Bulan: April 2008

  • Seminar Pontianak: Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses dan Bahagia

    brosur pontianak sOrangtua, apakah ingin Anak Anda menjadi Sukses dan Bahagia saat dewasa nanti? Tapi tahukah Anda cara Mendidik Anak yang tepat agar anak dapat Sukses dan Bahagia?

    Bagaimana Orangtua dapat menemukan bakat terpendam dari Anak? Bagaimana Orangtua dapat membaca keinginan atau cita-cita dari Anak secara tepat, agar Orangtua dapat menggali dan mengolah potensi yang dimiliki Anak sehingga mendapatkan hasil yang maksimal? Temukan jawabannya dengan hadir di Seminar Sekolah Orangtua dengan tema Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses dan Bahagia . Seminar ini akan diadakan hari Sabtu, 10 Mei 2008 Pk. 09:30 – 13:30 WIB di Hotel Kapuas – Function Hall 1, Jl. Gajah Mada 889 Pontianak.

    Seminar ini sangat cocok bagi :

    • Orangtua yang sibuk membangun bisnis dan karir.
    • Orangtua yang peduli masa depan anaknya.
    • Para Pendidik .
    • Calon Orangtua.

    Sebagai pembicara :

    Ariesandi Setyono C.Ht

    • Pakar Hypnoparenting dan Family Therapist
    • Founder Indonesia Hypnosis Center
    • Penulis buku laris “Hypnoparenting”, “Becoming a Money Magnet”, “Manage Your Mind for Success”- Pendiri Sekolah Orangtua dan Hypnoparenting
    • Pendiri Sekolah Orangtua dan Hypnoparenting

    Investasi seminar Rp 300.000,- dan dapatkan harga early bird Rp 200.000 untuk registrasi sampai dengan tanggal 2 Mei 2008.

    Fasilitas Peserta : Makalah Seminar, Lunch, Door Prize.

    Tempat Terbatas, segera registrasi seminar melalui :

    1. Toko Buku Gramedia – 0561-763123
    2. Titin – 0819-5617681
    3. Dani – 0811-577421 / 0561-7536975
    4. Via e-mail: great_eo@yahoo.co.id

    Klik gambar di bawah ini untuk melihat brosur dari seminar ini.

    brosur pontianak s

  • Menghadapi Ledakan Emosi Anak

    anak_yg_marah.jpg Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.

    Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.

    Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?

    Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.

    Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.

    Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.

    Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.

    Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.

    Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir â??aku bisa mengerjakannya sendiriâ? atau â??aku mau itu, berikan itu padakuâ?. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.

    Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan

    Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:

    • Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
    • Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti â??Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?â? atau â??Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?â?. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya â??Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?â? yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan â??Tidakâ?.
    • Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.
    • Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.
    • Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.
    • Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
    • Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.

    Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.

    Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan

    Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.

    Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.

    Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.

    Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.

    Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.

    Setelah Badai Kemarahan

    Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata â??Saya akan membantu menenangkanmu sekarangâ?. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.

    Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.

    Penjelasan detail mengenai hal ini bisa juga Anda dapatkan dalam materi Parents Club Multimedia Course dalam bentuk DVD/CD beserta petunjuk pelatihannya.

  • Mengapa Orangtua Kurang Mencintai Anaknya?

    bayi_tercengang.jpgDewasa ini permasalahan anak tampaknya bertambah banyak. Dan celakanya lagi orangtua dari anak-anak “bermasalah” tersebut tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Mereka cenderung mengikuti secara sepotong-sepotong apa yang telah mereka alami sendiri sebagai anak-anak dan mengikuti apa yang disarankan oleh majalah, media cetak maupun elektronik dan mungkin sahabat-sahabat mereka.

    Tentunya permasalahan anak-anak tersebut tak kunjung selesai karena penyelesaian hingga ke akar terdalamnya tak pernah ada. Lalu bagaimana harusnya?

    Marilah kita tinjau akar perilaku anak. Dalam setiap perilakunya anak-anak ingin mendapatkan satu jawaban dari pertanyaan terdalam yang ada pada diri mereka. Karena kemampuan komunikasi yang terbatas dan wawasan yang belum seperti orang dewasa maka anak-anak menanyakan pertanyaan pribadi mereka melalui “perilaku”. Bahkan tak jarang orang dewasapun berkomunikasi melalui perilaku mereka. Hal ini terutama terjadi pada orang dewasa yang susah mengkomunikasikan perasaannya melalui perkataan.

