Bulan: Desember 2008

  • Selamat Tahun Baru 2009

    Tahun 2008 telah berlalu. Pelajaran apakah yang kita petik pada tahun 2008?

    Marilah kita menyambut tahun yang baru dengan rencana tindakann yang baru pula. Kita tak bisa mengharapkan sebuah hasil yang berbeda jika kita tetap melakukan satu hal yang sama.

    Hal ini berlaku untuk semua aspek kehidupan kita. Jika kita memandang anak-anak kita memiliki masalah tertentu maka sebaiknya kita mengganti pendekatan pada mereka.

    SekolahOrangtua.com akan tetap mendampingi Anda – para orangtua Indonesia – untuk mengembangkan wawasan tentang diri kita sendiri dan keluarga.

    Nantikan berbagai program pembelajaran terbaru dari SekolahOrangtua.com

    Akhirnya segenap team SekolahOrangtua.com mengucapkan :

    SELAMAT TAHUN BARU 2009

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga,

    Ariesandi dan Team SekolahOrangtua.com

  • Kebersamaan Dalam Keluarga

    42_18309157.jpgDalam kondisi dunia yang makin banyak memberikan tuntutan, memaksa suami dan istri pergi ke luar rumah untuk bekerja sehingga banyak keluarga kurang memiliki kesempatan untuk menjalin kebersamaan dalam keluarga. Hand phone yang pada awalnya dimaksudkan sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi sehingga jalinan kebersamaan bisa terjaga, sering berubah menjadi sumber bencana retaknya komunikasi. Padahal, kebersamaan dalam keluarga akan memberikan tambahan energi positif kepada anggotanya.

    Kebersamaan? apakah itu?

    Kebersamaan yang saya maksudkan dalam hal ini tidak sekedar kehadiran fisik belaka, namun adanya keterlibatan emosi pada seluruh anggotanya. Lihat artikel Kedekatan Fisik Tidak Sama dengan Kedekatan Emosional yang telah ditulis oleh Bapak Ariesandi di situs ini juga. Kebersamaan yang terjalin dengan kualitas yang bagus, tidak akan terpengaruh oleh kuantitas waktunya. Waktu yang hanya 1 jam dapat sangat bermanfaat jika seluruh anggota keluarga benar-benar ikut terlibat di dalamnya dibandingnya waktu sepanjang 12 jam yang hanya dimanfaatkan untuk saling diam atau konsentrasi dengan aktivitas masing-masing.

    Sarana Pembangun Kebersamaan

    Ada banyak sarana yang bisa kita manfaatkan untuk membina kebersamaan dalam keluarga, antara lain :

    1.    Bercanda bersama

    Kapankah terakhir kali Anda bercanda dengan pasangan Anda? Ketika saya bertanya demikian kepada sebuah komunitas orangtua dalam acara Family Gathering, saya tidak mendapatkan jawaban kecuali tatapan mata dan senyuman. Masing-masing hanya saling pandang. Setelah beberapa saat barulah ada seorang peserta yang menjawab, “Sudah lama sekali, waktu kami masih berpacaran”. Wauw lama sekali ya?

    Bercanda itu sangat penting karena di dalam bercanda ada kegembiraan. Kegembiraan itu akan membuat pola pandang kita terhadap berbagai masalah yang ada berubah. Kegembiraan mampu menjernihkan pandangan kita terhadap sesama anggota keluarga. Bahkan tidak sedikit peserta Family Gathering yang merasa bahwa dengan bercanda, mereka dimudakan kembali. Relasi antara suami-istri diremajakan kembali.

    2.    Bermain bersama

    Bermain, adalah aktivitas yang tanpa tuntutan. Di dalam bermain tidak ada kalah atau pun menang. Jika toh diciptakan kompetisi, itu bertujuan untuk meramaikan, bukan untuk benar-benar berkompetisi.

    Ingat, bermain bersama butuh keterlibatan semua pihak. Jangan ada yang hanya menjadi penonton. Dalam acara Family Gathering, yang saya sebut di atas, pada sesi dinamika keluarga yang difasilitasi dengan menggunakan sebuah permainan, nampak bahwa ketika bermain, tidak ada batasan antara anak dengan orangtua. Semua anggota keluarga mampu menggali kegembiraannya dengan leluasa, tanpa kekangan. Anak mampu mengoreksi perlakuan orangtua dengan lugas, demikian pula orangtua dapat memberikan masukan tanpa kemarahan.

    3.    Belajar bersama

    Yang dimaksudkan belajar bersama dalam hal ini bukan sekedar duduk bersama dalam satu meja dan masing-masing membawa bahan materi pembelajaran untuk dipelajari. Sekali lagi hal itu hanyalah kebersamaan fisik. Belajar bersama dalam hal ini adalah membahas sebuah kajian bersama-sama. Pilihlah bahan yang ringan dan aktual dan sesuai dengan tingkat kemampuan berfikir anak, misalnya bahasan tentang buah, mainan, pakaian, atau apa saja yang ada di sekitar kita. Dengan catatan : Jika bahan kajian berupa sikap orang, buatlah agar jangan sampai pembahasan berubah menjadi ajang “membiarakan kejelekan orang”.

    4.    Nonton Televisi / Bioskop Bersama

    Tentu, pilihlah tontonan yang bermutu dan menyegarkan, seperti komedi atau film-film yang sepadan dengan usia anak-anak Anda. Tontonan hendaknya disukai oleh semua keluarga. Anda bisa menyesuaikan dengan selera anak, namun, boleh juga Anda mengajak anak menyukai selera Anda, tentu bukan dengan paksaan. Sebab, jika apa yang ditonton ternyata hanya disukai oleh sebagian anggota, yang akan terjadi bukanlah sebuah kebersamaan, tetapi saling ganggu, bahkan bisa terjadi konflik. Anda sekeluarga bisa membahas apa yang telah Anda tonton bersama, meski hanya sekedar menyampaikan perasaan atau kesan.

