Phone : 031-71559997, 031-5941439

SMS    : 0819807601 (Jam Kerja)

Email   : cs@sekolahorangtua.com

Messenger :

Join Facebook.com/SekolahOrangtua


23
Feb

“Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
“Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
“Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.

Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun -  saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !

Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan  Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?

Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.

Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang ingin dilindungi di rumah

Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III. Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah satu dari kedua orangtuanya.

Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.

Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS atau yang lainnya

Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan  orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.

Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah, penyebab yang satu ini jarang terjadi.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak menjadi takut sekolah

Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.

Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.

Perasaan kurang disayang dalam diri anak

Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ? Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam seminar dari Bapak Ariesandi.

Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya seperti ibu memperhatikan adik baru.

Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.

Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah ?
Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi permasalahan.

  1. Langkah pertama adalah dekati anak kita dan berbicaralah dari hati ke hati mengenai penyebab ia tidak mau sekolah. Gunakan pertanyaan,”Apa yang terjadi di sekolah yang menyebabkan kamu tidak mau sekolah ?”. Jika anak tidak mau menjawab, kita dapat gunakan pertanyaan “yes no question” untuk memancingnya. “Apakah ada teman baru ?” atau “Ada sesuatu di sekolah yang tidak kamu sukai ?”. Atau “Apakah kamu dimarahi oleh seseorang di sekolah ?”. Gunakan intonasi yang rendah dan bersahabat. Tundukkan mata kita hingga sejajar dengan mata anak kita. Gunakan bahasa tubuh yang bersahabat bukan bahasa tubuh menginterograsi.
  2. Amati perilaku anak sebelum kejadian mogok sekolah. Apakah ia murung, tampak ketakutan, atau menyendiri. Jika  iya, maka dapat diartikan ia baru saja mengalami hal yang tidak mengenakkan dan menakutkan.
  3. Berkomunikasilah dengan guru di sekolah, mungkin beliau mengetahui informasi yang belum diceritakan oleh anak kita.
  4. Doronglah anak untuk menghadapi ketakutannya dan bekali anak dengan cara untuk menghadapinya. Misalnya : dengan berani mengatakan “tidak suka” saat diperlakukan kurang baik oleh temannya. Atau menemani dia ke sekolah untuk menemani anak mendekati benda atau orang yang tidak disukainya. Langkah ini tergantung pada penyebab ia tidak mau sekolah.
  5. Jika anak terpaksa diliburkan pada hari itu karena kita tidak memiliki waktu cukup untuk menggali permasalahan anak atau menemani anak ke sekolah maka yang harus kita lakukan adalah memberikan pekerjaan di rumah (bukan permainan) dan hindarilah aktivitas yang disukai anak untuk mengisi waktunya selama di rumah. Mintalah anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di rumah atau mengerjakan latihan soal di rumah sebagai pengganti pelajaran di sekolah. Sewaktu pulang sekolah, mintalah anak untuk bertanya dan berkunjung ke rumah teman, guna menyalin materi pelajaran yang tidak ia ikuti.
  6. Bekerjasamalah dengan guru di sekolah dengan meminta pekerjaan sekolah yang harusnya diselesaikan di hari anak tidak masuk sekolah. Atau mintalah guru anak kita berkunjung ke rumah. Cara ini manjur saya terapkan pada salah seorang murid saya yang memang kurang memiliki rasa aman dalam dirinya  (ada masalah ketika di dalam kandungan ibunya). Kunjungan saya ke rumahnya membuat ia merasa bahwa saya adalah salah satu dari teman mama yang baik hati. Jadinya ia mau sekolah keesokan harinya.

Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.

Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman emosional tersebut sangat kita butuhkan.

Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Sandra M.,MPsi, Psikolog (Partner Konselor SekolahOrangtua.com)

Category : Artikel / Parenting

75 Responses to “Aduh … Anakku Mogok Sekolah!”


Reny 21 December 2009

Bu Sumarni, saya juga punya pengalaman yang hampir sama dengan Anda. Anak laki-laki saya, Rangga (5 th) sempat mogok lagi setelah liburan terlalu lama (lebaran - saya ajal pulang kampung + Galungan/Kuningan - karena kami tinggal di Bali). Kalau ditanya, kadang tidak mau menjawab, atau alasannya selalu berganti-ganti. Saya dan Ayahnya bergantian menunggui di dekat pintu kelas selama hampir 1 bulan karena dia menangis dan tidak mau masuk kelas kalau ditinggal.

