Phone : 031-71559997, 031-5941439
SMS : 0819807601 (Jam Kerja)
Email : cs@sekolahorangtua.com
Posted by
“Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
“Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
“Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.
Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun - saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !
Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?
Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.
Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :
Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang ingin dilindungi di rumah
Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III. Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah satu dari kedua orangtuanya.
Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.
Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS atau yang lainnya
Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.
Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah, penyebab yang satu ini jarang terjadi.
Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak menjadi takut sekolah
Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.
Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.
Perasaan kurang disayang dalam diri anak
Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ? Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam seminar dari Bapak Ariesandi.
Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya seperti ibu memperhatikan adik baru.
Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.
Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah ?
Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi permasalahan.
Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.
Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman emosional tersebut sangat kita butuhkan.
Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia menjadi lebih baik lagi.
Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga
Sandra M.,MPsi, Psikolog (Partner Konselor SekolahOrangtua.com)
Dear…
saya sangat berterima kasih dengan adanya artikel tentang school refusal saya jadi faham mengapa anak saya yang berumur 3 tahun tidak mau sekolah. Setelah ditanya, anak saya tidak mau sekolah karena katanya ‘ga nyambung’ entah dengan gurunya entah juga dengan temannya. dia juga mengatakan bahwa sekolahnya tidak mempunyai ’srodotan’ (papan luncur) yang bagus. apakah memang anak sekecil itu sudah bisa membandingkan ya pak?
sekarang saya tau bahwa memang kepentingan dan kenyamanan anak adalah yang paling utama.
terima kasih
Thanks bu SandRa,masukan buat saya agar saya lebih bisa memahami anak2 PG saya pada awal tahun ajaran ataupun setelah libur panjang…ditunggu artikel berikutnya…
Ibu guru Aningati yang saya hormati,
Saya senang sekali jika ada guru yang mau belajar tentang pendidikan anak seperti ibu. Terus belajar ya bu… jasa baik ibu pasti akan dibalas oleh Yang Diatas dan dikenang oleh murid + orangtuanya.
Salam hangat penuh cinta untuk keluarga Anda.
artikel yang menarik dan berguna tentunya…
anak saya, Farhan (5,5 th) juga sering mogok sekolah. Saya tahu alasannya, dia bosan karena di sekolahnya , kls B sekarang anak-anak diforsir untuk memperdalam calistung. Farhan sudah bisa dan merasa bosan, kadang-kadang dia mengganggu temannya. Saya sendiri tidak pernah memaksakan anak saya pergi sekolah. Kalau sedang jenuh, Farhan kan bisa belajar di rumah dengan bundanya seperti saran bu Sandra…
Ibu Rahmi Alia Asri yang baik,
Jika anak bosan di sekolah karena pelajaran yang disajikan telah dikuasai oleh anak, ada baiknya ibu berdiskusi dengan gurunya supaya anak ibu diberi tugas tambahan atau materi yang lebih sulit. Hal ini perlu dilakukan jika ibu telah berkomitmen dengan suami untuk menyekolahkan anak. Namun jika memang ingin memberikan pelajaran di rumah maka ikutilah kurikulum home schooling. Pilihannya tergantung pada komitmen awal. Jika tidak konsisten, akan membingungkan anak ibu dan yang lebih parah lagi, kemungkinan ia dapat berpikir bahwa tiap komitmen dapat tidak dipenuhi jika tidak sesuai dengan keadaan.
Salam hangat penuh cinta untuk keluarga Anda.
Sandra
berbicara tentang masalah ini terus terang saya punya kekhawatiran, sekolah sekarang menjadi suatu ‘beban’, betapa tidak, anak pada dasarnya senang bermain, waktu saya masih di tk (frobel) 58 tahun yang lalu, saya tidak pernah memperoleh pelajaran calistung, bahkan waktu saya kelas 1 SR, maka saya mendapat pelajaran mengeja. saat ini anak tk sudah dapat pelajaran (kognitif). maka sebagai dosen saya menemukan banyak mahasiswa saya sudah mengalami ‘burn-out’. ada sesuatu yang salah, anak-anak menurut pendapat saya sekolah untuk belajar bersosialisasi (afektif), maka pelajaran yang bersifat kognitif sungguh saya ragukan efektifitasnya
Dear Pak StanisNugroho dan para orangtua Indonesia,
satu hal perlu menjadi wacana kita semua di Finlandia – negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia – mengajarkan baca tulis untuk pertama kalinya ketika anak berumur 7 tahun. Sebelum itu hanya ada stimulasi. Stimulasi tidak menekankan seorang anak harus bisa. stimulasi lebih dititik beratkan pada pengenalan saja dan memberikan kesempatan pada murid untuk eksplorasi.
Beda dengan sekarang ini murid ditekan harus bisa dan diniliai melalui serangkaian ulangan. Ini membuat murid2 TK tertekan. Pada waktu saya TK tidak mengenal adanya ulangan yang saya ingat hanyalah bermain dan bermain dan bermain.
Semoga ini menjadikan kita semua menyadari karena lembaga TK seperti ini juga karena permintaan para orangtua – para orangtua senang kalau anaknya yang sudah TK bisa menghitung perkalian dan membaca koran! Mereka lupa dalam perkembangan anak ada prioritas. Baca tulis hitung memang penting tapi ketika seorang anak berusia 3 – 5 tahun itu bukanlah prioritas pertama. Prioritas pertama adalah meletakkan pondasi sikap mental positif dan cara berpikir yang benar melalui serangkaian pengalaman menyenangkan yang membangun harga diri Anak.
Semoga ini menyadarkan kita semua …
Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga
ariesandi
Salut dan terima kasih untuk ibu Sandra M.,MPsi, Psikolog, atas artikel yang sangat menarik dan berguna untuk kami para ortu yang anaknya akan sekolah baik PG/TK.
Sekali lagi terima kasih..
artikel yang sangat menarik sekali bagi saya.saya punya persoalan dengan anak saya, ia kalau disuruh belajar malesnya minta ampun alasannya banyak sekali, ngantuk, capek, pelajarannya susah, pokoknya ada aja.saya jadi binggung menghadapinya. ia mau juga sih diajak belajar tapi asal-asalan, ndak mau serius gitu,lalu apa yang mesti saya perbuat? mohon jawabannya.terima kasih.
Halo Bapak Hidayat.
Anak menjadi malas belajar tentunya disebabkan suka dan tidak sukanya dia terhadap sesuatu, misalnya dia tidak suka dengan pelajarannya, dia tidak suka dengan gurunya. Jika anak suka pasti, ia akan mengerjakan dengan senang hati. Tampaknya, bapak perlu mencari tahu penyebab dia menjadi malas. Ajak dia untuk berbicara dan berdiskusi mengenai penyebab dia merasa malas. Setelah itu ajak dia untuk mencari solusinya. Terkadang, solusi yang ditawarkan oleh anak tidak dapat kita duga lo. Namun sangat efektif untuk mendongkrak motivasi. Atau bapak bisa lakukan hal-hal yang tidak diduga oleh anak misalnya “Ok.. kamu sedang tidak ingin belajar, kalau begitu tutup bukunya. Papa percaya kalau kamu sudah lebih happy kamu akan belajar dengan lebih cepat dan mudah”. Kemudian ajak dia refreshing bersama atau main bersama.
Jika bapak ingin tahu lebih detil, bapak bisa memesan DVD Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar.
Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga.
Sandra Mungliandi
Bu Sandra dan Pak Ariesandi,
artikel anda menarik. Anak kami berusia 9.5 thn / kelas 4 dan sekarang sedang sulit2-nya belajar dan menyerap pelajaran. Entah kenapa sekarang nilai akademisnya cenderung menurun, sedang untuk pelajaran seni musik dia tergolong tertinggi. Memang hobinya adalah musik, tapi kadang2 juga tergantung mood. Anak kami didiagnosa mengalami kondisi ADHD dan sedang dalam perawatan (sudah berjalan 1.5 bulan), apakah kondisi ini juga menyebabkan hal ini terjadi? Bagaimana cara mengatasinya, sementara anaknya tidak mau pindah sekolah (mungkin sekolah sekarang kompetensi-nya cukup tinggi), karena kalau kami (orang tua) sudah kelelahan kadang emosi bisa tersulut juga.
Mohon informasi bagaimana caranya mendapatkan DVD Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar
Terimakasih.
selamat malam ibu,
saya mau menanyakan bagaimana menghadapi anak yang mau sekolah asal minta sesuatu dan harus diturutin,mintany kadang nggak wajar dan memaksa klo tidak diturutin dia akan mengamuk sejadi jadinya,aduh saya sangat bingung menghadapiny,tolong beri saran untuk saya terima kasih
Halo pak Riyantono,
Anak bapak memiliki perilaku demikian, tampaknya sudah dibiasakan sejak kecil. Yang perlu bapak lakukan adalah memutuskan pola yang biasanya ia mainkan. Jadi yang dapat bapak lakukan adalah mengajaknya bicara bahwa bapak tidak menyukai caranya dalam meminta suatu benda, ancamannya untuk mendapatkan barang yang ia inginkan untuk mau sekolah dan penyebab ia tidak suka sekolah. Untuk tugas-tugasnya yang sudah memang kewajibannya misal sekolah, makan, minum, mandi, anak tidak perlu diberikan hadiah. Tegaskan pada anak bahwa bapak tidak akan menuruti lagi keinginannya jika ia meminta dengan cara yang tidak benar. terakhir, katakan bahwa bapak mencintainya dan rasa cinta itu dilakukan dengan cara bapak bersikap tegas padanya.
Setelah itu, bapak dan istri bapak harus konsisten menjalankannya. jika anak kembali pada pola lama : meminta dengan paksa, bapak perlu mengabaikannya saja. Untuk itu, bapak dan ibu perlu memiliki keteguhan hati dan ketegasan pada anak bapak. Katakan bahwa anda tidak akan memenuhi permintaannya dan anak diperbolehkan menangis sampai puas, setelah selesai marah/nangisnya, bapak atau ibu akan bicara dengannya.
setelah anak puas melampiaskan kekesalannya dengan tangisan atau perilaku “mencak-mencaknya”, ajak anak bicara.
