Bulan: Februari 2008

  • Anak: Guruku Terhebat

    Suatu sore sepulang dari kantor, saya menjumpai anak saya di ruangan bermain sedang mencari-cari sesuatu. Begitu melihat saya datang, Fio melonjak kegirangan, “Pa, bantuin cari roda mobilnya Koko yang lepas!”

    “Oke, sebentar Papa ganti baju dan cuci tangan dulu ya!”

    Setelah selesai berbenah dengan diri sendiri, maka saya pun menjumpainya di ruangan bermain. Ia masih melongok ke berbagai sudut dan kolong lemari mainannya. Wajahnya sedih sekali dan tampak tak bersemangat.

    Sebenarnya saya pun capek sekali. Inginnya sih duduk minum juice apukat.

    Setelah itu tak berapa lama saya menyadari diri saya sudah berada di kolong kursi dan lemari, mencari-cari benda ‘tak berharga’ itu. Fio sangat ingin saya menemukannya. Saya mulai menggeledah bantalan kursi, kotak mainan yang baru saja dipakainya, bagian belakang lemari mainannya dan berbagai sudut ruangan. Saya mendadak menjadi budak yang patuh bergerak kerepotan di antara tempat yang bagi saya asing dan berdebu.

    Fio menguntit saya dengan gelisah sambil terus menggerutu, “Hmmm ke mana sih roda mobilnya?” kemudian mulai memberikan saran-saran yang semakin membingungkan saya.

    Selama pencarian banyak pikiran berseliweran di kepala saya. Tiba-tiba beberapa jenis pikiran memuncak, “Sedang apa saya ini, mengaduk-aduk ruangan dan lemari dekil mencari sebuah roda mainan konyol yang tak berharga. Bagaimana mungkin saya bisa merunduk begini rendah? Mengapa saya menuruti keinginannya yang begitu mendadak?”

    Saya menyadari semenjak kelahiran anak pertama saya, kehidupan berubah total. Berapa banyak waktu saya tersita oleh kegiatan-kegiatan konyol dan melelahkan seperti ini. Kadang saya merasa menjadi tawanan seorang penguasa kecil yang gila. Seperti kata, siapa itu ya, psikiater Inggris yang mengatakan bahwa keluarga adalah sebuah tungku penempaan kegilaan, uhh masa bodoh mengingat itu semua.

    Tiba-tiba suasana hati saya berubah. Entah kenapa beberapa hal kecil yang seolah tampak bertentangan berseliweran dalam pikiran saya membuat saya menjadi lebih besar. Di saat saya merunduk rendah seperti ini, saya merasakan semangat saya tiba-tiba membubung. Hanya dengan membantu seorang anak saya merasa jauh lebih terbuka. Bagaimanapun ada bagusnya juga saya bergeser dari sebuah dunia hebat tempat semuanya jelas beralasan ke sebuah ruangan suram tempat bersembunyinya pretelan-pretelan kecil tak berharga yang terlupakan. “Hai Ariesandi, siapa kamu? Bukankah masih ada sosok anak-anak dalam dirimu? Bukankah selama ini kamu punya prinsip bahwa kita bisa belajar di tempat manapun juga dan dari siapapun juga dalam situasi apapun juga?” demikian sebuah kesadaran yang muncul mengagetkan saya.

    Sayapun menarik napas panjang, menatap mata Fio yang polos, mengendorkan keseriusan saya dan kemudian dengan bersemangat mengatakan, “Papa akan carikan sampai ketemu, oke!” dan sayapun melihat kelegaan menyelimuti dirinya. Seolah tahu bahwa ia mempunyai tempat berlindung yang tepat dan bahwa dirinya akan selalu aman bersama dengan orangtuanya.

    Tak berapa lama saya berhasil menemukan roda mungil itu!!! Ohhhhh senangnya, saya pun teringat film Dora, seketika terngiang suara Fio menyanyi menirukan lagu Dora sambil berjingkrak di depan film kesayangannya itu, “Berhasil, berhasil, berhasil, horeee!” Fio pun segera memasang roda itu dan mobil-mobilan tersebut kembali utuh.

    Sayapun termangu memandanginya serius menatap mobil-mobilan itu. Saya mengingat kembali momen-momen kecil seperti ini. Tak seberapa hebat sih, tapi kalau dikumpulkan koleksi saya banyak juga.