Setelah kami lihat tidak ada perkembangan, kami (saya dan ayahnya, serta guru kelasnya) sepakat untuk ‘memaksa’ meningalkan dia (tapi tetap menunggu di luar sekolah) dengan konsekuensi : Rangga bisa menyesuaikan diri - walau cukup lama, atau malah mogok terus. Saya sempat mengajukan usulan untuk stop dulu sekolah sementara, dan memilih home schooling. Ibu gurunya tidak menyarankan hal itu, karena akan harus mulai penyesuaian dari nol lagi. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan dia dengan sedikit “paksa”. Tapi seminggu sebelum hari “H” tiap hari dan hampir tiap waktu saya ingatkan bahwa mulai hari Senin Ibu atau Ayah tidak boleh lagi menunggui.

Hari pertama dan kedua dia menangis dan menolak masuk kelas selama sekitar 30 menit pertama (tapi tetap didampingi salah satu ibu gurunya) dan setelah diajak bicara oleh gurunya, dia mau masuk dan beraktifitas.

Hari ke 3 dan seterusnya sampai sekarang dia sudah biasa, walaupun memang tipe anak saya introvert dan kurang mau berpartisipasi di kelas. Tapi di rumah saya mengejar ‘ketertinggalannya’ dengan memberi latihan-latihan sendiri (kebetulan saya beekrja di bidang pendidikan juga).

Saya sampai heran, hanya diperlukan kurang dari 1 minggu untuk Rangga untuk menyesuaikan diri… saya jadi berpikir, apakah kadang-kadang anak memang bisa ‘memanfaatkan’ ke-tidak tega-an orang tua (khususnya pada Ibu, karena ibu bekerja dan sibuk) walaupun sebenarnya dia merasa ‘fine’ saja kalau toh harus ditinggal, karena saya pikir usia 5 tahun adalah usia anak harus sekolah. (Apalagi anak saya tidak saya masukkan ke Play group, tapi langsuk TK).

Semoga pengalaman saya bisa menjadi bahan pertimbangan, walaupun saya tau, setiap anak akan bereaksi berbeda.
Good luck Ibu Sumarni….

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 22 December 2009

Halo ibu Reny,
Memang benar, terkadang anak dapat menggunakan ketidaktegaan kita terhadap dirinya, agar ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, tindakan tegas dengan meninggalkan anak dengan paksa, dapat dilakukan jika sebenarnya anak sudah memiliki kepercayaan terhadap salah seorang guru atau lingkungan sekolahnya. Bagaimana kita bisa tahu itu ? Dari pengamatan terhadap perilaku anak. BIasanya guru tahu mana murid yang masih belum percaya dan murid yang “memanfaatkan” ketidaktegaan dari orangtua.

Terima kasih untuk sharingnya, sangat membantu para orangtua yang memiliki anak mogok sekolah.
Mari tetap berbagi !

Lilik Wijaya 27 December 2009

Anak kedua saya mau berumur 4 tahun, tapi dia belum menunjukkan keinginan untuk bersekolah, sedangkan kakaknya 6 tahun sudah punya keinginan bersekolah sejak 2 tahun. Bagaimana ya bu membujuknya agar ia mau bersekolah.

Sandra Mungliandi, M.Psi., Psikolog. 28 December 2009

Halo Ibu Lilik Wijaya,

Keinginan anak untuk bersekolah memang bervariasi antara anak satu dengan lainnya. Untuk membantu anak kedua anda berminat terhadap sekolah, anda dapat mengenalkan beberapa aktivitas yang biasanya dilakukan di sekolah. PEngenalan aktivitas ini dilakukan secara nyata, bukan verbal. Berikut ini contoh yang dapat anda lakukan.
Kumpulkan seluruh anggota keluarga dan lakukan aktivitas bersama secara diam-diam, tanpa memberitahu anak kedua anda (prakarya untuk anak TK) misalnya menjiplak tangan dengan cat air, mewarnai bersama gambar (mintalah saran kegiatan yang dapat dilakukan di rumah pada guru kakak atau carilah di buku-buku anak). JIka ditengah kegiatan, anak kedua anda tertarik untuk gabung, terimalah. Kemudian di sela-sela kegiatan, katakan : “Kalau disekolah, adik bisa melakukan dengan lebih asyik lagi. Banyak peralatan dan mainan disana. Di rumah hanya terbatas saja.”. Ceritakan hal-hal menyenangkan mengenai kegiatan sekolah (kaitkan dengan kegemaran anak).
Ajak pula anak anda untuk berkunjung di sekolah. Kenalkan dengan guru dan permainan yang ada disana.