    5.    Rekreasi Keluar bersama

    Pernahkah ketika Anda bermaksud untuk berlibur bersama ternyata suasana justru berubah menjadi ajang percekcokkan? Itu namanya bukan rekreasi bersama melainkan bertengkar sambil jalan-jalan. Nah, jika Anda ingin berekreasi bersama, sebelumnya Anda harus membuat rancangan yang merupakan keputusan bersama dan harus dijalankan bersama. Oleh karenanya, perlu ada komitmen bersama sebelum Anda beranjak dari rumah. Sesuaikan barang bawaan dengan kapasitas tenaga dan keperluan Anda. Pastikan bahwa barang-barang yang penting sudah Anda kemas, akan lebih baik jika Anda membuat daftar barang yang akan Anda bawa. Mengapa ini penting? Karena banyak terjadi percekcokan dalam perjalanan hanya disebabkan sebuah barang yang tertinggal.

    Rekreasi harus segera dimulai sesaat Anda berangkat, dalam arti bahwa perjalanan Anda pun harus dirancang sebagai sebuah rekreasi. Oleh karenanya Anda dan keluarga harus bisa menikmati perjalanan Anda. Akan lebih baik apabila Anda sekeluarga membuat keputusan untuk menciptakan kebahagiaan sepanjang rekreasi Anda. Gunakan teknik yang dipaparkan dalam dalam buku-bukunya Bapak Ariesandi S., CHt. : “Hypnoparenting” dan “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”. Saya belajar dari Bapak Ariesandi bagaimana caranya membuat afirmasi (self talk) yang sesungguhnya merupakan teknik NLP (Neuro Linguistik Program), yaitu memrogram pikiran kita menggunakan bahasa, seperti “Saya memutuskan untuk mendapatkan rekreasi yang menyenangkan bersama keluarga saya”. Jika Anda bersungguh-sungguh ketika mengucapkan afirmasi tersebut, yakinlah bahwa apa yang Anda ucapkan akan benar-benar terjadi. Saya sudah banyak memanfaatkannya.

    6.    Doa bersama

    Semua agama mengakui bahwa doa bersama dirasa sangat ampuh demi terkabulnya sebuah permohonan. Selain itu, tahukah Anda bahwa doa bersama membuat Anda sekeluarga merasa “menyatu”? Jika Anda belum percaya, silakan Anda coba dan jadikan sebagai sebuah kebiasaan di dalam keluarga Anda.

    Jika Anda mencermati keenam sarana di atas, terlebih jika Anda laksanakan, Anda akan menyadari bahwa:

    1. Kebersamaan dalam keluarga bisa dibangun tanpa harus menyita seluruh waktu Anda
    2. Kebersamaan dalam keluarga akan mendatangkan energi positif yang dapat mendukung aktivitas Anda di luar     rumah, dalam pekerjaan atau bisnis Anda.
    3. Kebersamaan dalam keluarga akan membuat Anda merindukannya, sehingga Anda dapat dengan mudah menghalau godaan dari luar rumah Anda.
    4. Kebersamaan dalam keluarga akan memotivasi keterbukaan dalam keluarga. Dengan demikian, akan muncul sikap saling percaya dan saling menghargai di dalam keluarga Anda.
    5. Kebersamaan menumbuhkan rasa saling memiliki dan kesamaan visi dan misi antara Anda dengan pasangan  dalam rangka mengasuh buah hati Anda.

    Demikian pengalaman saya, semoga bermanfaat bagi seluruh orangtua yang membaca artikel ini. Selamat menikmati anugerah Tuhan sebagai orangtua.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga,

    V.Dwiyani/Ve (Mathemagics Magelang)

    Family Counceloruploads

  • Selamat Natal 2008

    Tersenyumlah karena itu akan membuat kita nyaman

    Berdoalah karena itu akan menguatkan kita

    Berbagilah karena itu akan membuat kita menjadi lebih kaya

    Sebarkan kasih sayang karena itu akan membuat kita mengerti arti kehidupan

    Segenap team SekolahOrangtua.com mengucapkan :

    “Selamat Natal 2008, Semoga Damai Natal menyertai kita semua”

  • Kasih Ibu Sepanjang Masa!

    “Oh, saya hanya seorang ibu rumah tangga”, demikian kata seorang ibu ketika saya tanya apa pekerjaannya.

    “Hmm, menarik sekali. Mengapa Anda mengatakan “hanya seorang ibu rumah tangga”? Bukankah seharusnya Ibu dengan bangga mengatakan bahwa ibu adalah seorang ibu rumah tangga? Tak ada alasan untuk tidak menjadi bangga karena Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki peran besar mendukung anak-anak dan suami dalam membangun masa depan”, demikian jawab saya.

    “Ah, Bapak bisa saja berbasa-basi. Saya ini kan cuma di rumah. Tidak menghasilkan apa-apa”, kata sang ibu.

    “Janganlah mengukur prestasi Ibu dari banyaknya uang yang dihasilkan. Ibu menghasilkan sesuatu yang tak nampak. Ibu mampu menghasilkan dan menjadi sumber cinta yang akan membuat seorang manusia biasa mampu melakukan hal-hal luar biasa dalam kehidupan. Itulah yang dilakukan oleh ibu saya pada diri saya pribadi. Karena cinta beliaulah maka saya mampu menghadapi tantangan kehidupan dan berkarya untuk kehidupan. Ibu saya menyalakan lentera kehidupan saya dengan cinta kasihnya casino yang tanpa syarat dan begitu tulus. Inilah yang sering dilupakan oleh seorang ibu rumah tangga”, jawab saya dengan penuh kesungguhan.

    Wahai para Ibu dimanapun berada tutuplah mata sejenak dan rasakan bahwa Anda adalah Ibu yang luar biasa yang akan mampu membuat seorang manusia biasa melakukan hal luar biasa dengan cinta kasih Anda.

    Mulai saat ini jika Anda ditanya apa pekerjaan Anda, maka jawablah dengan penuh percaya diri dan penuh kebanggaan bahwa Anda adalah seorang ibu rumah tangga!

    Terima kasih tak terhingga untuk Ibu saya pribadi. Terima kasih untuk seluruh Ibu yang membaca tulisan ini. Sadarilah bahwa cinta kasih dan pengorbanan yang selama ini Anda lakukan layak mendapatkan penghargaan luar biasa  karena nilainya yang tak terukur. Tak ada seorang pun yang dapat melakukan pekerjaan sebanyak yang dapat dilakukan seorang ibu.

