<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Orangtua Pemicu Konflik Diri Anak?</title>
	<link>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/</link>
	<description>Pusat Pendidikan Keluarga</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 01:44:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: ariesandi</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-280</link>
		<author>ariesandi</author>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 22:53:51 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-280</guid>
		<description>&lt;p&gt;Dear P Taram yang baik hati,&lt;br /&gt;
Pertanyaan bagus ketiga pertanyaan tersebut akan saya jawab dalam satu ringkasan.&lt;br /&gt;
Satu hal yang penting yang harus ditanamkan pada diri anak adalah: ia merasa dicintai dan dihargai serta diterima apa adanya oleh orangtuanya.&lt;br /&gt;
Tidak penting apakah orangtuanya merasa mencintai anaknya atau tidak, selama si anak tidak bisa merasakan dirinya dicintai maka ini akan jadi masalah. Jika anak merasa dicintai orangtuanya maka bisa dipastikan orangtuanya mencintai anak. Namun tidak sebaliknya. Seperti yang kami bahas dalam &lt;a href="http://www.hypnoparenting.com/id/2007/dvd502-tangki-cinta-anak/" rel="nofollow"&gt;DVD Tangki Cinta&lt;/a&gt;, jika tangki cinta anak penuh maka perlakuan negatif yang diterima anak akan bisa dinetralisir oleh anak. Tangki cinta yang penuh berfungsi seperti sistem kekebalan. Jika tangki cintanya kosong maka ia tidak punya pertahanan diri.&lt;br /&gt;
Tips praktis agar anak sukses dalam hidupnya:&lt;br /&gt;
--&#62; Jaga harga diri anak tetap sehat sampai dewasa, caranya dengan mengisi Tangki Cintanya&lt;br /&gt;
--&#62; Jaga pandangan anak terhadap "kegiatan belajar" adalah sesuatu yang menyenangkan, jika anak membenci "belajar" maka ini akan membuatnya susah ketika dewasa nanti, ingat bagi kita belajar menjadi penting ketika kita memasuki dunia kehidupan nyata&lt;br /&gt;
--&#62; Bantu anak mengembangkan sikap flexible terhadap perubahan dengan cara mengasah mengenali kondisi emosinya.&lt;br /&gt;
Salam hangat&lt;/p&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear P Taram yang baik hati,<br />
Pertanyaan bagus ketiga pertanyaan tersebut akan saya jawab dalam satu ringkasan.<br />
Satu hal yang penting yang harus ditanamkan pada diri anak adalah: ia merasa dicintai dan dihargai serta diterima apa adanya oleh orangtuanya.<br />
Tidak penting apakah orangtuanya merasa mencintai anaknya atau tidak, selama si anak tidak bisa merasakan dirinya dicintai maka ini akan jadi masalah. Jika anak merasa dicintai orangtuanya maka bisa dipastikan orangtuanya mencintai anak. Namun tidak sebaliknya. Seperti yang kami bahas dalam <a href="http://www.hypnoparenting.com/id/2007/dvd502-tangki-cinta-anak/" rel="nofollow" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/comment/http://www.hypnoparenting.com/id/2007/dvd502-tangki-cinta-anak/');">DVD Tangki Cinta</a>, jika tangki cinta anak penuh maka perlakuan negatif yang diterima anak akan bisa dinetralisir oleh anak. Tangki cinta yang penuh berfungsi seperti sistem kekebalan. Jika tangki cintanya kosong maka ia tidak punya pertahanan diri.<br />
Tips praktis agar anak sukses dalam hidupnya:<br />
&#8211;&gt; Jaga harga diri anak tetap sehat sampai dewasa, caranya dengan mengisi Tangki Cintanya<br />
&#8211;&gt; Jaga pandangan anak terhadap &#8220;kegiatan belajar&#8221; adalah sesuatu yang menyenangkan, jika anak membenci &#8220;belajar&#8221; maka ini akan membuatnya susah ketika dewasa nanti, ingat bagi kita belajar menjadi penting ketika kita memasuki dunia kehidupan nyata<br />
&#8211;&gt; Bantu anak mengembangkan sikap flexible terhadap perubahan dengan cara mengasah mengenali kondisi emosinya.<br />
Salam hangat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Taram</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-279</link>
		<author>Taram</author>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 05:30:21 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-279</guid>
		<description>Orangtua Pemicu Konflik Diri Anak ?

Waktu demi waktu berjalan terus, begitu pula pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.
Dimasa kecil anak, dia tumbuh dan berkembangan dalam lingkungan rumha tangga keluarga yang sangat sempit dan terbatas, lambat laun seiring dengan bertambahnya usia si anak, dia akan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang begitu luas, penuh dengan kebohogan, kepura-puraan, komplik dan dinamika kehidupan lainnya yang sarat dengan tantangan.

Seringkali kita jumpai, tidak jarang orang yang dimasa kecilnya hidup dalam lingkungan keluarga yang teratur(?), sebagian dari mereka dimasa dewasanya banyak mengalami kebingungan, ternyata dalam kehidupan nyata tidak selamanya apa yang dia miliki tentang pembenaran dalam fikiran bawah sadar jauh berbeda dengan kenyataan.

Pertanyaannya adalah: 1) Apakah dalam kehidupan anak harus selalu bebas dari konflik dengan orang tua. 2) Bagimana tindakan orang tua menanamkan emosional anak agar tumbuh dan berkembang secara baik dengan benar dalam fikiran bawah sadar si anak. 3) Kiat apa yang harus orang tua lakukan untuk mengantarkan anak agar sukses dan selamat memasuki kehidupan nyata yang penuh dengan basa basi, persaingan, konflik, penindasan dan tentunya ada pula kejujuran, kebersamaan dan persamaan serta kebenaran.