Yang perlu bapak ketahui adalah perilaku yang sedang anak bapak lakukan adalah perilaku wajar jika dilakukan oleh anak usia 2 tahun. itu merupakan tahapan perkembangan yang memang harus ia lalui. sikap orangtua yang tegas dan konsisten akan membantu anak untuk mengurangi perilaku memaksa seperti itu.
perilaku ini menjadi tidak wajar jika dilakukan oleh anak usia 7 tahun ke atas. Jika bapak sudah bersikap konsisten dan tegas namun anak bapak masih berperilaku demikian, saya sarankan pada bapak untuk meminta bantuan ahli yang terdekat di rumah bapak misalnya psikolog anak.
Sikap konsisten dan tegas bapak akan menentukan masa depan anak bapak. Jika bapak berkenan, bapak bisa membaca artikel di website ini tentang gaya pengasuhan.
Selamat mencoba.
Sore, bapak Riyantono,
MEnyambung dari email terakhir, bapak bisa membaca salah satu artikel kami yang berjudul “Mengatasi ledakan emosi anak” by bapak Hianoto. Di dalamnya, dijelaskan penyebab emosi anak dapat meledak dan bagaimana cara kita untuk mengatasinya.
JIka bapak membutuhkan penjelasan lebih detil lagi, bapak bisa memesan VCD/DVD pada customer service. Tema-tema mengenai mengatasi emosi negatif yang dapat diatasi dari kedua belah pihak, orangtua dan anak. Untuk lebih detil, bapak bisa meng-klik pada kategori “product” yang ada pada bagian atas website ini.
Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga
Ibu Sandra YSK (Yang Saya Kagumi)….
saya punya 2 anak lelaki 8 dan 5 tahun. anak pertama sejak kecil antusias sekali kalo pergi sekolah sampe-sampe umur 5 tahun dia minta sendiri masuk ke SD, karena sudah bosan di TK dan memang sudah lancar calistung. sekarang sudah kelas 3 dan masih termasuk 10 besar dikelasnya. Lain dengan si adik, sekarang umur 5 tahun masih TK kecil dan sepertinya dia kalo didalam kelas tidak menikmati. Bila gurunya sedang mengajar sambil duduk melingkar dikarpet, anak saya asyik main sendiri, entah balok bersusun atau apa saja permainan yang ada didalam kelas. sering keluar kelas. emosinya juga sangat tinggi, gampang marah. untuk berhitung sudah sangat lancar termasuk penambahan 1 sampe4 (dulunya ikut kumon tp sudah 8 bulan ini berhenti karena sy lihat mulai bosan). huruf-huruf jg sudah hafal, tinggal membaca aja yang belum lancar. belakangan karena suka nakalin temannya (sebenarnya bukan tipe penyerang, tapi kalo temannya mendahului, anak saya membalasnya dengan sangat agresif) akhirnya saya liburkan sekolahnya selama seminggu ini. saya sempat berfikir apakah anak saya memang tidak cocok dg pola pendidikan yang ada di TKnya skrg ini? tapi kenapa anak-anak yang lain nurut dan tampak menikmatinya? saya sempat ke psykolog (baru wawancara dan menggambar, blm sempat ditest secara detail)dan disarankan agar anak saya dimasukkan ke sekolah alam saja. tapi dimana ya? saya tinggal dilembang jl. maribaya. sempat nyari juga tapi yang saya tau adanya didaerah dago, gak kebayang deh macetnya tiap hari antar jemputnya. ada juga dekat rumah (3KM) TK islam terpadu (full day) tapi tempatnya lebih kecil dari TK sebelumnya. sebenarnya saya tertarik dg Tk ini karena anak saya disitu pasti dpt sekalian belajar mengaji. mohon sarannya ya? anak saya dirumah saya ajari membaca sebentar-sebentar aja.
Selamat pagi Ibu Uty,
Terima kasih untuk pujiannya, sampai-sampai helm saya tidak muat untuk kepala saya yang agak membesar neh… hehehe…
Anak kedua biasanya memiliki kecenderungan untuk berperilaku yang berbeda dengan kakaknya. Ada beberapa penyebab dari perilaku yang berbeda ini yaitu anak kedua tidak ingin disamakan dengan kakaknya (ia ingin menjadi individu yang berbeda) dan perlakuan lingkungan yang secara tidak langsung mengharapkan anak kedua supaya berperilaku sama dengan kakaknya. Banyak orangtua yang secara tidak sadar mengatakan demikian,”Coba contoh kakak/adikmu. Liat dia bisa makan sendiri/belajar sendiri/ tidak cengeng kaya kamu.” Walaupun maksudnya baik namun cara yang dilakukan adalah salah.
Untuk anak ibu, penerimaan bahwa adik adalah individu yang berbeda dengan kakak adalah penting buat adik. Tetap berikan perhatian dan perlakuan yang sesuai dengan karakter masing-masing. Ada anak yang bahasa cintanya senang diajak bermain bersama, ada anak yang bahasa cintanya suka dipeluk, ada anak yang bahasa cintanya senang diajak jalan-jalan. Ibu perlu proaktif untuk mengisi tangki cinta kakak dan adik.
Mengenai sekolah TK apakah sudah cocok atau belum, ibu bisa menggunakan insting ibu. Ibu yang paham mengenai karakter adik dan suasana di sekolah. Apabila saya baca dari email ibu, tampaknya belum ada masalah yang berat antara adik dengan sekolah.
Penerimaan apa adanya dari ibu akan sangat membantu kedua jagoan ibu untuk menapaki jalan masa depannya.
Selamat mencoba.
alhamdulillah….. selama hampir tiga minggu ini saya pegang anak nomer dua nyaris 24jam….. sebelumnya kalo sekolah si adik diantar saya tapi ditunggu oleh pembantu. untuk urusan mandi pagi dan sore, juga belajar dan mengantar tidur mereka selalu dengan saya. urusan anak, pembantu cuma nyuapin siadik, kakak sudah makan sendiri. selama ini saya tidak menunggui di Tk karena saya juga berbagi mengecek kakaknya yang di SD sekaligus mengantar makanan/ snack pada waktu kakaknya istirahat, lalu setelah usai bel masuk, saya jemput si adik ke TK. saya praktekkan untuk mengisi tangki cinta buat si adik… dan perilakunya mulai nyata terlihat berubah kearah yang positif, termasuk adik dan kakak saya yang tinggal sekomplek dg saya juga merasakan perubahan itu. sekarang kalo main bersama sepupu2nya tidak gampang marah, malah pernah mereka bermain sampai 4 jam tanpa diwarnai pertengkaran. pada kesempatan lain masih ada marahnya sih…. tapi tidak brutal seperti sebelum ini. dan disekolah dia sudah mulai terlihat nyaman….. mau mengikuti kegiatan yang diselenggarakan guru dan tidak sering2 keluar kelas lagi. mungkin selama ini si adik merasa bahwa porsi cinta saya kepadanya masih kurang, padahal menurut saya sudah sama antara adik dengan kakak. Terima kasih banyak ya bu Sandra… semoga Tuhan (Alloh SWT) membalas kebaikan Ibu dengan rahmat kesehatan, kebahagiaan dan kesejahteraan untuk Ibu sekeluarga. jangan bosan kalo saya bakal sering menyurati Ibu. wassalam…..
Selamat sore ibu Uty ISA (Ibu Sayang Anak)
Syukurlah dengan keberhasilah ibu. Saya juga ikut senang dengan usaha dan hasil yang ibu capai.
Terima kasih sudah berbagi bersama kami, para orangtua pembelajar.
Saya akan selalu terbuka untuk berbagi pengetahuan yang saya miliki. Saya tunggu email berikutnya.
Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.
Selamat Pagi Ibu Sandra,
Saya ingin konsultasi tentang masalah anak saya, Natasya, sudah sejak 25 Maret 2009 yl, Tasya ‘mogok’ sekolah. 1-2 hari pertama alasannya sakit perut, setelah dibawa ke dokter dan sembuh tetap tidak mau sekolah, tanpa alasan yang jelas.
Sebenarnya kejadian ‘mogok’ sekolah ini pernah terjadi tahun 2006, pada saat kelas 3. Tasya hanya mau pergi ke sekolah jika ditemani dan duduk bersebelahan di kelas. Pihak sekolah mengijinkan, sampai akhirnya naik kelas 4. Setelah kelas 4, dengan teman2 baru ternyata Tasya masih tidak mau sekolah. Akhirnya pada bulan Desember 2007 Tasya mengikuti home schooling, seminggu 3 kali pergi ke sekolah.
Pada tahun ajaran baru Juli 2008, Tasya mau kembali di sekolah lama, dan mengulang kembali untuk kelas 4. Kegitan di sekolah diikuti secara normal sampai tiba2 minggu lalu Tasya tidak mau ke sekolah. Dan kalau ditanya kenapa, selalu diam.
Dari hasil pengamatan bersama Ibu guru dan teman-temannya di sekolah, nampaknya Tasya merasa ’sebal’ dengan teman nya yang duduk disebelah belakang, ada 2 orang anak pria. Tasya merasa ’sebal’, karena pernah suatu waktu teman dekat Tasya, Fafa diganggu oleh anak tsb, dan Tasya membelanya, kemudian anak tsb balik menegur Tasya, kenapa ikut campur.
Kemudian secara tidak sengaja ada tugas kelompok dari salah seorang guru yang mengelompokkan Tasya dengan 2 anak yang dia ’sebal’ tsb. Tugas tsb adalah menyanyi ke depan kelas. Mungkin ini salah satu yang menyebabkan Tasya ’mogok’ sekolah.
Ibu guru wali kelas dan guru yang memberi tugas tsb sudah memberi tahu Tasya secara langsung tentang perubahan kelompok dan juga akan merubah tempat duduk Tasya. Tetapi hal ini belum bisa membuat Tasya berangkat sekolah.
