Jun 29th, 2008 by ariesandi
Suatu saat selepas sebuah seminar yang baru saja selesai saya bawakan seorang ayah datang dan menceritakan keluh kesahnya. Apalagi kalau bukan tentang anaknya.
Ia memiliki 2 orang anak yang sudah remaja dan satu sama lain saling mengiri. Yang satu mengatakan ,”Ayah selalu sayang adik! Tidak pernah memenangkan aku!” dan yang satu lagi mengatakan, “Ayah selalu saja memerhatikan kakak! Aku tidak pernah diperhatikan dan harus selalu menurut sama kakak!”
Sang ayah kebingungan karena selama ini, menurutnya, ia dan istri telah memperlakukan kedua anak mereka dengan adil. Bahkan mereka sering keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga.
Selain itu kedua orang kakak beradik tersebut sering bertengkar dan saling berusaha menonjolkan diri. “Saya harus bertindak bagaimana?” keluh sang ayah dengan wajah kebingungan.
Masalah seperti ini sering dialami oleh banyak orangtua. Jika tidak ditangani dengan segera maka masalah ini bisa melebar ke berbagai hal. Bisa mempengaruhi motivasi dan semangat hidup seorang anak. Dan selanjutnya hal ini bisa mempengaruhi masalah akademik.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mengatasinya? Marilah kita tinjau apa yang diperlukan seorang anak. Setiap anak, maupun orang dewasa, memerlukan pengakuan. Ketika seorang anak berkembang remaja maka kebutuhannya untuk diakui sebagai individu yang spesial makin membesar. Usia remaja adalah usia dimana seorang anak mencari identitas diri.
Fase pencarian identitas ini akan berlangsung mulus jika fase sebelumnya berjalan dengan baik. Apa yang diperlukan id fase sebelumnya adalah pengakuan dan penerimaan dari figur yang dipandang memiliki otoritas. Dalam hal ini figur tersebut adalah kedua orangtua.
Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan tersebut? Sederhana luangkan waktu secara pribadi untuk masing-masing anak. Ajaklah seorang anak keluar atau melakukan suatu aktivitas secara pribadi. Setelah itu selang beberapa hari kemudian ajaklah anak yang lain untuk melakukan suatu aktivitas secara pribadi juga. Jadi secara bergantian pada waktu yang berbeda ajaklah anak Anda satu persatu melakukan sesuatu atau pergi ke tempat kesukaannya.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan secara pribadi dengan masing-masing anak. Makan es krim favorit bersama sang anak, makan di restoran favorit sang anak, jalan-jalan ke taman kota dan bermain sejenak di sana, menonton film kesukaan sang anak berduaan, main game komputer berduaan, putar-putar kota melihat berbagai tempat, membacakan dongeng favorit sang anak, bermain layang-layang berduaan saja dan lain-lain.
Yang paling penting diperhatikan saat melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak adalah kualitas perhatian yang kita berikan pada sang anak. Jika kita hanya mengajak dia melakukan sesuatu maka yang terjadi hanyalah kedekatan fisik saja. Oleh karena itu libatkan dia dan tanyai perasaannya serta ingat selalu untuk menjaga kontak mata dan sentuhan fisik dengannya.
Saat kita melakukan hal ini maka seorang anak akan merasa senang dan diperhatikan. Ia menjadi seorang yang spesial karena tak ada kakak atau adiknya. Ia hanya berduaan dengan sang ayah atau suatu saat dengan sang ibu saja.
Inilah yang akan membuatnya berani untuk menentukan jati dirinya kelak ketika ia remaja. Ia akan berani menentukan identitas karena secara emosional ia mendapatkan apa yang butuhkan.
Bagaimana jika anak kita telah remaja dan kita baru menyadarinya sekarang? Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak Anda. Pilihlah kegiatan yang mereka suka dan lakukan bersama mereka. Hal ini akan mengembalikan kepercayaan diri mereka.