    Apakah yang sebenarnya ditanyakan oleh anak-anak melalui perilakunya? Sederhana saja. Anak-anak tersebut menanyakan “Apakah aku dicintai?”
    Seringkali orangtua gagal memahami hal tersebut. Ataupun jika mereka bisa memahami hal tersebut mereka gagal memberikan cinta yang tulus pada anak-anaknya. Mengapa orangtua gagal mencintai anak-anaknya dengan cukup?

    Alasan utama orangtua gagal cukup mencintai anak-anaknya adalah karena mereka tidak cukup mencintai diri mereka sendiri dan mereka punya pandangan keliru bahwa anak-anak ada untuk memenuhi harapan orangtua.

    Marilah kita tinjau sekilas alasan pertama. Mengapa orangtua tidak mencintai dirinya sendiri? Bukankah itu tidak mungkin? Orangtua tidak mencintai diri sendiri karena alasan harga diri rendah. Tentunya ini juga bermula dari bagaimana mereka dulu dibesarkan. Ada banyak muatan emosional negatif yang tak terselesaikan dalam diri mereka sendiri yang terus terbawa hingga mereka dikaruniai anak. Orangtua dengan harga diri rendah ini kemudian membesarkan anak mereka sendiri dengan pola-pola yang hampir sama dengan cara mereka dulu dibesarkan.
    Akhirnya mereka tidak bisa tulus memberikan cinta pada anak-anaknya. Mereka memberikan cinta bersyarat pada anak-anakknya. Tindakan orangtua ini menyiratkan “Saya akan mencintaimu Nak, kalau engkau berhasil memenuhi syaratku …” Tanpa kesadaran diri yang tinggi maka rantai We have just compiled our statistics for Q3 2013 and we now present an inside view of the failures that we have seen this quarter: Some points to… read more The post Hard Drive Failure Stats Q3 2013 appeared first on best-data-recovery.com Recovery. ini tak mudah diputuskan.

    Alasan kedua mengapa orangtua tidak cukup mencintai adalah karena mereka memiliki pandangan keliru bahwa anak-anak ada untuk memenuhi harapan mereka. Salah satu sebab utama mengapa relasi orangtua – anak memburuk adalah karena persepsi orangtua bahwa anak gagal “memenuhi ukuran” yang dicanangkan orangtua terhadap diri mereka. Ukuran ini biasanya tentang apa yang harus anak lakukan dan tentang apa yang harus anak rasakan.

    Orangtua memandang anak mereka sebagai modal, salah satu bentuk hak milik. Orangtua merasa bahwa anak-anak itu baik kalau mereka melakukan dan mengatakan apa yang sesuai dengan keinginan orangtuanya. Jika perilaku anak berbeda dengan harapan orangtua maka akan ditanggapi dengan kritikan.

    Dengan begitu tanpa sengaja orangtua telah menarik cinta dan persetujuannya dari anak. Padahal inilah yang dibutuhkan anak. Anak butuh merasa aman untuk bisa merasakan cinta dan penerimaan dari orangtuanya. Begitu perasaan ini dilanggar maka landasan perilaku buruk dan berbagai masalah kepribadian di masa depan seorang anak telah dibangun. Segala bentuk perilaku negatif dan antisosial pada orang dewasa  adalah jeritan minta tolong, sebuah upaya  untuk melarikan diri dari rasa bersalah, kemarahan dan kekesalan yang dimulai dengan kritik pedas di masa awal kehidupan mereka.

    Jika kita ingin menolong orang dewasa yang bermasalah dengan kehidupannya maka bantulah “anak kecil” yang bersemayam dalam lubuk hati orang dewasa tersebut.  Sebaliknya jika kita ingin membantu seorang anak kecil berkembang menjadi orang dewasa yang hebat kelak maka bantulah anak kecil ini mengembangkan keunikan dan individualitas mereka sendiri. Untuk itu kita perlu belajar memahami mereka secara lebih mendalam. Sudahkah kita melakukan hal ini pada anak-anak kita?