah bilang nggak mau sekolah modelling. Saat ini dia jg sekolah modelling. pertemuan 1 dan kedua sekolah modelling dia nangis terus. setelah itu dia libur sekolah modelling 1 minggu dan saat yg bersamaan itu jg dia jg mogok sekolah tp kalo ditanya mau ke sekolah. dia mau hanya saja begitu di dpn kelas dia nangis. dan di sekolah modelling dia bener2 nggak mau masuk kelas. di sklh modelling jg tidak boleh ditemenin. Saya minta sarannya bu…saya bingung dengan perilaku anak saya. apakah mogok sekolahnya karena imbas dr sekolah modelling atau karna sebab yg lainnya.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 24 August 2011

Pak Hadi,

Tampaknya ada kemungkinan Josephine mengasosiasikan situasi masuk kelas di sekolah modelling dengan sekolah formalnya. Ketidaknyamanan di sekolah modelling terbawa ke sekolah formalnya.

Untuk sekolah formalnya, dia sebenarnya merasa nyaman ketika sudah beraktivitas. namun, proses masuk ke kelas, mengingatkan ia pada sesuatu yang tidak nyaman. Mohon, bapak amati adakah kesamaan proses masuk kelas antara kelas sekolah modelling dan sekolah formalnya ?

Jika sudah ditemukan hal yang membuat Josephine enggan masuk kelas maka sementara waktu proses itu dihilangkan dulu. Misalnya (sesuaikan dengan kondisi kelas dan sekolah) : Jika masuk kelas anak-anak dibiasakan untuk berbaris maka diubah setelah bermain di taman bermain, anak-anak diminta untuk membentuk kereta api. Ceritakan bahwa kereta api akan berjalan-jalan kemudian masuk ke stasiun untuk menurunkan penumpang. Keliling keliling dulu di taman bermain kemudian masuk kelas yang diasosiasikan dengan stasiun.

Cara lainnya adalah menceritakan kegiatan yang akan dilakukan di dalam kelas sejak anak bermain di taman bermain. Biarkan anak mendengarkan dan kemudian tertarik untuk masuk di dalam kelas.

Cara lainnya adalah minta anak untuk membantu guru mempersiapkan kelas sebelum teman-temannya masuk kelas. Jadi anak masuk dulu baru kemudian teman-temannya menyusul.

Proses berpikir anak sangat sederhana : hindari hal yang tidak nyaman dan mudah sekali mengkaitkan satu situasi dengan situasi lainnya yang mirip.

Saya tunggu info selanjutnya, pak Hadi.