Bila sore hari pada kesempatan berkumpul di dalam keluarga, kita merayu agar dia mau berangkat sekolah, dia mengangguk ’ya’ dan dia masih mau belajar untuk persiapan ulangan dan mempersiapkan tugas sekolah di rumah. Tetapi masalah timbul pada pagi hari menjelang bangun tidur, Tasya menolak untuk bangun dan mandi.
Tasya, adalah dua bersaudara, dia anak ke-2, kakaknya laki2, beda 1 tahun usianya, sekolah di SD yang sama.
Mohon solusi untuk masalah anak saya tsb, terima kasih banyak sebelumnya. Salam.
Selamat sore Bapak Satrio,
Yang bapak lakukan sudah benar dengan mencari tahu penyebab Tasya tidak mau sekolah. Namun ada baiknya juga dicari perasaan yang dirasakan Tasya yang menyebabkan ia tidak mau sekolah. perasaan “sebal” pada temannya, mungkin hanya dugaan kita saja. Mungkin dengan meminta bantuan orang lain yang disukai Tasya dapat membantu Tasya untuk terbuka mengenai perasaannya dan penyebab ia tidak mau sekolah lagi.
Ada kemungkinan juga, Tasya tidak mau sekolah juga disebabkan karena sudah menjadi kebiasaan,”Ah… kalau aku tidak mau sekolah juga gak papa. toh papa mama tidak akan menghukum aku/ tidak ada konsekuensi buat aku.”
Untuk yang satu ini, bapak perlu membimbing Tasya guna lebih berani menghadapi permasalahan yang ada dalam hidupnya. Karena jika tidak, pola ini akan menjadi kebiasaan Tasya untuk selalu “quit”/lari dari tantangan yang dihadapinya.
Bapak bisa memasukkan pelajaran moral supaya tetap tegar melalui dongeng atau menunjukkan teladan sehari-hari pada Tasya misalnya tetap memenuhi kewajiban apapun walaupun terhalang suatu kendala. Ada kalanya kita menjadi tidak memenuhi suatu janji hanya dikarenakan adanya halangan. Hal-hal sepele seperti inilah yang akhirnya dipelajari oleh anak.
Selamat mencoba.
Bu Sandra dan Pak Ariesandi,
Anak saya, skarang SMA kls 2, saat sedang akan hadapi ujian, dia drop, kejadian ini sudah sering terjadi sejak ia SD, kami sdh kesana sini u/ masalah ini, pskiater maupun psikolog, analisa terakhir yg saya terima ia bipolar, pertanyaan saya :
1. bagaimana langkah tepat u/ atasi masalah ini
2. saya baca literatur tt past life terapi / hipnoterapi apakah kiranya dapt mjadi solusi u/ masalah kami?
3. klinik Bpk bisa u/ hipnoterapi / pastlife terapi ?
terima kasih
Halo bapak Hendry, Kami belum bisa berkomentar banyak mengenai diagnosis bipolar yang ditujukan pada anak bapak. Dugaan kami, ketika sedang menghadapi ujian, anak bapak mengalami tekanan luar biasa dalam dirinya sehingga menyebabkan ia mengalami perubahan pada perasaan dan perilakunya.
Banyak hal yang mungkin untuk digunakan dalam terapi dengan tujuan membantu seseorang, termasuk past life therapy.
Bapak bisa mencoba alternatif terapi ini jika memang tidak ada satupun masalah di masa sekarang yang menjadi akar masalah. Namun ada baiknya, kita menggali terlebih dahulu akar masalah dari kehidupan di masa sekarang daripada ke past life.
Kami membantu setiap klien kami untuk menyelesaikan konflik ataupun masalah emosi yang biasanya terjadi pada klien kami. Jika dalam terapi hipnosis, kami tidak menemukan akar masalah maka memang akan ada kemungkinan kami akan membawanya ke past life. Jika bapak ingin konfirmasi mengenai jadwal terapi, bapak bisa menghubungi customer service kami di Halo bapak Hendry, Kami belum bisa berkomentar banyak mengenai diagnosis bipolar yang ditujukan pada anak bapak. Dugaan kami, ketika sedang menghadapi ujian, anak bapak mengalami tekanan luar biasa dalam dirinya sehingga menyebabkan ia mengalami perubahan pada perasaan dan perilakunya.
Banyak hal yang mungkin untuk digunakan dalam terapi dengan tujuan membantu seseorang, termasuk past life therapy.
Bapak bisa mencoba alternatif terapi ini jika memang tidak ada satupun masalah di masa sekarang yang menjadi akar masalah. Namun ada baiknya, kita menggali terlebih dahulu akar masalah dari kehidupan di masa sekarang daripada ke past life.
Kami membantu setiap klien kami untuk menyelesaikan konflik ataupun masalah emosi yang biasanya terjadi pada klien kami. Jika dalam terapi hipnosis, kami tidak menemukan akar masalah maka memang akan ada kemungkinan kami akan membawanya ke past life. Jika bapak ingin konfirmasi mengenai jadwal terapi, bapak bisa menghubungi customer service kami di 031 7702 4931
Semoga bisa membantu
Selamat sore Ibu Sandra……
Bersyukur anak saya yg dulu saya keluhkan sudah tampak riang dan semangat dengan kegiatan disekolahnya.
Pada tanggal 15 mei reva (5th 1bl) saya bawa untuk psykotest dan hasilnya tgl 5 juni kmrn diambil tapi karena reva agak badmood (ngantuk) saya tidak bisa konsul dengan lebih lama sehingga pada saat diterangkan saya tdk bisa konsentrasi. Pada saat saya baca kembali hasilnya dirumah, ada beberapa istilah yang belum saya mengerti. Padahal untuk konseling lagi harus menunggu paling cepat 3 minggu, jadi saya tanyakan ke Ibu aja ya? gratis lagi hehehe….. hasilnya saya kutipkan sbb: ” Reva memiliki kecerdasan yang berfungsi pada taraf diatas rata2 (IQ:114 skala wechsler) dibanding teman seusianya dan masih dapat mengembangkan potensi kecerdasannya secara optimal hingga taraf superior (OIQ:129 skala wechsler). Hal ini karena masih ada beberapa aspek kemampuan bahasa konseptual (VIQ:109 skala wechsler) yang lebih rendah dibanding kemampuan praktisnya (PIQ:118 skala wechsler)”.
Lalu dalam saran2 ada beberapa yang saya belum paham sbb:
1. Anak perlu mengembangkan kemampuan motorik halus melalui latihan grafomotor agar gerakannya lebih fleksibel.
2. Guru dan orang tua dapat membimbing anak dengan belajar melalui teknik visual support.
Pertanyaan saya adalah :
1. Pengelompokkan jumlah kemampuan IQ ada berapa? misal disebut IQ rendah jika jumlah nilainya berapa, IQ sedang jika jumlah nilainya berapa, IQ rata-rata jika jumlah nilainya berapa, dst. Kecerdasan taraf superior itu apa? dan bagaimana sebaiknya cara saya menstimulasi agar reva dpt mencapai kesana?
2. Kemampuan bahasa anak saya masih rendah, padahal menurut saya reva sudah sangat cerewet. menurut saran yg tertulis agar reva menambah perbendaharaan kata melalui aktivitas bercerita. Maksudnya saya yang membacakan banyak cerita, atau anak saya yang diminta untuk menceritakan pengalaman2nya?
3. Latihan grafomotor itu yang seperti apa?
4. Belajar melalui teknik visual itu yang bagaimana?
Begitu deh pertanyaannya……. Semoga Ibu Sandra senantiasa dlm Lindungan Tuhan (Alloh SWT), serta diberikan nikmat kesehatan, kebahagiaan dan kemampuan dalam melakukan segala aktifitas sehingga bisa lebih banyak menolong orang-orang yang perlu dibantu, seperti saya ini….
Wassalam…
Halo ibu Uty,
Senangnya, mendengar perkembangan positif dari si kecil Reva. Terima kasih juga untuk doa tulus ibu. Saya juga banyak belajar dari ibu Uty yang sudah berpengalaman mengasuh 2 putra.
Saya akan mencoba membantu ibu melalui email ini, memang tidak bisa maksimal karena tidak bisa tatap muka. Hasil tes IQ sebenarnya hanyalah pemotretan kondisi anak saat itu. Jadi ketika dites kembali ada kemungkinan skornya akan mengalami perubahan namun perubahan tersebut tidaklah jauh dari hasil yang pertama. Skor ini juga masih dapat berkembang kira-kira + 15 poin. Pengembangan ini tergantung pada stimulasi lingkungan dan asupan gizi terhadap anak.
1. Pengelompokan jumlah IQ tergantung pada alat tes yang digunakan. Jika tes IQ Reva menggunakan Weschler maka pengelompokkannya juga menggunakan skala Weschler. Berikut ini pengelompokkan skor IQ berdasarkan skala Weschler.
• 128 ? Very superior ? Sangat superior
Superior artinya kemampuan kognitif anak berada di atas rata-rata anak pada umumnya. Untuk lebih mudahnya, superior berarti Reva memiliki kemampuan untuk memahami suatu materi lebih cepat dibandingkan anak yang memiliki IQ rata-rata.
Stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara. Cara yang paling saya sukai adalah mengajak anak untuk melihat-lihat lingkungan sebagai upaya menggelitik rasa ingin tahunya. Karena proses belajar terjadi berawal dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang biasanya terpasung oleh sistem pendidikan.
2. Keduanya bisa ibu lakukan. Dengan membaca cerita maka wawasan si Reva akan berkembang. Kemudian kosa kata Reva akan bertambah dengan sendirinya. Dengan mengajak Reva bercakap-cakap dan berdiskusi juga akan menbantu Reva mengambangkan perbendaharaannya dan logika berpikirnya. Dengan mendorong Reva menceritakan pengalamannya maka juga akan membantu Reva dalam mengembangkan kemampuan berpikir sebab akibat, analisis serta urutan kejadian.