Selamat mencoba.

santi 15 January 2010

Ass….anakku yg kedua (5thn,TK A),sdh beberapa hari jg mogok sekolah.
tapi yang cukup mengherankan,kalau di sekolah dia terlihat enjoy2 saja,bahkan selalu ingin dijemput telat karena ingin bermain dulu di sekolah.
Mogok sekarang adalah mogok sekolah yang kedua kalinya,dengan alasan bosan…dia mau sekolah, dengan syarat, tidak mau belajar di kelas,tapi hanya bermain-main saja…
Gmn ya bu?ada saran?karna hal yang membingungkan saya,dari rumah tidak mau sekolah,tapi setelah dirayu dan berhasil pergi k sekolah, dia terlihat enjoy dengan sekolahnya..
thx b4…

Wsslm,
Santo

Sandra Mungliandi, M.Psi., Psikolog. 15 January 2010

Halo ibu Santi,

Hahaha…. saya jadi tertawa geli membayangkan kejadian sesungguhnya.
Saya pernah mengalami hal serupa dengan murid saya. Kejadiannya persis sama dengan kasus anak ibu.
Setelah diusut, memang ada masalah dengan dirinya sehingga ia cenderung enggan untuk belajar. Coba ibu tanyakan mengapa dia tidak mau belajar di sekolah dan mengapa ia lebih suka bermain di sekolah ? Dari jawaban yang diberikan, baru kita bisa mencari solusi untuk dirinya.

Selamat mencoba ibu.

Hertri Setyanti 9 February 2010

Ass..Selamat Siang,
Keponakan saya 10 thn kelas 5 SD, sudah 2 mingguan lebih tidak mau sekolah. Dia tidak pernah mau mengatakan apa masalah sebenarnya.
Pernah suatu kali dia bilang karena teman2 yang nakal, pernah juga dia bilang karena melihat ‘penampakan’ di kelasnya.
Tetapi saya pikir itu mungkin hanya 25-35 %, selebihnya mungkin disebabkan ada kejadian yang membuat dia trauma dan tidak berani mengatakannya pada siapapun.
orangtuanya sudah membawa dan berkonsultasi ke beberapa psikolog dan konselor hipnoparenting, tetapi tetap tidak menemukan penyebab utamanya.Dan sang anak sekarang sepertinya sudah tidak mau untuk diajak berkonsultasi.
Kedua orang tuanya bekerja sejak dia masih bayi.
Bgmn ya Bu? Mohon sarannya.
Terima kasih, wassalam.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 10 February 2010

Wass…
Halo Tante Hertri yang sayang pada ponakan.

Anak mogok sekolah, pasti memiliki penyebabnya. Penyebabnya ini yang perlu diketahui terlebih dahulu sehingga akan lebih mudah untuk mencari solusinya.
Tapi, jika memang telah diajak untuk berkonsultasi pada beberapa ahli namun belum menemukan penyebab, maka untuk sementara waktu anak dibiarkan terlebih dahulu. Sambil menunggu masa penantian ini, saran saya, ada baiknya orangtua mengambil cuti untuk libur bersama atau jika tidak memungkinkan, ambil waktu untuk melakukan kegiatan bersama. Coba isi tangki cinta si anak. Dengan harapan, anak akan mau lebih terbuka kepada orangtuanya dan melepaskan sedikit rasa tegang yang ada dalam diri anak.
Ada kemungkinan, si anak takut untuk berterus terang karena khawatir dapat membuat orangtua menjadi lebih cemas, atau sedih dll. Atau mungkin komunikasi antara orangtua dan anak yang perlu diperbaiki sehingga ada rasa saling percaya diantara keduanya.

Selamat mencoba, tante yang baik hati.

Vini 7 June 2010

Dear Bu Sandra,

Saya baru bergabung n kebetulan saya mengalami juga kasus spt ini. Anak saya masih pra-TK umur 4 thn kurang 2bln, jadi tiap pagi anak saya mengeluh tdk mau sekolah, dia katakan ada gurunya yg mukulin dia, pdhal setelah saya cek ternyata kata gurunya dia tdk pernah melakukan hal tsb (sy tdk tau apakah gurunya berbohong atau tdk tp di kelasnya slalu ada 2 guru yg mengajar), pertnyaan sy mungkinkah anak umur segitu sudah bisa berbohong atau mengarang crita misalkan dia menggunakan kejadian yg dia pernah lihat dan menceritakan kembali itu sbg kejadian yg dia alami sbg alasan agar tdk bersekolah?
krn memang anak sy tidurnya malam sekali shg paginya dia malas bangun.

Sebelumnya, terima kasih atas perhatian dan jawabannya…

Salam hangat,
Vini

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 7 June 2010

Halo ibu Vini,

Seorang anak mampu berbohong atau tidak tergantung pada kondisi lingkungannya. Pertama, Jika anak merasa tidak aman maka ia akan berusaha untuk berbohong untuk melindungi dirinya sendiri. Kedua, imajinasi anak masih sangat tinggi sehingga terkadang ia tidak dapat membedakan riil dan tidak riil.