Jadi kita sekarang telah sama-sama menyadari bahwa kebersamaan keluarga itu penting namun kita tidak boleh mengabaikan kepentingan personal setiap anak untuk membangun identitasnya secara pribadi. Oleh karena itu sebagai orangtua kita tetap perlu meluangkan waktu secara pribadi dengan setiap anak.
Ketika kita melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak maka secara tanpa disadari kita telah mengisi tangki cintanya. Penjelasan detail tentang tangki cinta bisa Anda lihat di DVD Tangki Cinta yang bisa Anda dapatkan hanya di www.sekolahorangtua.com.
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 2 Comments »
May 20th, 2008 by ariesandi
Ibu Ani, bukan nama sebenarnya, kebingungan menghadapi anaknya yang baru saja kelas 1 SD. Tingkah lakunya menjadi susah dikontrol dan sering dimarahi guru di kelas. Ia dilaporkan sering berjalan-jalan di kelas mengganggu teman-temannya ketika pelajaran berlangsung. Di rumah pun demikian, adiknya tak pernah lolos dari gangguannya. Hal ini terjadi sejak ia mulai masuk kelas 1 SD. Selain itu motivasi belajarnya juga naik turun namun banyak turunnya.
Sampai suatu saat guru kelasnya angkat tangan dan menyarankan orangtuanya untuk pergi ke psikolog dan melakukan tes IQ. Setelah beberapa hari keluarlah hasil tes yang dimaksud yang menyatakan bahwa si Erik, anak Ibu Ani, normal-normal saja. IQ nya 122 skala Weschler. Saran dari tes tersebut adalah Erik perlu pendampingan yang lebih konsisten dan diperhatikan kebutuhan emosionalnya.
Saudara Ibu Ani, teman baik saya, menyarankan Ibu Ani pergi menemui saya sekedar untuk mendapatkan wawasan dan bertukar pikiran. Singkat cerita saya pun menemui Ibu Ani, suaminya dan teman saya tersebut, sekaligus melepas rindu karena lama tak ngobrol lagi dengannya sejak kami berpisah sewaktu lulus SMA.
Setelah membaca hasil tes IQ Erik saya bertanya pada Ibu Ani beberapa hal. Ibu Ani tidak bekerja, ia sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus pekerjaan rumah tangga dan 2 orang anaknya. Ia mengeluh mengapa waktu yang ia curahkan untuk si Erik seakan kurang. Apalagi sejak kelahiran adiknya maka si Erik suka sekali mencari perhatian dengan melakukan berbagai hal yang aneh-aneh.
Satu hal yang perlu kita sadari tentang kedekatan orangtua dengan anak. Banyak orang mengartikan kedekatan orangtua dengan anak hanyalah kedekatan secara fisik. Seperti suami Ibu Ani, ketika saya tanya berapa banyak waktu yang ia curahkan pada Erik secara rata-rata dalam sehari. Ia mengatakan bahwa setiap pulang kerja ia selalu menemani Erik. Dan itu terjadi hampir tiap hari kecuali kalau ada tamu.
Kemudian saya menggali lebih dalam lagi untuk tahu apa yang ia lakukan sewaktu bersama Erik. Ia pun menjawab bahwa mereka berdua nonton TV. “Oke saya harap anda berdua menonton film edukasi bagi si Erik, jangan nonton sinetron yang banyak adegan kekerasan, manipulasi, iri dan dengki”, kata saya.
“Lha mana bisa Pak, Papanya suka nonton sinetron kok!”, sahut Ibu Ani tiba-tiba.
“Oke Pak, kalau begitu bolehkah saya tahu satu hal lagi? Apakah yang Bapak lakukan sewaktu nonton TV dengan Erik?”, tanya saya lebih spesifik pada suami Ibu Ani.
“Ehm, ya nonton aja Pak sambil terkadang peluk Erik”, katanya.
Dan saya pun segera bisa menebak apa yang kurang pada si Erik. Kedua orangtua Erik hanya dekat secara fisik dengan anak mereka namun tidak ada keterlibatan emosi yang mendalam.
