<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Anak-anak yang Bingung</title>
	<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/</link>
	<description>Pusat Pendidikan Keluarga</description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 07:23:42 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: Anita Yuniar</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-806</link>
		<author>Anita Yuniar</author>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 05:23:33 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-806</guid>
		<description>memang kadang kita cenderung menyalahkan pasangan kita, kalo ada sesuatu yg jelek dr anak kita, seperti" ini pasti Mama nih, dulu saya ga begini" itu sering bgt suami saya bicara spt itu, tp biasanya suka saya cuekin, terima kasih ya saya dpt pencerahan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>memang kadang kita cenderung menyalahkan pasangan kita, kalo ada sesuatu yg jelek dr anak kita, seperti&#8221; ini pasti Mama nih, dulu saya ga begini&#8221; itu sering bgt suami saya bicara spt itu, tp biasanya suka saya cuekin, terima kasih ya saya dpt pencerahan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: endang prahsetyastuti</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-705</link>
		<author>endang prahsetyastuti</author>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 06:48:51 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-705</guid>
		<description>Yth. Pak Ariesandi dankawan-2

Terima kasih, saya dapat bergabung melalui Newsletter sekolah orang tua yang Bapak asuh.
Dari pantauan saya, kebanyakan mereka dari kalangan keluarga yang memiliki putra-i balita. Tapi saya bersyukur, meskipun saya "Ketinggalan" mengetahui sekolah ini, mengingat anak-anak saya sudah dewasa ( umur 24 dan 26 Tahun ), tetapi saya merasa tidak ter lambat bergabung dengan sekolah ini, karena  saya akan terus belajar demi masa depan anak-anak saya. 
Banyak hal yang belum saya ketahui sebelumnya, terutama teknik-teknik komunikasi yang positif dengan anak. Seringkali anak saya merasa akan dijadikan seperti orang tuanya, karena terkesan dari cara-cara / kata-kata saya dan suami berupa "doktrin" yang menggurui dan memaksakan kehendak, walaupun sebenarnya maksud kami hanya untuk kebaikan kami sekeluarga dengan kekawatiran yang sangat berlebihan.

Pada kesempatan ini saya mohon saran kata-2/ sikap apakah yang harus saya lakukan agar anak-2 saya tetap menghargai orang tuanya pada saat terdapat kesalah pahaman. Misalnya : Saat ini kedua anak saya masih baru menyelesaikan kuliahnya. Sekarang mereka sedang menekuni pekerjaan yang status kepegawaiannya sebagai Outsourching. Saya sering mengingatkan mereka agar bekerja baik, disiplin dll. Tetapi jawaban mereka : " aku mau jadi diriku sendiri, tdk akan jadi dirimu". Kata-2 tadi seakan panas ditelinga, kalau saya emosi, pasti tidak menyelesaikan masalah.

Masih banyak hal yang ingin saya sampaikan, tetapi sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan jawaban Bapak

Mohon maaf dan salam kami sekeluarga</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth. Pak Ariesandi dankawan-2</p>
<p>Terima kasih, saya dapat bergabung melalui Newsletter sekolah orang tua yang Bapak asuh.<br />
Dari pantauan saya, kebanyakan mereka dari kalangan keluarga yang memiliki putra-i balita. Tapi saya bersyukur, meskipun saya &#8220;Ketinggalan&#8221; mengetahui sekolah ini, mengingat anak-anak saya sudah dewasa ( umur 24 dan 26 Tahun ), tetapi saya merasa tidak ter lambat bergabung dengan sekolah ini, karena  saya akan terus belajar demi masa depan anak-anak saya.<br />
Banyak hal yang belum saya ketahui sebelumnya, terutama teknik-teknik komunikasi yang positif dengan anak. Seringkali anak saya merasa akan dijadikan seperti orang tuanya, karena terkesan dari cara-cara / kata-kata saya dan suami berupa &#8220;doktrin&#8221; yang menggurui dan memaksakan kehendak, walaupun sebenarnya maksud kami hanya untuk kebaikan kami sekeluarga dengan kekawatiran yang sangat berlebihan.</p>
<p>Pada kesempatan ini saya mohon saran kata-2/ sikap apakah yang harus saya lakukan agar anak-2 saya tetap menghargai orang tuanya pada saat terdapat kesalah pahaman. Misalnya : Saat ini kedua anak saya masih baru menyelesaikan kuliahnya. Sekarang mereka sedang menekuni pekerjaan yang status kepegawaiannya sebagai Outsourching. Saya sering mengingatkan mereka agar bekerja baik, disiplin dll. Tetapi jawaban mereka : &#8221; aku mau jadi diriku sendiri, tdk akan jadi dirimu&#8221;. Kata-2 tadi seakan panas ditelinga, kalau saya emosi, pasti tidak menyelesaikan masalah.</p>