Sekian, terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Orangtua Pemicu Konflik Diri Anak ?</p>
<p>Waktu demi waktu berjalan terus, begitu pula pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.<br />
Dimasa kecil anak, dia tumbuh dan berkembangan dalam lingkungan rumha tangga keluarga yang sangat sempit dan terbatas, lambat laun seiring dengan bertambahnya usia si anak, dia akan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang begitu luas, penuh dengan kebohogan, kepura-puraan, komplik dan dinamika kehidupan lainnya yang sarat dengan tantangan.</p>
<p>Seringkali kita jumpai, tidak jarang orang yang dimasa kecilnya hidup dalam lingkungan keluarga yang teratur(?), sebagian dari mereka dimasa dewasanya banyak mengalami kebingungan, ternyata dalam kehidupan nyata tidak selamanya apa yang dia miliki tentang pembenaran dalam fikiran bawah sadar jauh berbeda dengan kenyataan.</p>
<p>Pertanyaannya adalah: 1) Apakah dalam kehidupan anak harus selalu bebas dari konflik dengan orang tua. 2) Bagimana tindakan orang tua menanamkan emosional anak agar tumbuh dan berkembang secara baik dengan benar dalam fikiran bawah sadar si anak. 3) Kiat apa yang harus orang tua lakukan untuk mengantarkan anak agar sukses dan selamat memasuki kehidupan nyata yang penuh dengan basa basi, persaingan, konflik, penindasan dan tentunya ada pula kejujuran, kebersamaan dan persamaan serta kebenaran.</p>
<p>Sekian, terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sukarto</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-278</link>
		<author>sukarto</author>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2007 04:26:51 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-278</guid>
		<description>Bu Aling,
setiap orangtua pasti pernah lepas kontrol dalam menghadapi anaknya. Walaupun ini hal yang wajar, tetapi kita harus mau meningkatkan kontrol diri kita bila ingin mampu mendidik anak dengan baik. Orangtua yang sering lepas kontrol bukanlah contoh yang baik untuk anak bukan ?

Keinginan orangtua untuk berubah menjadi lebih baik sangatlah penting. Adanya keinginan adalah sebuah awal agar pikiran bawah sadar kita siap untuk menerima solusi. 

Kunci dari sukses mendidik anak adalah orangtua harus mampu meningkatkan kesadaran diri dan kontrol diri terlebih dahulu. Hanya dalam kondisi pikiran yang tenang, maka orangtua mampu bertindak bijaksana dalam menghadapi perilaku anak yang tidak berkenan. 

Untuk meningkatkan kontrol diri dan kesadaran diri orangtua agar lebih mampu mengontrol emosi dalam menghadapi anak, solusinya sudah saya tulis di artikel &lt;a href="http://www.hypnoparenting.com/id/2007/pertanyaan-yg-paling-sering-ditanyakan-anak-ke-orangtua/" rel="nofollow"&gt; Pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak ke orangtua&lt;/a&gt;.

Semoga jawaban ini bermanfaat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Aling,<br />
setiap orangtua pasti pernah lepas kontrol dalam menghadapi anaknya. Walaupun ini hal yang wajar, tetapi kita harus mau meningkatkan kontrol diri kita bila ingin mampu mendidik anak dengan baik. Orangtua yang sering lepas kontrol bukanlah contoh yang baik untuk anak bukan ?</p>
<p>Keinginan orangtua untuk berubah menjadi lebih baik sangatlah penting. Adanya keinginan adalah sebuah awal agar pikiran bawah sadar kita siap untuk menerima solusi. </p>
<p>Kunci dari sukses mendidik anak adalah orangtua harus mampu meningkatkan kesadaran diri dan kontrol diri terlebih dahulu. Hanya dalam kondisi pikiran yang tenang, maka orangtua mampu bertindak bijaksana dalam menghadapi perilaku anak yang tidak berkenan. </p>
<p>Untuk meningkatkan kontrol diri dan kesadaran diri orangtua agar lebih mampu mengontrol emosi dalam menghadapi anak, solusinya sudah saya tulis di artikel <a href="http://www.hypnoparenting.com/id/2007/pertanyaan-yg-paling-sering-ditanyakan-anak-ke-orangtua/" rel="nofollow" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/comment/http://www.hypnoparenting.com/id/2007/pertanyaan-yg-paling-sering-ditanyakan-anak-ke-orangtua/');"> Pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak ke orangtua</a>.</p>
<p>Semoga jawaban ini bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aling</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-277</link>
		<author>Aling</author>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2007 03:33:33 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2007/06/30/orangtua-pemicu-konflik-diri-anak/#comment-277</guid>
		<description>Yth. Bp. Ariesandi,


Artikel tersebut benar2 mencerminkan kebiasaan kami para orang tua.

Untuk mengatasi berbagai akibat yg dapat terjadi akibat perkataan yg salah tersebut, bagaimana seharusnya perkataan yg benar yang kita lontarkan kepada anak2? mengingat bahwa pada saat peristiwa terjadi, orang tua dalam keadaan emosi.

Terima kasih atas perhatiannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth. Bp. Ariesandi,</p>
<p>Artikel tersebut benar2 mencerminkan kebiasaan kami para orang tua.</p>
<p>Untuk mengatasi berbagai akibat yg dapat terjadi akibat perkataan yg salah tersebut, bagaimana seharusnya perkataan yg benar yang kita lontarkan kepada anak2? mengingat bahwa pada saat peristiwa terjadi, orang tua dalam keadaan emosi.</p>
<p>Terima kasih atas perhatiannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