Ada kemungkinan jam tidur yang terlalu malam dapat menyebabkan anak malas bersekolah. Jika demikian, ibu perlu menggeser jadwal tidur malam dia. Jika mogok sekolah bukan disebabkan oleh jam tidur maka kita perlu mencari penyebab lainnya.

Salam hangat penuh cinta untuk ibu sekeluarga

Bernadetta Rini 26 July 2010

dear Bu Sandra,

saya punya 2 anak laki-laki yang beda umur hanya setahun (menjelang 4th dan 3th). awal tahun 2010 ini mereka sempat masuk kelompok bermain di dekat rumah. awalnya berjalan lancar, tapi ketika sudah satu bulan si kakak mogok sementara adiknya masih mau sekolah. satu bulan kemudian adiknya ikutan mogok. tiga bulan yang lalu kami pindah ke komplek baru, mereka masih belum mau sekolah. minggu yang lalu tiba2 mereka minta sekolah dan selama 1 minggu di sekolah yang baru dekat rumah yang baru mereka mau sekolah tanpa ditunggu mamanya atau pembantu. tiba-tiba hari ini mereka begitu sampai di sekolah tidak mau masuk dan minta pulang ke rumah. waktu ditanya alasannya takut bu guru. waktu di sekolah yang lama, si kakak sampai muntah kalau diajak ke sekolah untuk jemput atau antar adiknya, bahkan pernah ibu gurunya mau datang ke rumah, baru dengar di telpon saja langsung muntah. apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua ya Bu Sandra, apakah ada trauma yang telah dialami anak saya terutama yang besar,karena kalau adiknya hanya ikut-ikut kakaknya.
terima kasih sebelumnya…..
salam,
rini

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 28 July 2010

Halo ibu Rini,

Saya menjadi merasa sedih ketika mengetahui ada satu lagi anak yang tidak mau sekolah. Jika membaca gejala yang ibu sampaikan yaitu tidak mau sekolah, takut dan muntah ketika akan ke sekolah tampaknya memang ada kejadian emosional di sekolah yang membuat kakak menjadi tidak mau sekolah.

Yang dapat ibu lakukan adalah menetralisir emosi negatif itu dengan memberikan kakak pengalaman menyenangkan mengenai sekolah sehingga emosi negatif itu akan bertumpuk dengan emosi positif dan diharapkan akan menghilang. namun usaha ini butuh waktu dan energi. Minta juga kerjasama dengan guru sekolah yang memang peduli dengan kakak.

atau Ibu dapat menggunakan EFT (emotional Freedom Technique) yang ada di buku Hypnoparenting karangan bapak Ariesandi.

Apakah ada trauma atau tidak ?
Ibu dapat menyimpulkan dari cerita kakak mengenai kejadian yang menyebabkan ia takut dan intensitas emosi yang menyertai ceritanya. Jika kakak belum cerita, ibu dapat memancingnya dengan memberikan cerita bergambar yang berkaitan dengan sekolah. Atau ajak kakak menggambar. Biarkan ia cerita mengenai gambar yang ia lihat atau buat. Dari situ biasanya akan keluar hal-hal yang tidak ia sukai atau ia sukai.

Jika trauma memang benar-benar mengganggu, ibu dapat mendatangi psikolog atau hipnoterapis untuk menetralisir. Ini cara yang lebih cepat

Semoga kakak dapat menjadi anak yang ceria kembali ya.

Salam hangat penuh cinta untuk kakak dan ibu

sasti 2 August 2010

Dear Ibu Sandra yang baik,

anak saya Faris, (3 th 9 bln) sudah 2 minggu ini mogok sekolah.
Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat sekolah (sejak berumur 2.5 thn Faris bersekolah di sebuah PAUD dekat rumah dan tergabung di Kelompok Bermain).

Setelah liburan sekolah tahun ini ternyata teman-teman di KB-nya dulu banyak yang pindah ke TK lain. Sempat saya tawarkan Faris untuk pindah ke TK tempat teman lamanya sekarang bersekolah (kelompok A)tapi ia menolak.

Sekitar semingguan Faris bersekolah di PAUD yang lama. Tetapi kemudian tiba-tiba ia enggan berangkat ke sekolah. Alasannya kepalanya panas. Karena suhu tubuhnya memang agak tinggi, maka saya ijinkan tidak berangkat. Tetapi 2 hari kemudian setelah sembuh, Faris masih menolak bersekolah. Alasannya sakit perut, dan itu berlanjut sampai keesokan harinya.

