Phone : 031-71559997, 031-5941439

SMS    : 0819807601 (Jam Kerja)

Email   : cs@sekolahorangtua.com

Messenger :

Join Facebook.com/SekolahOrangtua


23
Feb

“Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
“Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
“Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.

Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun -  saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !

Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan  Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?

Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.

Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang ingin dilindungi di rumah

Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III. Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah satu dari kedua orangtuanya.

Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.

Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS atau yang lainnya

Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan  orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.

Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah, penyebab yang satu ini jarang terjadi.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak menjadi takut sekolah

Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.

Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.

Perasaan kurang disayang dalam diri anak

Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ? Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam seminar dari Bapak Ariesandi.

Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya seperti ibu memperhatikan adik baru.

Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.

Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah ?
Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi permasalahan.

  1. Langkah pertama adalah dekati anak kita dan berbicaralah dari hati ke hati mengenai penyebab ia tidak mau sekolah. Gunakan pertanyaan,”Apa yang terjadi di sekolah yang menyebabkan kamu tidak mau sekolah ?”. Jika anak tidak mau menjawab, kita dapat gunakan pertanyaan “yes no question” untuk memancingnya. “Apakah ada teman baru ?” atau “Ada sesuatu di sekolah yang tidak kamu sukai ?”. Atau “Apakah kamu dimarahi oleh seseorang di sekolah ?”. Gunakan intonasi yang rendah dan bersahabat. Tundukkan mata kita hingga sejajar dengan mata anak kita. Gunakan bahasa tubuh yang bersahabat bukan bahasa tubuh menginterograsi.
  2. Amati perilaku anak sebelum kejadian mogok sekolah. Apakah ia murung, tampak ketakutan, atau menyendiri. Jika  iya, maka dapat diartikan ia baru saja mengalami hal yang tidak mengenakkan dan menakutkan.
  3. Berkomunikasilah dengan guru di sekolah, mungkin beliau mengetahui informasi yang belum diceritakan oleh anak kita.
  4. Doronglah anak untuk menghadapi ketakutannya dan bekali anak dengan cara untuk menghadapinya. Misalnya : dengan berani mengatakan “tidak suka” saat diperlakukan kurang baik oleh temannya. Atau menemani dia ke sekolah untuk menemani anak mendekati benda atau orang yang tidak disukainya. Langkah ini tergantung pada penyebab ia tidak mau sekolah.
  5. Jika anak terpaksa diliburkan pada hari itu karena kita tidak memiliki waktu cukup untuk menggali permasalahan anak atau menemani anak ke sekolah maka yang harus kita lakukan adalah memberikan pekerjaan di rumah (bukan permainan) dan hindarilah aktivitas yang disukai anak untuk mengisi waktunya selama di rumah. Mintalah anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di rumah atau mengerjakan latihan soal di rumah sebagai pengganti pelajaran di sekolah. Sewaktu pulang sekolah, mintalah anak untuk bertanya dan berkunjung ke rumah teman, guna menyalin materi pelajaran yang tidak ia ikuti.
  6. Bekerjasamalah dengan guru di sekolah dengan meminta pekerjaan sekolah yang harusnya diselesaikan di hari anak tidak masuk sekolah. Atau mintalah guru anak kita berkunjung ke rumah. Cara ini manjur saya terapkan pada salah seorang murid saya yang memang kurang memiliki rasa aman dalam dirinya  (ada masalah ketika di dalam kandungan ibunya). Kunjungan saya ke rumahnya membuat ia merasa bahwa saya adalah salah satu dari teman mama yang baik hati. Jadinya ia mau sekolah keesokan harinya.

Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.

Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman emosional tersebut sangat kita butuhkan.

Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Sandra M.,MPsi, Psikolog (Partner Konselor SekolahOrangtua.com)

Category : Artikel / Parenting

58 Responses to “Aduh … Anakku Mogok Sekolah!”


Reny 21 December 2009

Bu Sumarni, saya juga punya pengalaman yang hampir sama dengan Anda. Anak laki-laki saya, Rangga (5 th) sempat mogok lagi setelah liburan terlalu lama (lebaran - saya ajal pulang kampung + Galungan/Kuningan - karena kami tinggal di Bali). Kalau ditanya, kadang tidak mau menjawab, atau alasannya selalu berganti-ganti. Saya dan Ayahnya bergantian menunggui di dekat pintu kelas selama hampir 1 bulan karena dia menangis dan tidak mau masuk kelas kalau ditinggal.