Kebanyakan orangtua bertindak sebagai “supervisor” bagi anaknya. Ketika sang anak pulang sekolah maka serentetan “pertanyaan rutin” dan bisa ditebak pasti meluncur menyerang si anak. Sambil menggandeng tangan anak maka muncullah pertanyaan semacam ini :
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 1 Comment »
May 12th, 2008 by ariesandi
Devi cemberut setelah dimarahi Papanya. Ia merasa sangat butuh Papanya untuk membantu.Tetapi malah diminta mengerjakan sendiri.
”Kalau tahu akhirnya toh diminta mengerjakan sendiri ngapain repot-repot menunggu Papa selesai. Huhhh menyebalkan! Papa menyebalkan!”, gerutunya dalam hati.
Sementara sang papa kembali melanjutkan aktivitasnya. Tetapi pikirannya tidak bisa fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia pun tak tahu apa yang membuatnya punya perasaan seperti itu.
Siang berganti sore dan dengan cepat sore berganti malam. Seisi penghuni rumah Devi tertidur lelap. Tetapi Papa Devi tak bisa memejamkan mata secara sempurna.
Tiba-tiba ia mendengar suara halus dari dalam hatinya. Suara itu menegurnya dengan lemah lembut namun penuh ketegasan. ”Engkau marah dengan dirimu sendiri tapi engkau tumpahkan pada anakmu yang tak tahu apa-apa. Sebenarnya kemarahanmu pada Devi tak perlu terjadi. Engkau bingung bagaimana harus menghadapi Devi bukan? Selama ini engkau tak pernah punya waktu untuk memikirkan strategi mendidik dan mengelola anak-anakmu!”
Semalaman ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia merasa telah berbuat banyak untuk anaknya. Ia sudah membiayai sekolah dan kursus Devi. Ia membelikan berbagai keperluannya, mengajaknya berlibur, menemaninya bermain, tapi sepertinya masih ada yang kurang. Seribu pertanyaan lagi masih menggantung di pikiran.
Apa yang dialami ayah Devi banyak dialami orangtua lain. Mereka semua tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Semua pada bingung harus bagaimana. Ada banyak sekali tawaran tentang konsep pendidikan anak di luar sana. Semuanya laris manis. Mulai dari lagu yang bisa menstimulasi otak bayi sampai pendidikan super yang akan membuat anak kita menonjol dibanding anak lain. Dan semuanya dilatarbelakangi hasil penelitian ilmiah yang mutakhir.
Lalu apa jadinya? Orangtua menjadi terprovokasi dan laris manislah semuanya. Segala bisnis yang menyangkut anak, mulai dari keperluan bayi, mainan edukatif, buku bergambar, musik edukatif sampai sekolah berbahasa asing yang mempunyai berbagai fasilitas mentereng mulai bermunculan. Semuanya dikarenakan adanya permintaan pasar.
Lebih tepatnya semua dikarenakan banyaknya orangtua yang bingung bagaimana harus mendidik anaknya. Orangtua kebanyakan ingin semuanya cepat beres. Mereka tak sempat lagi berpikir mana yang esensial bagi anaknya. Ketika teori-teori hasil penelitian ilmiah disampaikan sebagai latar belakang suatu produk atau jasa maka mereka langsung terbuai.
Para orangtua sendiri tidak mempunyai pengetahuan yang cukup memadai untuk menilai produk yang ada di pasar. Mereka hanya menilai segala sesuatu dari seberapa cepat hasilnya tampak pada anak mereka. Jika itu memakan waktu lama, bertahun-tahun misalnya, maka mereka akan menganggap produk itu tidak bagus.
Orangtua disibukkan berburu produk yang bagus untuk anaknya. Mereka sibuk menilai berbagai produk dan jasa yang akan digunakan untuk anaknya. Waktu mereka habis untuk hal tersebut.
