Phone : 031-71559997, 031-5941439

SMS    : 0819807601 (Jam Kerja)

Email   : cs@sekolahorangtua.com

Messenger :

Join Facebook.com/SekolahOrangtua


28
Apr

anak_yg_marah.jpg Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.

Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.

Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?

Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.

Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.

Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.

Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.

Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.

Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu, berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.

Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan

Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:

  • Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
  • Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti “Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?” atau “Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?”. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya “Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?” yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan “Tidak”.
  • Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.
  • Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.
  • Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.
  • Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
  • Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.

Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.

Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan

Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.

Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.

Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.

Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.

Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.

Setelah Badai Kemarahan

Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata “Saya akan membantu menenangkanmu sekarang”. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.

Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.

Penjelasan detail mengenai hal ini bisa juga Anda dapatkan dalam materi Parents Club Multimedia Course dalam bentuk DVD/CD beserta petunjuk pelatihannya.

Category : Artikel / Parenting

21 Responses to “Menghadapi Ledakan Emosi Anak”


andin 29 April 2008

Pa hianoto makasih yah, artikelnya pass… bangeeeet, dah seminggu ini saya kebingungan menghadapi anak saya yang berusia hampir 2 tahun yang sering ngambek dan menangis tidak jelas.setelah baca artikelnya saya jadi sedikit tahu penyebabnya dan cara menanganinya. makasih yah pa….

wulan 18 June 2008

sore pak Hianoto

Saya punya anak berumur 3 tahun 7 bulan, dia sangat senang sekali jika berkunjung ke rumah sepupunya, berlari-lari, main bola dan kegiatan lainnya, tapi itu tidak berlangsung lama jika mereka bermain mempergunakan mainan seperti mobil atau apasaja, dia harus memiliki apa yang sepupunya miliki walaupun dia sudah memiliki apa yang dimiliki oleh sepupunya, sering kali dia merebutnya saja karna sepupunya tidak mau meminjamkannya. Yang herannya setiap keluar dari rumah dia selalu menginginkan untuk kembali kerumah sepupunya, sebenarnya apa pemicunya ya pak…

Tidak hanya itu, jika kami bermain ke mall tujuan utama anak saya adalah ke TimeZone dan tidak ada pilihan lain dan kompromi yang bisa kita kita lakukan dengannya, walaupun sebelum kita pergi kita telah membuat komitmen untuk bermain hanya 1 1/5 jam dan setelah itu kita makan.. akhir2nya selalu pemaksaan pulang yang kami lakukan kepadanya dengan ledakan emosi sebagi respon tidak setuju dari anak saya. Apa yang harus saya lakukan pak hianoto..tq

imelda 2 July 2008

pagi pak Hianoto,

saya punya anak perempuan usia 1 th 21 bulan. jika dia marah suka melempar barang&kadang jg disertai memukul. tp kadang jg setelah melempar bonekanya dia akan menangis sambil memeluk boneka tersebut. yg ingin saya tanyakan bagaimana mengatasi&memberikan pengertian padanya bahwa hal tersebut tidak baik dilakukan. apa pula yg memicu tindakan agresif itu apakah dari susunya atau makanannya?
terimakasih.

luly 14 July 2008

Yth. Bpk. Hianoto,

Dr kmrn sy stress menghadapi anak saya (9 bln) yg menangis & teriak2 geram tanpa sy tahu sebabnya. wajahnya smp memerah. bila sy dekati untuk di gendong dia menendang2 & tangannya mencakar sy. sy bingung knp dia jd spt ini. sy amat sgt takut dg keadaan spt ini. tp untung pg ini sy sempat baca artikel bapak. jd ada rasa lega & beban stress lumayan berkurang. at least lbh awal sy tahu mk ke depannya sy bs lbh tenang menghadapi anak sy bila sdg dtg emosi nya. terima ksh.