Setelah kami lihat tidak ada perkembangan, kami (saya dan ayahnya, serta guru kelasnya) sepakat untuk ‘memaksa’ meningalkan dia (tapi tetap menunggu di luar sekolah) dengan konsekuensi : Rangga bisa menyesuaikan diri - walau cukup lama, atau malah mogok terus. Saya sempat mengajukan usulan untuk stop dulu sekolah sementara, dan memilih home schooling. Ibu gurunya tidak menyarankan hal itu, karena akan harus mulai penyesuaian dari nol lagi. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan dia dengan sedikit “paksa”. Tapi seminggu sebelum hari “H” tiap hari dan hampir tiap waktu saya ingatkan bahwa mulai hari Senin Ibu atau Ayah tidak boleh lagi menunggui.

Hari pertama dan kedua dia menangis dan menolak masuk kelas selama sekitar 30 menit pertama (tapi tetap didampingi salah satu ibu gurunya) dan setelah diajak bicara oleh gurunya, dia mau masuk dan beraktifitas.

Hari ke 3 dan seterusnya sampai sekarang dia sudah biasa, walaupun memang tipe anak saya introvert dan kurang mau berpartisipasi di kelas. Tapi di rumah saya mengejar ‘ketertinggalannya’ dengan memberi latihan-latihan sendiri (kebetulan saya beekrja di bidang pendidikan juga).

Saya sampai heran, hanya diperlukan kurang dari 1 minggu untuk Rangga untuk menyesuaikan diri… saya jadi berpikir, apakah kadang-kadang anak memang bisa ‘memanfaatkan’ ke-tidak tega-an orang tua (khususnya pada Ibu, karena ibu bekerja dan sibuk) walaupun sebenarnya dia merasa ‘fine’ saja kalau toh harus ditinggal, karena saya pikir usia 5 tahun adalah usia anak harus sekolah. (Apalagi anak saya tidak saya masukkan ke Play group, tapi langsuk TK).

Semoga pengalaman saya bisa menjadi bahan pertimbangan, walaupun saya tau, setiap anak akan bereaksi berbeda.
Good luck Ibu Sumarni….

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 22 December 2009

Halo ibu Reny,
Memang benar, terkadang anak dapat menggunakan ketidaktegaan kita terhadap dirinya, agar ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, tindakan tegas dengan meninggalkan anak dengan paksa, dapat dilakukan jika sebenarnya anak sudah memiliki kepercayaan terhadap salah seorang guru atau lingkungan sekolahnya. Bagaimana kita bisa tahu itu ? Dari pengamatan terhadap perilaku anak. BIasanya guru tahu mana murid yang masih belum percaya dan murid yang “memanfaatkan” ketidaktegaan dari orangtua.

Terima kasih untuk sharingnya, sangat membantu para orangtua yang memiliki anak mogok sekolah.
Mari tetap berbagi !

Lilik Wijaya 27 December 2009

Anak kedua saya mau berumur 4 tahun, tapi dia belum menunjukkan keinginan untuk bersekolah, sedangkan kakaknya 6 tahun sudah punya keinginan bersekolah sejak 2 tahun. Bagaimana ya bu membujuknya agar ia mau bersekolah.

Sandra Mungliandi, M.Psi., Psikolog. 28 December 2009

Halo Ibu Lilik Wijaya,

Keinginan anak untuk bersekolah memang bervariasi antara anak satu dengan lainnya. Untuk membantu anak kedua anda berminat terhadap sekolah, anda dapat mengenalkan beberapa aktivitas yang biasanya dilakukan di sekolah. PEngenalan aktivitas ini dilakukan secara nyata, bukan verbal. Berikut ini contoh yang dapat anda lakukan.
Kumpulkan seluruh anggota keluarga dan lakukan aktivitas bersama secara diam-diam, tanpa memberitahu anak kedua anda (prakarya untuk anak TK) misalnya menjiplak tangan dengan cat air, mewarnai bersama gambar (mintalah saran kegiatan yang dapat dilakukan di rumah pada guru kakak atau carilah di buku-buku anak). JIka ditengah kegiatan, anak kedua anda tertarik untuk gabung, terimalah. Kemudian di sela-sela kegiatan, katakan : “Kalau disekolah, adik bisa melakukan dengan lebih asyik lagi. Banyak peralatan dan mainan disana. Di rumah hanya terbatas saja.”. Ceritakan hal-hal menyenangkan mengenai kegiatan sekolah (kaitkan dengan kegemaran anak).
Ajak pula anak anda untuk berkunjung di sekolah. Kenalkan dengan guru dan permainan yang ada disana.