3. Graphomotor merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Latar belakang terciptanya cara ini adalah adanya peningkatan kebutuhan penggunakan motorik halus di tingkat SD. Padahal banyak anak yang kurang siap dalam hal motorik halusnya dan berakibat pada penurunan prestasi anak. Oleh sebab itu, diciptakanlah metode ini yang bertujuan untuk merangsang kemampuan motorik halus anak. Jika ibu ingin tahu lebih banyak ibu bisa mengunjungi http://www.schriftontwikkeling.nl
4. Munculnya saran untuk membantu Reva menggunakan teknik visual dalam belajar, mungkin ada salah satu hasil tes yang menunjukkan bahwa kecenderungan gaya belajar Reva adalah menggunakan modalitas visual. Artinya, Reva akan banyak terbantu menyerap suatu info jika terdapat gambar atau tulisan atau objek yang bisa Reva lihat. Dengan demikian, Reva akan langsung dapat mengimajinasikan materi yang akan dipelajari. Misalnya : Reva akan belajar dengan lebih cepat jika ibu menuliskan 5 telur bebek dan gambar 5 telur bebek sehingga Reva akan lebih mudah membayangkan. Pada usia ini, penggunaan alat peraga akan sangat membantu anak dalam menyerap materi-materi pelajarannya.
Salam hangat penuh cinta untuk Reva dan keluarga ibu Uty
Halo ibu Uty,
Senangnya, mendengar perkembangan positif dari si kecil Reva. Terima kasih juga untuk doa tulus ibu. Saya juga banyak belajar dari ibu Uty yang sudah berpengalaman mengasuh 2 putra.
Saya akan mencoba membantu ibu melalui email ini, memang tidak bisa maksimal karena tidak bisa tatap muka. Hasil tes IQ sebenarnya hanyalah pemotretan kondisi anak saat itu. Jadi ketika dites kembali ada kemungkinan skornya akan mengalami perubahan namun perubahan tersebut tidaklah jauh dari hasil yang pertama. Skor ini juga masih dapat berkembang kira-kira + 15 poin. Pengembangan ini tergantung pada stimulasi lingkungan dan asupan gizi terhadap anak.
1. Pengelompokan jumlah IQ tergantung pada alat tes yang digunakan. Jika tes IQ Reva menggunakan Weschler maka pengelompokkannya juga menggunakan skala Weschler. Berikut ini pengelompokkan skor IQ berdasarkan skala Weschler.
• 91-110 ? Average ? Rata-rata
• 111-119 ? Bright normal ? Di atas rata-rata
• 120-127 ? Superior ? Superior
• > 128 ? Very superior ? Sangat superior
Superior artinya kemampuan kognitif anak berada di atas rata-rata anak pada umumnya. Untuk lebih mudahnya, superior berarti Reva memiliki kemampuan untuk memahami suatu materi lebih cepat dibandingkan anak yang memiliki IQ rata-rata.
Stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara. Cara yang paling saya sukai adalah mengajak anak untuk melihat-lihat lingkungan sebagai upaya menggelitik rasa ingin tahunya. Karena proses belajar terjadi berawal dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang biasanya terpasung oleh sistem pendidikan.
2. Keduanya bisa ibu lakukan. Dengan membaca cerita maka wawasan si Reva akan berkembang. Kemudian kosa kata Reva akan bertambah dengan sendirinya. Dengan mengajak Reva bercakap-cakap dan berdiskusi juga akan menbantu Reva mengambangkan perbendaharaannya dan logika berpikirnya. Dengan mendorong Reva menceritakan pengalamannya maka juga akan membantu Reva dalam mengembangkan kemampuan berpikir sebab akibat, analisis serta urutan kejadian.
3. Graphomotor merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Latar belakang terciptanya cara ini adalah adanya peningkatan kebutuhan penggunakan motorik halus di tingkat SD. Padahal banyak anak yang kurang siap dalam hal motorik halusnya dan berakibat pada penurunan prestasi anak. Oleh sebab itu, diciptakanlah metode ini yang bertujuan untuk merangsang kemampuan motorik halus anak. Jika ibu ingin tahu lebih banyak ibu bisa mengunjungi http://www.schriftontwikkeling.nl
4. Munculnya saran untuk membantu Reva menggunakan teknik visual dalam belajar, mungkin ada salah satu hasil tes yang menunjukkan bahwa kecenderungan gaya belajar Reva adalah menggunakan modalitas visual. Artinya, Reva akan banyak terbantu menyerap suatu info jika terdapat gambar atau tulisan atau objek yang bisa Reva lihat. Dengan demikian, Reva akan langsung dapat mengimajinasikan materi yang akan dipelajari. Misalnya : Reva akan belajar dengan lebih cepat jika ibu menuliskan 5 telur bebek dan gambar 5 telur bebek sehingga Reva akan lebih mudah membayangkan. Pada usia ini, penggunaan alat peraga akan sangat membantu anak dalam menyerap materi-materi pelajarannya.
Salam hangat penuh cinta untuk Reva dan keluarga Ibu Uty
Selamat Siang Ibu Sandra….
Terima kasih banyak atas penjelasannya yang panjaaaaang sekali… Sekarang saya sudah lebih mengerti….. (dg Ridho Tuhan YME) Saya akan berusaha semampu saya untuk dapat memberikan yang terbaik bagi anak2 saya….
Salam hormat untuk Ibu Sandra dan keluarga.
Apakah Ibu juga melayani konsultasi langsung? jika iya Ibu praktek dimana? Boleh dibagi alamatnya? senang sekali jika suatu saat saya bisa menemui langsung. Terimakasih……..
Halo ibu Uty,
Saya dan tim dari Sekolah Orangtua sangat terbuka untuk membantu orangtua yang membutuhkan terapi dan konseling. Ibu bisa menghubungi customer service SO di 031 7702 4931 atau mengunjungi langsung kantor SO yang alamatnya bisa ibu lihat di fitur Kontak Kami dibagian atas web ini.
Salam hangat penuh cinta untuk ibu Uty dan keluarga
Dear Ibu Sandra,
Saya menpunyai 3 org anak, 10 thn (cew), 6 thn (cow) & 3 thn (cow). Selama ini anak 1 tidak pernah bermasalah di sekolah, sedangkan anak ke 2 agak bermasalah yaitu cuek terhadap pelajaran, sehingga saya lebih concern ke anak 2. Masalahnya timbul waktu baru2 ini ambil rapor, anak 1 selalu masuk 10 besar, rapor kali ini rangking 20 (dari 40 siswa) , saya shock sekali bu, karena dia gak menunjukkan tanda2 bermasalah di rumah, saya sudah merasa mengontrol dengan hati2, akhirnya lose juga. Wali kelasnya juga menjelaskan kalo dia baek2 aja di sekolah. Yang ingin saya tanyakan, pada usia anak 10 thn ini, saya sebagai orang tua harus bersikap bagaimana supaya dapat mencegah hal seperti ini, karena saya merasa dia sudah mempunyai pemikiran yang berbeda. Thanks sebelumnya bu.. saya sangat menantikan jawaban ibu.
Halo ibu Anita,
Penurunan prestasi yang dialami oleh putri ibu mungkin ada hubungannya dengan perhatian ibu yang lebih terfokus pada putra kedua ibu. Secara tidak sadar, ada keinginan di dalam diri putri untuk mendapatkan perhatian seperti yang didapat oleh adik “Kalau aku bermasalah dalam belajar, pasti nanti mama mau nemani aku belajar”. Memang terkadang kita, orang dewasa, merasa heran dengan keinginan putri tersebut. “La wong, gak ada masalah kok malah pengin “diuyel-uyel” sama mama supaya mau belajar”. Untuk lebih pastinya, ibu bisa menanyakan langsung kepada putri mengenai keinginannya supaya belajar menjadi lebih menyenangkan buat putri. Jangan tanyakan mengenai : mengapa prestasinya menjadi menurun, karena putri akan bingung menjawab dan hal ini akan membuat dia merasa bersalah. Untuk saat ini, terima saja adanya penurunan prestasi ini, bukankah hidup ini pun seperti roda yang berputar ?
Atau alternatif lain, ibu bisa lebih sering meluangkan waktu berdua dengan putri sehingga ia pun merasa diperhatikan dan disayang oleh ibu.
Kami memiliki sebuah produk bagus yaitu VCD : Rahasia membuat anak ketagihan belajar. Jika ibu tertarik untuk mempelajarinya, ibu dapat menghubungi CS kami untuk pemesanan.
Selamat mencoba, Ibu Anita.
selamat siang bu sandra…..
saya punya masalah dengan anak saya Fathur umur 4.5 tahun. anak saya sangat pemalu sekali disekolah nya umur 3 th dia sudah masuk Play Group tetapi selama di playgrou dia harus selalu ditemani di dalam kelas. sekarang dia sudah masuk TK tetapi tetap saja sifat pemalunya belum hilang bahkan dia tetap harus ditemani di dalam kelas , bahkan dia tidak mau mengikuti kegiatan seperti baris, olah raga, bahkan kalau dipanggil sama gurunya harus ditemani sama saya. bagaimana ya bu untuk mengatasi sifat pemalu pada anak saya ……..
mohon bantuannya…
Selamat pagi Ibu Ida,
Biasanya, penyesuaian sekolah yang dibutuhkan oleh seorang anak usia prasekolah paling lama adalah 2 minggu. JIka anak memiliki rasa aman yang cukup, penyesuaian hanya diperlukan beberapa hari saja.
Yang perlu ibu lakukan adalah memberikan rasa aman terlebih dahulu pada anak ibu. cari tahu apa yang menyebabkan anak ibu menjadi enggan untuk berpisah dengan ibu : apakah karena di rumah ada masalah sehingga ia tidak mau bepisah ? atau ada sesuatu yang menakutkan di sekolah. Bisa jadi, keinginan anak ibu untuk ditemani oleh ibu disebabkan keinginannya untuk tetap memanipulasi kedekatan ia dengan ibu tanpa diganggu oleh pihak lain sebagai wujud dari kosongnya tangki cinta. Isi tangki cinta anak juga dapat membantu anak untuk menumbuhkan rasa aman dan percaya diri dalam dirinya, baik dari ibu maupun dari bapak.
