Phone : 031-71559997, 031-5941439

SMS    : 0819807601 (Jam Kerja)

Email   : cs@sekolahorangtua.com

Messenger :

Join Facebook.com/SekolahOrangtua


12
Sep

Mata rantai yang hilang dalam dunia pendidikan dan kewirausahaan di Indonesia : Pendidikan untuk menjadi orangtua profesional

42_15281288.gif - 8.36 KbMenjadi orangtua adalah suatu profesi yang sangat mulia. Namun sebagian besar dari kita tidak mengerti harus bagaimana mempersiapkannya. Ketika kita mempersiapkan pernikahan maka kita sibuk memikirkan acara pestanya. Kita sibuk memikirkan siapa yang akan diundang, gaun apa yang akan dikenakan pengantin wanita, makanan seperti apa yang akan dihidangkan, foto kenangan seperti apa yang akan dilakukan dan mungkin juga tempat tinggal seperti apa yang akan dihuni.

Banyak diantara pasangan muda yang menikah tidak mempersiapkan diri untuk mendidik anaknya. Mereka berpikir bahwa kalau menikah dan punya anak maka secara alami kita pasti bisa mendidiknya. Tidak perlu belajar. Tetapi setelah anaknya bermasalah barulah mereka sadar telah membuang waktu untuk belajar. Itupun untung jika masih sadar. Banyak yang tidak menyadarinya sampai tua.

Kebanyakan orangtua sekarang lebih mampu mengelola anaknya ketimbang mengasuh atau mendidiknya. Mengelola adalah kegiatan yang dilakukan dengan pikiran logis. Contohnya menyelesaikan pekerjaan rumah, mengikutkan anak les musik / balet / pelajaran, mengingatkan anak untuk makan, mandi dan tidur. Intinya tentang bagaimana membantu mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan menjadi apapun yang mereka inginkan yang sesuai dengan keinginan kita. Kita memperlakukan anak-anak seperti karyawan di kantor yang perlu dikontrol dan diawasi dengan seperangkat aturan.

Apakah dengan cara mengelola seperti itu sudah layak dan cukup disebut mengasuh dan mendidik? Pengasuhan merupakan kegiatan yang kita lakukan dengan pikiran dan juga perasaan. Hal tersebut meliputi memberi pelukan yang cukup banyak, memberi pujian dan menyemangati ketika anak-anak tertekan, memberikan kehangatan untuk menentramkan mereka dan memberikan mereka waktu berkualitas. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah mengetahui siapa mereka dan membantunya menjadi seperti apa yang ada dalam dirinya. Bukan menjadikan mereka seperti apa yang kita inginkan.

Analogi yang paling buruk tentang pengasuhan anak adalah yang mengibaratkan anak seperti gumpalan tanah liat dan orangtua adalah pematungnya. Hal ini menggambarkan bahwa anak berada dalam pihak yang pasif dan tak berdaya sama sekali. Anak diposisikan tidak memberikan kontribusi dalam proses tumbuh kembangnya. Hal ini pada akhirnya gagal dan sangat merugikan perkembangan anak itu sendiri.

Analogi yang lebih baik adalah analogi bibit tanaman. Pohon kecil yang ditanam di taman semuanya mirip. Tapi ternyata mereka semua berbeda. Ada pohon pinus, pohon apel dan pohon mangga. Kita tidak membentuk mereka melainkan merawatnya sesuai dengan karakteristik yang telah ada.

Kita perlu mencari tahu pohon jenis apa. Setelah itu mempelajari apa yang mereka perlukan dan menyediakan apa yang diperlukan tersebut. Mungkin pupuk yang sesuai dan pasokan air yang memadai sesuai dengan semua sifatnya agar mencapai pertumbuhan optimal.

Dalam hal ini mengelola, membentuk, mengarahkan dan mengajari mendapatkan porsi. Mengasuh dan mendidik adalah selubung yang melingkupi semua hal tersebut. Mengasuh dan mendidik memerlukan kecakapan untuk menentukan kapan saat terbaik untuk mengelola, membentuk, mengarahkan dan mengajari anak sehingga dengan begitu si anak bisa menemukan memunculkan potensi dan karakteristik terbaik yang telah ada dalam dirinya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah selama ini Anda lebih banyak mengelola atau mengasuh? Masih ada waktu untuk mengubah diri dan mempelajari banyak hal untuk membantu anak kita mengembangkan potensi terbaik dirinya. Segeralah ambil tindakan.