Salam,
Sandra Mungliandi

hadi wijaya 27 August 2011

Bu Sandra,
Terima kasih atas sarannya. Memang sih untuk proses masuk ke kelas emang sama sih. hanya saja ketika di sekolah formal sebelum masuk kelas dia bermain di halaman sekolah. main kolam bola,dll. Dia enjoy2 saja main dgn temannya. Tapi ketika mulai masuk kelas. saya bilang ayo masuk kelas dulu,dia lgsg saja nggak mau sekolah mau pulang. Selama ini yg mengantar sekolah mamanya dan pengasuhnya. Tp setelah sekian lama menangis terus,disarankan yg mengantar ke sklh hanya pengasuhnya saja karena menurut gurunya dia manja dg mamanya. kalo yg antar mamanys dia lgsg minta keluar sklh. tp kalo pengasuhnya aja dia hanya bilang nda mau sklh tp tdk berani keluar dr lingk sklh. Dan yg terakhir kali sklh dia tetap menangis di luar kelas. Setelah itu gurunya meminta pengasuhnya untuk menjauh dr anak saya dan gurunya yg mengajak masuk ke kelas dan ternyata dia hanya menangis sebentar setelah diajak masuk dia sama sekali tidak menangis. Tp setelah dia tahu ternyata mamanya sudah menjemputnya di akhir jam sekolah dia lgsg memanggil2 mamanya dan mulai rewel. Dan kalo lagi jelek moodnya di dlm kelas dia minta pangku atau minta gendong sams gurunya, Dan perlu diketahui memang gurunya sangat sayang sama anak saya. Kadang di dlm kelas saya lihat dibanding dg temannya anak saya cenderung dimanja dg gurunya sehingga anak saya menganggap gurunya seperti temannya sendiri. Yg saya lihat dlm minggu2 terakhir ini dia menjadi sangat temperamen. kalo sudah menangis sulit sekali berhenti dan tangisannya menjerit histeris dan kami ortunya biasanya kami diamkan sampai dia berhenti sendiri dan meminta maaf kalo dia merasa salah. lalu kalo dia dihadapkan pd situasi yg byk orang di lingk tertutup seperti contohnya kmrn dia ada kegiatan sklh ke tugu pahlawan. disana yg dtg satu sklh dia ada anak pg sampe tk dan itu semua cabang sekolahnya. temannya baru semua dan byk ortu jg yg mengantar jd memang ramai sekali dia takut dan nempel terus dgn gurunya yg dia kenal. pdhl sebelumnya dia cenderung berani. Saya dan istri sampai bingung kalo berubah jd penakut kenapa kok perubahannya sangat drastis. Pdhl kalo ada ortunya dia enjoy2 aja melakukan apapun. Bahkan kalo ketemu anak sebayanya di mall dia yg ajak kenalan dulu. Selain itu perubahan yg dialami lg seperti kalo marah dia cenderung memukul org yg buat dia marah bahkan sampai melempar barang. itu jg terjadi baru baru ini. Kami bingung kenapa anak kami jd berubah seperti ini pdhl tidak ada perubahan yg signifkan di dlm rumah. Apakah memang anak seumuran dia sedang masanya seperti itu atau memang ada yg menyebabkan dia seperti itu. Saya minta sarannya bu, bagaimana menghadapi anak ini. Yg saya tahu sebenarnya anak ini cenderung anak yg ramah tp kalo sudah marah sangat temperamen. Saya tunggu sarannya ya bu….

ancy 5 September 2011

salam kenal
anak saya laki-laki umur 4,6 tahun.. sudah hampir 2 bulan masuk sekolah TK. Waktu minggu pertama sekolah dia baik-baik saja, bahkan tidak rewel sama sekali. tetapi akhir-akhir ini dia tidak mau ditinggal meskipun sudah masuk di kelas, akibatnya bapaknya yang terpaksa menjaganya setiap hari (saya dinas di luar kota). Kami bingung harus bagaimana memperlakukannya agar dia tenang ditinggal belajar dan bermain di sekolah. Pernah sekali bapaknya tinggalkan tapi ternyata dia menangis sampai muntah-muntah di sekolah. Semenjak itu tidak pernah lagi ditinggal. Apa yang harus kami laukan, karena bapaknya juga harus mengerjakan pekerjaannya … Terimakasih saran dan petunjuknya

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 8 September 2011

Halo pak Hadi,

Maaf agak lama balasnya. Akses internet kurang ramah selama lebaran.

Pak Hadi :
Tp setelah sekian lama menangis terus,disarankan yg mengantar ke sklh hanya pengasuhnya saja karena menurut gurunya dia manja dg mamanya.

Saya :
Apakah istri bapak bekerja ?
Menurut bapak, apakah istri bapak tipe ibu yang mudah kasihan sama anak ?