    SELAMAT HARI IBU 22 DESEMBER 2008!


    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Ariesandi dan team sekolahorangtua.com

  • Gaya Pengasuhan dan Masa Depan Anggota Keluarga

    angry parents.jpgApa hubungannya masa depan saya dan anak-anak dengan gaya saya mengasuh anak? Sebuah pertanyaan yang wajar, jika kita mencermati pernyataan judul di atas. Jika anak kita menjadi orang yang bahagia, tahu apa tujuan hidupnya, menghasilkan karya yang berguna bagi bangsa, tentunya kita turut menjadi bahagia juga kan di masa depan ? Coba bayangkan apabila anak kita tumbuh menjadi orang yang miskin, pemurung, tidak tahu harus bekerja di bidang apa, tidak tahu cara memilih pasangan hidup, tentunya, kita di masa depan akan ikut menjadi tidak bahagia dan mengalami penyesalan seumur hidup, bukan?

    Memiliki anak yang bahagia, tahu tujuan hidupnya dan mampu berkarya adalah hasil pengasuhan yang kita lakukan sejak anak masih dalam perlindungan kita. Jika kita salah mengasuhnya maka ia akan menjadi apa yang telah kita asuhkan. Ambil contoh Obama, jika Obama tetap diasuh oleh ibunya dan tinggal di Indonesia, ia tentunya akan menjadi Obama yang berbeda dengan Obama sekarang. Pengasuhan yang diterima olehnya, mengharuskan ia untuk bisa mengakomodasi perbedaan yang ada disekelilingnya. Ia yang berkulit hitam harus bisa bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan tempat kakek neneknya tinggal yang jelas-jelas berkulit putih. Hasilnya, bisa dilihat dalam kabinet yang dibentuknya. Ia berencana menyatukan orang-orang hebat yang memiliki pandangan berbeda dengan dirinya menjadi 1 kabinet.

    Saat ini, Obama mengusulkan Hillary Clinton, mantan rivalnya dalam pencalonan presiden dari partai Republik. Bahkan, McCain yang jelas-jelas memiliki pendapat berbeda dengannya, direncanakan akan direkrut sebagai salah satu mentri dalam kabinetnya. Hebat bukan ? Coba imajinasikan, jika Obama tetap tinggal di Indonesia dan menjalani proses pendewasaan di sini. Mungkinkah Obama menjadi pribadi yang berbeda?
    Pernahkah anda mendengarkan orangtua yang menuntut anaknya seperti ini, ”Pokoknya … kamu harus pulang ke rumah sebelum jam 8”. Tanpa ada penjelasan mengenai mengapa anak harus pulang jam 8. Atau tidak memberikan anak pilihan keputusan yang bisa dipilih, ”Papa mau kamu masuk kuliah jurusan ABC. TITIK.” Atau, orangtua yang berkata kepada anak usia SMP,”Ya sudah … terserah kamu! Yang menurut kamu baik, jalankan saja.” Tanpa penjelasan dan batasan mengenai apa yang baik dan jelek. Padahal usia ini masih mencari mengenai hal yang baik dan tidak baik. Ketiga orangtua ini memiliki gaya mengasuh yang berbeda kepada anaknya.

    Untuk lebih menyederhanakan, gaya pengasuhan dapat diibaratkan (namun tidak dapat disamakan) dengan gaya kepemimpinan di kantor. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita sebagai karyawan, kita berjumpa dengan bos atau atasan kita yang memiliki gaya memimpin berbeda. Ada yang otoriter, yang tidak memiliki empati kepada anak buah sehingga setiap tugas atau perintah harus dilaksanakan dengan segera (seperti dalam film The Devils Who Wear Prada).

    Ada juga bos yang bisa memahami anak buahnya sekaligus mampu bertindak tegas, bisa membedakan urusan personal atau urusan profesional. Ada juga bos yang bisa disetir oleh anak buah. Atau bos yang tidak peduli pada hasil kerja anak buah sudah berkualitas atau tidak, yang penting mereka tetap bekerja dan tetap dibayar penuh tiap bulannya. Gaya kepemimpinan ini tentunya akan berpengaruh pada suasana kantor serta berpengaruh pada hasil pekerjaan anak buah yang dipimpin bukan ?

    Nah, gaya pengasuhan adalah cara yang kita gunakan dalam merawat, berkomunikasi, dan mendidik anak kita. Mengapa sampai muncul penelitian tentang gaya pengasuhan ? Karena hal ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan anak ketika dewasa. Penelitian mengenai gaya pengasuhan ini telah dilakukan sejak tahun 1930-an. Salah seorang peneliti yang teorinya banyak digunakan hingga sekarang dan dianggap paling populer adalah Diana Baumrind. Penelitiannya dilakukan pada tahun 1968 dan hingga sekarang, hasil penelitiannya ini masih digunakan oleh masyarakat umum dan dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa.

    Gaya pengasuhan menurut Baumrind, dibedakan menjadi 4 kategori yaitu gaya authoritarian, gaya authoritative, gaya permissive, dan gaya neglectful/uninvolved. Perbedaan dasar ke-empat gaya pengasuhan ini adalah terletak pada harapan orangtua dan kehangatan kasih sayang yang ditunjukkan oleh orangtua.

    1. Gaya Pengasuhan Authoritarian.
    Orangtua yang memiliki gaya pengasuhan ini dapat disamakan dengan bos yang tegas dan kejam. Beliau dengan jelas menerapkan visi perusahaan dan dia dengan tegas menjalankan semua peraturan yang memang harus dilakukan tanpa pandang bulu. Tiap anak buah harus menaati tanpa kecuali. Bos tipe ini tidak dapat diajak diskusi dan tidak boleh ada yang mempertanyakan alasan pemberlakuan peraturan. Ya… bisa dibayangkan, tipe anak buah yang dipimpinnya. Penurut, tidak berani ambil keputusan, hanya berani menentang dibalik punggung bos. Atau melakukan korupsi kecil-kecilan asal tidak ketahuan sebagai tanda melawan bos.