Mintalah salah seorang guru untuk melakukan pendekatan secara intens pada anak ibu. Setelah anak ibu dapat mempercayai salah seorang guru, itulah saatnya ia dapat ditinggal oleh ibu. Memang pada awalnya, ia akan menangis tapi jika ibu dan guru konsisten menjalankannya, pasti anak ibu akan memahami bahwa ada waktunya untuk sekolah dan ada waktunya untuk bermain dengan bunda. Ibu tidak perlu khawatir jika anak menangis sejadi-jadinya ketika ditinggal, berikan kepercayaan pada anak ibu dan guru bahwa mereka bisa menangani perpisahan sementara ini.
Jika usaha ini tidak dapat dilakukan, ibu perlu meminta bantuan psikolog atau terapis dari SO untuk mencari tahu penyebab kurangnya rasa aman ini.
Selamat mencoba
makasih ya bu sandra atas sarannya.
sebenernya kemarin saya udah senang anak saya 2 hari sudah bisa di tinggal di dalam kelas tanpa saya. tapi hari ini dia nangis pingin di temeni lagi dikelas mungkin karena kejadian kemarin dia pingin pipis tapi malu ngomong sama gurunya jadi dia pipis di celana. mungkin untuk kasus ini
saya akan coba saran bu sandra untuk meminta bu gurunya untuk melakukan pendekatan intens pada anak saya…..
tapi bu sandra anak saya juga gak mau gabung sama temennya terus duduknya juga pingin sendiri ngak mau berkelompok………walau udah dibujuk sama gurunya……..
untuk kasus ini gimana ya bu……..
sekali lagi makasih ya atas sarannya …………
Halo ibu Ida..,
Saya jadi ikutan senang mendengar si kecil mau berpisah sementara dengan ibu. Ketika si kecil menghadapi rasa malunya karena ngompol, saya jadi sedikit memahami permasalahannya. Si kecil tergolong anak yang sensitif dalam menghadapi tiap perubahan yang terjadi dalam kegiatan sehari-harinya. untuk itu, kita sebagai orang terdekatnya, orangtua dan guru, perlu membimbingnya bahwa perubahan adalah sesuatu yang wajar. Jadi jika si kecil menghadapi kasus serupa seperti ngompol tersebut, ibu dan guru dapat melakukan percakapan ringan dengannya untuk mengurangi rasa malu ataupun rasa bersalah dalam dirinya misalnya : “Adik, merasa malu bilang sama ibu guru, kalau adik mau pipis ? akibatnya karena adik gak tahan jadinya pipisnya keluar duluan. Dulu mama, kalau sekolah juga sama kaya adik. Mama harus ijin dulu sama ibu guru, biar tidak dicariin kemana-mana. awalnya sih mama malu juga sama kaya adik (walaupun kenyataannya tidak) tapi mama beraniin aja. toh gurunya baik.” Dengan demikian, si kecil akan merasa dipahami oleh orang disekelilingnya dan kesalahan adalah hal yang wajar diperbuat oleh manusia asalkan dia mau memperbaikinya.
kedekatan si kecil dengan guru sangat perlu dilakukan untuk membantunya lebih enjoy dengan suasana kelas. Setelah itu, perlahan-lahan guru baru bisa menggabungkan si kecil dengan teman sekelasnya. itupun biasanya dengan 1/2 orang teman dulu. Setelah itu cukup aman dengan teman barunya, barulah ia akan mulai berani menyapa teman-teman yang lainnya.
Karakter tiap anak memang berbeda ibu. Kita yang harus jeli mengenali dan membimbingnya supaya bisa terus beradaptasi dengan baik. Tetaplah mengisi tangki cinta sehingga anak menjadi nyaman dengan dirinya sendiri.
ibu bisa membaca artikel SO mengenai Salah Motivasi, Takutlah yang didapat. Atau ibu bisa mengikuti online home course yang akan dilaunching pada bulan agustus. Atau ibu bisa membeli paket CD/DVD mengenai komunikasi dengan anak.
Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga Ibu Ida.
selamat siang ibu sandra…
saya merasa mempunyai sedikit masalah komunikasi dengan anak2. (saya mempunyai 3org putri).anak pertama saya berusia 13th sangat pendiam tp mempunyai prestasi yang baik d sekolah nya,anak yang ke 2 10th sangat jauh berbeda cerewet,aktif dan prestasi d sekolah nya biasa2 saja tp dia lebih suka ke aktifitas di luar sekolah(ballet,piano,renang)saya dan suami saya dulu wktu masih tinggal d indonesia
termasuk org yang di tuntut dengan pekerjaan yang lebih banyak harus di luar rumah jadi pengasuhan mereka kami percayakan sama staf kami di rumah (sabtu dan minggu baru kami bisa main bersama)
pada awalnya kami merasa biasa aja sampai ketika kami melahirkan anak ke 3 sekarang anak bungsu kami baru berusia 3bulan.anak ke dua mulai berulah mencari perhatian kami kadang mogok sekolah,minta segala sesuatu yang tadinya di lakukan sendiri sekarang harus salah satu d antara kami yang melayani ngk mau orang lain.(misalnya harus nemenin sebelum tidur,nemenin ngerjain PR,nganter sekolah,dan suka minta yang aneh2) dan ad tambahan aktifitas baru paling suka ngangguin adek nya kalau sudah nangis dengan santai nya pergi begitu saja.sampai suatu saat pernah dia ngajak kluar sudah rapi semua tiba2 tanpa sebab batalin ngk mau aj dia lari masuk kamar sambil bergumam huh!!! mama ngk sayang lagi…saya merasa tersentak dengan kata2 nya kok bisa dia ngomong begitu..
akhirnya suami saya memberikan solusi agar kami pergi berdua saja .
di balik kemudi sambil kita bercanda saya sesekali melirik dan bisa melihat begitu bahagia dari pancaran mata nya
1,apakah cara dia mencari perhatian itu masih dalam kondisi yang wajar?
2,apakah juga karena usia nya yang jauh berbeda antara dia dan adek nya yang baru lahir?
3,bgmn agar saya bisa memberikan porsi kasih yang sama antara dia dan adek nya di mata dia?
4,dan bgmn pula saya bisa mendapatkan product2 dr SO karena kami saat ini tidak tinggal d indonesia setidaknya untuk 2th ke depan kami harus tinggal d SH
saya ucapkan terima kasih atas jawaban dr ibu sandra
salam sejahtera untuk ibu dan keluarga
Halo ibu Yunita Amaliya,
1,apakah cara dia mencari perhatian itu masih dalam kondisi yang wajar?
Ibu, putri ke dua tampaknya sedang mengalami sindrom kecemburuan terhadap adiknya. Ia biasanya menjadi si bungsu, sekarang harus berganti posisi menjadi kakak. Caranya untuk mendapatkan perhatian masih tergolong wajar. Untuk itulah, ibu perlu segera mencari solusi agar kakak tidak terbawa perasaan cemburunya secara terus menerus.
2,apakah juga karena usia nya yang jauh berbeda antara dia dan adek nya yang baru lahir?
Penyebab seorang anak cemburu pada saudaranya dapat disebabkan banyak hal, tidak hanya tergantung usia. Untuk itu, ibu perlu mencari tahu apa penyebab ia menjadi cemburu. Apakah disebabkan kakak merasa ada perlakuan berbeda dari orangtua sejak adiknya lahir atau karena kakak merasa posisinya terancam karena takut tidak disayang lagi oleh ortu. Usia 10 tahun sudah dapat diajak untuk bicara dari hati ke hati.
3,bgmn agar saya bisa memberikan porsi kasih yang sama antara dia dan adek nya di mata dia?
Mudah sekali ibu. Ibu bisa mengamati bahasa kasih si kakak (termasuk kakak pertama). Isilah tangki cinta melalui bahasa kasih tersebut, tiap anak memiliki bahasa kasih yang berbeda. Salah satunya adalah dengan mengajaknya pergi berdua, seperti yang telah ibu lakukan. Tampaknya, bahasa kasih kakak ke 2 adalah waktu berkualitas. sering-seringlah melakukan aktivitas berdua sehingga kakak tidak jealous lagi. Katakan pula bahwa ibu dan bapak sayang terhadap semua anak ibu dan bapak. Namun untuk saat ini, adik masih membutuhkan perhatian ekstra dari ibu karena usianya yang masih sangat kecil, tapi hal ini tidak menjadi penghambat bagi anda untuk tetap sayang pada kedua anak yang lain. Mintalah maaf jika kakak 2 apabila kakak merasa bahwa ibu terlalu memperhatikan adik. Jelaskan mengapa adik masih membutuhkan perhatian lebih banyak dari anda. Jelaskan pula bahwa ketika ia (kakak 2) lahir pun, ibu juga harus memberikan perhatian ekstra kepada kakak 2 namun ibu tetap sayang pada kakak 1.
Lakukan ini dengan konsisten, niscaya anak akan mempercayai bahwa ibu dan bapak sayang pada tiap anak.
4,dan bgmn pula saya bisa mendapatkan product2 dr SO karena kami saat ini tidak tinggal d indonesia setidaknya untuk 2th ke depan kami harus tinggal d SH
biasanya, kami mengirimkan produk SO ke LN melalui saudara pembeli yang tinggal di indo. Karena biasanya mereka lebih tahu prosedur pengirimannya. Apakah ibu memiliki saudara yang tinggal di Indo ? Jika iya, akan mempermudah SO dalam mengirimkannya.
Jika tidak, kami tetap bisa untuk mengirimkannya namun dengan biaya yang sesuai dengan tempat ibu berdomisili saat ini. Atau ibu bisa belajar mengenai parenting lewat online home course kami yang akan diadakan bulan depan ini.
Semoga bermanfaat
Halo Ibu Sandra,
Saya tertarik sekali dengan masukan-masukan Anda yang sangat bermanfaat. Saya punya masalah yang serupa dengan Ibu Ida di atas, yaitu tentang anak yang baru masuk TK.
Anak saya, Rangga (5 tahun) baru masuk TK bulan lalu (tanggal 13 Juli). Sampai sekarang masih belum mau ditinggal. Dia memang anak yang introvert, yang perlu waktu lama untuk akrab dengan orang baru.