pak hadi :
Yg saya lihat dlm minggu2 terakhir ini dia menjadi sangat temperamen. kalo sudah menangis sulit sekali berhenti dan tangisannya menjerit histeris dan kami ortunya biasanya kami diamkan sampai dia berhenti sendiri

saya:
sudah benar. anak memang perlu diberi kesempatan untuk mengeluarkan emosinya, bisa dalam bentuk tangisan.
Nah… setelah berhenti, kita yang perlu bertanya kepada dia. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yes no question. Bukan “Mengapa !”
misal : Josephine marah ya ? karena mama melarang Josephine keluar rumah ?
Josephine kecewa ya ? karena papa tidak mau membelikan Josephine balon itu ?
Josephine boleh kok marah/kecewa/sedih.
(kalau kita yang salah) Maaf ya mama melarang Josephine keluar rumah. Ini sudah malam, mama khawatir kalau Josephine main diluar. Kalau mau main diluar, Josephine boleh lakukan waktu pagi hari.

bapak :
temannya baru semua dan byk ortu jg yg mengantar jd memang ramai sekali dia takut dan nempel terus dgn gurunya yg dia kenal. pdhl sebelumnya dia cenderung berani.

saya :
siapa saja akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Dan ini adalah pengalaman pertama Josephine berkunjung ke tugu pahlawan. Mungkin saja situasi, bau lingkungan, pencahayaan di sana kurang membuat nyaman Josephine.
Jadi, jika anak menunjukkan perilaku kurang aman, biarkan saja. Biarkan disini adalah memberi kebebasan pada anak untuk memutuskan kapan dia merasa safe dan nyaman di tempat baru.
Selama dia belum merasa nyaman dan aman, temani dulu sampai dia memutuskan untuk keluar dari perlindungannya.
Kebanyakan orangtua adalah memaksa anak untuk segera lepas. “sana gak papa, main sama teman-teman ” terus membandingkan dengan temannya “Lihat si A itu berani. Masak kamu gak berani”. Ini adalah hal yang tabu.
Rasa aman adalah sebuah keputusan bukan perasaan dibuat. Jadi kalau anak merasa aman pasti dia akan lepas dengan sendirinya.

Bahkan kalo ketemu anak sebayanya di mall dia yg ajak kenalan dulu.

saya :
situasi mall adalah situasi sudah ia kenal sejak bayi (karena pasti sudah sering diajak jalan ke mall). Jadi bagi josephine ini bukan situasi baru lagi.

pak Hadi :
Selain itu perubahan yg dialami lg seperti kalo marah dia cenderung memukul org yg buat dia marah bahkan sampai melempar barang.

saya :
Nah ini yang tidak boleh.
Josephine boleh marah, boleh merasa kecewa, boleh merasa takut karena ini adalah bagian dari diri manusia.
Nah… yang perlu diajarkan kepada Josephine adalah bagaimana cara marah, cara kecewa, cara takut yang tepat.
Jika Josephine marah dengan cara yang tidak adaptif. Bapak perlu menjelaskan pada Josephine “Papa tidak suka kalau Josephine memukul/melempar barang kalau marah. Dipukul itu sakit. Papa jadi sedih kalau Josephine memukul/melempar”

Bapak :
Apakah memang anak seumuran dia sedang masanya seperti itu atau memang ada yg menyebabkan dia seperti itu.

saya :
Apa yang terjadi dalam diri Josephine adalah proses. Sekarang Josephine sedang belajar mengenal rasa marah dan ragam melampiaskannya. Tugas kita mengajarkan pada Josephine bagaimana memanage perasaan dan melampiaskan dengan cara yang benar.
Kebanyakan orangtua justru mengajarkan cara meredam rasa marah “Sudah gitu aja kok nangis / kok marah”. Justru ini salah. Emosi adalah hal yang wajar. Menjadi tidak wajar jika tidak diakui adanya emosi itu.

Apalagi kalau memang pada dasarnya Josephine adalah anak yang ramah. Jadi emosi negatif yang muncul ini adalah bagian dari proses pembelajaran Josephine.

Orang dewasa saja kan tidak bisa 24 jam ramah terus… ada masanya dia akan memiliki emosi negatif.
Ini adalah saat yang tepat untuk mengajarkan Josephine mengenai ragam perasaan positif dan negatif yang ada dalam diri Josephine.

Salam