Saya berusaha mengkorek-korek penyebabnya dari Faris, tapi jawabannya tidak jelas. Saya pun sempat berkonsultasi dengan guru di PAUD-nya tentang kemungkinan penyebab Faris jadi enggan sekolah. Tetapi gurunya menjawab tidak tahu.

Keesokan harinya gurunya mengirim SMS kemungkinan Faris enggan sekolah karena teman-temannya banyak yang pindah, ia pun menyarankan Faris untuk pindah. Tak lama kemudian menyusul SMS lainnya memberitahukan bahwa PAUD-nya ditutup karena kekurangan murid.

Saya pun mulai mencari TK pengganti untuk Faris. Tetapi Faris tetap menunjukkan keengganan bersekolah. Saya ajak dia untuk melihat TK baru teman-temannya, mungkin dia tertarik. Tapi Faris tetap menolak untuk masuk ke pagar TK baru itu.

Keesokan harinya, sambil dirayu-rayu saya coba lagi ajak ke TK baru itu. Faris sudah mulai masuk ke halaman TK . Sementara saya bicara dengan guru di situ, Faris mau bermain dengan anak-anak lain. Setelah lonceng berbunyi Faris mau bersalaman dengan ibu gurudan berpamitan.

Tetapi setiap saya tanya Faris mau bersekolah di situ (saya gunakan istilah “sekolah keren”) atau tidak, dia tetap menjawab tidak mau sekolah. Padahal waktu saya tanya senang tidak bermain di situ, dia jawab senang. Dia juga antusias bercerita tentang mainan yang ada di situ.

Keesokan harinya saya ajak lagi ke TK itu, Faris mau bermain, tetapi tetap tidak mau sekolah.

Di rumah sempat saya ajak bermain peran (dengan boneka), waktu saya tanya faris mau kemana, dia jawab “ke sekolah keren”. Dan cerita tentang sekolah keren berlanjut. Saat itu saya pikir Faris antusias untuk bersekolah lagi.

Tetapi tadi pagi, Faris menolak waktu disuruh sekolah. Waktu saya pakai istilah main di sekolah keren-pun dia menolak. Setelah saya rayu, saya janjikan saya yang akan mengantarnya ke sekolah (sebelum berangkat kerja), akhirnya ia mau berangkat. Tetapi kira-kira 100m dari pagar sekolah dia menangis dia bilang, “aku ga mau sekolah bunda”. Akhirnya kita pulang lagi.

Saya jadi bingung, apa yang harus saya lakukan? Mau dipaksa, saya kasihan dan takutnya malah jadi trauma sekolah. Sempat kepikiran untuk mengistirahatkannya dari sekolah dulu, tapi ada terbersit takut keterusan tidak mau sekolah.

Maaf ya Bu, kalau ceritanya kepanjangan… :)

salam,

sasti

sasti 2 August 2010

Ibu Sandra yang baik,

barusan saya dapat info dari pengasuh anak saya, tadi sempat tercetus dari Faris kalau dia tidak mau sekolah karena takut diomelin Ibu guru.
kesimpulan saya Faris tiba-tiba tidak mau sekolah karena trauma dimarahi guru sekolah lamanya.

Aduh Ibu, saya makin takut dan bingung…apa yang harus saya lakukan?

terima kasih banyak ya bu…

salam,

sasti

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 2 August 2010

Halo Ibu Sasti,

Pendekatan yang ibu lakukan kepada Faris sudah sangat baik.

Jika memang akar masalah Faris enggan untuk sekolah karena Faris mengalami rasa takut diomeli gurunya maka yang perlu kita lakukan adalah mendapatkan kepercayaan dari Faris bahwa tidak semua guru suka mengomel. Guru mengomel pasti memiliki alasan, sama seperti Bunda yang terkadang juga marah kepada Faris.

Jika memungkinkan, mintalah tolong kepada guru baru Faris untuk membangun kepercayaan Faris kepada dirinya. Cara yang dilakukan bisa dengan mengajak Faris bermain atau bercerita.
Saya memiliki pengalaman dengan siswa saya yang menangis histeris karena ditinggal orangtuanya di sekolah. Padahal, menurut pengamatan saya, anak ini sebenarnya sudah nyaman dengan lingkungan sekolah namun masih enggan ditinggal orangtuanya. Jadi, saya khususkan 1 hari untuk menemani anak ini bermain, bercerita dan berjalan-jalan di sekolah. Saya pancing-pancing dia supaya dia mau lebih dekat dan percaya kepada saya. kemudian saya mulai baurkan dia dengan teman-temannya. Alhasil, anak ini lebih mudah ditinggal disekolah keesokan harinya dibandingkan hari sebelumnya.

Semoga kepercayaan Faris cepat pulih ya Bunda.

Salam hangat penuh cinta untuk Faris

sasti 3 August 2010

Terima kasih Ibu Sandra atas sarannya.