    Sudah jelas dulu sebelum menjadi orangtua, saya punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Saya bisa membaca, menulis, berpikir dan menikmati musik sambil meditasi tanpa gangguan. Meningkatkan kesadaran diri di atas dunia personal saya yang kecil. Sekarang ini sebaliknya, saya mencari-cari roda kecil konyol, memasang isolasi pada mobil-mobilan yang retak, melekatkan stiker pada mobil balap kecil dan berbagai kegiatan membuang waktu lainnya. Di penghujung hari saya kecapekan.

    Tapi hidup saya jadi terasa lebih dalam dan lebih kaya dibandingkan sebelumnya. Saya jadi mengerti bahwa setiap momen dalam kehidupan sebagai orangtua, betapapun menjengkelkannya dan sepelenya, berisikan kejutan-kejutan tersembunyi serta banyak kesempatan untuk meningkatkan diri menuju cahaya kebijakan yang lebih baik.

    Hidup bersama anak-anak kita memperkaya dan mengubah kepribadian kita menjadi lebih baik, asalkan kita mau menggunakan kesempatan itu. Rasa-rasanya seperti belajar di sebuah kursus super intensif yang mengajarkan semua pengalaman besar dalam kehidupan, yang memberi kita pemahaman lebih kental dan perhatian lebih tajam pada keindahan, cinta, kepolosan, permainan, derita dan maut, kesabaran, kebenaran, identitas, rasa syukur, masa lalu, kecerdasan, pengajaran, keleluasaan dan masih banyak lagi.

    Terima kasih anak-anakku, Fio, Aldo dan Rio.

    Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!

  • Menjadi WIL untuk Suami Sendiri

    Menjadi WIL untuk Suami SendiriWeekend ini saya habiskan berkumpul dengan teman-teman semasa sekolah. Walaupun hanya 5 orang perempuan, namun ramainya seperti ada 30 orang berkumpul… Maklum, selain sudah lama tidak bertemu, kami memang termasuk jajaran perempuan yang paling cerewet di sekolah.

    Pertemuan kami diawali dengan keceriaan saling menanyakan kabar dan melepas kangen setelah beberapa lama tidak bertemu, yang dilanjutkan dengan makan bersama dan duduk manis di restoran dengan cerita yang terus berlanjut. Semakin lama, cerita pun semakin masuk ke berbagai hal pribadi menyangkut kehidupan rumah tangga dan relasi pasangan.

    Saat itu saya lebih banyak mendengarkan berbagai cerita dari keempat teman saya, hingga seorang teman saya tiba-tiba saja menangis. Dengan ‘baik hati’-nya ketiga teman saya ini menyerahkan Agnes (sebut saja teman saya dengan nama itu) kepada saya untuk dihentikan tangisnya.

    Usut punya usut, ternyata Agnes merasa tidak dicintai oleh suaminya dan dia selalu curiga suaminya punya WIL (Wanita Idaman Lain). Setelah bercerita panjang lebar, saya pun mencoba menyimpulkan ceritanya dan mengatakan ulang kepada Agnes.

    Jadi kamu mau suami kamu mencintai kamu?
    Selama ini kamu sudah minta dicintai, tetapi dia tidak menggubris…
    Kamu bahkan pernah memelas untuk diperhatikan…
    Kamu bahkan sering menangis di depannya dan mengatakan kamu merasa tidak dicintai…
    Kamu putus asa karena apapun yang kamu lakukan, suamimu tetap tidak mencintai kamu, dan kamu juga sudah mengatakan itu kepadanya…

    Agnes menjawab dengan tatapan ’menyalahkan’ saya, ”Lha khan kamu yang bilang bahwa saya harus terbuka pada suami atas apa yang saya rasakan”

    Saya hanya bisa tersenyum..

    Memang benar kita harus terbuka terhadap pasangan atas perasaan yang kita alami, tetapi cara yang digunakan Agnes menurut saya adalah salah dan bahkan membuat suaminya makin menjauh dan tidak tahu harus berbuat apa.

    Saya lantas bertanya pada Agnes, ”Kalau kamu curiga suamimu punya WIL, lalu menurutmu kira-kira WIL seperti apa yang bisa menarik dan membuat suami kamu berpaling padanya?”