<p>Masih banyak hal yang ingin saya sampaikan, tetapi sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan jawaban Bapak</p>
<p>Mohon maaf dan salam kami sekeluarga</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: novita</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-699</link>
		<author>novita</author>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 17:26:52 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-699</guid>
		<description>Dear pak ariesandi,

terima kasih sebelumnya, karena saya senang bisa bergabung dengan newsletter sekolah orang tua. Dimana saya harus banyak belajar bagaimana menghadapi anak-anak, dan ingin merubah diri saya menjadi orang tua yang sabar, tidak main cubit, dan menggunakan kata-kata yang halus dan bisa dimengerti oleh anak-anak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear pak ariesandi,</p>
<p>terima kasih sebelumnya, karena saya senang bisa bergabung dengan newsletter sekolah orang tua. Dimana saya harus banyak belajar bagaimana menghadapi anak-anak, dan ingin merubah diri saya menjadi orang tua yang sabar, tidak main cubit, dan menggunakan kata-kata yang halus dan bisa dimengerti oleh anak-anak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rahma</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-648</link>
		<author>Rahma</author>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 02:59:25 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-648</guid>
		<description>Artikel yang bagus. Wacana dalam artikel ini sudah saya fahami, tapi seringkali sulit melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bila sudah dikuasai emosi, rasanya sulit menyusun kata - kata yang layak diiucapkan. Bagaimana supaya bisa tetap konsisten ya, Pak ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel yang bagus. Wacana dalam artikel ini sudah saya fahami, tapi seringkali sulit melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bila sudah dikuasai emosi, rasanya sulit menyusun kata - kata yang layak diiucapkan. Bagaimana supaya bisa tetap konsisten ya, Pak ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Elisabeth</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-637</link>
		<author>Elisabeth</author>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 22:01:22 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-637</guid>
		<description>Saya bener2 jadi tersadar, bahwa perlakuan saya selama ini salah terhadap anak saya :-( Terima kasih pak sudha mengingatkan, dan saya yakin untuk merubah pikiran dan prilaku saya hari ini juga, demi masa depan anak saya, mumpung belum terlambat karena anak saya masih balita :-) Tuhan memberkati anda...good job!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bener2 jadi tersadar, bahwa perlakuan saya selama ini salah terhadap anak saya <img src='http://www.sekolahorangtua.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> Terima kasih pak sudha mengingatkan, dan saya yakin untuk merubah pikiran dan prilaku saya hari ini juga, demi masa depan anak saya, mumpung belum terlambat karena anak saya masih balita <img src='http://www.sekolahorangtua.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> Tuhan memberkati anda&#8230;good job!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ina</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-635</link>
		<author>ina</author>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 04:03:28 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-635</guid>
		<description>Dear Ariesandi,
Membaca artikel ini, saya teringat masa kecil saya dulu. Jika saya bertengkar dengan adik laki-laki saya yang berbeda 2 tahun, orangtua sering berkata hal serupa "terus, terus saja bertengkar, nanti mama pisahin kalian, di Irian satu di Aceh satu" (kami tinggal di Jawa Tengah). Kalimat itu justru membangkitkan semangat saya untuk terus mengganggu adik, kalau dia sudah menangis baru saya puas dan berhenti. Sebenarnya orangtua tahu jika saya cemburu terhadap adik, tetapi mereka tidak pernah menanyakannya kepada saya, dan satu lagi senjata pamungkasnya adalah "kamu sebagai kakak harus mengalah." padahal ada kalanya adik yang mengganggu. Tetapi lambat laun, semakin kami dewasa, dan kita berpisah karena aku kuliah di luar kota, kami semakin akrab. Yah, itu sekedar share aja. 