Ariesandi

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !

Category : Artikel / Parenting

12 Responses to “Mengasuh Anak vs Mengelola Anak”


swandono 20 January 2008

setelah membaca artikel ini dengan analogi2nya, saya sepakat dengan pak aries bahwa mengasuh anak lebih penting daripada mengelola anak,karena di dalem pengasuhan anak salah satunya terdapat pengelolaan anak juga.
Namun sangat disayangkan banyak orang tua yang tidak menyadari hal itu, mungkin juga termasuk saya dan istri saya selama ini.
Artikel ini menjaadi pembelajaran dan penyadaran baru bagi saya dan istri tentang bagaimana baiknya memperlakukan anak2 kami.

Joshinta 30 October 2008

Pak Aries…di sby mbok tersentuh juga…syukur2 kalo ada clubbingnya..

adli 24 April 2009

sy coba daftar kok ga bisa yah? solusinya donk. tanks

Ulfa 13 May 2009

Untuk mengasuh atau mendidik anak diperlukan org tua 2 yg berkualitas tentunya. So, pak aries sekolahin kami donk, sbg ortu kita btuh bgt pndidikan tntg anak2.

ariesandi 14 May 2009

Halo ibu Ulfa,
Sekolah Orangtua akan terus berupaya untuk menginspirasi para orangtua melalui program pendidikan orangtua. Ibu tunggu saja beberapa program kami yang akan diluncurkan bulan Juli. Program dahsyat untuk orangtua peduli.

Salam Hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga

Retna 5 October 2009

Pak, bagaimana jika hanya satu orang tua saja yang melakukannya.. bapaknya saja atau ibunya saja misal.
Apkah hal ini juga berpengaruh nantinya?

yine limbono 13 November 2009

saya udah membaca artikel ini, nantinya akan saya baca lagi,pak… terima kasih, cuman saya ingin menanyakan, keluarga suami saya kan saudara banyak, jadi saya ada kesempatan kumpul dengan keponakan dari kecil sampe yang udah besar, ada yang menarik dari semua itu, kakak ipar saya itu punya anak 3, suami istri 1 harian bekerja, pulang udah sore, begitu selesai makan malam mereka mengurusi pekerjaan mereka, dengan mereka dibiarkan melakukan tindakan seperti itu dan mereka punya prinsip” bahwa nanti dengan bertambah dewasa mereka akan bisa2 sendiri”. apakah benar seperti itu pak???

tuntum budiarti 16 December 2009

pak Arsendi … saya sangat setuju dengan artikel bapak yang sangat menarik .ternyata saya salah selama ini dalam mendidiknya. tapi bagaimana memperbaiki anak yang sdh SMA dan terlanjur sulit belajar

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 16 December 2009

Halo ibu Tuntum Budiarti,
Terima kasih karena ibu memiliki kesadaran untuk mau berubah dalam mendidik anak. Tidak ada kata terlambat ibu. Ibu dapat mulai melakukan perubahan dalam mendidik anak ibu. INi saatnya, ibu dan anak ibu untuk melakukan pembicaraan dari hati ke hati mengenai pemikiran dan keinginan anak ibu. Tanyakan pula apa yang dapat ibu lakukan untuk membantu buah hati merasa dicintai.
Mengenai kurangnya motivasi belajar, perubahan dalam perlakuan biasanya dapat berimbas pada motivasi belajar. JIka tidak, tanyakan padanya rencana masa depan dan apa rencananya untuk mencapai rencana masa depannya. Apakah masa sekolah dan lulus ujian juga termasuk dalam rencana masa depannya ?
Jika ibu kesulitan ibu dapat meminta bantuan pada orang ketiga atau terapis untuk membantu anak ibu memikirkan rencana masa depannya.

Semoga bisa bermanfaat. .

urip sanyoto 9 February 2010

Pak Aries terima kasih banyak artikelnya, artikel ini sangat bermanfaat bukan hanya untuk yang masih punya anak kecil tapi juga untuk yang udah punya anak-anak yang sudah besar.

agus widiyanta 11 February 2010

dua anak saya yg satu karekternya ekstropet cepat rasa ingin tau tinggi tetapi tidak punya ketekunan klo melakukan pekerjaan rumit detil yang satu intropet sabar klo mengerjakan telaten sampai detil pertanyaannya bagaimana bentuk bimbingan /mendampingi anak2 saya menuju remaja tks