Phone/SMS : 083898884989 (Jam Kerja)

Email   : cs@sekolahorangtua.com

Messenger :

Join Facebook.com/SekolahOrangtua


3
Oct

trainingkids3.jpgSeringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua? Apa musti dipukul dulu baru nurut?”. Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan?”. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata ”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00!!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya ”Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter)? Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab”? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Wish you become the best parents in the world !

Ariesandi dan Sukarto

Related Posts:

Share your comments on Facebook:

comments

Category : Artikel / Parenting

74 Responses to “Mendidik Anak Tanpa Kekerasan”


prima 28 September 2008

Artikel yang bapak sajikan memberi pencerahan, untuk mendidik anak dengan lebih bijaksana tanpa menggurui apalagi dengan kekerasan.Saya dan suami harus belajar menerapkannya! Apalagi ke-2 anak kami sedang getol-getolnya bereksplorasi.Saya nantikan artikel berikutnya!

ariesandi 5 October 2008

Thanks. Marilah bersama-sama membangun keluarga yang kuat dan sehat demi masa depan Indonesia.

Eslo Laudin Manik 24 October 2008

Terimakasih atas artikelnya, saya sangat diberkati. Mendidik anak memang harus kontekstual yaitu sesuai dengan pola anak bukan pola orang tua kita dulu.

Eslo

gamar 24 November 2008

Salam……..
Saya sangat setuju dengan model pendidikan seperti yang ada pada tulisan anda.Karena memang benar anak kita akan menjadi apa,bagaimana karakternya kelak semua tergantung pada model pendidikan yang dia terima pada masa usia emas nya yaitu usia 0 – 7 thn pertama.Segala bentuk pendidikan dan perlakuan yang diterima anak pada usia emas tersebut akan menjadi pijakan kelak anak tersebut akan menjadi apa?Seperti kata Boby De Porter penulis buku quantum teaching yang dikenal dengan rumusnya 3 x 7 = anak ajaib.Itu artinya jika kita ingin punya anak sukses secara keseluruhan maka jangan pernah salah mendidik pada usia 7 tahun pertama dan ke dua karena pada 7 tahun ke tiganya dia akan menjadi anak seperti yang diharapkan orang tuanya.
Thanks a lot……

Aulia Muttaqin 28 November 2008

Senang bisa menemukan website ini. Ide yang sangat bagus ttg parenting school. Membangun bangsa memang berawal dari rumah. Bahkan lebih dini lagi, sebenarnya dari KUA.
Para calon orang tua itulah yang menjadi sasaran memutus mata rantai “ketidak pahaman” ttg pentingnya pengetahuan psikologi anak. Usia emas bahkan ketika masih tahap embrio, bagaimana orang tua harus selalu menjaga “suasana hati” sang bunda agar selalu harmoni. Sukses ..!!
Nb. Minta ijin copy materinya untuk di share di blog saya ya pak.

Rgds
A. Muttaqin

hira 2 February 2009

Setiap saya baca artikel dari Bpk, saya semakin merasakan kalau saya benar benar bukan & belum menjadi orang tua yang baik…. saya merasa mdapatkan jalan untuk bisa berbuat lebih baik utk
anak anak. Terima kasih untuk jalan menuju kebenarannya.

afifa 2 February 2009

salam kenal!memang benar kekerasan adalah bukan solusi terbaik dalam segala hal termasuk mendidik anak. hal tersebut saya alami sendiri.saya memang agak keras dalam mendidik anak. maksud hati ingin mentertibkan anak supaya bisa jadi baik tapi justru malah mendatangkan bencana. dianya malah lebih keras/galak daripada saya & jadi sulit untuk diatur. apalagi kalau berada ditempat umum. mudah-mudahan saya bisa lebih lembut dan lebih baik dalam mendidik anak.
Terima kasih.

Retna 3 February 2009

terimakasih Bapak Ariesandy atas pencerahannya memang kita sering marah-marah terhadap anak kita kalau perintah kita tidak diindahkan.saya dalam mendidik anak kadang memang keras.Hasilnya anak saya juga bersikap keras juga sukar di atur.

dodi 11 February 2009

thanks about everything. the contents good enough.
i really satisfied. thank u so much

Livie 17 February 2009

Terima kasih banyak Bapak Ariesandy,semua informasi yang di berikan kepada saya melalui email, artikel artikel bapak,membuka pikiran dan hati saya untuk lebih dekat dengan anak anak saya,karena selama ini saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya,belakangan ini anak saya juga jadi lebih pendiam,apa lagi setelah adiknya lahir,sikapnya seakan akan takut berbuat kesalahan dan selalu melontarkan pertanyaan berulang ulang,apa saya salah?apa boleh saya buat begitu?begitu kira kira pertanyaannya.
mengapa bisa begitu ya?mohon sarannya.thx