Semalam saya ngobrol sama Faris, sambil lalu saya coba korek-korek lagi. Faris bilang katanya habis dicubit bu guru. Haduuuh, saya lemes mendengarnya. Saya yang melahirkannya saja tidak pernah seujung kukupun nyakitin dia (kalau marah biasanya saya beri hukuman seperti tidak memperbolehkannya main mainan favoritnya untuk beberapa saat).

Akhirnya kami putuskan beberapa hari ini tidak akan menyinggung masalah sekolah dengan Faris. Setelah itu saya akan mencoba meng-approach-nya lagi.

Mudah-mudahan tak lama lagi Faris semangat lagi sekolah.

Terima kasih banyak ya bu Sandra… :)

yanti 4 August 2010

Ibu Sandra yang baik,

Anak saya namanya Raffi baru beberapa minggu memulai sekolah di TK A. Pada hari pertama masuk sekolah di temanin sama saya, pada hari ke dua tidak ditemani dan tidak sedikitpun ada tangisan dan rengean, pada hari ke tiga sampai saat ini raffi tidak mau baris dan tidak mau masuk kelas melainkan dia lari ke depan masjid, kebetulan sekolahnya dekat masjid, setelah di bujuk sama gurunya dia baru mau masuk kelas dan juga mengajak saya masuk.

Hampir 2 minggu saya menemaninya di kelas, di dalam kelaspun dia tidak mau mengikuti pelajaran seperti mewarnai, menebalkan huruf atau angka, tetapi hanya main dan mondar mandir saja.
Mulai senin kemarin saya tidak menemaninya saya hanya antar dia smp pintu kelasnya saja, waduh….waduh…bu…nangisnya kedengaran smp semua kelas, dia tendang-tendang pintu sambil teriak - teriak aku…mau….sama…mama…..aku mau mama……..begitu setiap hari selama tidak saya temanin.
Dan setiap pulang sekolah saya selalu menanyakan pd gurunya tentang perkembangan raffi, ibu gurunya selalu bilang raffi belum mau disuruh masih senang main. Kalau saya tanya atau ayahnya tanya kenapa tidak mau baris? katanya bosen…di tanya kenapa tidak mau masuk kelas? katanya aku mau sama mama……kenapa mau sama mama kata ayahnya…ya aku mau sama mama….jawabannya selalu itu - itu saja.

Bagaimana ya bu memberi pengertian pd anak saya. oh ya bu dan dia selalu bersemangat kalau mau sekolah.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 5 August 2010

Selamat malam ibu Yanti,

Berdasarkan informasi yang ibu berikan tampaknya Raffi memang hanya ingin bersama ibu. Jika memang demikian, kerbersamaan ibu dengan Raffi perlu ditambah. Coba ajak Raffi bermain lebih lama dari biasanya, hanya berdua. Kemudian minta Raffi untuk menceritakan pengalaman bersama ibu kepada gurunya.
Selain itu, untuk sementara waktu, minta tolonglah kepada ibu guru untuk bersedia memperhatikan Raffi dengan banyak mengajaknya bercakap-cakap atau memberikan Raffi kesempatan untuk membantu ibu guru di kelas sehingga Raffi merasa lebih nyaman.

Selamat mencoba ibu Yanti

ummu fatih 16 August 2010

Dear ibu Sandra yang baik..
anak saya yang bungsu usia 5 tahun 10 bulan sekarang dia sekolah SD. hari pertama masuk sekolah dia tidak ada masalah, tapi satu minggu berikutnya selalu kalo mau berangkat kita harus merayu dulu, dan kalo sudah sampai sekolah dia tidak mau masuk kelas, akhirnya oleh gurunya di paksa masuk ke kelas. tapi anak saya hanya bermasalah waktu pagi saja,kalo kita jemput waktu pulang dia malah asyik bermain dengan teman2nya. dan di rumah pun dia semangat mengerjakan pr dan cerita tentang asyiknya di sekolah. saya tanyakan ke gurunya pun di kelas dia juga tidak ada masalah .saya sampai malu ke wali murid yang lain karena tiap hari dia di oaksa masuk kelas dan nangis {meskipun nangisnya cuma sebentar} terkadang saya terpaksa janjikan dia beli mainan kalo mau masuk kelas,dan ternyata itupun tidak membuat dia berubah.. apa yang harus saya lakukan bu?

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog 17 August 2010

Hai ibu Ummu Fatih,

Coba ibu tanyakan ke anak ibu, mengapa dia enggan masuk kelas di pagi hari. Umur anak ibu sudah sangat memungkinkan untuk ditanya.