Pada minggu pertama saya duduk di dekatnya kemudian dia mau ditinggal (dengan saya berdiri di pintu dan dia duduk dekat pintu). Pada minggu kedua, karena saya harus tugas keluar negeri selama 1 minggu, Rangga mogok sekolah. Alasannya harus diantar Ibu. Baru minggu ke 3 dia kembali ke sekolah. Tetapi, karena saya harus bekerja jam 9 pagi, ayahnya gantian menunggui. Kebetulan suami saya jam kerjanya lebih fleksibel. Tetapi Rangga selalu menangis setiap saya tinggal dan menolak masuk kelas. Kalau dipaksa dia akan menangis keras-keras.
Di rumah, dia selalu bermain dengan adiknya (4 tahun) dan beberapa orang anak yang orangtuanya kos di rumah saya. Dia selalu menjadi ‘Raja’ kalau di rumah. Saya juga menyediakan banyak mainan di rumah. Kebanyakan permainan di sekolah sudah dia punyai di rumah. Mungkin ini penyebabnya ya, Bu?
Saya merasa (selama observasi saya di sekolah) kegiatan di sekolah kurang menarik dan terlalu bertele-tele. Saya juga seorang guru, jadi saya bisa merasakan ada sesuatu yang kurang dalam metodologi pengajaran. Saya pikir, saya tidak bisa turut campur dalam cara pengajaran guru terlalu banyak, tapi paling tidak apa yang bisa saya lakukan dengan anak saya?
Terima kasih sebelumnya.
Salam,
Reny
Dear Ibu Sandra,
Saya sangat tertarik sekali akan artikel2 Ibu, dan saya juga mau berkonsultasi. Anak saya Nada (perempuan 3.6tahun) masuk TK A, anak pertama.
Sekolah Nada bermetode Sekolah Alam dengan pengajaran ramah otak dan diterapkan sistem kemandirian pada anak, dan juga para gurunya dibekali ilmu psikologi dalam penanganan muridnya.
Yang jadi permasalahan Nada tidak berani bergaul dengan teman temannya, dia hanya mau sekolah dan beraktifitas apabila ditemani oleh saya, Nenek atau ayahnya, dengan cara duduk atau berdiri disampingnya. Seminggu pertama, Nada kami temani dengan cara tersebut, namun pada minggu ke dua kami mulai tinggal, dengan metode : 2 hari pertama kami tinggal diam diam, 2 hari kedua kami serahkan paksa ke Guru dan kemudian kami langsung tinggal.
2 hari pertama dengan metode pelan pelan ditingal: Nada menangis dan mencari cari celah agar bisa keluar dari Saung (kelas), lalu ditangani oleh salah satu Guru, kemudian kami diceritakan oleh Guru, bahwa Nada menangis sebentar dan diberi pengertian bahwa Nada bisa bertemu dengan kami, apabila sudah menyelesaikan aktifitasnya, pada saat itu Nada tetap tidak mau mengikuti aktifitas pembelajaran tetapi mengikuti aktifitas guru tersebut.
2 hari kedua dengan metode ditinggal paksa, reaksi Nada sama dengan 2 hari pertama, hanya saja sudah ada peningkatan dengan Nada mau ikut aktifitas walaupun hanya sebagai pengamat saja (tidak mau berbicara dengan temannya hanya diam dan mengamati)
Yang jadi permasalahan, setelah kemarin ditinggal paksa, Nada tidak mau sekolah, kami gali permasalahannya dan Nada bilang bahwa “Nada tidak mau ditinggal, Nada takut sama teman teman, bu Guru jahat tidak mau mempertemukan Nada dengan Nenek/Bunda/Ayah”
dimana sebelumnya kami sudah observasi dan bekerja sama dengan Guru, hal yang Nada utarakan tidak benar adanya.
Saya sebagai Ibunya berpikir, kalau Nada sepertinya mempunyai bayangan yang menakutkan terhadap teman temannya, yang Nada merasa teman temannya akan nakal terhadapatnya, padahal kenyataannya tidak (takut akan bayangannya sendiri).
Pola asuh dirumah, kami tinggal beramai ramai (saya, suami, adiknya Nada, Bp & Ibu Mertua, 2 orang adik ipar laki laki) saya dan suami bekerja, sehingga Nada diasuk oleh Bp & Ibu Mertua.
Waktu Nada masih kecil (kurang dari 2 tahun) ada anak tetangga yang suka main kerumah, Nada umur 2 tahun kami semua pindah rumah dan memang lingkungan baru tidak ada anak kecil, sehingga Nada lebih sering dirumah, tetapi walaupun begitu Nada kadang dibawa ke lapangan yang agak jauh dari rumah agar dia bisa bermain main. Biasanya Nada kalaupun diajak ketempat ramai, dia biasanya menarik diri (contohnya sedang main perosotan, lalu ada beberapa anak kecil ingin main perosotan itu juga, Nada langsung berhenti dan berlari ke arah kami, atau berhenti bermain dan diam sambil memperhatikan anak anak tersebut).
Nada, apabila ditanya oleh orang lain yang baru dikenalnya selalu diam, atau menjawab pelan sekali, dan setiap saya telpon dan saya tanya “nada udah makan belum?” atau aktifitasnya yang lain dia balik bertanya pada Neneknya yang disampingnya dan kadang si Nenek suka membalikkan pertanyaan tersebut ke Nada.
Nada, oleh ayahnya waktu kecil agar mau tidur suka ditakuti oleh suara2, dan saat ini oleh Neneknya suka ditakuti oleh ondel ondel agar mau menuruti Neneknya untuk tidur atau agar tidak keluar kalau malam malam.
Saya sendiri waktu sekolah dulu juga seperti Nada harus ditemani oleh Ibu saya dan Ibu saya harus duduk disamping saya, dan waktu itu saya berumur 6 tahun dan kejadian itu berlangsung hingga 6 bulan. Dalam pergaulan, saya dahulu tidak percaya diri dan cenderung menarik diri pada teman teman yang menurut saya lebih kaya, karena saya selalu merasa saya miskin (hehehe…) dan saya jenis menghindari konflik terhadap orang. Dan, saya juga merasa punya sifat paranoid, tetapi saya merasa hal tersebut saya tidak implementasikan pada anak saya, jadi paranoid saya hanya saya simpan dihati, misalnya : saya takut sekali anak saya kejedot oleh siku meja, dan yang saya lakukan hanya membalut siku meja itu dengan bahan2 baju sehingga tidak tajam, tetapi saya tidak melarang anak2 untuk berlarian menuju siku meja tersebut, atau saya takut sekali anak saya naik naik ke tangga yang tinggi, namun saya tidak melarang atau mengeluarkan kata apapun, hanya saja saya biasanya selalu menemani apabila anak2 naik ke tangga yang tinggi.
Suami saya juga waktu kecil tidak betah disekolah, selalu diam diam kabur dari sekolah, dan dalam bergaul biasanya dia mencari teman teman yang nyaman untuk diakrabi, apabila situasi ramai dia juga menarik diri.
Yang saya ingin tanyakan adalah:
1. Apakah tindakan dengan memaksa Nada diserahkan ke Gurunya adalah benar?
2. Apakah sifat kami berdua menurun kepada Nada?
3. Bagaimanakah Nada sebenarnya?
4. Bagaimana menangani Nada agar tidak seperti itu?
Terima kasih sebelumnya Bu Sandra^_^
Dear ibu Sandra..
anak saya amadeus (3thn 8 bln, TK A) kemarin mogok sekolah, setelah beberapa hari sebelumnya minta ditemani di sekolah. hal ini sangat merisaukan saya mengingat sebelumnya (bahkan saat hari pertama sekolah) dia sudah berani bersekolah tanpa saya dampingi.
Hari pertama ke sekolah amadeus saya dampingi sebentar hingga snack time, kemudian saya menunggu di luar kelas, kemudian hari berikutnya dia sudah berani bersekolah tanpa saya dampingi. ini berlngsung selama satu minggu. hari jumat lalu amadeus terlambat dijemput oleh papanya (biasanya sayalah yang meng-antar jemput) dan ketika bertemu papanya dia langsung menangis sejadi jadinya. kemudia n hari senin dia mulai menolak saya tinggalkan, namun atas saran pihak sekolah dia diam diam saya tinggalkan. puncaknya terjadi pada hari kamis kemarin, dia benar benar panik ketika saya antar ke sekolah sehingga oleh pihak sekolah disarankan untuk pulang menenangkan diri. malam sebelum mogok, tidurnya sangat gelisah, mengigau “mana mama” dan berkali kali terbangun sambil menangis panik mencari saya. bahkan di rumah pun dia benar benar tidak mau “melepaskan” saya… bahkan mandi pun saya digedor gedor dengan panik. padahal sebelumnya dia tidak begitu, bahkan bisa dibilang cuek kepada saya dan lebih dekat dengan pengasuhnya (sebelumnya saya bekerja). Kenapa ya bu sandra? dan bagaimanakah solusinya? terimakasih sebelumnya
Halo ibu Nita, Ibu Reny, dan Ibu Vien,
Jawaban untuk pertanyaan ibu bertiga saya gabungkan karena memiliki topik yang mirip.
Pada intinya untuk membantu anak lepas dari kita sebagai orangtua, pertama adalah anak memiliki rasa percaya kepada salah satu guru yang ada di sekolah. Jika guru telah mampu mengambil hati anak dan anak sudah percaya, pemaksaan pemisahan yang dilakukan tidak akan mengalami kesulitan berarti. Mungkin anak akan menangis sebentar kemudian bisa berbaur dengan lingkungan kelas. Namun, jika anak belum siap untuk percaya dan terambil hatinya, akan menyebabkan anak menjadi trauma seperti anak ibu Vien. Jadi, perlu ada tahapan/proses untuk membuat anak percaya kepada guru dan lingkungan sekolah.
Kedua, ada karakter anak yang memang lebih sulit untuk langsung terlibat dengan lingkungan baru. Untuk itu, memang butuh proses ditemani terlebih dahulu.