    Gaya bos seperti itu, juga terbawa sampai di rumah dan digunakan untuk memperlakukan istri/suami dan anaknya. Biasanya pemikiran yang melandasi adalah anak tidak tahu yang benar dan baik, jadi harus menuruti keinginan orangtua, menjalankan peraturan yang diberikan tanpa boleh dipertanyakan atau diberikan hak untuk memilih. Selain tegas menerapkan peraturan dan keinginannya orangtua tipe ini juga kurang memiliki hubungan emosional yang hangat dengan anaknya. Mereka cenderung mengabaikan kebutuhan emosi anak, menerapkan kondisi cinta bersyarat dan menggunakan ancaman untuk tidak memberikan cinta atau perhatian jika anak tidak mau menurut. Komunikasi dengan anaknya pun tidak jauh berbeda dengan yang dialami salah seorang klien saya, dibumbui dengan sedikit manipulasi dan ancaman terselubung “Kalau kamu mau disayang sama mama dan papa, kamu harus menjadi anak yang baik dan penurut.”

    Atau “Papa dan mama paling suka lho… sama anak yang mau mendengarkan kata-kata papa mamanya, nggak nakal, sayang sama adiknya/kakaknya.”

    Atau “Papa jadi sayang sama kamu karena kamu bisa mendapatkan nilai 8 untuk ulangan matematika tadi.”

    Tentunya, anak yang terus menerus menerima perlakuan ini berkembang menjadi anak yang kurang memiliki rasa aman, memiliki konsep diri yang kurang sehat, kurang percaya diri, dan cenderung mengkaitkan kepemilikkan materi atau status sebagai simbol rasa amannya.

    Apabila keadaan ini terus berlanjut, anak tumbuh menjadi pribadi penurut, pasif, biasanya tidak bermasalah dalam beradaptasi dengan norma atau kebalikannya cenderung menentang otoritas. Keduanya sama-sama kurang trampil dalam bersosialisasi. Mereka juga biasanya tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak tahu apa yang baik untuk diri mereka ataupun tujuan hidup mereka. Mereka sering mengalami kebingungan mengenai hal yang benar dan salah. Orang yang tumbuh dengan keadaan demikian tentunya tidak akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.

    Orang yang tumbuh menjadi pribadi yang penurut dan pasif akan lebih senang jika orang lain yang mengambil keputusan untuk dirinya. Akibatnya, hubungan yang dibina oleh orang seperti ini akan menjadi sebuah hubungan yang rapuh, mudah mengalami konflik. Bahkan ketika memasuki pernikahan, mereka cenderung memilih pasangan yang suka mengontrol dan kasar. Atau, kemungkinan kecil, orang yang tumbuh cenderung melawan secara terang-terangan kepada orangtua dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh orangtua. Misalnya kabur dari rumah atau menjalin hubungan dengan pasangan yang jelas-jelas tidak disukai oleh orangtua. Biasanya gaya pengasuhan ini lebih banyak berdampak negatif kepada anak laki-laki daripada anak perempuan. (bersambung)

    Sandra M.,MPsi, Psikolog

  • Saya Menyayangimu,Nak! dan Seminar di Pontianak

    Dear Parents,

    Halo para orangtua Indonesia! Salam sejahtera untuk Anda semua!

    Pada pesan berikut saya akan mengingatkan sudahkah Anda mengucapkan “Saya menyayangimu, Nak!” pada putra putri tercinta Anda untuk hari ini?

    Dan saya juga mengingatkan saat mengucapkan hal tersebut pastikan untuk melakukan kontak mata dan sentuhan fisik.

    Hal ini akan membuat mereka senantiasa merasa aman dan berharga yang pada gilirannya akan memicu rasa percaya diri.

    Namun hendaknya hal ini juga Anda lakukan pada pasangan Anda. Ya….saat Anda pasangan merasakan cinta itu kembali maka anak Anda pun akan merasakan kebahagiaan tersebut!

    Jika Anda ingin mengingat kembali apa yang saya maksudkan silakan baca kembali artikel di sekolahorangtua.com yang berjudul Kedekatan Fisik Tidak Sama dengan Kedekatan Emosional .

    DVD502onweb.jpgAtau lihat kembali bersama pasangan DVD Tangki Cinta yang telah Anda miliki. Hal ini akan mengingatkan kembali betapa pentingnya mengisi tangki cinta orang-orang yang Anda cintai.

    Bagi Anda yang belum memiliki DVD Tangki Cinta – durasi 3 jam – ikuti penawaran terbatas yang berlangsung dari hari ini hingga 20 Desember 2008. Ya…. siapapun yang memesan DVD Tangki Cinta pada tanggal tersebut akan mendapatkan potongan harga 30% dari harga normal Rp 100.000,-

    Apakah pentingnya mengisi tangki cinta seorang anak / pasangan? Dalam buku saya ‘Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia’ saya sampaikan dua cara mengatasi problem anak. Yang pertama periksa dulu masalah fisiknya (sakit, kelelahan, atau kelaparan). Jika yang pertama beres berarti kemungkinan berikutnya adalah masalah kosongnya tangki cinta.

    Kosongnya tangki cinta juga menjadi sumber perselingkuhan. Berbagai kasus perselingkuhan ataupun perceraian berawal dari kosongnya tangki cinta yang kronis.

    Dapatkan dan pelajari DVD Tangki Cinta dengan harga khusus Rp70.000,- + ongkos kirim hingga 20 Desember 2008.

    Silakan transfer ke rekening BCA 130 205 1636 a/n Susan Goeshartono dan emailkan bukti transfer beserta nama dan alamat pengiriman serta no telp Anda kepada cs@sekolahorangtua.com dan kami akan segera memroses pemesanan Anda.

    Cover_the_secret_of_change.jpgBagi Anda yang ingin menghemat ongkos kirim, dapat juga secara bersamaan memesan DVD The Secret of Change (2 keping DVD) dengan harga khusus. Klik link berikut untuk melihat materi DVD The Secret of Change . Pemesanan paket DVD Tangki Cinta + DVD the Secret of Change dengan harga khusus sebesar Rp 130.000 (belum termasuk ongkos kirim) hanya berlaku hingga 20 Desember 2008.

    Bagi Anda yang ingin memesan paket DVD Tangki Cinta dan DVD The Secret of Change silakan transfer ke rekening BCA 130 205 1636 a/n Susan Goeshartono sebesar Rp 130.000 + ongkos kirim dan emailkan bukti transfer beserta nama dan alamat pengiriman serta no telp Anda kepada cs@sekolahorangtua.com dan kami akan segera memroses pemesanan Anda.