Orangtua tidak menyadari bahwa kemampuan mereka menilai produk dan jasa sebanding dengan dalamnya pengetahuan yang mereka miliki tentang psikologi tumbuh kembang anak beserta segala aspeknya. Jadi setiap orang pastilah mendapatkan manfaat dari segala macam produk tersebut tergantung dari seberapa dalam kita mengerti tentang produk tersebut. Kebanyak orangtua lupa untuk mengedukasi dirinya sendiri agar mampu memilih sesuatu yang baik bagi anaknya. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan pengetahuan dari orangtua mereka. Atau informasi sepotong-sepotong dari majalah dan teman yang memilki kasus serupa.
Orangtua sibuk meminta anak-anaknya belajar segala sesuatu tetapi mereka sendiri lupa untuk belajar. Padahal wawasan luas yang dimiliki orangtua menentukan pendidikan dan pengasuhan seperti apa yang akan diterima anaknya.
Baiklah mari kita misalkan segala pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak diberi skala dari satu sampai sepuluh. Sepuluh adalah skala terbaik. Orangtua yang memiliki pengetahuan mendidik anak di skala 4 akan memperlakukan anaknya dengan cara yang berbeda sama sekali dibanding orangtua yang memiliki skala 8.
Anak dengan orangtua skala 4 akan mengalami perlakuan yang berbeda dengan anak yang orangtuanya berskala 8. Di manakah skala anda ?
Banyak orangtua menanyakan, “Bagaimana caranya menilai kemampuan diri sendiri untuk menangani anak?”
Mudah sekali. Ada beberapa hal penting yang patut kita kuasai sebagai dasar untuk membimbing anak.
Inilah beberapa hal penting dan mendasar yang perlu dikuasai dengan mendalam agar bisa mendidik anak kita menjadi sukses dan bahagia :
• Mengenali diri sendiri dengan baik dan mampu mengelola emosi sendiri. Jika sebagai orangtua kita tidak mampu mengenali diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik bagaimana kita bisa mengerti dan memahami orang lain (anak kita)
• Memiliki persepsi yang benar tentang mendidik dan mengasuh anak. Persepsi yang benar bisa dicapai jika kita mengerti cara berpikir yang benar dan mempunyai pengetahuan luas tentang anak-anak
• Mengerti tentang mekanisme pikiran dan fungsi otak sehingga kita mampu mempertimbangkan setiap tindakan dan ucapan
• Mengerti bagaimana pikiran memroses informasi dan pengalaman serta dampaknya di masa depan anak
• Kemampuan berkomunikasi yang bagus sehingga mampu menyampaikan maksud baik kita kepada anak tanpa distorsi makna. Semua orangtua bermaksud baik terhadap anaknya tetapi seringkali anak memaknainya dengan salah karena cara komunikasi yang tidak tepat
• Mengenali tipe kepribadian anak sehingga mampu interaksi anak-orangtua berjalan dengan baik
• Mengenali tipe dan gaya belajar anak sehingga kita mampu mengarahkan anak mencapai prestasi opitmal di bidang akademis
• Mengerti setiap proses tumbuh kembang anak serta apa yang diperlukan di setiap proses
• Kemampuan membantu anak mengatasi trauma sederhana
• Kemampuan membantu anak mengatasi masalah emosional dan membantunya memiliki kontrol diri yang baik
• Kemampuan membantu anak mengembangkan disiplin yang sehat tanpa merusak harga dirinya
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | No Comments »
May 4th, 2008 by ariesandi
Dalam kegiatan sehari-hari mendidik dan mengasuh anak kita seringkali berhadapan dengan berbagai perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Karena itu sering timbul dalam pemikiran untuk “mendisiplinkan” anak tersebut. Namun sayangnya banyak sekali orangtua tidak memahami benar apa makna disiplin yang sebenarnya. Orangtua dan pihak-pihak lain yang sering berurusan dengan anak gagal membedakan disiplin dengan hukuman.
