Anak: Guruku Terhebat
Feb 8th, 2008 by ariesandi
Suatu sore sepulang dari kantor, saya menjumpai anak saya di ruangan bermain sedang mencari-cari sesuatu. Begitu melihat saya datang, Fio melonjak kegirangan, “Pa, bantuin cari roda mobilnya Koko yang lepas!”
“Oke, sebentar Papa ganti baju dan cuci tangan dulu ya!”
Setelah selesai berbenah dengan diri sendiri, maka saya pun menjumpainya di ruangan bermain. Ia masih melongok ke berbagai sudut dan kolong lemari mainannya. Wajahnya sedih sekali dan tampak tak bersemangat.
Sebenarnya saya pun capek sekali. Inginnya sih duduk minum juice apukat.
Setelah itu tak berapa lama saya menyadari diri saya sudah berada di kolong kursi dan lemari, mencari-cari benda ‘tak berharga’ itu. Fio sangat ingin saya menemukannya. Saya mulai menggeledah bantalan kursi, kotak mainan yang baru saja dipakainya, bagian belakang lemari mainannya dan berbagai sudut ruangan. Saya mendadak menjadi budak yang patuh bergerak kerepotan di antara tempat yang bagi saya asing dan berdebu.
Fio menguntit saya dengan gelisah sambil terus menggerutu, “Hmmm ke mana sih roda mobilnya?” kemudian mulai memberikan saran-saran yang semakin membingungkan saya.
Selama pencarian banyak pikiran berseliweran di kepala saya. Tiba-tiba beberapa jenis pikiran memuncak, “Sedang apa saya ini, mengaduk-aduk ruangan dan lemari dekil mencari sebuah roda mainan konyol yang tak berharga. Bagaimana mungkin saya bisa merunduk begini rendah? Mengapa saya menuruti keinginannya yang begitu mendadak?”
Saya menyadari semenjak kelahiran anak pertama saya, kehidupan berubah total. Berapa banyak waktu saya tersita oleh kegiatan-kegiatan konyol dan melelahkan seperti ini. Kadang saya merasa menjadi tawanan seorang penguasa kecil yang gila. Seperti kata, siapa itu ya, psikiater Inggris yang mengatakan bahwa keluarga adalah sebuah tungku penempaan kegilaan, uhh masa bodoh mengingat itu semua.
Tiba-tiba suasana hati saya berubah. Entah kenapa beberapa hal kecil yang seolah tampak bertentangan berseliweran dalam pikiran saya membuat saya menjadi lebih besar. Di saat saya merunduk rendah seperti ini, saya merasakan semangat saya tiba-tiba membubung. Hanya dengan membantu seorang anak saya merasa jauh lebih terbuka. Bagaimanapun ada bagusnya juga saya bergeser dari sebuah dunia hebat tempat semuanya jelas beralasan ke sebuah ruangan suram tempat bersembunyinya pretelan-pretelan kecil tak berharga yang terlupakan. “Hai Ariesandi, siapa kamu? Bukankah masih ada sosok anak-anak dalam dirimu? Bukankah selama ini kamu punya prinsip bahwa kita bisa belajar di tempat manapun juga dan dari siapapun juga dalam situasi apapun juga?” demikian sebuah kesadaran yang muncul mengagetkan saya.
Sayapun menarik napas panjang, menatap mata Fio yang polos, mengendorkan keseriusan saya dan kemudian dengan bersemangat mengatakan, “Papa akan carikan sampai ketemu, oke!” dan sayapun melihat kelegaan menyelimuti dirinya. Seolah tahu bahwa ia mempunyai tempat berlindung yang tepat dan bahwa dirinya akan selalu aman bersama dengan orangtuanya.
Tak berapa lama saya berhasil menemukan roda mungil itu!!! Ohhhhh senangnya, saya pun teringat film Dora, seketika terngiang suara Fio menyanyi menirukan lagu Dora sambil berjingkrak di depan film kesayangannya itu, “Berhasil, berhasil, berhasil, horeee!” Fio pun segera memasang roda itu dan mobil-mobilan tersebut kembali utuh.
Sayapun termangu memandanginya serius menatap mobil-mobilan itu. Saya mengingat kembali momen-momen kecil seperti ini. Tak seberapa hebat sih, tapi kalau dikumpulkan koleksi saya banyak juga.