Ketiga, anak juga harus percaya pada anda sebagai orangtua bahwa jika ia ditinggal di sekolah, tidak berarti tidak akan bertemu kembali. Untuk itu, menjaga rasa percaya ini kepada Anda sangatlah penting. Pamitlah jika anda hendak meninggalkannya dan jemputlah tepat waktu sesuai dengan kesepakatan, karena keterlambatan akan membuat anak menjadi panik.
Keempat, konsisten. Jika ibu-ibu sudah melihat sebenarnya anak ibu-ibu sudah mulai enjoy dengan lingkungan kelas dan gurunya (ketika anda temani), maka sudah saatnya meninggalkannya dalam kelas. Pada awalnya, mungkin akan terjadi perang tangisan, namun ibu harus tega untuk meninggalkannya dan percayakan kepada guru untuk menanganinya. Perasaan tidak tega dapat dimanfaatkan oleh si kecil untuk mencegah anda meninggalkannya.
Kelima, isilah tangki cintanya sehingga anak menjadi lebih santai dalam menghadapi hari esok.
Untuk pengisian tangki cinta dan pengenalan karakter anak, ibu-ibu bisa mempelajari melalui produk-produk yang ditawarkan di SO ini.
Semoga membantu.
selamat sore bu sandra.
saya mengucapkan banyak terima kasih atas saran- saran bu sandra yang sangat bermanfaat bagi kami sebagai orang tua dan anak kami.
kini Fathur alhamdullilah sudah mau ditinggal. tinggal sekarang saya berusaha meninggkatkan kepercayaan dirinya. sehingga dia tidak menjadi anak pemalu lagi…
untuk bu reny, bu nita dan bu vien, sekedar untuk masukan karena kasus kalian sama dengan kasus yg saya alami.
alhamdulillah sekarang anak saya sudah dapat ditinggal didalam kelas.
kuncinya adalah jangan memaksa anak, saya ampir 3 minnggu berada di dalam kelas tapi selama di dalam kelas saya selalu berusaha mendekatkan kepada ibu gurunya dan teman-teman dengan ngobrol bersama selama jam istirahat. dan saya selalu menceritakan kepada ibu gurunya mengenai hobi anak saya, memberi info tentang liburan pergi kemana?, kesukaan anak saya apa? pokoknya saya menceritakan kepada ibu guru apa yg tidak disukai dan disukai oleh anak saya. tapi tentunya jangan didepan anaknya ya…….. sehingga ibu gurunya ada topic untuk bahan ngobrol dengan anak saya.
alhamdullilah dengan begitu anak saya sedikit-sedikit mulai dekat dengan gurunya, mau ngomong sama gurunya dan mulai rada berani untuk mengungkapkan sesuatu.
trus ibu gurunya selalu memuji kalau dia mau kedepan, atau jawab pertanyyaan, atau mengacungkan tangan waktu di absen.(wah fathur hebat….. )
trus terang aja ya bu, fathur itu anaknya pemalu sekali dia tidak berani melakukan sesuatu dia selalu bilang mama malu…….
nah setelah dia mulai nyaman dan dekat dengan gurunya, saya bilang secara bertahap kepada anak saya dengan memberi pengertian kepada dia bahwa mamah tidak akan meninggalkan dia, ( de… mamah berdiri dekat pintu ya…. kan keliatan sama ade.) mamah mah gak akan ninggalin ade kalau ade mau pipis atau mau apa-apa bilang sama bu guru ya, bu guru kan baik & sayang ama ade!. tanpa diduga anak saya menganggukan kepalanya. (anak saya bilang mamah boleh diluar tapi dekat pintu ya…..biar aq liat mama…) duh senangnya hati saya. saya dengan sabar selama 4 hari menunggu dan berdiri di depan pintu biar keliatan sama anak saya, tapi hari kelima bertahap saya tinggal sedikit-sedikit bila dia sedang asik belajar dan tentunya selalu di deketin sama bu gurunya. sekarang alhamdullilah saya sudah gak berdiri di depan pintu….dan duduk agak jauhan dari kelas.
untuk sosialisasi sama temannya, karena anak saya susah gabungnya, selama jam istiraht sampai sekarang saya suka menemani anak saya bermain dan berusaha mendekatkan kepada teman-temannya itu atas saran bu gurunya. ya lumayan sekarang anak saya sudah mulai bisa gaul dengan temannya.
mungkin sekian pengalaman saya semoga bermanfaat bagi ibu-ibu yang senasib dengan saya.
sekali lagi terima kasih ya bu sandra,….
Selamat Malam Ibu Ida,
Terima kasih atas sharing pengalamannya. Semoga pengalaman ibu dan Fathur bisa bermanfaat untuk orangtua SO lainnya.
Terima kasih juga untuk kesabarannya dalam menghadapi buah hati ibu.
Salam hangat penuh cinta untuk Ibu Ida dan Fathur.
Terima kasih atas masukan dan sharing-nya….. sepertinya memang kuncinya adalah kesabaran dan karena setiap anak juga berbeda dalam merespon ‘dunia’ yang baru. Alhamdulilah, sepertinya Rangga mulai menunjukkan tanda-tanda mau ditinggal.
Sekali lagi terimakasih…
Bu Sandra yang baik, dan bu Nita, Bu Reny, Bu vien, dan Bu Ida yang super!,
Anak saya, 4 tahun 5 bulan, mempunyai masalah yang sama dengan ibu2, yaitu sangat pemalu. tapi bila di sekolah anak2 ibu, orangtua dapat mendampingi anak di kelas bisa ditoleransi bahkan sampai berbulan-bulan, di sekolah anak saya dibatasi hanya 5 kali pertemuan saja.
Setahun yl ketika anak saya berumur 3 tahun, dia sudah meminta untuk dimasukkan sekolah. Kami pun mendaftar di Kelompok Bermain di dekat rumah. Namun saya hanya boleh menunggui selama tiga hari saja, hari2 berikutnya saya disuruh pulang oleh Kepsek tanpa sepengetahuan anak saya. Anak saya begitu mengetahui itu langsung menangis menjerit-jerit, dan itu terjadi selama 7 hari. Karena tidak ingin memberikan tekanan kepada anak saya, saya memutuskan untuk tidak mencoba lagi menyekolahkan dia dan menunggu hingga ia meminta untuk sekolah. Dampaknya dari ditinggal paksa itu adalah anak saya menjadi sangat benci kepada sekolah itu dan bahkan membuang baju seragamnya setiap kali dia melihat baju itu di lemari (tentu saja saya pungut kembali baju yang dibuangnya itu).
Namun tiba-tiba pada waktu usianya 4 tahun 5 bulan, dia minta sekolah. Dan dia tidak masalah diajak ke sekolah lamanya. Tapi anak saya meminta agar saya menemaninya, dan saya bilang saya janji. Sekolah mengatakan bahwa saya dapat menemaninya di kelas selama 2 minggu
saja. OK saya coba, dan yakin insya Allah ananda bisa dalam 2 minggu berani.
Hari pertama saya ikut duduk menemani ananda di dalam kelas. Sepulang sekolah dia sangat riang, karena dia merasa senang dengan kegiatan di sekolah. Yang menggembirakan hati saya, di hari kedua anak saya sudah membiarkan saya duduk di perpustakaan, yang mana bersebelahan ruangan dengan tempat ia beraktivitas.
(Mungkin) kesalahan yang terjadi adalah pada saat itu saya meminta izin untuk pulang sebentar, karena saya menyangka dia sudah merasa nyaman. Yang terjadi adalah dia malah jadi memegang baju saya terus, seperti takut saya akan pulang tanpa memberi tahu dia (mungkin dia teringat sewaktu di Kelompok Bermain dulu, saya pulang tanpa sepengetahuan dia).
Hari ketiga (Rabu) anak saya terkena flu, sehingga tidak masuk sekolah hingga hari kelima (Jumat). Hari Senin anak saya masuk lagi tapi sudah tidak berani lagi jika tidak ditemani di sebelahnya. Hal ini berlanjut hingga hari Rabu, sampai akhirnya hari Rabu itu Bu Kepala Sekolah menyampaikan bahwa ini adalah hari terakhir saya boleh menemaninya di sekolah. Kebetulan hari Kamis libur karena ada rapat guru, dan hari Jumat adalah Iedul Adha. Sementara anak saya masih menginginkan saya ada di sampingnya. Bu Kepsek berkeras bahwa anak saya sudah 2 minggu ditemani ibunya di kelas, walaupun hari efektif ananda sekolah sebenarnya baru 5 hari (karena sakit dan libur rapat guru dan iedul adha)… Hari Senin depan ini saya hanya boleh mengantarkan ananda ke sekolah dan kemudian saya tinggalkan, dengan segala konsekuensi yang akan terjadi terhadap ananda. Alasan kepsek adalah keberadaan saya di kelas mengganggu guru dan murid2 lainnya.. Padahal saya tidak melihat perubahan atensi murid2 lain dengan keberadaan saya di dalam kelas. Tapi saya tidak tahu dengan gurunya, apakah terganggu atau tidak.
Bu Sandra dan ibu2 yang mempunyai pengalaman sama dengan saya, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak ingin pengalaman tahun lalu terjadi lagi dengan ananda. Dan tahapan seperti ibu Ida berangsur-angsur meninggalkan anak belum terjadi sama sekali dengan anak saya. Dan kalau melihat kondisi anak saya hari ini yang belum berhasil memerangi rasa malunya, apakah mungkin dia ditinggal dengan ikhlas (tanpa menangis)? Saya khawatir bila ditinggal paksa senin depan ini bisa membuat ananda trauma lagi dengan sekolah? Sementara dia sangat suka dengan semua aktivitas di sekolah itu. Bu Sandra dan ibu2 lain, mohon advis nya ya.. terima kasih.
O ya, untuk info, ananda Rahma adalah anak ketiga. anak pertama Zahra 8 tahun dan anak kedua Ihsan 6 tahun. Tangki kasih sayang sangat besar tercurah ke rahma, karena dia yang paling lama kuantitas waktunya berada dengan saya, karena kakak2nya usia 2 tahun sudah berani sekolah. Sementara Rahma, hingga usianya kini baru mulai mencoba sekolah.