    Masih dengan wajah sedih, Agnes berpikir sejenak dan menjawab ” Mungkin dia perempuan yang menarik secara fisik, pandai berdandan, orang yang ceria, orang yang bisa membantu pekerjaan suami saya, yang bisa mendengarkan keluhan-keluhannya dan bisa membuatnya tertawa dan membuat suami saya merasa nyaman berada didekatnya, pandai merayu dan yang pasti dia pasti bisa memuaskan nafsu sex-nya!” katanya dengan sedikit jengkel saat mengucapkan kata yang terakhir.

    Saya memeluknya dan berbisik di telinga Agnes, ”Kalau begitu, jadilah WIL untuk suamimu sendiri”.

    Agnes pun menarik tubuhnya dan memandang saya dengan mata melotot. Untuk beberapa saat, dia diam tertegun dan tiba-tiba dia tersenyum dan kembali memeluk saya. Rasanya dia telah mengerti maksud saya. Sungguh bahagia rasanya.

    Bisa dibayangkan, percakapan selanjutnya sangatlah menarik dan menyenangkan. Kami sibuk mengatur strategi untuk Agnes menjadi WIL bagi suaminya. Kami merencanakan dandanan yang cocok buat Agnes, mencari baju yang membuat dirinya menjadi lebih menarik, membeli lingerie dan membuat daftar kegiatan yang sebaiknya dilakukan Agnes untuk tetap membuat mood-nya dalam keadaan baik, salah satunya mengikuti kelas dansa dan yoga, menyusun trik seksi untuk making love dan membuat pertemuan rutin dengan kami untuk bergosip yang best online casino positif. Pertemuan hari ini berakhir sangat seru dan mengasyikkan. Dan yang paling membahagiakan, Agnes pulang dengan ceria dan terlihat sangat percaya diri.

    Sering kali kita tidak sadar saat kita meminta dicintai, kita melakukannya dengan salah. Jangan pernah berharap bahwa dengan memasang wajah memelas dan menunjukkan betapa kita menderita karena tidak dicintai, maka pasangan kita akan dengan senang hati memenuhi kebutuhan kita.

    Saat kita meminta dicintai dan mengungkapkan rasa kecewa terhadap pasangan dengan cara yang salah, mendadak yang terjadi adalah pasangan menjadi semakin jauh.

    Kenapa?

    Karena pasangan kita merasa terpojok dan disalahkan atas perasaan yang terjadi pada kita. Bayangkan saja, apa enaknya sih disalahkan atas sesuatu yang tidak bisa kita kontrol.

    Maksudnya, apa bisa kita mengontrol perasaan orang lain?
    Apa bisa kita memaksa pasangan untuk mencintai kita?
    Apa bisa kita memaksa seseorang menyukai kita?
    Apa bisa memaksa pasangan untuk bahagia?
    Apa bisa kita bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesedihan seseorang?

    Jawabannya, sudah pasti tidak bisa.

    Kita bisa memaksa pasangan mengatakan “I love U”
    Kita bisa memaksa pasangan memeluk kita
    Kita bisa memaksa pasangan menemani kita jalan
    Tetapi soal perasaan dan hati, siapa yang tahu?

    Kenapa kita tidak melakukan sesuatu agar perubahan terjadi?

    Saya sangat suka dengan kata-kata ini ”Perubahan terjadi saat kita mengubah diri kita sendiri”

    Kita ubah diri kita agar layak dicintai
    Kita ubah penampilan kita agar “enak” dipandang
    Kita ubah sikap kita agar membuat pasangan merasa diterima
    Kita bisa memberikan senyum terindah pada pasangan setiap saat
    Kita bisa mencintai pasangan dengan tulus tanpa minta balasan
    Kita bisa menyiapkan makanan kesukaannya
    Kita bisa membelikannya hadiah kejutan
    Kita bisa menjadi pendengar terbaik untuk pasangan
    Kita bisa memberikan kecupan sayang setiap saat
    Kita bisa memberikan pelukan mesra setiap pagi dan malam
    Kita bisa mengatakan “I love you” dan bukannya “Do you love me?”

    Selamat mencintai dan semoga berbahagia.

    Salam penuh cinta,
    Ely

    Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!