    Bagi Anda yang berada di Pontianak dan sekitarnya ikuti seminar “HYPNOPARENTING” bersama Bp. Ariesandi S.,CHt pada hari Sabtu 20 Des 2008 pkl 13.00 – 17.00 di Hotel Kapuas Pontianak.

    Seminar ini akan mengungkap mengapa terjadi permasalahan yang berulang pada anak-anak kita dan diri kita sendiri dan bagaimana mengatasinya dengan cara yang menyenangkan dan efektif.

    Sadarkah bahwa Anda telah menghipnosis anak Anda selama ini? Seminar ini akan mengungkapkan hal itu semua termasuk peran penting pikiran bawah sadar terhadap masa depan buah hati tercinta Anda dan diri Anda sendiri.

    Untuk pemesanan tempat dan informasi Seminar Pontianak hubung Ibu Titin di no HP 081 9561 7681

    salam hangat penuh cinta u Anda sekeluarga

    ariesandi s., dan team sekolahorangtua.com

    ?

    Daftar ongkos kirim :

    Jawa Timur Rp 10.000,00 kecuali Surabaya bebas ongkos kirim
    Jawa Tengah, DI Jogjakarta Rp 15.000,00
    Jawa Barat, DKI Jakarta, Bali Rp 20.000,00
    Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT, Flores Rp 30.000,-
    Ambon, Irian Jaya Rp 40.000

    ?

  • Tahukah Anda Tidur berpengaruh terhadap Rasa Percaya Diri Anak?

    DSCF2946.JPGTidur adalah waktu yang paling berharga untuk beristirahat. Namun, waktu tidur bisa menjadi waktu terpanjang dan terberat bagi sebagian anak dan orangtua. Bahkan, kualitas tidur bisa menjadi penentu keberhasilan anak di masa-masa berikutnya. Mengapa bisa demikian? Karena aktivitas tidur bisa berpengaruh terhadap rasa percaya diri anak.

    Seorang gadis remaja yang mengalami penurunan prestasi, perubahan temperamen, dan mulai suka mencari hal-hal di luar dirinya untuk disalahkan sebagai pelampiasan ketidakpuasan atas sebuah keadaan, bermula dari permasalahan tidur. Benar! Gadis remaja yang sudah duduk di kelas 3 sebuah SMA berasrama mengalami pemutusan emosi dari orangtuanya karena ia selalu tidur bertemankan dengan sang bunda sampai ia lulus SMP. Bisa dibayangkan betapa beratnya melalui masa tidur yang sangat berbeda dengan kebiasaannya selama hampir 15 tahun ia jalani.

    Penurunan prestasi, perubahan temperamen, hanyalah sebuah proyeksi dari kegelisahan dan kecemasan yang dialaminya selama masa tidurnya. Bagaimana tidak jika setiap malam ia mengalami tidur yang selalu tidak nyenyak, tiba-tiba terbangun dan tidak bisa tidur lagi, ada ketakutan yang tiba-tiba muncul setiap kali ia merasa sendiri, meski ia sekamar dengan 3 orang rekannya. Kualitas tidur yang buruk membuat si gadis menjalani hidupnya dengan energi yang makin berkurang.

    Ketergantungan yang tinggi terhadap sang bunda yang selama ini memberinya rasa aman ketika tidur membuatnya tidak berdaya menghadapi perubahan. Rasa sendirian membuatnya merasa tidak aman dan tidak nyaman, meski sesungguhnya ia masih memiliki teman selama tidurnya, namun, itu tidaklah mampu membuatnya merasa tenang. Perasaan tidak aman dan tidak nyaman menumbuhkan rasa takut, gelisah, cemas, dan berbagai perasaan buruk ketika tidur. Inilah yang membuat kualitas tidurnya menjadi buruk.

    Kualitas tidur yang memburuk membuat energi semakin melemah, berpengaruh terhadap daya tangkap dan konsentrasinya dalam belajar. Akhirnya, prestasi menurun. Penurunan prestasi ini disikapi sebagai hal yang menegaskan bahwa dirinya tidaklah semampu ketika berada dekat dengan orangtuanya. Akibatnya, ia menilai bahwa dirinya tidak berdaya jika harus sendiri. Inilah yang kemudian menggerogoti rasa percaya dirinya.

    Sebuah kasus terjadi pada anak kelas 4 SD yang kesal terhadap dirinya sendiri karena setiap kali mengikuti evaluasi di kelasnya, ia mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan harapannya. Hal itu bukan disebabkan ketidakmampuannya dalam belajar, tetapi lebih disebabkan keraguan yang selalu muncul setiap kali menuliskan jawaban. Banyak soal yang sudah dijawabnya dengan benar, diganti dengan jawaban yang justru salah. Ini terjadi berulang-ulang sehingga bukan hanya anak tersebut yang kesal tetapi juga gurunya.

    Setelah dilakukan analisis terhadap kondisi hidup sehari-hari didapatkan data bahwa masa menjelang tidur adalah masa yang menakutkan bagi si anak dan masa melelahkan bagi sang ibu. Setiap malam sang ibu harus menemaninya, setelah ia tidur barulah sang ibu bisa keluar dari kamar. Itu pun membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai dibantu dengan musik untuk mempercepat tidur si anak. Namun, hampir selalu terjadi, tidak lama kemudian si anak berteriak memanggil ibunya, dan kembali ibunya menemani, demikian seterusnya.