Dugaan saya, ada kemungkinan ia masih terlalu kecil. Suasana kelas yang ia hadapi ketika TK dan SD sangat berbeda. Di TK, masih banyak pelajaran bernyanyi, menggambar dan bercerita + masih tidak ketat dalam pelajaran. Sedangkan di SD, ia diharapkan sudah dapat duduk diam mendengarkan guru. Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, coba ditanya anak ibu.

Salam hangat penuh cinta untuk Ibu Ummu Fatih

ema 26 August 2010

….Saya senang membaca comment2 para ibu di atas…..karna saya juga pernah mengalami hal yang sama…pada saat anak saya masuk TK-B…tahun lalu…..bahkan anak saya,samapai terkenal dengan suara besarnya…ha..ha..ha..(apalagi anak saya badannya gede,lbh gede dari anak seumurnya).Waktu itu…hampir 2 minggu berturut2 saya tungguin di sekolah…tiap sampai di sekolah, mengalami muntah2..padahal kondisinya sehat…….harus di lihat di depan pintu kelas…..bahkan kalau pintu kelas di tutup sama gurunya…dia akan menjerit histeris…..tapi seiring berjalannya waktu….bisa semua terlewati…dan harus ada kerjasama dari kita orangtua dengan gurunya…..dan harus sabar.Jadi mungkin intinya….hal itu wajar2 saja untuk anak baru masuk sekolah…gak semua anak langsung stand bay, ada kalanya mengalami hal2 seperti yang kita alami……..ok ..untuk para ibu……mg kita dapat menjadi ibu yang sabar…dan boleh melakukan yang terbaik untuk anak2 kita……..Salam…..Ema..

Bimo 27 August 2010

Dear ibu Sandra
salam kenal…
Anak saya pertama bernama arya, usianya 3.8 tahun. sekarang ia bersekolah di TK A. Awalnya anak saya berani sekolah. tetapi itu hanya bertahan beberapa hari. setelah itu mogok..saat mulai mogok kami pun sempat tanya ke arya, dia menjawab mau pindah sama ibu guu yang baru. kami pun akhirnya bertemu suster kepala untuk dipindahkan. dan beliau mengabulkan. dia pun mau sekolah. dan itu pun hanya bertahan beberapa hari dan entah kenapa kembali arya mogok sekolah hingga saat ini. Untuk berangkat sekolah arya tidak masalah. artinya dia tetap berangkat sekolah. tetapi saat sudah akan ditinggal ibunya sudah mulai nangis.dan kalau pun sudah di dalam kelas arya tak mengikuti pelajaran atau aktivitas di kelas. hanya diam dan sibuk sendiri. terkadang muntah tanpa sebab. hal ini berbeda saat berada rumah dimana ia gemar beraktivitas dengan adiknya arista. Mulai dari mewarnai, main komputer, dan lain-lain. Untuk mengatasi itu kami coba menanyakan mengapa dia tidak mau sekolah. arya hanya diam dan tak mau menjawab. bahkan sempat kami coba dengan sistem reward ( misalnya, diajak jalan-jalan) and punishment (dikurung di kamar mandi), dibujuk, itu pun tak menyelesaikan masalah. hebatnya lagi, pada saat di rumah,arya bilang mau sekolah dan mau pinter dan nggak nangis. tetapi pas di sekolah dia malah bilang aku nggak mau pinter, mau nangis ajah… dan nangis deh.. Kami coba dengan saat sekolah ditemani ibunya mulai dari dalam kelas, kemudian mundur menjauh sedikit demi sedikit, dan hasilnya makin nangis. mohon pencerahan ibu. karena terkadang saya kasihan dengan ibunya anak-anak. terima kasih ibu. dan GBU

sienny 30 August 2010

dear, ibu sandra.

anak saya bernama velicia . saya sudah membaca sebagian cerita ibu-obu yang lain . tetapi saya sendiri masih binggung dengan perilaku anak saya . anak saya berumur 3 tahun dia baru saya masukkan ke playgroup. dihari pertama yang biasanya anak” menangis dia malah enjoy sekali dengan mainan di kelasnya . bahkan sesekali dia melambaikan tanggan kepada saya. dan 4 hari berikutnya dia sudah bisa ditinggal sendiri. tetapi pada hari yang ke-5 saat dia pulang dia mennggis keras sekali. lalu gurunya menanyakan pada saya apakah dia sakit karena setelah 15 menit dia masuk sekolah dia menanggis terus sampai waktu pulang sekolah padahal di kelas dia sama sekali tidak berantem dengan temannya, saya bilang dia tidak sakit .