Inna 11 January 2009

Anak ke-2 saya perempuan 7 thn, bila sedang emosi suka nangis keras2, lempar2 barang yg ada disekitar serta menarik-narik bajunya. Saya kadang tidak tahan menghadapi sikapnya. Jadi saya biarkan saja dikamar. Kadang emosi dia timbul karena berantem sama adik laki2/ kakaknya perempuan. atau kalau disuruh belajar. Bagaimana cara melatih dia supaya bisa mengendalikan emosi yang meledak-ledak. Terima kasih

Sonny Yahman 15 January 2009

Wah…wah…wah kalau baca artikel bapak nih keliatannya nggak ada masalah dengan masalah anak-anak yang kadang suka-suka ngamuk. Tapi pak coba kalau bapak udah ngalami ngopeni anak…pusing tujuh keliling deh. Prakteknya jauh buanget dari teori. Kalau menurut saya sih model ngadepi anak yang emosi itu nggak perlu ada patokan-patokannya, harus gini harus gitu, tetapi lebih bersifat situasional dan kondisional. Saya kurang setuju kalau kita ndak boleh marah atau keras sama anak. Anak-anak kadang memang perlu dikerasi atau ditegasi sebagai bentuk pembelajaran bahwa hidup itu harus ada toleransi, tidak semua apa yang diinginkan harus terpenuhi. Saya punya prinsip kalau mau nangis ya nangislah wong nangis itu ndak bikin anak sakit atau celaka, mau ngamuk ya ngamuklah asal ngamuknya itu tidak destruktif apalagi sampai melukai orang lain. Kita memang perlu mengontrol ngamuknya anak dengan tegas. cegah dan tangkal kalau ngamuknya sudah mulai ngrusak-ngrusak !! Kasih sayang tidak harus selalu dengan lemah lembut saja, tetapi juga perlu dibalut ketegasan dan sedikit kekerasan, asal kekerasan itu tidak sampai melukai fisik anak. Thank you

marina 21 January 2009

anak pertama saya laki2 berumur 2 tahun.skrg baru bertemu dg ayahnya sekitar 1bulan karena pekerjaan bpknya plng 1 tahun sekali.yg sy ingin tanyakan knp emosi anak sy sering meluap2luap suka teriak2 dan suka memukul semenjak mendapat kasih sayang yg lengkap dr kami berdua sebagai orang tuanya.dan bagaimana caranya memberi pengertian&penjelasan kpd anak usia 2 tahun.copntonya:boleh gak kami sebagai orang tua menakut2i anak kami dg robot2an yg dia punya,apabila dia ga mo.pakai baju setelah mandi?terima kasih sebelumnya.

Lusia MH 23 January 2009

Halo pak Aries,
Sy bermasalah dengan emosi anak saya yang sdh tidak kecil lagi (13 th). Sejak kecil dia memang sering marah. Skrng ini kalo dia tersinggung, kecewa, pokoknya emosinya terganggu dia akan mudah sekali ‘meledak’. Banting2 barang, teriak2, ngancam2, dsb. Saya saja takut ngelihatnya, apalagi adik2nya. Kalo sdh tenang, seolah tidak terjadi apa2. Dia tenang2 aja. Tapi sy benar2 takut, cemas, sedih memikirkan si sulung ini. Gimana ya pak, solusinya? TK.

pamulang 26 March 2009

Makasih infonya…
saya jadi mengerti sekarang

Ai 15 April 2009

Saya memang sedang bingung menghadapi anak saya yang berumur 4 tahun. emosinya meledak-ledak dan selalu mengeluarkan kata2 makian yang tidak pantas. saya agak susah mengendalikannya karena dia selalu dimanja oleh kakek dan neneknya. saya akan berusaha melakukan seperti yang ditulis diartikel bapak. terima kasih untuk membuat pikiran saya terbuka.

tita 16 April 2009

bagainama cara menghadapi anak usia 3th yang terkadang tidak memperhatikan lingkungannya, contohnya selalu menumpahkan sesuatu atau membuat sesuatu menjadi pecah dan berantakan

