<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Apakah Disiplin Sama dengan Hukuman?</title>
	<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/</link>
	<description>Pusat Pendidikan Keluarga</description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 12:53:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: utami wildan octaviani</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-809</link>
		<author>utami wildan octaviani</author>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 06:14:06 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-809</guid>
		<description>Ass...!!
pak ariesandi,saya ingin menanyakan bagai mana cara mengetahui tingkat kesadaran dan keterpaksaan santri terhadap pelaksanaan disiplin?? dan bagai mana cara menemukan solusi terbaik? jalan apa dulu yang harus di ambil?????
   terima kasih atas perhatiannya.dan saya mohon bantuannya.
    wasss!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass&#8230;!!<br />
pak ariesandi,saya ingin menanyakan bagai mana cara mengetahui tingkat kesadaran dan keterpaksaan santri terhadap pelaksanaan disiplin?? dan bagai mana cara menemukan solusi terbaik? jalan apa dulu yang harus di ambil?????<br />
   terima kasih atas perhatiannya.dan saya mohon bantuannya.<br />
    wasss!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: M. Adhi</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-602</link>
		<author>M. Adhi</author>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 03:36:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-602</guid>
		<description>yth pak aries

artikel bapak sangat berguna sekali dalam membuka pikiran saya. Saya ingin konsultasi masalah terkait dengan diri saya dan kehidupan keluarga Saya. Saya adalah Ayah dari 2 putra (8 dan 6 tahun). Saya juga punya pekerjaan tetap yang cukup bagus dan penghasilan yang sangat memadai. Permasalahan saya adalah terkait dengan kebiasaan saya yang memberikan hukuman fisik (memukul pantat) anak saya (terutama yang pertama) apabila anak saya ini melakukan ‘kenakalan’ yang (menurut saya) sudah teralu, misalnya menjahili adiknya. Hal ini seringkali terjadi, namun setelah ‘memberikan hukuman’ tersebut saya menjadi sedih dan seringkali menangis (saat tafakur sendirian ataupun saat sholat). Bahkan sering berhari-hari masih teringat dengan kejadian tersebut. Seringkali saya punya komitmen untuk tidak memberikan hukuman fisik ataupun suara keras kepada anak-anak saya, namun tatkala emosional masih saja secara refleks melakukan lagi… duh sedih rasanya. Saya sudah mengerti/faham dari sejak masih bujangan dulu bahwa memberikan hukuman fisik/keras kepada anak akan memberikan luka bathin (dan lahir) kepada anak-anak. Puncaknya, beberapa waktu lalu saya menghukum kedua anak saya dan kejadian ini semakin menguatkan komitmen saya untuk BERHENTI dari kebiasaan yang tidak baik tersebut. Mohon Bapak berkenan memberikan nasihat yang implementatif untuk: 1. Saya lebih bisa mengkontrol emosi saat melihat “kenakalan” anak, sehingga tidak mudah memberikan hukuman fisik atau bertindak kasar kepada buah hati saya tersebut. 2. Bagaimana memulihkan trauma psikis yang dialami anak saya terkait dengan kelakuan saya tersebut, mengingat mereka sudah “relatif lama” mengalaminya. Sebagai tambahan informasi, saat saya masih kecil (sampai beranjak remaja) seringkali menerima hukuman fisik yang (menurut saya) “sangat keras” dari ayah saya, misalkan saat SMP saya pernah dipukul menggunakan balok bambu yang ada pakunya sehingga tangan saya berdarah-darah, belum lagi tempelengan yang mampir di kepala saya (Catatan: saya anak pertama laki-2 dari 3 bersaudara). Memang sih, kalo dibandingkan dengan kekerasan saya terhadap anak-anak saya, memang masih jauh namun saya sudah sangat bersalah dengan kebiasaan saya tersebut. Informasi juga, bahwa biasanya anak-anak sangat saya sayangi dan cukup dekat bahkan mereka seringkali mengekspresikan kepada saya. Besar harapan saya untuk mendapatkan jawaban dari Bapak sehingga saya kembali bisa mendidik anak-anak saya dengan baik. 