    Kasus di atas menunjukkan bahwa si anak memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sang ibu sehingga ia tidak ingin sang ibu beranjak dari sisinya. Menyadari bahwa setiap kali ia tertidur, sang ibu meninggalkannya, membuatnya berusaha untuk tidak terlelap. Bisa dibayangkan, bagaimana kualitas tidur si anak, juga sang ibu. Sungguh sangat buruk. Bahkan, menurut penuturan si anak, ketika di sekolah atau sedang belajar, ia sering membayangkan saat-saat tidur tanpa ibunya di sisinya. Dan seketika itu pula ia merasakan ketakutan. Tentu saja hal itu akan mengganggu aktivitas kesehariannya. Perasaan takut sungguh-sungguh akan mengganggu perkembangan potensi anak. Terlebih ketika ia bisa membandingkan prestasinya ketika tidur bersama sang ibu dan tanpa sang ibu. Ketika itu pula si anak akan merasa bahwa ia tidak akan menjadi kuat dan mampu tanpa bergantung pada sang ibu. Ini juga akan online casino canada menggerogoti rasa percaya diri anak.
    Rasa percaya diri sangat penting bagi siapa saja. Rasa percaya diri yang baik akan menyebabkan seseorang berani berinovasi, berkreasi, mengemukakan pendapat, bahkan berani sukses. Oleh karenanya, orangtua perlu membantu anak agar tumbuh dengan rasa percaya diri yang memadai. Salah satunya bisa dimulai dengan melatih anak tidur sendiri, semakin dini (setelah anak tidak mendapatkan ASI), tentu semakin mudah.

    Melatih Anak Tidur Sendiri

    Melatih anak tidur sendiri tidak bisa dilakukan dengan “langsung”, pasti harus bertahap. Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan:

    • Pertama-tama anak harus mengetahui bahwa ia akan tidur sendiri tanpa ayah atau ibu di sampingnya. Hal ini penting agar anak tidak selalu berharap bahwa orangtuanya akan selalu ada di sampingnya.
    • Temani ketika anak akan beranjak tidur, disarankan Anda memberikan dongeng atau cerita-cerita keagamaan. Namun, jika anak Anda lebih dari satu dan ingin memberikan dongeng, lakukan bersama-sama dan tidak di tempat tidur (kecuali jika anak tidur satu kamar). Tentukan waktu berapa lama Anda melakukan aktivitas tersebut. Artinya, setelah waktu tersebut terpenuhi, Anda harus berhenti mendongeng dan meminta anak untuk tidur.
    • Anda boleh tetap ada di kamar anak sampai ia tertidur, namun, pastikan bahwa Anda tidak melakukan kontak fisik dan kontak mata dengannya. Anda boleh membelai kepalanya, hanya ketika waktu berinteraksi (waktu mendongeng). Bila perlu, Anda mengambil jarak dari ranjang anak.
    • Jika anak menangis dan mendekati Anda, angkat dan tidurkan di tempat tidur, kemudian Anda kembali pada posisi semula, demikian seterusnya. Jika Anda konsisten dan tegar, maka jeda waktu menemani anak sampai tidur, akan semakin sempit, artinya, anak akan semakin mudah tidur, hingga akhirnya Anda tidak perlu lagi harus menunggui lama di kamarnya.

    Melatih Diri Sendiri

    Ketika kita melatih anak tidur sendiri, sesungguhnya yang kita latih adalah diri sendiri. Sebab, tidak jarang justru orangtua lah yang menghendaki anak untuk terus tidur bersamanya. Sama juga dengan anak, orangtua akan merasa nyaman jika bersanding dengan anaknya. Itulah sebabnya, orangtua juga perlu berlatih untuk bisa tidur berpisah dengan anaknya.
    Kadang, orangtua memberikan beberapa dalih ketika merasa gagal melatih anak tidur sendiri, padahal sesungguhnya, orangtua lah yang berharap latihan tersebut gagal. Namun, dengan perpedoman bahwa kita tidak selamanya akan mendampingi anak-anak kita sehingga perlu memberikan bekal keberanian kepada anak, maka kita akan semakin dimampukan untuk tegar dan berani melatih diri sendiri.

    Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa ketika kita melatih anak tidur sendiri, jangan ciptakan kesan bahwa hal itu kita lakukan karena kita tidak ingin terganggu oleh si anak, namun, ciptakan kesan bahwa Anda sedang menghargai privacy si anak. Kesan bahwa pemisahan tidur sebagai alasan agar orangtua tidak terganggu akan menyebabkan anak merasa “diabaikan”, dan ini akan semakin menyulitkan proses pelatihan.

    Jika Sudah Terlanjur

    Bagaimana jika si anak sudah terlanjur memiliki emosi yang buruk setiap kali tidur sendiri? Masih bisa ditolong, yaitu dengan merelease emosi buruknya. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk merelease emosi buruk. Bisa disugesti menggunakan NLP (Neuro Linguistik Programme), bisa dengan Hypnotherapi, dan bisa juga menggunakan EFT (Emotional Freedom Therapy) yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Anda bisa mempelajarinya di dalam buku berjudul “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”, tulisan Ariesandi Setyono. Pak Aries memberikan teknik-teknik yang mudah dipahami dan dipraktekkanm dalam buku tersebut, klik link berikut : “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”. Saya pribadi sudah membuktikan kehebatan terapi ini baik untuk diri sendiri maupun untuk anak-anak. Jadi sebaiknya Anda segera memelajarinya melalui buku di atas.

    salam hangat penuh kasih untuk Anda sekeluarga,

    Vincentia Dwijani (Mathemagics Magelang) untuk anggota SekolahOrangtua

  • SekolahOrangtua berbagi dengan anak-anak Porong

    Romo_gani_edited.JPGSekolahOrangtua diwakili oleh Bapak Ariesandi dan Bapak Sukarto pada tanggal 19 November 2008 menyumbangkan dana yang selama ini disisihkan dari hasil penjualan produk pembelajaran kepada anak-anak korban lumpur panas di Porong. Sumbangan sebesar Rp 7.500.000,- diterima oleh Rm. Gani Sukarsono yang bertindak sebagai orangtua asuh bagi mereka. Selama ini mereka belajar di pasar yang diberi sekat seadanya dengan guru yang seadanya pula. “Kami hidup dari bantuan orang lain yang peduli pada nasib anak-anak ini”, demikian kata Rm Gani yang tak jarang  harus menyusun acara bazar untuk mengumpulkan dana guna membiayai keperluan sekolah 75 anak asuhnya. anak_porong_3.jpg

    Rm. Gani mengucapkan terima kasih yang tulus pada seluruh warga SekolahOrangtua atas sumbangan tersebut.  Ia mengatakan bahwa semoga ini semua menjadi sebuah berkah bagi kita semua. Sehari-hari Rm. Gani bergelut dengan berbagai aktivitas sosial yang memberdayakan masyarakat yang kurang mampu atau yang benar-benar butuh pertolongan. Beliau bisa ditemui di jl. Widodaren anak_porong_2.jpg15 Surabaya.