Sudah jelas dulu sebelum menjadi orangtua, saya punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Saya bisa membaca, menulis, berpikir dan menikmati musik sambil meditasi tanpa gangguan. Meningkatkan kesadaran diri di atas dunia personal saya yang kecil. Sekarang ini sebaliknya, saya mencari-cari roda kecil konyol, memasang isolasi pada mobil-mobilan yang retak, melekatkan stiker pada mobil balap kecil dan berbagai kegiatan membuang waktu lainnya. Di penghujung hari saya kecapekan.
Tapi hidup saya jadi terasa lebih dalam dan lebih kaya dibandingkan sebelumnya. Saya jadi mengerti bahwa setiap momen dalam kehidupan sebagai orangtua, betapapun menjengkelkannya dan sepelenya, berisikan kejutan-kejutan tersembunyi serta banyak kesempatan untuk meningkatkan diri menuju cahaya kebijakan yang lebih baik.
Hidup bersama anak-anak kita memperkaya dan mengubah kepribadian kita menjadi lebih baik, asalkan kita mau menggunakan kesempatan itu. Rasa-rasanya seperti belajar di sebuah kursus super intensif yang mengajarkan semua pengalaman besar dalam kehidupan, yang memberi kita pemahaman lebih kental dan perhatian lebih tajam pada keindahan, cinta, kepolosan, permainan, derita dan maut, kesabaran, kebenaran, identitas, rasa syukur, masa lalu, kecerdasan, pengajaran, keleluasaan dan masih banyak lagi.
Terima kasih anak-anakku, Fio, Aldo dan Rio.
Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!
Terima kasih buat artikel-artikelnya yang membuat saya bangga menjadi orangtua dan semakin semangat untuk mendidik serta memberikan waktu luang untuk kedua anak saya. Once again thank you. GBU
Terima kasih atas artikel-artikel Bapak yang sangat bagus. Saya sangat terinspirasi dan menjadi semakin giat belajar menjadi orangtua. Semangat mendidik saya juga semakin bertambah, baik terhadap putri-putri saya maupun terhadap teman-teman sesama orangtua. Keep inspiring us. Thank you.
Terima kasih kepada Anak ” Sang Guru “. Tanpa engkau sadari, engkau adalah Pelita yang selalu bercahaya dan bersinar. Cahayamu menerangi kegelapan hati orang tua yang sadar dan menyadari bahwa anak adalah sang guru. Cahayamu selalu hadir di relung hati orang tua yang penuh kasih sayang dan Cahayamu akan redup manakala cinta kasih sirna dalam kehidupan kebendaan. TQ
Makasih Pak Ari dan Pak Kanto, artikelnya membuat saya lebih menghargai dan mencintai anak-anak. Anak-anak ternyata tidak seperti yang kita pikirkan, seolah mereka masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Padahal di balik keluguannya saya bisa belajar sejuta makna arti hidup dan cara menyikapi hidup. Saya semakin bangga dengan anak-anak saya khususnya. Pak Sukanto dan Pak Ari, tolong kirimkan artikel lain tentang cara membangun komunikasi yang efektif antara sekolah dan orang tua. Sekali lagi terima kasih, saya bangga mempunyai Anda.
Betul Pak, Anda telah menjabarkan dengan tepat apa yang saya rasakan selama ini, karena sejak menjadai orangtua dari 2 anak yang sangat manis, saya menjadi lebih sabar, percaya diri dan lebih kuat menghadapi tantangan hidup. Terimakasih untuk artikel Bapak, membuat saya semakin semangat mendidik anak-anak saya.
Terimakasih Pak, sekarang saya mencintai anak-anak saya lebih dari sebelumnya. Artikel-artikel Bapak menyadarkan saya bahwa pekerjaan menjadi orangtua (ibu) bukan sekedar melahirkan dan menyusui. Saya pasti berhasil…..!
saya akan selalu berusaha jadi bapak yg baik, I Love my boy……
karena sesungguhnya ketika anak di hadapan kita adalah sebuah buku yang harus dan selalu kita baca dan kita maknai tingkahnya. pelajaran dari “sang anak” selalu datang dan mengkritisi kita.
karena sesungguhnya anak bukan hanya sebagai guru tapi cermin yang jujur !!!!