sepulang sekolah saya tanya ” kenapa km menanggis ?” dia menjawab klo ” dia mau sama mommy ” saya kasih pengertian sama dia klo mommy tunggu diluar nanti klo sudah selesai sekolah kamu pasti bisa sama mommy lg. dan kejadian ini berlangsung sampai sekarang kurang lebih sudah 5 kali sekolah ( 1 minggu = 3 kali ) tapi dia masih menagis dari awal masuk sampai pulang.

ibu sandra saya binggung sekali , apalagi yang mesti saya lakukan karena setiap hari pun dia selalu bersama - sama dengan saya, karerna saya yang mengurus dia mulai kecil sendiri . saya selalu mencoba berbagai cara supaya dia mau pergi kesekolah . tapi tidak ada yang berhasil. klo saya ajak dia bicara berdua saat dia sedang bermain mengenai sekolahnya dia selalu terlihat sedih dan mulai mencari percakapan yang lain . dia tidak suka klo saya membicarakan tentang sekolahnya.

saya dan suami saya sepakat karena dia masih harus sekolah 3 hari kedepan dan setelah ini mau liburan panjang , saya memutuskan klo dia sekolah ditemani grandma nya di kelas , dengan pertimbangan supaya dia tidak ” trauma “. ibu sandra cara apa yang baik untuk saya lakukan karena hal ini benar” membuat saya dan suami sangat tertekan, karena klo dirumah dan diluar rumah dia adalah anak yang ceria dan pemberani….???

saya dan suami sedang merencanakan untuk mulai membatsi kebersamaan saya bersama anak, dia sekarang tidak lagi tidur dengan saya tapi dia tidur dengan grandma nya … dan setelah liburan nati saya berencana untuk meninggalkan dia di kelasnya sendiri , tidak lagi ditungguin di dalam kelas…. dengan harapan dia akan berhenti menagis dengan sendirinya. bu sandra … mohon masukkanya …. TERIMA KASIH

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 31 August 2010

Halo Pak Bimo, salam kenal juga.

Berdasarkan cerita bapak, tampaknya bapak sudah melakukan segala upaya yang bisa bapak lakukan. Saya hanya akan menambahi beberapa hal saja.

Jika bapak menanyai Bimo, gunakan pertanyaan yang dijawab dengan ya atau tidak. Misalnya : Apakah Bimo tidak suka sekolah ? Apakah di sekolah ada teman yang tidak disukai Bimo ? dll
terkadang anak menjawab tidak tahu bukan karena mereka tidak tahu benaran tapi karena mereka tidak dapat menemukan penyebab yang mereka rasakan. Jadi kita perlu membimbingnya dengan memberikan pertanyaan.

Selain itu, keengganan Bimo untuk sekolah mungkin juga karena kosongnya tangki cinta Bimo. Coba bapak luangkan waktu untuk bermain atau pergi berdua saja dengan Bimo. Kemudian gantian, ibu dengan Bimo saja. Buat kegiatan bersama yang berkualitas.

Terakhir, apakah ada sesuatu yang berubah di rumah ? atau salah satu diantara bapak atau ibu sedang mengalami masalah ? Biasanya anak-anak dapat menangkap getaran kegelisahan dari orangtua sehingga mereka agak “rewel”.

Selamat mencoba.
Saya tunggu kabar baiknya,

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 31 August 2010

Halo ibu Sienny

Anak menangis pasti memiliki sebab karena anak-anak masih jujur. Mereka menggunakan tangisan untuk menyatakan perasaan mereka.

Adakah kemungkinan Velicia mengimitasi perilaku temannya yang menangis karena ditinggal orangtuanya ?
Karena anak seusia itu, biasanya memiliki kemampuan empati yang tinggi sehingga mudah ikutan menangis.

Dari jawaban Vellicia yang ingin bersama mommy maka perlu ibu coba tapi bukan menemani di kelas. Ajak Velicia bermain berdua saja dengan ibu atau pergi berdua, tanpa suster ataupun grandma ataupun daddy.
Atau bermain dengan daddy, hanya berdua saja.

Selain grandma yang menemani di kelas, coba dekatkan Velicia dengan salah satu guru supaya ia nyaman.

Kebersamaan ibu dengan Velicia tidak perlu dibatasi. Jika sudah waktunya, ia akan lepas dengan sendirinya karena Velicia masih 3 tahun. Untuk masalah tidur, saya setuju jika memang hendak dibiasakan untuk tidur sendiri atau bersama grandma.

Setelah libur, ibu perlu melihat kondisi Velicia. Jika ia sudah mampu melupakan “hal” yang membuat ia cemas, silahkan ibu tinggal. tapi jika belum, mungkin masih perlu ditemani dulu.

Gunakan yes no questions untuk menanyai Velicia mengenai keengganannya sekolah.

Salam untuk Velicia