Sandra Mungliandi M Psi, Psikolog 17 April 2009

Selamat pagi ibu Tita,
Anak ibu saat ini sedang dalam tahap lucu-lucunya ya… Memang ada saatnya, anak melakukan hal yang menjengkelkan kita karena tidak sesuai dengan harapan kita. Usia 2-3 tahun ini merupakan usia anak untuk membentuk identitas dirinya terlepas dari orangtua. Selama bayi, ia sangat tergantung pada ibu. sekarang ini, ia berusaha untuk mandiri menjadi diri sendiri. Jadi masa ini memang masa anak agak “membangkang” dan doyan mengatakan tidak.
Namun jika ibu tahu trik mengatasinya, akan mudah kok melalui masa ini. Salah satu cara yang bisa ibu lakukan adalah memodifikasi lingkungan agar apapun yang dilakukan oleh anak tidak mengganggu ibu. misalnya : berikan gelas, piring yang terbuat dari plastik. Ajarkan juga cara memegang yang benar karena ada kemungkinan ia bukan sengaja menjatuhkan namun motorik halusnya yang kurang terlatih.
Sebagai bocoran, saat ini SO sedang memproses pembuatan E-learning yang salah satunya berisi tentang tahapan perkembangan anak hingga remaja. Di dalamnya, ibu bisa belajar mengenai tahapan perkembangan anak dan ciri-cirinya serta apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya. Mohon bersabar ya bu.
Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.
Sandra Mungliandi

yunita amaliya 25 July 2009

terima kasih akhirnya yuni memahami kenapa anak saya yg berusia 9thn sering marah2 tanpa sebab yang pasti.tetapi setelah yuni praktekin jurus2 bpk aries banyak perubahan pada intinya anak saya ingin d kasihi tanpa sarat thx

L Priwida 28 August 2009

yah terkadang kita sbg orangtua memang hrs sbr menghadapi anak yg sdg marah,walaupun teori kita tahu tp kdg pd saat praktek susah jg penerapannya salah satunya krn faktor ego kita sbg ortu yg nggak mau ngalah sama anak&nggak mau kalah mknya kita hrs terus belajar dlm proses pengasuhan anak

Tika Fitria 10 November 2009

ijin share ya…..

martha 10 November 2009

bagaimana dgn anak yang suka menyalahkan / menjatuhkan kesalahan pada orang lain ? contoh, anak saya( 3thn) terjatuh sendiri, dia tdk menangis, tapi lgs berlari mencari sasaran lain ( teman/ saya /siapa saja yang dia kenal dan berada di dekatnya ) untuk di jadikan sasaran amarahnya ( memukul, menendang ). tks

riana 16 November 2009

Team sekolah orang tua yth.
sy sudah mambaca semua artikel yg ada disini, dan sdh membeli produk yg disarankan. Sy jd mengerti mungkin bbrapa sifat2 anak sy yg kurang baik jg akibat perilaku kami orang tua yg kurang sabar dan kurang tepat dalam mengasuh anak kami.
Ada sedikit mslh yg msh mengganjal di hati sy, anak sy laki2 usia 10 thn, punya sifat yg lebih temperamen dibandingkan dg 2 orang adiknya. Kadang kata2 yg diucapkan dg bercanda pun bs membuat dia marah. Atau kadang sy menegurnya dg baik2 dan apabila itu bertentangan dg keinginannya dia pasti marah. Walaupun marahnya tidak smp merusak sesuatu, tapi sy prihatin bagaimana bila itu terjadi di sekolah..tentu dia akan dijauhi temen2nya. Dan itu jg tdk baik utk perkrmbangan pribadinya.
Selama ini bila dia mengamuk dan tdk mau dengar bila dinasihati baik2 maka sy akan marah dan kadang memukul kakinya ataupun mencubitnya, maksud sy spy dia mengerti kalo perbuatannya salah dan sy ingin bertindak tegas. Tapi memang sy liat tindakan sy itu kadang malah tidak membuatnya menyesal malah semakin melawan kami orang tuanya. Setelah membaca artikel dan dvd yg dianjurkan, sedikit2 demi sedikit kami mencoba merubah untuk tidak dg mudah memarahi, dan membentaknya .. .pertama sy mencoba utk berempati dg perasaannya dan menenangkannya. Dan memang ternyata itu hasilnya lebih baik dan anak sy lbh cpt tersenyum drpd kalo kami memarahinya.