Terima kasih atas jawabanya

M. Adhi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yth pak aries</p>
<p>artikel bapak sangat berguna sekali dalam membuka pikiran saya. Saya ingin konsultasi masalah terkait dengan diri saya dan kehidupan keluarga Saya. Saya adalah Ayah dari 2 putra (8 dan 6 tahun). Saya juga punya pekerjaan tetap yang cukup bagus dan penghasilan yang sangat memadai. Permasalahan saya adalah terkait dengan kebiasaan saya yang memberikan hukuman fisik (memukul pantat) anak saya (terutama yang pertama) apabila anak saya ini melakukan ‘kenakalan’ yang (menurut saya) sudah teralu, misalnya menjahili adiknya. Hal ini seringkali terjadi, namun setelah ‘memberikan hukuman’ tersebut saya menjadi sedih dan seringkali menangis (saat tafakur sendirian ataupun saat sholat). Bahkan sering berhari-hari masih teringat dengan kejadian tersebut. Seringkali saya punya komitmen untuk tidak memberikan hukuman fisik ataupun suara keras kepada anak-anak saya, namun tatkala emosional masih saja secara refleks melakukan lagi… duh sedih rasanya. Saya sudah mengerti/faham dari sejak masih bujangan dulu bahwa memberikan hukuman fisik/keras kepada anak akan memberikan luka bathin (dan lahir) kepada anak-anak. Puncaknya, beberapa waktu lalu saya menghukum kedua anak saya dan kejadian ini semakin menguatkan komitmen saya untuk BERHENTI dari kebiasaan yang tidak baik tersebut. Mohon Bapak berkenan memberikan nasihat yang implementatif untuk: 1. Saya lebih bisa mengkontrol emosi saat melihat “kenakalan” anak, sehingga tidak mudah memberikan hukuman fisik atau bertindak kasar kepada buah hati saya tersebut. 2. Bagaimana memulihkan trauma psikis yang dialami anak saya terkait dengan kelakuan saya tersebut, mengingat mereka sudah “relatif lama” mengalaminya. Sebagai tambahan informasi, saat saya masih kecil (sampai beranjak remaja) seringkali menerima hukuman fisik yang (menurut saya) “sangat keras” dari ayah saya, misalkan saat SMP saya pernah dipukul menggunakan balok bambu yang ada pakunya sehingga tangan saya berdarah-darah, belum lagi tempelengan yang mampir di kepala saya (Catatan: saya anak pertama laki-2 dari 3 bersaudara). Memang sih, kalo dibandingkan dengan kekerasan saya terhadap anak-anak saya, memang masih jauh namun saya sudah sangat bersalah dengan kebiasaan saya tersebut. Informasi juga, bahwa biasanya anak-anak sangat saya sayangi dan cukup dekat bahkan mereka seringkali mengekspresikan kepada saya. Besar harapan saya untuk mendapatkan jawaban dari Bapak sehingga saya kembali bisa mendidik anak-anak saya dengan baik. </p>
<p>Terima kasih atas jawabanya</p>
<p>M. Adhi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: eva</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-519</link>
		<author>eva</author>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 02:15:14 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-519</guid>
		<description>Terima kasih pak untuk artikelnya. Baru pertama kali saya menghukum anak saya (usia 10) tahun karena tidak berani memberitahu saya tentang perbuatan dia di sekolahnya yang mendapatkan hukuman dari gurunya. saya sangat menyesal sudah mencubit dia sampai biru, walaupun sesudahnya saya obatin juga.

setelah saya membaca artikel di atas, saya tahu saya yang salah tidak memberikan perhatian yg cukup kepada anak saya. saya membiarkan dia sendiri seolah olah dia sudah paham apa yang harusnya dia perbuat untuk dirinya. 

Seharusnya saya memberikan dia perhatian dan teladan.