etha 26 February 2009

Artikel ini sangat bagus sekali dan hanya orang yang mempunyai jiwa besarlah yang mampu mendidik anak tanpa kekerasan. Saya termasuk korban kekerasan orang tua, bahkan menjelang menikahpun masih dipukulin orang tua, padahal saya tidak nakal, hanya mengutarakan pendapat saya yang berbeda dari orang tua. Toh, pada akhirnya saya menuruti kemauan orang tua. Bahkan kuliahpun harus menurutin kemauan orang tua yang jurusannya ditentukan, sekolahpun juga ditentukan. Sampai hal-hal detil dan yang tidak masuk akal, saya tetap harus menurut perintah orang tua tanpa diskusi dan tanpa komentar. Harus nurut rut, nurut spt robot yg diprogram. Sampai saat inipin juga, orang tua masih memperlakukan kekerasan, tapi bedanya setelah menikah kekerasan mental yang dilakukan, dg menyuruh suami saya agar melakukan hal yang sama terhadap saya. (Persis yg telah papa lakukan terhadap saya dulu dan kini). Kini saya telah mempunyai 2anak yang telah dewasa, saya mengajar anak untuk bebas mengutarakan pendapat dan juga mendidik dengan cara diskusi. Saya senang, mereka menganggap saya sebagai sahabat, cuma mereka tidak senang kalau orang tua saya datang dan menasehati mereka. Mereka jadi sebel, sewot & antipati thdp kakek neneknya. Salah satu nasehat orang tua ke anak2 saya, jangan jadi anak yang pintar2 yach (padahal anak saya juara Olimpiade science & mat sampai ke tingkat international), jangan sekolah tinggi yach. Nanti jadi perawan tua lho. Turutin nasehat kakek nenek yach. Itu salah satu contoh nasehat orang tua saya ke anak2 saya.
Ya, pantas anak2 saya jadi malas kalau bertemu orang tua saya. Sementara orang tua saya menganggap anak saya sulit untuk diatur. Padahal anak-anak saya gampang sekali diatur. Sekian sharing dari saya. Semoga mendapat pelajaran dari pengalaman hidup saya yang telah jadi korban dari orang tua. Saya mau bergabung dalam Parents Club di Jakarta. Mohon informasinya. Thank you.

Ariesandi 26 February 2009

Dear Ibu Etha,
Saya ikut prihatin dengan apa yang Ibu alami. Semoga semakin banyak orangtua yang sadar bahwa mereka punya peran sangat besar dalam membentuk masa depan anak-anak / cucu mereka.
Untuk itulah SekolahOrangtua.com ada di antara kita.

untuk Parents Club sementara ini kegiatan hanya dilakukan lewat media online dan melalui media DVD/CD. Materi tersebut sekarang berganti nama menjadi Parenting Home course.
Sekarang ini SekolahOrangtua sedang menggodok program untuk menjadi instruktur dan jika jumlah instruktur telah memadai maka kegiatan seminar ataupun gathering ataupun kelas kecil parenting akan diadakan kembali.

Salam sukses

afifa 26 February 2009

dear etha,
saya turut prihatin dengan apa yang mba’ etha alami.mudah2an kita bisa lebih mendengarkan dan mau berdiskusi dengan anak2 kita.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 11 March 2009

Ibu Livie yang baik.
Ada kemungkinan anak ibu yang pertama (kakak) sedang mengalami kecemasan. Kecemasan ini dapat disebabkan karena ia memiliki standar perilaku yang tinggi terhadap dirinya. Tuntutan ini terjadi bisa disebabkan lingkungan rumah maupun sekolah sehingga ia menginternalisasi dalam dirinya. Jika ia tidak dapat mencapai standar yang telah ditetapkan oleh dirinya ia menjadi cemas kemudian merasa tidak aman. Ditambah lagi dengan adanya anggota keluarga yang baru menyebabkan ia merasa tidak aman lagi. Coba ibu mengajak kakak berdiskusi mengenai perubahan yang telah ibu amati dalam diri kakak. Tawarkan mengenai bantuan yang kakak inginkan dari ibu terhadap kakak.
Kakak perlu diyakinkan bahwa dia tetap dicintai, apapun yang telah terjadi. Hal ini akam membantu kakak untuk lebih santai dan relaks. Ajak kakak untuk beraktivitas berdua dengan ibu, tentunya aktivitas yang sesuai dengan usia kakak. Dengan demikian, Kakak akan merasa dicintai oleh ibu. Ingat untuk membisikkan kata-kata sayang dan pelukan hangat sebelum kakak berangkat tidur sehingga ia akan merasa aman.
Untuk informasi lebih detil, ibu bisa membaca artikel tentang bahasa cinta anak. Untuk versi lengkapnya ibu dapat memesan CD audio pada customer service kami.
Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga.
Sandra Mungliandi

Indah 22 March 2009

Thaks p. Aries, untuk kiriman newsletternya yg mnyentuh, mendidik tanpa kekerasan, sy memliki anak laki2 berusia 13 thn yg suka sekali berbohong & mulai mls belajar, gmn ya, utk memberi pengertian pada anak sy, agar tidak malas belajar & jujur, tdk sk berbohong .

regards
Indah

Nadya 4 May 2009

Asmlkm,semua saya mempunyai 3 org anak, yg pertama dan kedua berusia 12 dan 13 thn. Apa yg menjadi masalah saya adalah kedua anak lelaki saya ini pada masa kecil mereka pencapaian mereka dlm pelajaran begitu cemerlang tetapi skrg apabila mereka mempunyai sifat yg begitu menyusahkan hati kerana boleh dikatakan skrg kuputusan mereka begitu menurun dan tidak berminat utk belajar. Tolong saya bagaimana utk membuat mereka minat utk belajar.

Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. 6 May 2009

Walaikumsalam ibu Nadya,
Ibu, penyebab seorang anak mengalami perubahan minat belajar dari suka menjadi tidak suka, memiliki banyak penyebab. Penurunan tersebut salah satunya karena kurang pahamnya mereka akan manfaat sekolah bagi masa depan mereka, atau juga karena anak merasa tidak dicintai. Apa hubungannya merasa dicintai dengan prestasi akademik ? Tentunya ibu bertanya-tanya dengan pernyataan saya.
Perasaan dicintai pada diri anak merupakan bahan bakar anak untuk menghadapi tantangan yang ada di depan matanya. Ketika bahan bakar tersebut habis maka anak menjadi tidak termotivasi untuk belajar. Ditambah lagi dengan tuntutan dari lingkungan agar anak terus mempertahankan prestasi, juga dapat menyebabkan anak menjadi tertekan dan mengalami penurunan prestasi. Ujung-ujungnya, anak akan menghubungkan jika ingin dicintai oleh orangtua maka anak harus berprestasi terlebih dahulu.
Jika ibu berkenan, ibu dapat membaca kesaksian dari Ibu Uty pada artikel “Aduh, anakku mogok sekolah”, di bagian akhir web. Disana beliau menceritakan mengenai kedasyatan dari pengisian tangki cinta. Atau jika ibu hendak belajar dan mengetahui lebih banyak ibu bisa memesan DVD Rahasia MEmbuat Anak Ketagihan Belajar pada customer service SO.
Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.

Dewi 2 September 2009

Pak Ariesandi, memang lebih baik kita mendidik anak tanpa kekerasan, yang ingin saya tanyakan, apakah tidak sama dengan memanjakan dia? Bagaimana jika dengan kata2 yang halus tanpa menyinggung perasaannya kita telah berusaha membuat anak mencintai mengerjakan PR misalnya, tapi anak tetap saja tidak mau. Jika kita terlalu sabar otomatis kita cenderung menuruti dulu apa kemauannya (PR tidak dikerjakan terus), apakah itu tidak akan menjadi kebiasaan buruk?

mayesti 24 September 2009

terimakasih selalu share artikelnya pak, banyak hal yg bisa saya pelajari disini.

dian masitha 20 January 2010

thank’s a lot 4 everythinh

riani 18 March 2010

Dear bapak/Ibu pengasuh.
Terima kasih buat artikel2nya ….
Saya punya 2 orang anak laki2 usia 10 dan 6 tahun…bagaimana sih cara memotivasi anak spy mau makan sendiri ( tidak disuapi) ?
Terus terang mungkin memang salah saya yang kurang sabar melihat anak2 saya yang kalau makan butuh waktu lebih dari 1 jam, sehingga saya akhirnya turun tangan utk menyuapi mereka supaya lbh cepat habis makannya. Karena kalo tidak dibantu mereka (terutama yg sulung) jadi hanya punya waktu sdkt utk belajar/mengerjakan pr/bermain, krn waktunya hbs utk makan( kadang2 bisa sampai 2 jam loh bu/pak)…
Terus terang saya bingung bagaimana ya caranya…memang si sulung dulu susah sekali makan mulai usia 2-6 thn, sehingga saya hrs sabar membujuknya utk makan, jangankan makan sendiri wong disuapin saja susah. Sekarang sudah mulai baik pola makannya, dia mau makan sayuran, daging, ayam, ikan dg berbagai macam masakan..tapi ya itu lamaaaa sekali. Hanya sesekali saja dia bisa makan cepat kira2 20 mnt, jadi saya pikir bukan krn ada sesuatu masalah dgn mulutnya/tenggorokannya. Saya sdh coba spy mereka duduk di meja makan , makan bersama saya dan suami, tapi tetap saja kurang berhasil. Kedua anak saya termasuk anak yg superaktif, jadi mereka jg tdk betah duduk berlama-lama di meja makan. Akibatnya mereka makan sambil sesekali berjalan kesana kesini, kalo saya nasihati kadang malah merajuk, terus terang kalo saya bicara agak keras baru mereka mau duduk diam, tp bbrp menit kemudian ya kembali berjalan-jalan. Saya juga tidak mau bila waktu makan tiba harus bolak-balik bicara dgn nada keras bu/pak…Mohon masukan untuk kami.
Terima Kasih.
Salam

Kuswoyo 29 November 2010

Terimakasih kepada bapak Ariesandi yg sudah berbagi artikel yang memberi pencerahan keapada keluarga di Indonesia

dewi 24 May 2012

semoga saya bisa jadi ibu yang bijak spt cerita diatas,tdk harus menyalahkan anak ketika anak melakukan kesalahan.