    Foto di samping  menggambarkan suasana belajar anak-anak Porong korban lumpur panas  asuhan Rm. Gani. Mereka belajar dengan fasilitas seadanya.”Terkadang gurunya datang terkadang juga tidak. Saya tak bisa menuntut karena mereka pun mengajar dengan sukarela dan mereka pun juga memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi” demikian kata Rm. Gani.

    Bagi Anda yang tergerak untuk memberikan bantuan belajar bagi anak-anak tersebut silakan menghubungi Rm. Gani secara pribadi di 031 7097 5872 email yogas@indo.net.id  atau datang menemui beliau secara pribadi.

    Saya pribadi berharap bisa berbuat lebih banyak lagi bagi anak-anak tersebut. Apa yang baru saja dilakukan sebenarnya masih kurang dan jauh dari sempurna walaupun menurut Rm. Gani dari sudut pandang anak-anak tersebut ini sangatlah berharga.

    Ya ……. marilah kita berbuat lebih banyak lagi untuk mereka yang butuh pertolongan.

    Terima kasih pada semua orangtua Indonesia yang bergabung di SekolahOrangtua.com yang mendukung misi kami secara langsung maupun tidak langsung.

    salam hangat penuh cinta untuk semua anak-anak di Porong dan juga  untuk Anda semua orangtua Indonesia,

    Ariesandi & Sukarto

  • Bagaimana Membantu Anak Mengatasi Emosi Negatif? (2)

    Tulisan berikut ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya dengan judul yang sama yang telah dimuat di website sekolahorangtua.com juga. Namun kali ini kita akan membahas masalah ini untuk anak berusia 12 tahun sampai 18 tahun atau masa remaja hingga dewasa awal.

    Banyak anak-anak remaja menjadi stres saat mereka berhubungan dengan masalah pertumbuhan. Mereka khawatir tentang perubahan tubuhnya, bergelut dengan seksualitas dan jati diri mereka. Anak-anak remaja ini seharusnya  dapat membicarakan masalah mereka dan seharusnya sudah mengembangkan kemampuan untuk mencari jalan keluar atas suatu permasalahan. Namun dikarenakan emosi yang dapat berubah dengan tiba-tiba dan keraguan akan keputusan yang penting, mereka memerlukan bantuan khusus dan dukungan dari kita – orang dewasa – terutama kedua orangtua. Fase ini biasanya akan terlewati dengan baik jika di fase sebelumnya orangtua mengembangkan sebuah komunikasi yang baik – yang membangun sebuah harga diri – dengan anaknya.

    Pada saat awal masa remaja, anak-anak remaja sangat sensitif akan kritikan. Nasehat yang bermaksud baikpun akan ditangkap sebagai  kritikan dan menjadi penyebab kemarahan atau reaksi pertahanan. Mereka butuh penghargaan dan biasanya yang didapat adalah sebaliknya. Seringkali klien remaja saya tidak bisa menangkap dengan baik apa yang dilakukan orangtuanya terhadap diri mereka. Akhirnya mereka bisa saja mencari pelarian untuk pemecahan masalah di luar rumah.

    Stres yang umum dialami oleh anak-anak remaja adalah mendapatkan tes, tekanan  untuk mendapatkan nilai yang bagus, godaan untuk mencoba sex dan obat-obatan, bermasalah dengan hubungan laki-laki atau perempuan, mempertanyakan benar dan salah, kegugupan saat berpidato dan kompetisi, keragu-raguan akan penampilan fisik, tekanan dari terlalu banyak aktifitas, merawat adik laki-laki dan perempuan, tidak punya cukup waktu, dan tekanan menjadi kakak atau adik yang baik serta kurang percaya diri.

    Apa ciri-ciri bila anak remaja anda di bawah pengaruh  stres? Makan terus menerus sehingga menciptakan masalah berat badan, melamun secara berlebihan, menggunakan obat-obatan terlarang atau mengalami gangguan syaraf seperti kedipan mata yang tak biasa, menggigit kuku, dan kejang otot. Stres secara emosi bisa merupakan sebuah awal bagi pemikiran tentang bunuh diri, tindak kenakalan, tingkah laku perfeksionis, pengasingan diri dan kegagalan akademik di sekolah. Ketidak pedulian akan penampilan fisik,  sifat yang lekas marah dan mudah tersinggung serta mudah mengalami kelelahan adalah tanda-tanda lain dari stres. Anak-anak remaja sering menanggapi stres dengan menarik diri, tidak berbicara, menjadi pemberontak atau pembangkang  dan melibatkan diri dalam masalah kenakalan remaja.

    Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu? Mereka  memerlukan  cara untuk mengatasi situasi yang stres. Saat anak remaja kita belajar bahwa dia dapat mengatasi masalah-masalahnya, dia mendapatkan sikap yang positif tentang dirinya. Jangan tergoda untuk memberikan pemecahan menurut pemikiran kita sendiri. Saat mereka mencapai usia ini peran kita sekarang sedikit bergeser menjadi seorang “konsultan” bagi mereka. Hanya beberapa hal penting yang masih menjadi otoritas kita. Sampai sejauh mana? Diskusikan dengan anak Anda! Hanya Anda dan anak Andalah yang tahu. Ini semua bergantung dari bagaimana kita membesarkan mereka dulu sebelum usia 12 tahun.

    Berikanlah pujian yang tulus ketika dia melakukan pekerjaan yang bagus akan sesuatu. Ingatlah untuk berkata terima kasih. Anak-anak remaja sering merasa tak dihargai. Secara sederhana penuhi Tangki Cinta mereka!  Tangki Cinta seringkali menjadi penyebab masalah remaja stres. Mereka merasa tak dihargai dan disetujui padahal orangtua merasa sudah melakukan semuanya!