Sekarang saya sudah menikah, dan segera memiliki si kecil. Artikel ini mensupport saya untuk dapat menjadi orangtua yang bijak bagi anak-anak. Hem, menurut saya poin yang ke tiga yaitu konsistensi, adalah poin tersulit, jadi komunikasi antara ayah dan ibu mesti lancar dan saling terbuka agar tercipta kerjasama yang bagus.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Ariesandi,<br />
Membaca artikel ini, saya teringat masa kecil saya dulu. Jika saya bertengkar dengan adik laki-laki saya yang berbeda 2 tahun, orangtua sering berkata hal serupa &#8220;terus, terus saja bertengkar, nanti mama pisahin kalian, di Irian satu di Aceh satu&#8221; (kami tinggal di Jawa Tengah). Kalimat itu justru membangkitkan semangat saya untuk terus mengganggu adik, kalau dia sudah menangis baru saya puas dan berhenti. Sebenarnya orangtua tahu jika saya cemburu terhadap adik, tetapi mereka tidak pernah menanyakannya kepada saya, dan satu lagi senjata pamungkasnya adalah &#8220;kamu sebagai kakak harus mengalah.&#8221; padahal ada kalanya adik yang mengganggu. Tetapi lambat laun, semakin kami dewasa, dan kita berpisah karena aku kuliah di luar kota, kami semakin akrab. Yah, itu sekedar share aja.<br />
Sekarang saya sudah menikah, dan segera memiliki si kecil. Artikel ini mensupport saya untuk dapat menjadi orangtua yang bijak bagi anak-anak. Hem, menurut saya poin yang ke tiga yaitu konsistensi, adalah poin tersulit, jadi komunikasi antara ayah dan ibu mesti lancar dan saling terbuka agar tercipta kerjasama yang bagus.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ilyas</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-634</link>
		<author>ilyas</author>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 23:03:04 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-634</guid>
		<description>pak Arie yth.
Terima kasih sekali atas kiriman informasinya yang telah menambah pengetahuan saya tentang mendidik anak. Mudah2an ilu ini akan saya sebar luaskan kepada orng tua yang mau mendidik anak dengan lebih baik, terutama kepeda putera puteri saya agar mereka dapat mendidik anak2nya nanti dengan lebih berhasil karena sudah dibekali ilmu mendidik anak dari hypno parenting, harus lebih baik dari kami karena kami dulu belum mengengenal sekolah orang tua.Terima kasih n sukses pak Ari.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak Arie yth.<br />
Terima kasih sekali atas kiriman informasinya yang telah menambah pengetahuan saya tentang mendidik anak. Mudah2an ilu ini akan saya sebar luaskan kepada orng tua yang mau mendidik anak dengan lebih baik, terutama kepeda putera puteri saya agar mereka dapat mendidik anak2nya nanti dengan lebih berhasil karena sudah dibekali ilmu mendidik anak dari hypno parenting, harus lebih baik dari kami karena kami dulu belum mengengenal sekolah orang tua.Terima kasih n sukses pak Ari.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kirjan</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-632</link>
		<author>kirjan</author>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 08:13:36 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-632</guid>
		<description>Dear P' Ariesandi,

Setelah membaca edisi kali ini rasanya saya kok malah kasihan melihat diri sendiri.........
Pak aries....sampai hari ini saya masih bingung bagaimana caranya untuk memberitahu Isteri yang selalu kurang menghargai anak, suka bicara kasar dan kalau bicara dengan nada keras bahkan suka berprasangka buruk terhadap anak, tidak percaya atas alasan anak dan bahkan sering menuduh kepada anak.
Saya sudah coba memberitahu namun yang selalu menjadi tameng adalah didikan orang tuanya yang menerapkan cara keras dan dia berprinsip bahwa cara tersebut yang baik.
Apa yang harus saya perbuat Pak.......berhubung waktu saya banyak untuk kerjaan.