Yang ingin sy tanyakan bapak/ibu, apakah tindakan kami untuk tidak memarahinya apabila dia mengamuk utk hal2 yg amat sgt sepele ( misalnya di goda adiknya, melarangnya menonton tv bila saatnya utk belajar) … malah bisa membuatnya menjadi anak manja, karena kami sebagai orang tua bertindak kurang tegas dan menurut sy ‘terlalu sabar’ ? Apakah kami tetap tdk boleh memarahinya dlm kondisi apapun atau sebatas apa kenakalannya dimana kami tetap harus bertindak tegas/memarahinya? Dan bagaimana kata2 ‘marah’ yg membuat anak jd tdk tersinggung tapi mereka tahu kalo kami marah dan mereka sbg anak tetap menghormati kami sbg orang tuanya. demikian mohon sarannya semoga kami dpt mempelajarinya. Terima kasih.

Teti Widayati 21 January 2010

Dear Team Sekolah Orangtua,
Saya merasa bingun dengan anak perempuan saya yang berumur 4,5 th. Anak saya ini gampang sekali marah, misalnya tidak bisa mengerjakan sesuatu dia marah dan kalo rebutan sama temenya sering keluar kata2 yang gak pantas.selain itu masih sangat tergantung sama saya, kemana saya pergi dia harus ikut, kalo bangun tidur saya gak disampingnya dia nangis. Tapi kalo saya tanyakan sama gurunya disekolah katanya dia mandiri dan pinter tapi kalo dirumah dan dilingkungan sifat pemarahnya akan muncul. memang selama ini saya sering sekali terpancing kalo dia marah saya jg memarahinya bahkan memukul kakinya. Sebaiknya saya harus bagaimana ya …?

Kris 22 January 2010

Dear Team Sekolah orangtua,
Saya bingung menghadapi anak saya yang Okt 2009 lalu berumur 7 tahun. Dia mudah sekali marah dan mengambek hanya dengan hal2 kecil seperti : rambutnya dikuncir tidak sesuai maunya, dibangunkan setiap pagi pasti ngambek, disuruh mandi atau disuruh belajar juga ngambek, ada ucapan yang salah dari orang lain juga ngambek, sehari bisa 10X dia ngambek, walau pun ngambeknya tidak lama tapi membuat saya bingung bagaimana harus menyikapinya. Sukanya nonton TV, baca buku (buku apa saja dibaca nya -terutama majalah anak2) dan main. Jadi kalo diminta melakukan hal lain disamping itu, dia akan ngambek.

anti 26 January 2010

Saya selelau aktif mengikuti artikel dari sekolah orang tua, membeli buku2nya, membeli dvdnya. Saya sebagai orang tua berusaha untuk memberikan yang terbaik buat anak-anak dg menerapkan sesuai apa yg saya dapat dr buku, artikel dan dvd. Namun saya belum berhasil dan susah sekali memahami karakter anak-anak saya sampai sekarang ini.

Anak saya yg besar menginjak 11 tahun, adiknya menginjak 9 tahun. Setipa hari jika di rumah ada saja yang mereka ributkan. Mereka selalu berantem mulut, dari masalah kuncir rambut, masalah berbagi pekerjaan rumah yg ringan dsb. Saya berusaha memberikan pengertian sebaik2nya dan bersabar, tapi hasilnya tetap sama. Harus bagaimanakah sikap saya, mohon solusinya.
Terima kasih

wiyono 10 February 2010

Ayo semangat lagi nge-blog, apalagi jalan jalan pagi udah ketemu konten berharga seperti konten sobat yang ini, sobat… saya undang untuk follow-followan, semoga undangan ini bersambut baik