    Hal lain yang kita perlu periksa adalah jadwal kegiatan anak kita. Apakah dia terlalu banyak memiliki aktivitas? Atau bekerja terlalu keras memenuhi tuntutan akademik. Beberapa anak remaja menemukan diri mereka sendiri tertimbun dalam kesibukan saat mereka menambahkan pekerjaan setelah sekolah pada jam-jam yang harusnya digunakan untuk istirahat. Apakah dia mengharapkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang terlalu banyak di rumah? Meskipun anak-anak seharusnya mengerjakan tugas-tugas yang biasa saja, beberapa anak remaja menjadi terbebani dengan tugas mereka. Anak-anak remaja masih anak-anak dan mereka memerlukan waktu untuk bersantai dan belajar.

    Mungkin cara yang sangat efektif untuk membantu anak-anak remaja mengatur stresnya adalah tetap membuka garis percakapan. Dia mungkin tidak ingin atau memerlukan nasehat kita, tetapi dia akan menghormati perhatian kita sebagai orangtua. Hampir semua anak-anak remaja menyukai orang-orang dewasa yang hanya mendengarkan mereka. Mereka ingin seseorang mendengarkan apa yang harus mereka katakan.

    Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengutarakan pendapat kita, terutama sekali masalah-masalah penting seperti nilai-nilai hidup. Tetapi bila diskusi berubah menjadi adu argumentasi, kita mungkin memerlukan  waktu yang lebih untuk mendengarkan, dan mengutarakan pendapat kita secara pelan dan tenang. Seni komunikasi diperlukan dalam hal ini.

    Dukunglah anak remaja kita untuk melakukan kegiatan yang bersifat fisik. Anak-anak remaja dapat mengurangi stres dengan aerobik, bersepeda, bersepatu roda, jogging ataupun olahraga lainnya. Ini adalah sebuah cara yang berguna untuk mengatasi stres. Pendekatan positif lainnya meliputi belajar menjadi tegas, menguasai kemarahan dan berkata “tidak”.

    Kapankah kita seharusnya mencari bantuan? Masa remaja adalah waktu yang sulit  untuk anak-anak remaja dan keluarga mereka. Ketika tekanan-tekanan menjadi ekstrem dan ketika tidak ada jalan keluar lagi, ini waktunya berbicara pada orang lain yang lebih profesional menangani hal ini. Ketika melihat bukti bahwa anak kita menggunakan obat-obatan terlarang, atau anak remaja kita membicarakan tentang bunuh diri atau mulai membuang hal-hal yang berharga, mintalah bantuan profesional secepatnya. Cermati peringatan akan tanda-tanda depresi, melakukan sex yang beresiko, perilaku anti sosial yang tidak wajar dan perubahan kepribadian.

    KESIMPULAN Anak-anak tidak dapat melarikan diri dari stres dan tekanan-tekanan yang datang dari lingkungan kehidupan sekarang. Tetapi mereka dapat belajar untuk mengatasinya , sebagai orangtua, kita dapat membantu anak kita dengan beberapa cara: Ajarikan  untuk mencari jalan keluar atas masalah-masalah yang dihadapi. Anak perlu belajar untuk mengenali masalah, jalan keluar yang memungkinkan, yang setuju akan jalan keluar yang memungkinkan dan yang tidak setuju akan jalan keluar  yang memungkinkan, kemudian pilihlah yang terbaik. Dalam hal ini terkadang kita perlu memberikan kepercayaan pada mereka untuk menjalani keputusannya walau kita tahu ke mana arah keputusan itu. Berikanlah  pengalaman pada mereka. Janganlah terjebak dalam paradigma “saya tidak ingin anak saya terperosok ke dalam lubang yang sama dengan saya”Jika hal  itu tidak menyangkut hal yang fatal biarkan mereka mengalaminya sendiri dan kita tetap dukung mereka dengan cara tetap membuka hati kita untuk mereka.

    Bicaralah dengan anak remaja kita, carilah waktu yang khusus untuk berbicara. Cari tahu apa yang terjadi dalam hidupnya. Jujurlah dan terbukalah dengan dia. Ceritakanlah tentang tujuan keluarga dan diskusikan kesulitan-kesulitannya, tanpa membebani mereka dengan masalah-masalah kita. Pujilah anak-anak ketika mereka melakukan hal-hal yang bagus, dan jangan lupa pelukan-pelukan dan ciuman-ciuman atau sentuhan fisik lainnya seperti tepukan di bahu atau belaian di kepala. Salah satu bahan pembicaraan menarik adalah pengalaman hidup kita.

    Pastikanlah anak kita juga mempunyai waktu yang tenang sehingga dia dapat bersantai. Ajarilah dia latihan-latihan fisik seperti bermain bola, skating, berenang, berlari, berjalan, bersepeda. Kegiatan-kegiatan tersebut juga mengurangi stres.

    Jadilah pendukung. Saling menghormati dan berbagilah bantuan yang berharga selama waktu stres. Anak memerlukan kita untuk mengeluarkan energi negatifnya. Dia juga mendapatkan manfaat dengan melihat bagaimana kita berhasil mengatasi stres.

    Tips untuk mendidik anak memahami stres Ajarilah anak kita untuk mengenali situasi stres. Dia seharusnya membicarakan tentang stresnya atau menulisnya. Ajari dia berbagai strategi mengatasi stres.

    Bermainlah suatu peran tentang situasi yang sangat stres dengan anak. Bantulah dia untuk menentukan cara yang berguna untuk mengatasi stres.

    Gunakanlah humor untuk menahan perasaan dan situasi yang tidak mengenakkan. Seorang anak yang belajar menggunakan humornya akan lebih baik untuk memandang segala sesuatunya dengan lebih masuk akal.

    Jangan bebani anak kita dengan terlalu banyak aktifitas setelah sekolah. Bantulah anak-anak untuk belajar melangkah. Jangan mendaftarkan mereka di setiap kursus yang ada, dan jangan menuntut mereka untuk menjadi yang nomor satu dalam segala hal.

    Ketika kita sendiri dalam pengaruh stres yang berlebihan, telitilah untuk lebih yakin bahwa kita pun dapat melewatinya bersama-sama dengan anak kita. Buatlah sebuah contoh yang baik. Lakukanlah pengendalian diri dan kemampuan dalam mengatasi masalah. Doronglah untuk bekerjasama dibandingkan dengan berkompetisi. Dapatkan bantuan profesional ketika masalah-masalah diluar kemampuan kita.

    salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga,

    Ariesandi S.,CHt.

    www.sekolahorangtua.com

    www.ariesandi.com