Sukses selalu untuk sekolah orang tua.
Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear P&#8217; Ariesandi,</p>
<p>Setelah membaca edisi kali ini rasanya saya kok malah kasihan melihat diri sendiri&#8230;&#8230;&#8230;<br />
Pak aries&#8230;.sampai hari ini saya masih bingung bagaimana caranya untuk memberitahu Isteri yang selalu kurang menghargai anak, suka bicara kasar dan kalau bicara dengan nada keras bahkan suka berprasangka buruk terhadap anak, tidak percaya atas alasan anak dan bahkan sering menuduh kepada anak.<br />
Saya sudah coba memberitahu namun yang selalu menjadi tameng adalah didikan orang tuanya yang menerapkan cara keras dan dia berprinsip bahwa cara tersebut yang baik.<br />
Apa yang harus saya perbuat Pak&#8230;&#8230;.berhubung waktu saya banyak untuk kerjaan.<br />
Sukses selalu untuk sekolah orang tua.<br />
Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rini</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-613</link>
		<author>Rini</author>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 16:39:22 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-613</guid>
		<description>Dear P Ariesandi,
Setelah membaca news letter edisi 2, saya merasakan betul situasi seperti yang tertuang di artikel tsb. Bahkan yang lebih bingung lagi adalah saya, bagaimana cara menghadapi situasi seperti ini. Saat ini saya tengah menghadapi problem mogok sekolah anak kedua kami yang berumur 5 tahun sekolah TK B ( seharusnya ).
Dia sama sekali tak mau kesekolah dan menyinggung apapun tentang sekolah sejak di menjelang akhir tahun ajaran baru lalu sampai sekarang ini. Awalnya dia mengalami sulit tidur jadi bangunnya siang. Beberapa kali saya berhasil membujuk dan mengajaknya berangkat sekolah. Tapi makin hari makin sulit, dari rayuan halus sampai gertakan dan cubitan dan akhirnya kami biarkan saja dia  tidak sekolah. Kami sudah membawanya ke psikolog dan mengikuti terapi tapi hasilnya belum ada. Saya juga ikut kursus parenting sampai hipnoparenting ( bersama suami )untuk memecahkan masalah ini. Namun sampai saat ini belum mampu menggali apa penyebab Anak kami  mogok sekolah. Oh ya metode hipnoparenting memang membuat si bungsu mulai lebih tenang begitu juga dengan saya dan suami, meski kadang juga masih out of control. 
Dari konsultasi dengan psikolog dan hipnoterapis, kami mendapat kesimpulan anak kedua kami ini mengalami trauma tapi karena anaknya cenderung tertutup jadi dia tidak bisa mengatakan penyebab mogoknya itu ( ini pemicu emosinya yang naik turun ). Pak Ariesandi yth, anak kedua kami menurut psikolog &#38; terapisnya  punya karakter cenderung tertutup. Apakah ini genetik dari ayahnya atau karena pola asuh kami. . Suami saya sangat pendiam dan nyaris tidak pernah bisa diajak bicara enak bahkan untuk urusan anak. Sehingga seringkali anak-anak jelas-jelas kebingungan dengan perbedaan pendapat dan sikap diantara kami.
Suami saya jarang bicara dan kalau bicara pelan sekali tapi jika pendapatnya bertentangan, marahnya bisa meledak bahkan 2 kali sudah dia meledak didepan anak-anak yang membuat mereka pucat pasi. Apa yang harus saya lakukan ? Saya ingin anak-anak tumbuh di era golden age-nya ini dengan bahagia sehingga nantinya menjadi orang sesuai potensi yang dimiliki mereka.
Mohon saran bapak &#38; maaf tulisannya panjang sekali.