Bahkan sejumlah kamus pun gagal melakukan pembedaan ini. Salah satunya adalah The New Oxford American Dictionary, kata dicipline (disiplin) didefinisikan sebagai “praktik melatih orang untuk mematuhi aturan dengan menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidakpatuhan”. Oleh karena itu tak heran dengan definisi semacam ini maka seringkali pendisiplinan dikaitkan dengan alat-alat yang dipakai untuk membuat para pelaku kejahatan jera : penyalahan, membuat malu dan bahkan hukuman fisik.
Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Anak kita adalah seorang murid bagi orangtuanya. Agar ini dapat terjadi maka sebagai orangtua kita selayaknya menjadi pemimpin yang berharga untuk dipatuhi dan diteladani oleh anak-anak kita.
Perbedaan mendasar antara disiplin dengan hukuman adalah :
• Hukuman mengajarkan suatu pelajaran melalui pemaksaan emosional atau kekerasan fisik, hukuman mungkin terlihat bisa menghentikan perilaku yang tidak diinginkan saat ini namun sudah pasti tidak mencegahnya terulang lagi di masa mendatang. Berdasarkan berbagai riset para pakar psikologi hukuman bukan cara yang efektif agar anak bertingkah laku baik untuk jangka panjang.
• Disiplin menggunakan kebijaksanaan untuk mengajarkan nilai-nilai yang memperlihatkan betapa seorang anak dapat menentukan sendiri pilihannya dengan baik sesuai dengan perkembangan emosinya saat itu. Oleh karena itu tak ada “cara yang benar “ yang bisa berfungsi sepanjang waktu untuk semua situasi
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 3 Comments »
Orangtua, apakah ingin Anak Anda menjadi Sukses dan Bahagia saat dewasa nanti? Tapi tahukah Anda cara Mendidik Anak yang tepat agar anak dapat Sukses dan Bahagia?
Bagaimana Orangtua dapat menemukan bakat terpendam dari Anak? Bagaimana Orangtua dapat membaca keinginan atau cita-cita dari Anak secara tepat, agar Orangtua dapat menggali dan mengolah potensi yang dimiliki Anak sehingga mendapatkan hasil yang maksimal? Temukan jawabannya dengan hadir di Seminar Sekolah Orangtua dengan tema Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses dan Bahagia . Seminar ini akan diadakan hari Sabtu, 10 Mei 2008 Pk. 09:30 - 13:30 WIB di Hotel Kapuas - Function Hall 1, Jl. Gajah Mada 889 Pontianak.
Seminar ini sangat cocok bagi :
- Orangtua yang sibuk membangun bisnis dan karir.
- Orangtua yang peduli masa depan anaknya.
- Para Pendidik .
- Calon Orangtua.
Sebagai pembicara :
Ariesandi Setyono C.Ht
Beritahu Teman
Posted in Seminar / Events | 1 Comment »
Apr 28th, 2008 by hianoto
Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.
Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.
Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?
Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 3 Comments »
Apr 21st, 2008 by ariesandi
Dewasa ini permasalahan anak tampaknya bertambah banyak. Dan celakanya lagi orangtua dari anak-anak “bermasalah” tersebut tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Mereka cenderung mengikuti secara sepotong-sepotong apa yang telah mereka alami sendiri sebagai anak-anak dan mengikuti apa yang disarankan oleh majalah, media cetak maupun elektronik dan mungkin sahabat-sahabat mereka.
Tentunya permasalahan anak-anak tersebut tak kunjung selesai karena penyelesaian hingga ke akar terdalamnya tak pernah ada. Lalu bagaimana harusnya?
Marilah kita tinjau akar perilaku anak. Dalam setiap perilakunya anak-anak ingin mendapatkan satu jawaban dari pertanyaan terdalam yang ada pada diri mereka. Karena kemampuan komunikasi yang terbatas dan wawasan yang belum seperti orang dewasa maka anak-anak menanyakan pertanyaan pribadi mereka melalui “perilaku”. Bahkan tak jarang orang dewasapun berkomunikasi melalui perilaku mereka. Hal ini terutama terjadi pada orang dewasa yang susah mengkomunikasikan perasaannya melalui perkataan.