Terima kasih sekali lagi pak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih pak untuk artikelnya. Baru pertama kali saya menghukum anak saya (usia 10) tahun karena tidak berani memberitahu saya tentang perbuatan dia di sekolahnya yang mendapatkan hukuman dari gurunya. saya sangat menyesal sudah mencubit dia sampai biru, walaupun sesudahnya saya obatin juga.</p>
<p>setelah saya membaca artikel di atas, saya tahu saya yang salah tidak memberikan perhatian yg cukup kepada anak saya. saya membiarkan dia sendiri seolah olah dia sudah paham apa yang harusnya dia perbuat untuk dirinya. </p>
<p>Seharusnya saya memberikan dia perhatian dan teladan.</p>
<p>Terima kasih sekali lagi pak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ariesandi</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-507</link>
		<author>ariesandi</author>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 21:21:28 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-507</guid>
		<description>Dear Ibu Wiwin,
Pernyataan Ibu saya percayai mewakili perasaan ibu-ibu lain di seluruh Indonesia. Memang jika kita tak tahu harus bagaimana menghadapi anak-anak maka kita akan frustrasi dan akhirnya tindakan fisik yang akan kita ambil. Semoga artikel yang kami sediakan di web ini bisa membantu banyak orangtua walaupun dengan ruang terbatas. Oleh karena itu kami minta bantuan Anda untuk menyebarkan informasi tentang web ini ke seluruh rekan orangtua yang Anda kenal agar mereka pun memperoleh manfaat sehingga bangsa ini bisa menjadi lebih baik di generasi berikutnya. Setuju? Nantikan artikel berikutnya yang lebih seru lagi! Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga dari team SekolahOrangtua.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Ibu Wiwin,<br />
Pernyataan Ibu saya percayai mewakili perasaan ibu-ibu lain di seluruh Indonesia. Memang jika kita tak tahu harus bagaimana menghadapi anak-anak maka kita akan frustrasi dan akhirnya tindakan fisik yang akan kita ambil. Semoga artikel yang kami sediakan di web ini bisa membantu banyak orangtua walaupun dengan ruang terbatas. Oleh karena itu kami minta bantuan Anda untuk menyebarkan informasi tentang web ini ke seluruh rekan orangtua yang Anda kenal agar mereka pun memperoleh manfaat sehingga bangsa ini bisa menjadi lebih baik di generasi berikutnya. Setuju? Nantikan artikel berikutnya yang lebih seru lagi! Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga dari team SekolahOrangtua.com</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Wiwin Nuryati</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-506</link>
		<author>Wiwin Nuryati</author>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 08:06:26 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2008/05/04/apakah-disiplin-sama-dengan-hukuman/#comment-506</guid>
		<description>Saya sangat tertarik dengan penjabaran2 yang bapak buat, saya sebagai seorang ibu sangat terkesan sekali. Memang kadang kita sebagai orang tua terutama kaum ibu kurang sabar mengahadapi kebandelan2 anak kita, sampai kita kadang tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya ujung2nya pukul/cubitan yang akan kita lakukan.
Dengan membaca artikel ini saya baru tahu/dapat memahami bagaimana cara menghadapi anak yang baru berkembang, saya punya anak 3 yang pertama kembar sudah umur 10 tahun 1 laki2 baru 1 tahun, kebandelan anak laki2 itu jauh berbeda dengan perempuan ternyata ya pak baru 1thn aja kita udah mulai kewalahan menghadapinya. Sekali lagi saya sangat bersyukur bisa membaca artikel ini terima kasih banyak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sangat tertarik dengan penjabaran2 yang bapak buat, saya sebagai seorang ibu sangat terkesan sekali. Memang kadang kita sebagai orang tua terutama kaum ibu kurang sabar mengahadapi kebandelan2 anak kita, sampai kita kadang tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya ujung2nya pukul/cubitan yang akan kita lakukan.<br />
Dengan membaca artikel ini saya baru tahu/dapat memahami bagaimana cara menghadapi anak yang baru berkembang, saya punya anak 3 yang pertama kembar sudah umur 10 tahun 1 laki2 baru 1 tahun, kebandelan anak laki2 itu jauh berbeda dengan perempuan ternyata ya pak baru 1thn aja kita udah mulai kewalahan menghadapinya. Sekali lagi saya sangat bersyukur bisa membaca artikel ini terima kasih banyak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