Sukses buat sekolah orang tua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear P Ariesandi,<br />
Setelah membaca news letter edisi 2, saya merasakan betul situasi seperti yang tertuang di artikel tsb. Bahkan yang lebih bingung lagi adalah saya, bagaimana cara menghadapi situasi seperti ini. Saat ini saya tengah menghadapi problem mogok sekolah anak kedua kami yang berumur 5 tahun sekolah TK B ( seharusnya ).<br />
Dia sama sekali tak mau kesekolah dan menyinggung apapun tentang sekolah sejak di menjelang akhir tahun ajaran baru lalu sampai sekarang ini. Awalnya dia mengalami sulit tidur jadi bangunnya siang. Beberapa kali saya berhasil membujuk dan mengajaknya berangkat sekolah. Tapi makin hari makin sulit, dari rayuan halus sampai gertakan dan cubitan dan akhirnya kami biarkan saja dia  tidak sekolah. Kami sudah membawanya ke psikolog dan mengikuti terapi tapi hasilnya belum ada. Saya juga ikut kursus parenting sampai hipnoparenting ( bersama suami )untuk memecahkan masalah ini. Namun sampai saat ini belum mampu menggali apa penyebab Anak kami  mogok sekolah. Oh ya metode hipnoparenting memang membuat si bungsu mulai lebih tenang begitu juga dengan saya dan suami, meski kadang juga masih out of control.<br />
Dari konsultasi dengan psikolog dan hipnoterapis, kami mendapat kesimpulan anak kedua kami ini mengalami trauma tapi karena anaknya cenderung tertutup jadi dia tidak bisa mengatakan penyebab mogoknya itu ( ini pemicu emosinya yang naik turun ). Pak Ariesandi yth, anak kedua kami menurut psikolog &amp; terapisnya  punya karakter cenderung tertutup. Apakah ini genetik dari ayahnya atau karena pola asuh kami. . Suami saya sangat pendiam dan nyaris tidak pernah bisa diajak bicara enak bahkan untuk urusan anak. Sehingga seringkali anak-anak jelas-jelas kebingungan dengan perbedaan pendapat dan sikap diantara kami.<br />
Suami saya jarang bicara dan kalau bicara pelan sekali tapi jika pendapatnya bertentangan, marahnya bisa meledak bahkan 2 kali sudah dia meledak didepan anak-anak yang membuat mereka pucat pasi. Apa yang harus saya lakukan ? Saya ingin anak-anak tumbuh di era golden age-nya ini dengan bahagia sehingga nantinya menjadi orang sesuai potensi yang dimiliki mereka.<br />
Mohon saran bapak &amp; maaf tulisannya panjang sekali.<br />
Sukses buat sekolah orang tua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: minarni</title>
		<link>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-604</link>
		<author>minarni</author>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 04:53:13 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.sekolahorangtua.com/2006/10/04/anak-anak-yang-bingung/#comment-604</guid>
		<description>dear pak ariesandi,
senang sekali saya dapat bergabung dengan newsletter sekolah orangtua ini. Banyak yang dapat saya pelajari di sini. 
Pak, saya mempunyai seorang keponakan wanita berumur 9 tahun, dia dididik dengan ekstrim oleh ayahnya, terkadang lembut, terkadang dengan kekerasan. hal ini membuat kebingungan pada keponakan saya dan juga ini memberikan dampak negatif pada pelajarannya di sekolah. Sedangkan sang ibu tidak perduli pada anaknya ini. Saya merasa kasihan pada keponakan saya ini, saya ingin sekali menolongnya, tapi pengajaran orang tuanya sudah tertanam dalam di dalam pikirannya secara tidak langsung.
mohon bantuannya pak...

terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dear pak ariesandi,<br />
senang sekali saya dapat bergabung dengan newsletter sekolah orangtua ini. Banyak yang dapat saya pelajari di sini.<br />
Pak, saya mempunyai seorang keponakan wanita berumur 9 tahun, dia dididik dengan ekstrim oleh ayahnya, terkadang lembut, terkadang dengan kekerasan. hal ini membuat kebingungan pada keponakan saya dan juga ini memberikan dampak negatif pada pelajarannya di sekolah. Sedangkan sang ibu tidak perduli pada anaknya ini. Saya merasa kasihan pada keponakan saya ini, saya ingin sekali menolongnya, tapi pengajaran orang tuanya sudah tertanam dalam di dalam pikirannya secara tidak langsung.<br />
mohon bantuannya pak&#8230;</p>
<p>terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