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 1 Comment »
Orangtua dan Guru, sadarkah bahwa Anda telah menghipnosis anak Anda sehingga ia menjadi seperti sekarang ini baik maupun buruk?
Mendidik dan mengasuh anak jaman sekarang sangatlah sulit. Benarkah demikian? Sekarang anak lebih suka nonton TV dan main video game. Mereka cenderung kurang termotivasi dan mudah stress. Para orangtua dan guru, tahukah Anda mengapa anak Anda berperilaku seperti sekarang? Tahukah Anda pengaruh perlakuan dan sikap Anda sangat menentukan nasib seorang anak kelak?
Temukan jawabannya dengan hadir di Workshop “HypnoParenting: Rahasia Orangtua dan Guru Efektif yang Sukses di Karier dan Sukses dalam Mendidik Anak”. Workshop ini akan diadakan pada hari Sabtu, 19 April 2008 pukul 10.00 - 15.00 bertempat di Hall Pondok Duyung, Jl Perintis Kemerdekaan, Purwokerto.
Workshop ini akan mengungkap:
- Proses terbentuknya citra diri seorang anak dan pengaruhnya saat dia dewasa
- Kesalahan orangtua dan guru saat pembentukan citra diri anak
Beritahu Teman
Posted in Seminar / Events | No Comments »
Orangtua, apakah Anda susah mengatur emosi saat menghadapi anak rewel? Anda bingung karena anak Anda bisa di rumah namun gagal saat ujian di sekolah? Atau anak Anda sering membangkang? Bisakah Anda membangun karier dan bisnis dengan tenang jika permasalahan dalam keluarga tidak beres?
Temukan jawabannya dengan hadir di Workshop Sekolah Orangtua dengan tema: My Parents, My Hero! Workshop ini akan diadakan dalam 2 hari, yaitu pada hari Sabtu-Minggu, 12-13 April 2008 di Hotel Ciputra Jakarta.
Dalam workshop interaktif 2 hari ini, Anda akan mendalami:
- Memahami perkembangan alamiah anak dan pengaruhnya
- Pengaruh pendidikan masa kecil saat anak mengejar impiannya
- Mekanisme pikiran dan Mind Reprogramming Tools
- Miskomunikasi: salah satu penyebab gagalnya anak berprestasi
- Membangun komunikasi verbal dan nonverbal yang sehat
- Disiplin tanpa merusak harga diri
- Mencari mental block yang menghalangi orangtua susah mendidik anak
Beritahu Teman
Posted in Seminar / Events | 2 Comments »
Feb 8th, 2008 by ariesandi
Suatu sore sepulang dari kantor, saya menjumpai anak saya di ruangan bermain sedang mencari-cari sesuatu. Begitu melihat saya datang, Fio melonjak kegirangan, “Pa, bantuin cari roda mobilnya Koko yang lepas!”
“Oke, sebentar Papa ganti baju dan cuci tangan dulu ya!”
Setelah selesai berbenah dengan diri sendiri, maka saya pun menjumpainya di ruangan bermain. Ia masih melongok ke berbagai sudut dan kolong lemari mainannya. Wajahnya sedih sekali dan tampak tak bersemangat.
Sebenarnya saya pun capek sekali. Inginnya sih duduk minum juice apukat.
Setelah itu tak berapa lama saya menyadari diri saya sudah berada di kolong kursi dan lemari, mencari-cari benda ‘tak berharga’ itu. Fio sangat ingin saya menemukannya. Saya mulai menggeledah bantalan kursi, kotak mainan yang baru saja dipakainya, bagian belakang lemari mainannya dan berbagai sudut ruangan. Saya mendadak menjadi budak yang patuh bergerak kerepotan di antara tempat yang bagi saya asing dan berdebu.
Beritahu Teman
Posted in Parenting, Artikel | 6 Comments »