Selamat mencoba.

santi 15 January 2010

Ass….anakku yg kedua (5thn,TK A),sdh beberapa hari jg mogok sekolah.
tapi yang cukup mengherankan,kalau di sekolah dia terlihat enjoy2 saja,bahkan selalu ingin dijemput telat karena ingin bermain dulu di sekolah.
Mogok sekarang adalah mogok sekolah yang kedua kalinya,dengan alasan bosan…dia mau sekolah, dengan syarat, tidak mau belajar di kelas,tapi hanya bermain-main saja…
Gmn ya bu?ada saran?karna hal yang membingungkan saya,dari rumah tidak mau sekolah,tapi setelah dirayu dan berhasil pergi k sekolah, dia terlihat enjoy dengan sekolahnya..
thx b4…

Wsslm,
Santo

Sandra Mungliandi, M.Psi., Psikolog. 15 January 2010

Halo ibu Santi,

Hahaha…. saya jadi tertawa geli membayangkan kejadian sesungguhnya.
Saya pernah mengalami hal serupa dengan murid saya. Kejadiannya persis sama dengan kasus anak ibu.
Setelah diusut, memang ada masalah dengan dirinya sehingga ia cenderung enggan untuk belajar. Coba ibu tanyakan mengapa dia tidak mau belajar di sekolah dan mengapa ia lebih suka bermain di sekolah ? Dari jawaban yang diberikan, baru kita bisa mencari solusi untuk dirinya.

Selamat mencoba ibu.

Hertri Setyanti 9 February 2010

Ass..Selamat Siang,
Keponakan saya 10 thn kelas 5 SD, sudah 2 mingguan lebih tidak mau sekolah. Dia tidak pernah mau mengatakan apa masalah sebenarnya.
Pernah suatu kali dia bilang karena teman2 yang nakal, pernah juga dia bilang karena melihat ‘penampakan’ di kelasnya.
Tetapi saya pikir itu mungkin hanya 25-35 %, selebihnya mungkin disebabkan ada kejadian yang membuat dia trauma dan tidak berani mengatakannya pada siapapun.
orangtuanya sudah membawa dan berkonsultasi ke beberapa psikolog dan konselor hipnoparenting, tetapi tetap tidak menemukan penyebab utamanya.Dan sang anak sekarang sepertinya sudah tidak mau untuk diajak berkonsultasi.
Kedua orang tuanya bekerja sejak dia masih bayi.
Bgmn ya Bu? Mohon sarannya.
Terima kasih, wassalam.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 10 February 2010

Wass…
Halo Tante Hertri yang sayang pada ponakan.

Anak mogok sekolah, pasti memiliki penyebabnya. Penyebabnya ini yang perlu diketahui terlebih dahulu sehingga akan lebih mudah untuk mencari solusinya.
Tapi, jika memang telah diajak untuk berkonsultasi pada beberapa ahli namun belum menemukan penyebab, maka untuk sementara waktu anak dibiarkan terlebih dahulu. Sambil menunggu masa penantian ini, saran saya, ada baiknya orangtua mengambil cuti untuk libur bersama atau jika tidak memungkinkan, ambil waktu untuk melakukan kegiatan bersama. Coba isi tangki cinta si anak. Dengan harapan, anak akan mau lebih terbuka kepada orangtuanya dan melepaskan sedikit rasa tegang yang ada dalam diri anak.
Ada kemungkinan, si anak takut untuk berterus terang karena khawatir dapat membuat orangtua menjadi lebih cemas, atau sedih dll. Atau mungkin komunikasi antara orangtua dan anak yang perlu diperbaiki sehingga ada rasa saling percaya diantara keduanya.

Selamat mencoba, tante yang baik hati.