Wassalam,
Evie
Halo ibu Evie,
Saya merasa prihatin membaca tulisan ibu dan merasa kasihan terhadap ananda Rahma.
Usia 4 tahun 5 bulan sebenarnya anak sudah dapat merasa aman ditinggal di sekolah. namun tampaknya pengalaman terdahulu sangat berkesan diingatan ananda sehingga ia menjadi takut ditinggal.
Memang benar, biasanya beberapa sekolah hanya menyediakan waktu 2 minggu untuk pembiasaan anak. Tapi jIka memang waktu efektifnya hanya 5 hari, ada baiknya ditambah, jika diperbolehkan. Karena faktor rasa kepercayaan bahwa ia tidak ditinggal tidak dapat dibiasakan dengan sangat cepat.
Tapi jika sudah menjadi kebijaksanaan sekolah dan tidak dapat dinego lagi, maka kita yang harus memilih : terus dan memakai strategi lain atau keluar dari sekolah tersebut.
Untuk pilihan pertama, saya akan membantu dengan saran sebagai berikut. pada dasarnya, anak telah mengalami suatu peristiwa yang menyebabkan ia menjadi tidak percaya dan rasa aman lagi sehingga perlu dilakukan perbaikan pada kedua aspek tsb. jadi yang perlu ibu lakukan adalah mengembalikan rasa aman dan rasa percayanya kembali.
Selama waktu libur ini, ibu dapat mengajarkan anak bahwa jika ibu tidak ada tidak berarti ibu tidak ada, ibu pasti akan datang untuk menjemput atau menemuimu lagi. berikut ini contoh yang dapat ibu praktekkan, tapi ibu juga bisa mengajarkan dengan cara yang lain tergantung pada situasi ibu.
Ajak anak di wahana permainan semacam alfazone atau mandi bola atau tempat permainan yang biasanya disediakan di mall untuk tempat anak bermain sembari menunggu orangtua berbelanja. katakan pada anak bahwa orang dewasa tidak dapat ikut masuk jika anak telah mampu bermain sendiri dan katakan bahwa ibu akan menunggu sambil duduk ditempat yang telah ditunjuk. sebelum anak memulai permainan katakan bahwa setelah bermain anak pasti akan merasa haus/lapar. nah, ibu akan pergi membeli makanan kesukaan anak/pesanan anak, tapi tentu saja jika ibu akan pergi membeli, ibu akan pamit dulu dan akan segera kembali.
Katakan pula, bahwa ibu percaya kepada ananda Rahma bahwa ananda merupakan anak yang pemberani dan pandai karena ananda paham kemana bunda pergi dan mengerti bahwa bunda pasti akan segera kembali.
ulangi prosedur yang sama untuk kegiatan yang lain. Harapannya, anak dapat memahami prinsip bahwa jika ibu pergi, ibu pasti akan datang menjemput. . .
kegiatan diatas hanya contoh yang dapat dilakukan, namun saya tidak mengetahui kondisi ibu. jadi ibu perlu melakukan penyesuaian. yang terpenting adalah prinsip bahwa anak paham bahwa janji ibu pasti akan ditepati.
Salam hangat penuh cinta untuk ibu dan ananda Rahma
Terima kasih Bu Sandra atas sarannya, akan saya coba untuk melatih kepercayaan Rahma..
Bu Sandra, saya ingin menceritakan apa yang terjadi akhirnya di hari Senin kemarin:
Pada hari Rabu lalu sewaktu Bu Kepsek berbicara dengan saya ttg batas waktu menemani Rahma, Rahma duduk di pangkuan saya, karena ananda tidak mau diminta bermain dengan bu guru, ataupun bermain bersama teman2nya. Dia mendengar semua pembicaraan mengenai ananda dan peraturan2 sekolah dari Kepsek.
Hari Senin kemarin, karena sdh tau bahwa saya tidak boleh menemaninya lagi, sesudah mandi, ananda tidak mau menggunakan baju seragam sekolahnya, dan menangis mengatakan tidak mau sekolah. Saya tidak mungkin memaksa Rahma untuk pergi sekolah dalam kondisi seperti itu kan Bu? Wah, wah Bu Sandra,… sekarang saya yang semakin bingung……
Tampaknya inti masalah Rahma adalah dia belum berani berada sendiri di lingkungan yang banyak orang… Buktinya tadi malam Bu Guru kelasnya (bukan Kepsek) menelepon Rahma, Rahma menjawab semua pertanyaan guru dengan riang. Tapi kalau ditanya guru di sekolah, Rahma hanya menunduk malu2, tidak berani menjawab. Di sekolah dia juga belum punya teman. Tapi di rumah dia sangat suka menyebut2 teman2nya di sekolah kepada kakak2 dan ayahnya. Tampaknya dia bangga dengan teman2nya, tapi tidak mampu untuk bergabung. Kalau bermain di playground di mall, Rahma juga hanya berani bermain jika tidak ada anak2 lain yang bermain di play ground tsb…
Apa strategi saya dan bu guru supaya Rahma mau saya ajak ke sekolah Bu? O ya, hari Rabu ini Bu Guru akan berkunjung ke rumah. Saran berikutnya dari Bu Sandra sangat saya nantikan. Terima kasih banyak Bu Sandra…
Evie
Halo ibu Evie,
Jika hari Rabu guru Rahma hendak berkunjung ke rumah, itu sudah sangat bagus. Berdasarkan pengalaman saya, siswa saya yang juga tidak mau bersekolah, jadi mau bersekolah kembali dengan ceria setelah kami kunjungi di rumahnya. Kita lihat saja, bagaimana reaksi dari Rahma.
Ibu, tampaknya Rahma sangat merasa tidak aman dengan lingkungan baru. Mungkin ini memang karakter Rahma yaitu butuh waktu agak lama untuk adaptasi atau mungkin juga rasa aman Rahma yang kurang. Saya tidak tahu yang mana. Teruslah mengisi tangki cinta si Rahma sehingga akan membangun rasa amannya.
Mengenai bermain di mall, jika Rahma ditemani salah seorang kakaknya, apakah ia juga tidak mau ?
Salam penuh cinta untuk ibu dan Rahma.
Salam kenal Bu RAhma…
sebenarnya ini masalah saudara saya…, mohon bantuannya…
sikecil berusia 3,5 tahun dan sudah sekolah di kelompok bermain di kota malang dan beberapa hari ini sikecil menampakkan gejala-gejala yang tidak pernah terjadi seperti sering ngompol dan mogok pergi sekolah, setiap terlihat gerbang sekolah, sikecil selalu ketakutan dan tidak mau keluar dari mobil sampai-sampai harus dipaksa keluar…, dan usut punya usut ternyata sikecil takut sama ibu gurunya, dan memang ibu gurunya itu orang yang keras dan suka ngomong dengan nada tinggi, kata ibu guru pendamping, bahwa sikecil pernah di”beri omongan” dengan nada tinggi, entah itu marah atau apa, dan mama sikecil itu dimohon maklum dengan kondisi ibu guru itu karena memiliki masalah berat, namun bagaimana dengan kondisi sikecil Buk??apa nggak perlu dimaklumi juga???mengingat segala yang terjadi pada masa kecil adalah masa yang akan terekam terus sampai sikecil dewasa…, mohon sarannya Buk…,apa yang harus kita lakukan, apa perlu menghadap kepsek???dan kita udah pernah mencoba bicara dengan ibu guru sikecil tapi tanggapannya sungguh tidak bijaksana dengan mengatakan bahwa sikecil sering diolok-olok temannya karena sering menangis…,mohon tanggapan dan sarannya ya Buk dan terima kasih banyak…
Halo ibu Kristy,
Anak dari saudara ibu tampaknya sedang mengalami mogok sekolah. Berdasarkan gejala yang ibu sampaikan, anak tersebut telah mengalami ketakutan terhadap ibu gurunya. Masalah ini harus segera diatasi karena jika tidak, permasalahan ini akan mengakibatkan anak menjadi trauma terhadap sekolah. Banyak kasus yang saya tangani mengenai trauma sekolah, hanya berawal dari masalah kecil saja yang berbuntut panjang.
langkah yang ibu lakukan dengan berbicara langsung dengan guru anak tersebut sudah tepat. namun jika tanggapan ibu guru tersebut demikian, sangatlah tidak bijaksana. Dalam dunia pendidikan, guru harus memiliki kemampuan untuk memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan mengajar, seberat apapun masalah pribadinya, karena masa depan seorang anak sangat terpengaruh oleh pengalaman masa kini. JIka memang sangat terpaksa, ibu dapat berdiskusi dengan kepala sekolah untuk menangani masalah ini.
Jika ketakutan anak berkelanjutan walaupun guru telah bersikap lebih baik maka sebaiknya anak tersebut menjalani terapi. Ajaklah anak menemui terapis atau psikolog untuk membantu masalah ini.
\
Salam hangat penuh cinta untuk anak saudara ibu Kristy
thabks banget ya artikenya…memang kayaknya anak saya banyak masalah jadi mogok sekolah..pertama memang ada adik baru, dua saya lagi sekolah lagi dan taip 3 hari keluar kota, tapi kalo diajak bicara ttg sebab ga mau sekolah selalu diam, kalo ditanya ada yang nakal jawabnya ada ditanya bu guru galak jawabnya iya…. trus alasan perut sakit, pusing n tidak mau mandi pagi karena ga mau sekolah…dan anak saya memang sudah play grup taun kemaren dan sekarang memang dah pinter baca dan nuis itupun karena dia suka bacaan dibanding temannya dia dah pinter mbaca walo saya ga maksa dia pasti tiap hari ambil buku trus dibaca…..
akhirnya saya mungkin tenangkan anak dulu biarkan ga masuk sekolah dulu mengginggat dia masih 5 tahun…. ga tega kalo dai merasa tertekan tiap kali mo berangkat…. thanks ya….atas smuanya